
Malam hari pun tiba. Setelah makan malam semuanya menuju kamar masing-masing. Sore tadi Cassie sudah pulang ke rumah suaminya. Karena mertuanya tengah berkunjung. Jika mertuanya sedang tak berada di rumah, Cassie pasti tinggal di rumah eommanya. Karena kasihan melihat Eomma nya sendiri.
Yuna untuk pertama kalinya merasa sangat kesepian. Dulu saat dia masih menjadi orang biasa, dia tak pernah kesepian karena selalu ada ayahnya dan sahabatnya. Dia rindu dengan ayahnya saat ini. Bertatap muka lewat video call tadi sedikit mengurangi rindunya. Namun tak menghilangkan rasa kesepiannya sekarang. Karena dikamar ini hanya ada dirinya. Jin-young tengah berada di kamarnya sendiri. Bahkan mungkin ada Bo Reum disana. Karena Joanna menempatkan Bo Reum di kamar Jin-young.
"Hais... aku bukan istrinya." ucapan itu terlontar begitu saja. Hingga akhirnya dia terlelap dengan guling dalam dekapannya.
Jin-young pov.
Aku tengah mengguyur tubuhku dengan shower ketika aku merasakan ada seseorang yang membuka pintu. Sejenak aku diam saja. Karena hal biasa bagiku untuk tidak mengunci pintu kamar mandi ketika mandi di kamar.
Namun tiba-tiba baru aku ingat. Tidak mungkin kalau itu Yuna istri kecil ku yang masuk. Selama ini meskipun tak pernah ku kunci pintunya, dia tak akan masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan saat aku bilang kalau aku mau mandi pun, dia pasti selalu keluar dari kamar. Dia tak mau melihatku bertelanjang dada di depannya. Lalu siapa gerangan uang memasuki kamar mandi ku? Jangan-jangan...
"Sayang..."
"Bo Reum!"
Aku terpekik kaget ketika melihat Bo Reun yang sudah telanjang bulat sambil mendekapku dari belakang. Ini kebiasaan lama ku dengannya. Aku dan dia sering masuk ke dalam kamar mandi ketika salah satu diantara kami tengah mandi. Dan ini sudah menjadi kebiasaan asing setelah aku menikah dengan Yuna.
"Apa-apa an kamu ini." aku mendorong tubuh Bo Reum sampai dia terpenting dinding kamar mandi.
"Aww... kamu apa-apa an sih. Kenapa dorong aku." ucapnya sambil memegang kepalanya yang mungkin terasa sakit karena terpentok dinding.
"Kamu itu yang apa-apa an. Kenapa masuk kedalam kamar mandiku?" tanyaku.
"Loh kenapa bertanya? bukankah ini kebiasaan kita dulu? bahkan setelah itu kita langsung melakukan itu sayang." dia berucap seperti itu sambil tangan kiri nya memegang buah dadanya dengan pose menggoda dan tangan satunya hendak memegang benda pusakaku. Tapi dengan sadar aku menepis nya.
"Iya, itu dulu. Sebelum kamu meninggalkanku. Sekarang aku sudah punya Yuna. Jadi kamu jangan pernah seperti ini lagi. Dan malam ini kamu mau tidur di kamarku kan? Baik, aku akan tidur di kamar lain." ucapku lalu mengambil bathrope dan memakainya lalu keluar tanpa memperdulikan kembali panggilan dari Cassie.
Aku keluar dari kamar. Namun entah kenapa kakiku melangkah sampai di depan kamar Yuna. Aku juga tak tahu ada gerangan apa yang membuatku menjadi melangkahkan kakiku ke kamar Yuna. Aku buka pintunya perlahan. Untung dia memiliki kebiasaan tak pernah mengunci pintu. Namun itu yang justru sering membuatku khawatir kalau dia tidur sendirian seperti ini. Akan mudah orang lain yang berniat jahat masuk dan mengganggunya.
__ADS_1
Aku menutup lagi pintu itu dan menguncinya. Terdengar bunyi klik dua kali yang artinya pintu itu sudah terkunci ganda. Bahkan tak bisa di buka dengan kunci lain dari luar meskipun itu kunci cadangannya.
