
Hari-hari berlalu. Banyak cara yang dilakukan oleh Jin-young untuk membuat Woodz dan Gloria semakin dekat. Dengan menyuruh Woodz untuk menjemput Gloria di sekolah atau mengajak Gloria jalan kemana saja yang Gloria inginkan. Tentu ini semua juga sudah di ketahui oleh Nana.
Nana marah besar setiap melihat Gloria pulang bersama dengan Woodz. Sampai sekarang Nana tidak tahu bahwa Woodz itu ayah dari anaknya. Setiap Nana marah karena melihat Woodz bersama dengan Gloria, Jin-young lah yang menjadi tempat kemarahan Nana.
Hal itu membuat Jin-young malas berada di rumah. Dia lebih memilih untuk berada di kantor kalau tidak rumah Yong Jin daripada mendengar omelan Nana yang semakin hari semakin kebangetan sifatnya. Seperti hari ini, Nana kembali mengomel karena mengetahui bahwa hari ini Gloria kembali di jemput dari sekolah oleh Woodz. Jin-young pun tidak pulang. Dia memilih bersama kekasihnya di apartemen barunya yang dia beli untuk kekasihnya itu.
"Sayang, ini sudah mau petang. Kamu tidak mau pulang?" tanya Bo Reum kepada Jin-young yang masih ingin berada di balik selimutnya.
Sedangkan Bo Reum sudah membersihkan badannya yang lengket karena olahraga siang yang mereka berdua lakukan tadi. Mereka memang sudah sering melakukan itu karena mereka benar-benar saling mencintai. Bahkan Jin-young orang pertama yang mendapatkan kesucian Bo Reum.
"Emm... lima menit lagi sayang. Aku masih mau di sini. Kalau boleh aku mau menginap saja disini." ucap Jin-young dengan semakin mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya.
"Nanti kak Nana pasti marah sayang." ucap Bo Reum hingga membuat Jin-young bangun dari tidurnya.
"Lalu apa kamu tidak marah melihat kekasihmu, tunanganmu, calon suamimu berada di rumah wanita lain?" ucap Jin-young dengan intens menatap Bo Reum.
"Bukan itu maksudku sayang, aku pasti cemburu mengingat kamu yang seatap dengan dia. Tapi mau bagaimana lagi, bukankah ini semua adalah bagian dari rencanamu sendiri?" tanya Bo Reum.
"Iya, maka dari itu kalau aku bilang aku ingin disini, maka biarkan aku disini. Apa kamu tidak mengetahui perasaanku yang kacau karena belum bisa lepas dari dia dan menikahimu." ucap Jin-young sambil mengacak rambutnya.
"Maaf.."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir mungil Bo Reum. Dia tak ingin berdebat dengan Jin-young. Dia lebih memilih keluar dari kamarnya menuju ke balkon lantai apartemennya. Dia menatap luas ke seluruh kota. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi sebagai pemandangannya.
Akhirnya karena masih sedikit jengkel, Jin-young pergi dari apartemen Bo Reum tanpa membersihkan sisa percintaan di tubuhnya. Jin-young langsung memakai pakaiannya yang berada di dalam lemari pakaian milik Bo Reum lalu pergi dari apartemen itu tanpa berkata apapun kepada Bo Reum.
*
*
*
Pulang ke rumah, Jin-young langsung di sambut dengan muka cemberut Nana. Jin-young tak menggubris apa pun yang dikatakan oleh Nana. Hingga akhirnya Nana memilih untuk memeluk Jin-young dari belakang.
"Maaf, aku hanya takut kalau Gloria kenapa-kenapa. Kamu tahu kan bagaimana aku cinta mati dengan Gloria.." ucap Nana.
Namun belum sempat Jin-young menjawab, Nana melihat ada yang beda dari tubuh Jin-young. Kemeja yang dipakai Jin-young berbeda dari yang tadi pagi waktu dia pergi kerja. Dan juga wangi pakaiannya bukan seperti wangi yang dia miliki di rumah. Bau nya begitu berbeda. Lebih kalem dari punya nya.
"Darimana saja kamu?" ucap Nana tiba-tiba membuat Jin-young yang dari tadi diam pun menoleh.
__ADS_1
"Kamu ini apa-apa sih. Orang baru pulang kerja juga pakai di tanya acara dari mana. Aku tu capek tahu." ucap Jin-young tak kalah kasar dengan suara Nana.
"Aku gak bodoh ya Jas, kemeja kamu itu beda dari saat kamu pergi ke kantor tadi pagi. Kamu juga tidak membawa Jas kantormu. Terus kenapa wangi parfumnya beda banget. Gak kaya wangi dari parfum mu atau parfum laundry pakaian di kantor. Ini wangi lebih kalem lebih lembut lebih girlie." ucap Nana.
"Terserah kamu deh mau ngomong apa. aku capek." ucap Jin-young lalu masuk ke dalam kamarnya.
Entah kenapa sejak saat itu Jin-young mendiamkan Nana di dalam rumah. Namun kecurigaan Nana semakin besar ketika melihat Jin-young mengangkat telfon saat makan malam dan langsung menjauh dari meja makan.
Nana mengikuti Jin-young yang tengah ber telfonan. Lalu dia mendengar Jin-young berbicara.
"Iya sayang, aku akan kesana. Tunggu aku. Jangan keluar sendiri. Oke. Love You."
