
Pagi tadi, Vin's terbangun di kamarnya dengan kepala yang pusing. Dia segera menuju kamar mandi dan berendam untuk menetralkan kepalanya yang masih sedikit pusing. Tiba-tiba dia merasakan perih di punggungnya saat terkena air.
"Nih kenapa nih punggungku kok perih banget? semalam aku kayanya gak kenapa - kenapa deh." ucap Vin's yang sedikit mengingat dan memastikan bahwa dirinya tidak kenapa-kenapa semalam.
Namun karena penasaran, setelah puas berendam dan membilas dirinya di shower, Vin's melihat punggungnya melalui cermin. Dan dia bisa melihat luka cakaran di punggungnya.
"Luka cakaran? kok bisa? dari mana datangnya luka ini?" pikir Vin's yang heran karena merasa kemarin dia belum mendapatkan luka tersebut.
Tiba-tiba bayangan tentang pergumulan semalam terlintas di benaknya. Vin's pun kaget. Namun saat mengingat kembali bagaimana rupa gadis itu, dia pun tak bisa mengingatnya. Tapi dipikirannya terlintas Nana.
"Apa semalam aku berhubungan dengan Nana?" pikir Vin's.
Dia pun segera memakai bajunya dan turun untuk menemui Nana. Dia yakin, jika memang Nana yang dia tiduri malam tadi, maka Nana akan jalan terseok-seok. Karena dalam pikirannya, dia meniduri nya dengan brutal. Namun saat dia turun, dia melihat Nana sibuk di dapur dengan langkah kaki yang seperti biasa. Bahkan tidak terlihat sehabis melakukan hubungan suami istri.
"Mungkin aku emang tidur dengan wanita. Tapi kupikir itu hanya ada dalam mimpi. Dan tidak mungkin itu Nana. Aku tak akan menyentuhnya. Karena aku tak mencintainya." ucap Vin's dalam hati menyakinkan dirinya sendiri.
Saat dia akan turun untuk sarapan, dia mendapat telfon dari Clara. Gadis masa kecilnya. Dia pun segera mengangkat telfonnya dan kembali ke kamar untuk lebih leluasa menelfon Clara agar Nana tidak dapat mendengarnya.
📱Halo cantik. ada apa?
📲 Hari ini kamu free gak? temani aku jalan-jalan yuk. Aku mau belikan adikku mobil nih.
📱Bisa bisa. aku kebetulan juga gak ada acara. oke kita ketemu dimana?
📲 Kamu jemput aku aja ya. Aku pengen berduaan sama kamu.
📱Baiklah kalau begitu tunggu ya. Aku akan segera berangkat.
Vin's pun menutup sambungan telfonnya. Dia pun memakai pakaian santai untuk bertemu Clara menemaninya membelikan kado ulang tahun untuk adiknya.
"Ohh iya, hari ini kan juga ulang tahunnya Nana. nanti aku sekalian mencarikan kado buat dia. Mobil bagus kali ya. Daripada dia naik bus terus setiap hari." pikir Vin's sambil berjalan turun. Dia menghampiri Nana yang sedang menyiapkan sarapan.
"Kakak mau kemana? ini kan hari minggu? sudah rapi aja?" tanya Nana melihat Vin's.
"Ohh aku mau bertemu dengan klien." jawab Vin's singkat. "gak mungkin kan aku hilang kalau mau ketemu sama Clara? yang ada bisa jadi berabe. batin Vin's.
"Kalau begitu sarapan dulu Kak." tawar Nana.
"Tidak usah. Nanti aku akan sekalian sarapan bersama klien di restoran. kalau begitu aku berangkat dulu. Ohh iya, lupa. selamat ulang tahun. Aku membelikan sebuah kado untukmu. Sebentar lagi kadonya sampai." ucap Vin's menyempatkan mengusap rambut Nana dan segera berlalu pergi dari rumahnya.
Vin's menjalankan mobilnya kerumah Nana. Dia bersenandung selama dalam perjalanan. Hatinya berbunga-bunga saat ingin bertemu dengan Nana.
"Apa aku ungkapkan perasaanku sekarang aja ya? Siapa tahu dia mau jadi pacarku." ucap Vin's pada dirinya sendiri sambil terus fokus pada jalanan.
Setengah jam kemudian dia sampai di rumah Clara. Dia pun disambut dengan senyum merekah dari Clara. Dimatanya, Clara terlihat begitu cantik hari ini. Dengan penampilannya yang sederhana namun begitu cocok di badannya. Skinny jeans dan sweater crop begitu pas di tubuhnya.
__ADS_1
Mereka pun melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan di San Francisco. Clara begitu antusias memilihkan kado untuk adiknya yang masih duduk di bangku SMP itu.
"Kamu mau mencarikan kado apa untuk adikmu?" tanya Vin's yang melihat Clara menariknya ke toko pernak-pernik.
"Aku ingin mencarikan adikku pernak-pernik boyband Korea. dari negara asalmu." kata Clara sambil mengedarkan pandangannya. Dan matanya langsung berbinar ketika menemukannya. "Nah ini dia. cantik kan?" kata Clara memperlihatkan kepada Vin's sebuah bola kaca.
"Beli tujuh aja sekalian Cla." kata Vin's.
"Kenapa mesti tujuh?" tanya Clara yang sebenarnya hanya tahu kalau adiknya suka pernak-pernik dari boyband yang berwarna kuning yang kini di pegangnya.
"Jadi kamu gak tahu? nih ya.. satu boyband mereka itu ada tujuh orang. kamu beli aja ketujuh bola kaca ini. Nanti adikmu makin suka." kata Vin's.
