
Tidak di sangka, hari menuju acara resepsi tinggal menghitung hari kurang dari seminggu saja. Semuanya sudah siap, bahkan undangan juga sudah di sebar. Namun baik Vin's ataupun Nana masih belum tahu kalau akan menjalankan pernikahan besok bersamaan dengan pesta resepsi Yong Jin dan Ela.
Hari ini Yong Jin dan Ela tengah mencoba baju pernikahan yang sudah di jadi. Mereka hanya sendiri karena Vin's dan Nana pasti akan menolak untuk mencoba gaunnya. Jadi hanya di perlukan dewi fortuna membawa keberuntungan agar design baju pernikahan mereka bisa cocok dan pas dengan apa tubuh mereka.
Ela mencoba gaun hasil pilihan Vin's. Walaupun itu juga gaun yang dia design sendiri. Ela terlihat memukau memakai gaun itu. Gaun yang indah dengan hiasan kupu-kupu yang begitu cantik. Saat dia keluar dari kamar ganti, awalnya dia merasa malu, namun dia beranikan diri untuk keluar.
"Sayang, gimana? apa aku bagus pakai ini?" tanya Ela yang baru saja keluar langsung memutarkan tubuhnya.
"Wow... sungguh istriku itu bidadari yang turun dari langit. kamu terlihat begitu cantik dan mempesona sayang. aku jamin kamu akan menjadi yang tercantik nanti." ucap Yong Jin sambil mendekat kan tubuhnya pada tubuh Ela.
Ela juga memperhatikan Yong Jin memakai jas yang akan di gunakan untuk menikah nanti.
"Sayang, kenapa kamu begitu keren dengan ini? padahal aku sering melihatmu pakai jas, tapi entah kenapa jas ini bisa membuatmu begitu tampan. Aku semakin cinta padamu." ucap Ela dengan nada menggoda.
Yong Jin pun tersenyum. saat dia hendak mencium bibir Ela, tiba-tiba saja Key masuk dan merusak suasana romantis mereka menjadi canggung satu sama lain.
"Loh kenapa jadi pada canggung gini? gimana gaunnya? pas kan?" tanya Key yang melihat kecanggungan di matanya.
"Ohh pas kok bund. perutku juga tidak merasa tertekan kencang." ucap Ela mengelus perutnya yang sudah semakin membuncit karena sudah mulai memasuki bulan ke empat juga karena kehamilan kembarnya yang membuat kehamilannya lebih besar daripada orang yang hanya hamil bayi tunggal.
Mendengar kata perut, seketika kecanggungan Yong Jin menghilang dan langsung berjongkok di depan Ela mengelus perut yang mengandung buah hati mereka itu.
"Halo anak Ayah. gimana di dalam? jangan pada berantem ya. setelah ini dunia akan tahu kalau kalian berdua itu anak Ayah." ucap Yong Jin pada perut Ela seakan anaknya itu mengerti.
"Nah begitu sayang, seorang suami harus sering-sering bicara sama janinnya. supaya dapat merangsang saraf motorik bayi meskipun masih dalam kandungan." ucap Key yang senang melihat keharmonisan putri dan anak mantunya itu.
"Dulu ayah juga begitu kah bund?" tanya Yong Jin yang kini sudah bangkit dan menyuruh sang istri duduk agar tidak kecapekan.
"Kalau waktu hamilnya Ela iya sayang. tapi waktu hamilnya Vin's, bukan ayahmu yang mengelus dan berbicara dengannya ketika Vin's yang masih dalam kandungan." ucap Key membuat Yong Jin dan Ela bertanya.
__ADS_1
"Kenapa bund?" tanya Ela yang penasaran.
"Karena waktu Bunda hamil kak Vin's, Bunda belum menikah dengan ayah. bertemu saja belum. jadi ya bagaimana bisa ayah mengelus perut bunda?" jelas Key namun masih belum bisa di tangkap oleh Yong Jin maupun Ela yang masih diam dengan muka yang sedang berpikir.