Hal itu membuat Nana mematung. Kenapa Jin-young berbicara mesra dengan seseorang? lalu siapa orang itu? kenapa dia seperti orang yang sedang panik? ada apa itu? Nana lalu pergi ke tempat Gloria.
"Sayang, kamu main gih ke tempat Minky. Mau nginap juga boleh." ucap Nana membuat Gloria berseru senang karena dia juga rindu dengan Woodz.
"Sungguh Mom? Asyik.... ya sudah kalau begitu Gloria ke rumah uncle Woodz ya Mom.." setelah berbicara seperti itu, ia langsung pergi berlari ke rumah Woodz.
Sedangkan Nana masuk ke dalam kamar dan memakai hodie untuk melengkapi celana panjangnya. Dia mengintip dari celah pintunya apakah Jin-young sudah keluar dari kamarnya atau belum. Ternyata tepat sekali Jin-young sudah keluar dari rumahnya. Lewat jendela Nana melihat Jin-young sudah memacu mobilnya dengan cepat.
Nana pun ikut memacu mobilnya dengan cepat mengejar Jin-young agar tidak ketinggalan. Untungnya GPS mobil milik Jin-young dan Nana terhubung. Jadi meskipun agak jauh, Nana masih bisa mencari kemana Jin-young pergi.
Nana menunggu dari luar lift di lantai berapa Jin-young keluar. Dan lift itu berhenti di lantai delapan. Nana tahu betul bahwa apartemen ini hanya memiliki satu apartemen di tiap lantainya karena ini apartemen yang mewah. Jadi dengan mudah Nana mencari tahu siapa pemilik apartemen di lantai delapan.
"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.
"Maaf nona, saya mau tanya siapa pemilik apartemen di lantai delapan. Saya ingin mencari tahu karena ingin membeli di lantai itu." ucap Nana berbohong.
"Ohh baik lah nona sebentar." resepsionis itu pun mencari tau siapa yang tinggal disana dan langsung memberi tahu Nana. "Nama pemiliknya Nona Han Bo Reum. Dia baru saja pindah dari Ausie nona. Dia ada di lantainya karena baru saja menerima tamu. Kalau tidak salah itu kekasihnya." ucap resepsionis.
"Ohh baiklah kalau begitu kebetulan saya bisa menemuninya hari ini untuk bernegosiasi." ucap Nana menutupi kekagetannya.
Bagimana dia tidak kaget saat mendengar nama sekretaris Jin-young di sebut. Dan kenapa resepsionis itu bilang kepada Nana bahwa yang datang barusan itu Jin-young adalah kekasihnya? Semoga dugaan Nana salah. Pikirnya.
Nana pun dengan detak jantung tak menentu naik dengan lift dan turun di lantai delapan. Dia mencoba untuk menarik nafas kasar dengan berdiri di depan pintu apartemen Bo Reum. Setelah mengumpulkan kekuatannya Nana menekan bel pintu apartemennya.
ceklek...
"Nyo-nyonya?" ucap Bo Reum yang terbata.
__ADS_1
"Hai. Kamu sedang sibuk? Aku kesini hanya mencari Jason. Apa kamu sedang bersamanya? soalnya dia tadi tiba-tiba pergi." ucap Nana terlihat santai.
"Tuan tidak ada disini Nyonya. Saya ti-tidak tahu." ucap Bo Reum sedikit takut.
Tiba-tiba dari dalam apartemen terdengar Jin-young berteriak.
"Siapa sayang yang da...... tang.." ucapan Jin-young di sana terbata karena kaget melihat Nana di depan pintu.
Wajah pucat Bo Reum sudah terlihat. Sedangkan wajah Nana mengungkapkan kemarahannya. Kaget itu pasti, tapi seketika Jin-young langsung menarik Bo Reum ke dalam dekapannya sebelum Nana berbuat nekat.
"Ohh jadi ini kelakuan kamu ya di belakang aku? Kamu selingkuh dengan wanita ini, sudah berapa lama kamu selingkuh ha?" ucap Nana dengan keras. Tak perlu malu karena di lantai ini hanya ada mereka saja.
"Aku sudah bersama nya lebih dari tiga tahun. Lagipula kami juga tidak selingkuh. Karena diantara kita itu tidak ada ikatan apapun. ingat itu Nana." ucap Jin-young.
"Tidak ada ikatan kamu bilang? Udah beberapa kali kamu tidur denganku Jason." ucap Nana.
"Kamu lupa? bukannya semua itu hanya akal-akalan kamu aja agar aku bisa menghamili kamu kan? Aku nafsu aja tidak. Asal kamu tahu, aku selama ini menahanmu disisiku hanya karena aku ingin membuatmu kembali dengan Vin's. Dan jika aku sudah bertemu dengan Vin's aku akan menyerahkan mu dengannya. Sedangkan untuk wanita yang aku cintai itu hanya Bo Reum." ucap Jin-young.
Seketika itu membuat Nana tidak percaya. Dia pergi dengan linangan air mata. Dia tidak percaya orang yang selama ini sudah membuatnya jatuh cinta ternyata tega menyakitinya. Bahkan tepat di depan matanya. Nana mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinngi.
"Sayang, ayo susul Kak Nana. Aku takut kenapa-kenapa karena dia pergi dengan emosi." ucap Bo Reum.
"Baiklah.Tapi ini kemauan kamu ya bukan kemauanku." ucap Jin-young yang lalu bersama Bo Ruen mengendarai kendaraannya menyusul Nana.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1