
Pagi harinya Chanyeol sudah terlihat begitu rapi. Dia juga sudah menyiapkan satu koper dan tas ransel besar yang berisikan perlengkapan. Tak banyak yang akan dia bawa karena di sana dia akan membelinya semuanya. Dia bukan orang yang ribet. Selama dia masih mengantongi kartu ATM yang di buatkan orang tuanya untuknya, dia tidak perlu membawa banyak barang seperti akan pindah rumah. Cukup bawa pakaian dan perlengkapan nanti bisa di beli di sana.
"Kamu sudah siap nak? Yakin tidak mau di antar Mama sama Papa?" tanya Ela ketika Chanyeol kembali ke dalam setelah memasukkan kopernya ke bagasi. Dia akan berangkat siang ini tapi lebih dulu ingin mengajak Han Sung jalan.
"Gak usah Ma. Cukup Han Sung aja yang mengantarnya." ucap Chanyeol.
"Ini alamat apartemen Om kamu." ucap Yong Jin menyerahkan secarik kertas kepada Chanyeol.
"Kamu yakin tidak mau sekolah di Harvard aja tempat kakak kamu?" tanya Ela kembali.
"Ma, semalam kita udah membahasnya. Aku tidak mau berdebat lagi. Lagipula aku senang kok tinggal bersama Om Yong Bin. Di sana ramai ada Scarlet juga." ucap Chanyeol yang dari dulu ingin sekali memiliki adik perempuan. Dan kebetulan anak bungsu Yong Bin adalah perempuan.
"Baiklah. Jangan jadi trouble maker di sana. Jangan buat Om kamu malu." ucap Yong Jin.
"Baik pa. Kalau begitu Chanyeol berangkat dulu ya Ma Pa." pamit Chanyeol lalu pergi keluar untuk bertemu dengan Han Sung sebentar.
Han Sung belum tahu kalau hari ini Chanyeol akan berangkat karena dia tidak menceritakannya. Namun berbeda dengan Yuna dan Jin-young yang sudah mengetahui kalau Chanyeol akan berangkat sekarang. Jadi sekalian saja Chanyeol berpamitan sebelum Han Sung mendengarnya.
"Dad, Mom, Chanyeol berangkat ya. Kalian sehat-sehat di sini. Jangan lupa jenguk kak Yohan. Kasihan dia di rumah sakit sendirian. Hanya ada kita keluarganya yang tersisa. Sampaikan salamku untuk kak Yohan." ucap Chanyeol yang teringat akan Yohan.
Semenjak kematian Yura, jiwa Yohan benar-benar terguncang. Dia sering melamun bahkan jika dia dalam keadaan tidak baik, dia tidak akan segan segan menyerang orang. Karena itu dia di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa untuk memulihkan kejiwaannya. Chanyeol menemui Yohan minggu lalu. Dan saat itu pula Chanyeol berpamitan dengan Yohan meskipun Yohan tak pernah merespon perkataannya.
"Iya nak. Kamu juga sehat-sehat saja ya di sana. Salam untuk Yong Bin dan Krystal." ucap Jin-young. Tak lama setelah itu Han Sung turun.
"Udah siap lo? lama amat sih jadi cowok buat dandan." ucap Chanyeol melihat Han Sung turun.
"Ya biar ganteng dong. Masak seorang Hans tampil buluk." ucap Han Sung. "ya udah yuk berangkat. Dah lapar nih gue." lanjutnya sambil mendahului Chanyeol.
"Nih anak ya, butuh di kasih sarapan batu." kata Chanyeol yang langsung mengikuti Han Sung ke arah mobilnya.
Selama di perjalanan mereka hanya saling diam. Chanyeol memikirkan cara bagaimana memberitahu Han Sung. Sedangkan Han Sung juga ada sesuatu yang ingin di katakan kepada Chanyeol. Sampailah mereka di restoran Jepang langganan mereka. Mereka memesan makanan dan langsung menyantapnya ketika makanan itu sudah di siapkan.