"Ahh sudahlah. kapan - kapan saja bunda ceritanya. kalau mau cerita sekarang, itu tak akan pernah ada habisnya sayang. karena ceritanya panjang." ucap Key yang justru mendapat reaksi kecewa dari anak dan menantunya itu.
"Yah bunda mah.." jawab keduanya bersamaan seperti anak kecil.
*
*
*
Sedangkan di tempat Vin's, dia kini tengah menemani sang tunangan ke sauna. Nana dan Vin's mulai saling terbiasa dengan kebersamaan mereka. namun keduanya masih saling gengsi dan enggan untuk mengakuinya.
"Kak, lo pesan sauna yang VIP? hanya ada kita berdua nantinya di kolam?" tanya Nana kaget saat mereka memasuki ruangan VIP.
"Lo kan bisa di tempat yang laki kak." omel Nana.
"Gue masih normal ya, gue gak mau mandi sama cowok. mending sama lo cewek barbar tapi seenggaknya lo cewek." ucap Vin's.
"Terserah lah kak. yang penting lo jangan macem-macem ya kak." kata Nana yang sudah melepaskan handuk piamanya menyisakan bikini minimnya yang membuat jiwa kelakian Vin's bangkit.
"Ahh sial. nih anak kenapa jadi sexy gini sih." gumam Vin's yang juga langsung menanggalkan handuk piamanya dan menyisakan boxer lalu ikut berendam berseberangan dengan Nana.
"Kak, lo nyadar gak sih sama keluarga kita?" kata Nana yang memejamkan matanya tak sadar kalau Vin's semakin mendekatinya dan kini sudah berada tepat di samping kanannya.
"Kenapa emangnya?" jawab Vin's dengan ikut memejamkan matanya.
"Ehh cowok halu, kenapa lo berada di samping gue? jauhan dikit sono." ucap Nana yang sadar bahwa Vin's berada di sampingnya saat mendengar suara Vin's terdengar begitu dekat.
__ADS_1
"Udah diem deh. gue gak bakal apa-apa in lo kok. lagian juga gak enak tahu bicara sambil teriak-teriak." ucap Vin's sambil menahan tangan Nana yang hendak pergi dari sampingnya.
Akhirnya Nana pun mengalah dan kembali pada posisinya yang tadi. Dia memejamkan matanya lagi dan kembali berbicara hal yang tadi sempat tertunda.
"Sadar gak kak kalau keluarga kita tu diem banget gak ada pergerakan untuk segera menikahkan kita?" tanya Nana. Mendengar itu Vin's pun membuka matanya dan menghadap kearah Nana.
"Bener banget. gue rasa ini terlalu tenang gak sih? bahkan kita rasanya mau kabur aja bisa. biasanya kita dapat pengawalan kali ini gak." ucap Vin's.
"Nah itu yang gue heranin kak. Apa mereka akhirnya mengalah ya?" tanya Nana yang ikut membuka matanya dan menatap Vin's yang terlihat tampan dengan tubuhnya yang bagus dan rambutnya yang basah membuatnya terlihat sexy.
"Tapi kalau kita mau kabur, pasport kita aja di ambil gimana mau kabur. lagian selama ini kita juga cuma diem aja gak ada pergerakan untuk melawan." kata Vin's.
"Iya juga sih kak. kita tiba-tiba aja udah ngerasa terbiasa kemana-mana berdua." ucap Nana tanpa sadar.
Dan saat itu pula mata mereka terkunci. Mereka saling menatap dalam diam. tatapan mereka sama-sama menghanyutkan. entah siapa yang memulai, suasana itu menjadi semakin romantis dengan menyatunya bibir mereka. ciuman yang lembut dan perlahan. Seakan semuanya berhenti. bahkan detak jantung mereka juga sepertinya ikut berhenti.
Hangatnya kolam itu terasa semakin memanas kala ciuman itu juga memanas. Tak ada yang berniat untuk menghentikan ciuman itu. Entah rasanya sudah seperti lem yang begitu erat menempelkan kedua bibir mereka. tak ada niatan untuk menyudahinya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.