
Hati berikutnya, Woodz bangun dengan sedikit makin lemas. Entah kenapa rasanya dia enggan sekali untuk membuka mata. Namun tiba-tiba dia terlintas di benaknya untuk menggunakan keinginan keduanya.
"Kakak sudah bangun.." kata Ela yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Dimana yang lain?" tanya Woodz.
"Eomma panti sedang berada di rumah kita. Biar dia istirahat." ucap Ela sambil mengambil sarapan yang hendak di berikan kepada Woodz.
"Lalu, kenapa kamu tidak pulang istirahat?" tanya Woodz kepada Ela yang menjadikan rumah sakit seperti rumahnya sendiri.
"Karena Ela gak mungkin ninggalin kakak sendiri. Sehabis ini eomma panti dan bunda akan kesini. Kalau melihat piring ini masih penuh dengan makanan, pasti Ela yang akan di marahi. Ayo cepat buka mulut kakak." ucap Ela sambil menyodorkan sendok yang sudah penuh dengan bubur.
Sebenarnya Woodz merasa bosan makan makanan yang lembek itu. Namun dia tak punya pilihan lain. Karena hanya bubur itu yang boleh masuk ke dalam perutnya. Selain air putih tentunya.
"Dek...." ucap Woodz ketika Ela sedang memunggunginya yang tengah membereskan piring kotor itu.
"hmm..." jawab Ela hanya berdehem.
"Kakak ingin minta permintaan kedua kakak." ucap Woodz membuat Ela menghentikan aktivitas nya.
Ela berbalik dan kembali duduk di samping Woodz yang tengah berbaring tak berdaya disana. Kasurnya sedikit Ela tinggikan agar makanan bisa turun kedalam perutnya.
"Apa kak?" ucap Ela bertanya.
Sebenarnya Ela enggan mengakui bahwa semua itu permintaan terakhir kakaknya. Namun kata-kata dokter yang bilang bahwa mereka sudah menyerah akan kesehatan Woodz yang semakin memburuk pun hanya bisa menuruti semua kemauan Woodz asal dia tetap bisa melihat Woodz bahagia. Dia juga tak ingin jika Woodz pergi nantinya dia akan menyesal karena tak menuruti semua yang Woodz inginkan.
"Kakak ingin melihat Jin-young dan Bo Reum menikah." ucap Woodz.
Hal itu membuat Ela melongo. Ela tahu bagaimana kedekatan Woodz dengan Jin-young itu. Sama dekatnya dengan suaminya sendiri. Diantara ketiganya hanya Jin-young yang masih bertahan untuk belum menikah.
"Tapi kenapa kakak meminta hal itu?" tanya Ela.
__ADS_1
"Dia bilang, bahwa dia belum juga menikah dengan Bo Reum karena menunggu kakak kembali. Hanya karena dia sudah tak mencintai Nana. Sekarang kakak sudah kembali, jadi kakak ingin dia menikahi Bo Reum di sini, di depan kakak. Kakak ingin hari ini juga mereka menikah. Sebelum kakak tidak bisa melihatnya menikah dan berbagia dengan gadis yang paling dia cintai." ucap Woodz dengan tulus.
Ela memutar otaknya bagaimana caranya dia akan berbicara dengan Jin-young dan Bo Reum. Tapi pada akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya tanda dia menyetujui apa yang diminta oleh kakaknya itu.
Saat Eomma panti sudah berada di rumah sakit, ini kesempatan Ela untuk keluar dari ruangan itu dan bertemu dengan Jin-young. Lalu membicarakan apa yang menjadi keinginan kedua dari Woodz. Kebetulan sekali ada Yong Jin yang juga tengah sampai di depan pintu ruangan Nana. Ela pun langsung masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat Yong Jin dan Jin-young yang hendak membicarakan bisnis di ruangan itu, lalu Bo Reum yang tengah mengupas kan apel kepada Nana yang duduk bersandar di ranjangnya.
Nana sebenarnya sudah sembuh, tapi dengan alasan observasi matanya, Nana tetap di suruh berada di rumah sakit. Padahal itu semua hanya akal-akalan Woodz yang terus menyuruh Nana jangan sampai keluar rumah sakit. Dengan itu akan mempermudahkan Nana untuk operasi transplantasi nanti.
"Sayang, aku ingin ngomong sesuatu." ucap Ela dengan wajahnya serius.