"Lo yakin mau melupakan anak itu?" tanya Han Sung.
"Siapa yang lo maksud?" tanya Chanyeol tak tahu siapa yang di maksud oleh Han Sung.
"Yang gue maksud ini." ucap Han Sung yang memperlihatkan sebuah foto dimana Chanyeol tengah berciuman dengan Gladis semalam. Ternyata semalam dia mendengar dan juga melihat sendiri Chanyeol bersama Gladis.
"Gue bukannya gak berniat untuk melupakannya. Tapi gue gak mau memberinya harapan. Lo tahu sendiri kan kalau orang tua gue seperti apa? secinta-cintanya gue sama Gladis, kalau orang gue gak setuju, itu hanya akan membahayakannya." kata Chanyeol.
__ADS_1
"Tapi lo masih cinta kan sama dia?" tanya Han Sung.
"Gue rasa, gue gak berhak untuk di cintai dan mencintai Hans, Gue terlalu takut kalau orang yang paling gue cintai itu akan meninggalkan gue lagi." ucap Chanyeol dengan sedih.
Ternyata bukan hanya Yohan yang menderita guncangan jiwa setelah kepergian Yura. Tapi juga Chanyeol yang menderita trauma hati setelah Yura pergi. Dia menjadi tertutup untuk urusan cinta. Bahkan setau Han Sung, Chanyeol begitu mencintai Gladis. Tapi dengan mudah dia berkata seperti barusan. Itu menandakan kalau dia benar-benar trauma akan cinta.
Maka dari itu Chanyeol pun memilih untuk pergi ke LA. Meninggalkan semuanya yang berhubungan dengan Yura dan Gladis. Dia ingin segera mengikhlaskan Yura dan dia juga ingin melupakan Gladis. Dia bahkan berniat untuk menutup hatinya untuk wanita yang lain juga. Dia ingin fokus dengan karir. Dia tak ingin berkomitmen kedepannya. Baik itu hanya berpacaran. Dia ingin sendiri saja menjalani hidup. Rasanya tak akan sakit jika hanya hidup sendiri, sakit karena di tinggal oleh orang yang paling di sayang.
"Apa itu sebabnya lo milih kuliah di LA? Lo mau ninggalin gue sendiri?" tanya Han Sing tiba-tiba melow.
"Lo kenapa jadi melow gini sih. Lagian kan lo juga ada Taeyong dan Jihoon." ucap Chanyeol.
"Gue sendiri Chan. Lo gak lihat kalau Zie juga udah balik ke Sydney. Mana gue gak boleh pergi dari Korea sebelum gue bisa menangin tender. Gimana gue mau nepatin janji gue ke Zie kalau gue bakal jemput dia balik ke Korea coba. Sekarang lo malah mau pergi ke LA." rengek Han Sung.
"Udah lo tenang aja. Gue udah minta anak buah bokap gue buat jemput Zie dan keluarganya agar mau pindah ke Korea. Jadi lo gak kesepian lagi. Lagian Taeyong dan Jihoon juga gak kuliah di luar negeri kan? Jadi lo gak akan sendiri." ucap Chanyeol.
"Memangnya lo mau berangkat kapan?" tanya Han Sung.
"Hari ini juga. Gue ada penerbangan jam satu." ucap Chanyeol.
"Woi, jam satu itu satu jam lagi. Lo gila ya." ucap Han Sung yang kaget karena baru saja di beritahu oleh Chanyeol bahwa dia akan berangkat satu jam lagi.
"Lo jahat sumpah Chan. Jahat banget lo. Lo ngajak gue makan cuma buat pertemuan perpisahan. Jahat banget lo Chan." ucap Han Sung yang terus saja menggerutu karena Chanyeol baru bilang sekarang.
"Sorry brother..." ucap Chanyeol sedikit tersenyum.
Hanya butuh lima menit untuk sampai ke bandara. Karena Chanyeol sengaja mengajak Han Sung makan di restoran Jepang langganan nya karena dekat dengan bandara. Chanyeol langsung keluar dari dalam mobilnya di ikuti oleh Han Sung. Chanyeol mengambil koper dan tas ranselnya. Lalu Chanyeol menyerahkan kunci mobilnya kepada Han Sung.