"Sungguh?" ucap Clara girang. "Baiklah kalau begitu aku ambil ketujuhnya." ucap Clara pada pelayan untuk segera membungkusnya.
Clara mengedarkan pandangannya saat dirinya tengah berada di kasiran. Dia tidak melihat Vin's di sampingnya. Saat dia ingin mencarinya, ternyata Vin's sedang membawa tujuh buah lampu akrilik di tangannya.
" Bungkus ini sekalian ya. yang cantik, jangan sampai rusak." ucap Vin's menyerahkan kepada pelayan kasir.
"Apa ini?"
"Inilah wujud asli manusia yang menciptakan ketujuh boneka tadi. BTS. Adikmu pasti tahu. Dan bilang kalau ini dari ku ya." ucap Vin's sambil mencubit hidung Clara.
" Ya iyalah aku tahu. Bagaimana tidak tahu kalau adikku sendiri juga penggemarnya."ucap Vin's yang mengingat bagaimana gilanya Ela dulu ketika merengek untuk dibelikan tiket konser menonton boyband Korea.
Setelah puas membeli pernak-pernik untuk kado, Vin's mengajak Clara masuk ke dalam sebuah showroom mobil. Clara awalnya sempat besar kepala. Dia kira bahwa Vin's akan membelikannya. Namun itu tak sesuai ekspektasinya.
"Untuk siapa mobil ini Vin's?" tanya Clara.
"Untuk istriku. dia berulang tahun hari ini." ucap Vin's enteng yang dimana dia juga sudah memberi tahu kepada Clara bahwa dia sudah menikah.
"Sungguh? wah bahagianya jadi istrimu Vin's." ucap Clara murung.
"Kamu tak perlu menunggu untuk jadi istriku. jika kamu mau jadi kekasihku saja, aku akan berikan apapun untukmu." ucap Vin's dengan serius.
"Kekasihmu? kamu ini ada ada saja. Bagaimana bisa aku menjadi kekasihmu sedangkan kamu sudah mempunyai istri." kata Clara sambil cemberut setelah mereka berhasil memilih satu buah mobil untuk Nana di rumah. Vin's segera menyuruh sekretaris nya untuk mengantarkan mobil itu. sedangkan kini Vin's membawa Clara menuju Golden Gate Bridge.
"Aku memang sudah mempunyai istri. Tapi aku tidak mencintainya. Aku bahkan belum menyentuhnya. Aku memang berniat untuk berpisah darinya. mungkin setelah adikku melahirkan anaknya. Aku akan berpisah darinya." ucap Vin's membuat Clara memutar tubuhnya menghadap kearahnya.
"Sungguh?"
"Ya. aku bersungguh-sungguh. karena aku mencintaimu dari dulu Clara. Dari dulu pertama kali kita bertemu. Aku cinta pertamamu." ucap Vin's menggenggam tangan Clara.
__ADS_1
Kini mereka sudah berhenti di ujung jalan. menatap air yang beriak di bawah Golden Gate bridge. Clara turun. Dia memandang sejauh matanya memandang
"Jujur aku juga mencintaimu Vin's." ucap Clara tiba-tiba membuat Vin's pun mendekatinya.
"Sungguh? sungguh kamu mencintaiku?" tanya Vin's tak percaya. Clara pun menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku mencintaimu. Tapi aku tidak mau menjadi yang kedua Vin's." ucap Clara sendu.
"Kamu tenang saja Clara. secepatnya aku akan menceraikan Nana dan menikahimu." satu kalimat dari Vin's ini membuat Clara menarik ujung bibirnya. Dia pun memeluk Vin's dengan erat.
Menunggu matahari terbenam mereka nikmati dengan memakan makanan ringan yang di beli di penjual yang berada di sekitarnya. Sampai tiba saatnya mereka bisa menyaksikan matahari terbenam.
"Cantik ya. sungguh cantik." ucap Clara.
"Iya cantik banget." Sahut Vin's, namun dia bukan melihat matahari terbenam melainkan melihat wajah Clara yang tersenyum di sampingnya.
"Ihh kok lihat aku sih. lihatin mataharinya."
"Gak, kamu lebih cantik daripada mataharinya." kata Vin's sambil terus menatap wajah Clara.
"Ahh apaan sih, kamu itu ya bisanya cuma nge gombal mulu. malu tahu sama orang - orang." ucap Clara malu.
"Siapa yang gombal sih? kamu emang beneran cantik banget sayang. aku gak bohong." ucap Vin's memegang kepala Clara agar menatapnya.
Mereka saling tatap dengan begitu mesra. Hingga pada akhirnya, Clara mengalungkan tangannya ke leher Vin's dan mencium bibir Vin's. Awalnya Vin's kaget karena dia pikir Clara gadis yang lugu, namun dia menepis pikiran itu dan terbawa suasana menikmati ciuman Clara. Vin's pun membalas ciuman Clara tak kalah panasnya.
Namun di tengak tengah mereka berciuman, terdengar bunyi barang jatuh yang pecah. Vin's pun melepaskan ciumannya dan mencari ke sumber arah benda terjatuh itu. Berapa kagetnya Vin's melihat Nana disana tak jauh darinya tengah menangis menatapnya.
"Nana, Nana tunggu.." ucap Vin's mengejar Nana.
Namun Nana telah lebih dulu pergi meninggalkannya. Pergi dari hadapannya dan segera melajukan sebuah mobil yang baru saja dia belikan untuk Nana.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.