"Lo bisa gak sih dek bahas yang penting tu nanti setelah gue sama laki lo bahas kerjaan?" ucap Jin-young yang merasa kerjaannya di ganggu oleh Ela.
"Gak bisa. ini menyangkut kak Jin-young dan Bo Reum. ayo aku ingin bicara dengan kalian bertiga. Na, gue pinjam Bo Reum bentar ya. Nanti gue balikin lagi." ucap Ela kepada Nana.
"Iya La bawa aja. aku bakal baik-baik aja kok." ucap Nana yang memang tak ingin kemana-mana.
Akhirnya mereka mengikuti Ela pergi keluar dari ruangan itu. Ela menatap serius ketiga wajah yang berada di depannya. Lalu dia menghembuskan nafas beratnya.
"Apa yang Woodz inginkan?" ucap Yong Jin sambil mengelus pundak Ela agar bisa mengontrol emosinya.
"Dia ingin melihat kalian berdua menikah." ucap Ela kepada Jin-young dan Bo Reum.
Yang diajak bicara pun kaget. Mereka menatap Ela tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ela.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Yong Jin.
"Kakak ingin melihat kak Jin-young dan Bo Reum menikah di hadapannya." ucap Ela.
"Tapi bagaimana dengan kak Nana? Dia kan tidak tahu bahwa kak Woodz tengah sakit. Bagaimana aku ingin bicara dengan kak Nana perihal pernikahanku dengan kak Jin-young?" ucap Bo Reum.
"Bukankah ini yang selama ini selalu kamu tanyakan sayang? Mungkin ini kesempatan kita untuk menikah sekarang. Tak ada lagi penghalang sayang." ucap Jin-young sambil memegang tangan Bo Reum.
__ADS_1
"Bukankah kakak sendiri yang bilang bahwa akan menikah denganku ketika kak Nana sudah kembali dengan kak Woodz? lalu sekarang kak Nana saja keadaannya seperti itu. Bagaimana bisa aku meninggalkan kak Nana dan memilih menikah dengan orang yang selama ini dia selalu harapkan menjadi penopang hidupnya?" ucap Bo Reum dengan menatap kepada Jin-young. "Maaf kak, tolong bilang ke kak Woodz, aku tak bisa menikah dengan kak Jin-young. Walaupun mungkin dia bilang ini permintaan terakhirnya, tapi jika kak Nana tak bisa melihat maka aku juga tak bisa menikah dengan Kak Jin-young." ucap Bo Reum kepada Ela lalu kembali masuk ke dalam ruangan Nana.
"Kalian pikirkanlah dulu permintaan Woodz dengan matang. Karena ini juga menyangkut dengan kehidupan kalian setelahnya." ucap Yong ajin menepuk pundak Jin-young.
"Kalau begitu biar urusan pekerjaan kalian bahas nanti aja supaya kamu bisa berfikir dengan jernih kak. Ayo kita ke ruangan kak Woodz." ucap Ela sambil menggandeng tangan Yong Jin lalu pergi ke ruangan Woodz.
Sedangkan Jin-young kembali masuk kedalam ruangan Nana. terlihat Bo Reum yang telaten mengurus Nana. Bo Reum tengah menyelimuti Nana yang tertidur di kasurnya. Mumpung Nana tengah tertidur, ini menjadi salah satu kesempatan baginya untuk berbicara tentang pernikahan itu kepada Bo Reum.
"Sayang, apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" ucap Jin-young pelan agar tak membangunkan Nana. Walaupun sebenarnya Nana hanya pura-pura terlelap. Dia sebenarnya tidak tidur, hanya menutup matanya saja.
"Aku yakin kak. Apa kamu tidak melihat kak Nana? Kak Nana menjadi seperti ini karena aku. Aku lah yang menyebabkan dia kecelakaan. Kau juga yang membuatnya buta." ucap Bo Reum.
"Sudah ku bilang berapa kali sih. Kamu bukan penyebab dia kecelakaan Bo..." ucap Jin-young.
"Tapi kalau hari itu aku tak menelfonmu untuk ke apartemen ku, bagaimana bisa dia tahu tentang hubungan kita? Dan mungkin memang seharusnya aku tak pernah hadir dalam hidupmu." ucap Bo Reum dengan menahan tangisnya.
"Apa kamu bilang barusan? Jadi kamu menyesal berada dalam hidupku?" ucap Jin-young sambil mengguncang badan Bo Reum.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.