Han Sung pikir kalau yang lain akan ikut untuk mengantar kepergian Chanyeol. Ternyata hanya Han Sung saja yang mengantarnya. Han Sung merasa kalau dia tengah mengantar kekasihnya sendiri yang ingin pergi sekolah.
"Gue berasa mengantar pacar gue pergi." ucap Han Sung kepada Chanyeol setelah Chanyeol check-in lalu menuju ke ruang tunggu menunggu panggilan pesawatnya.
"Gue sengaja gak ngebolehin yang lain ikut. Gue bukan anak manja yang pergi harus di antar sama seluruh keluarga." ucap Chanyeol.
"Lah kenapa gue mesti di sini yang nganter lo?" tanya Han Sung.
"Karena cuma lo orang di dunia ini yang ping gue percaya. Gue harap sampai kapanpun kita harus saling menemani. Tunggu gue enam sampai delapan tahun lagi. Gue janji sama lo gue akan kembali menjadi Chanyeol yang bahkan lebih kuat dari sekarang. Kita sama-sama bertemu di puncak." ucap Chanyeol.
"Ihh geli gue denger lo bicara kaya gitu. Berasa kalo lo bakal ninggalin cewek lo sendiri. Ingat ya, sampai sana lo harus hubungin gue. Jangan sampai telat makan. Gak ada gue di sana yang bawain lo makan. Dan jangan coba-coba lo minum di sana. Meskipun di sana lo udah dewasa, tapi jiwa lo jiwa Korea. Lo belum saatnya minum. Gue akan ada di sana saat lo udah boleh minum. Yang intinya tiga tahun lagi lo baru boleh minum." ucap Han Sung.
__ADS_1
"Kenapa harus tiga tahun lagi? Kan umur dua puluh gue kurang dua tahun." ucap Chanyeol.
"Kan gue baru tujuh belas tahun sekarang. Jadi lo harus nunggu gue dua puluh tahun. Lo gak boleh nyoba minum dulu." ucap Han Sung mengancam.
"Iya deh iya. Lo beneran kaya pacar kalau bawel begini. hahaha" canda Chanyeol.
"Jaga kesehatan lo ya. Kalau gue ada waktu dan boleh pergi dari Korea, gue bakal ke LA demi ketemu lo." ucap Han Sung.
"Lo juga. Kalau gue balik lo harus jadi orang yang lebih sukses dari sekarang. Kalahin bokap lo yang tengil itu. Gue juga titip perusahaan kak Yura ya. Akan gue ambil nanti kalau gue udah pulang. Salam buat yang lain." ucap Chanyeol lalu pergi dari hadapan Han Sung ketika dia mendengar namanya di panggil melalui pengeras suara.
Han Sung melambaikan tangannya sampai Chanyeol hilang dari pandangannya. Dulu dia biasa saja ketika mengantar Chanyeol pulang dari Venezuela. Tapi sekarang dia menjadi melow karena mengantar Chanyeol pergi ke LA dengan kepingan hatinya yang tak utuh lagi.
"Semoga lo menemukan cinta dan kebahagiaan lo kembali Chan. Good Luck brother. Sampai bertemu lagi." gumam Han Sung.
Han Sung pun langsung kembali ke parkiran. Namun dia hanya terpaku di samping mobil dengan menatap kunci mobil yang di berikan oleh Chanyeol tadi.
"Hais... bodoh banget sih lo Hans. Lo kan gak bisa nyetir. Terus lo mau bawa mobil ini gimana coba. Hais.. bodoh banget sih lo Hans." gerutu Han Sung saat menyadari kebodohannya.
Akhirnya Han Sung menelfon jasa layanan sopir. Dia harus menunggu sekitar lima belas menit sampai sopir yang dia pesan datang. Barulah dia bisa kembali pulang dengan selamat ke rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1