Aku berjalan perlahan mendekati ranjang. Kulihat Yuna meringkuk diatas kasurnya tanpa selimut. Entah setan darimana, baru kali ini aku merasa bernafsu melihat istri kecilku memakai kaos kebesarannya. Padahal selama sebulan ini, jikapun dia telanjang di hadapanmu, mungkin aku tak akan bernafsu. Namun berbeda kali ini.
Melihat kaos kebesaran yang menutupi paha mulusnya tersingkap, membuat darahku berdesir. Rasanya panas dalam tubuhku meningkat. Apalagi aku yakin bahwa Yuna tak memakai bra, karena selama ini tiap aku tidur, tengah malam diam-diam aku memeluknya dan tanpa sengaja menyenggol bagian dadanya yang kurasakan tak terbungkus apapun selain kaos kebesarannya.
Aku tak tahu sejak kapan aku memulai. Tapi kini diriku sudah berada di atasnya. mengungkung tubuh padat berisi milik istri kecilku. Perlahan namun pasti ku cecap tiap inci kulit tubuh nya. Meninggalkan jejak berwarna merah ke unguan.
Ku lihat Yuna yang masih menutup matanya mulai merespon dengan lenguhan kecil yang keluar dari bibir manisnya itu. Ku kecup bibir itu. Lama kelamaan ku sedap manis bibirnya, ku jelajahi rongga mulutnya ketika dia membuka mulutnya dan mendesah. Bahkan kini aku dan dia sudah bertelanjang bulat.
Aku yang sudah kesetanan oleh hawa nafsu, tak memperdulikan keputusannya, aku menyetubuhi nya. Perlahan ku masuki dia. baru seperempatnya masuk, dia sudah merasakan kesakitan sambil terus menutup mata. Namun saat setengah nya sudah masuk, kurasakan hangat di bawah.
Ku lirik itu ternyata cairan merah tanda kegadisannya sudah ku renggut. Bertepatan dengan itu dia membuka matanya karena ku yakin itu pasti rasanya sangat sakit.
"Aww..." dia refleks membuka mata sambil mendorong badanku.
Namun saat dia mendorong badanku untuk menjauh dari tubuhnya, justru bagian bawah ku semakin merangsek masuk dan kini penuh mengisi miliknya.
Aku kaget saat dia tahu bahwa ini diriku. Aku kaget saat dia menatapku dalam. Aku yang masih mendiamkan diri agar dia menyesuaikan punyaku pun ikut terdiam menatapnya. Hanya satu kata yang terucap dari bibirku.
"Maaf." ucapku sambil perlahan menggerakkan milikku untuk keluar dari miliknya dan menyudahi permainan ini. Namun aku tak mendapatkan jawaban dari Yuna. Justru Yuna malah mencium ku. membuat aku yang sudah mengeluarkan setengah milikku kembali terdiam sampai dia selesai dengan ciuman itu, bukan lebih tepatnya hanya bibirnya menempel pada bibirku.
"Tak apa Oppa. Aku sudah menjadi istrimu. Dan hari ini, aku menjadi milikmu seutuhnya. Lakukanlah secara lembut dan perlahan. Dan aku akan mengikuti semua arahanmu. Agar kamu bisa puas menikmatiku oppa." ucapnya sambil mengalungkan tangannya pada leherku dan tangan satunya mengelus dadaku dengan pola abstrak yang sungguh membuatku semakin gila.
Ku hentakkan kembali punyaku ke dalam miliknya. Perlahan namun pasti. rasanya sungguh berbeda dengan apa yang dulu kurasakan saat bermain dengan Bo Reum. Bahkan malam pertamaku dengan Bo Reum pun tak senikmat ini.
Dia melakukan semua apa yang aku perintahkan. Mungkin tanpa sadar aku membuatnya sebagai wanita pro. Namun, itu tak akan ku biarkan orang lain yang menikmatinya. Akan ku buat dia candu dengan milikku seorang.
Aku suka ketika dia mendesah di bawahku sambil menggigit bibirnya. Awalnya dia mendesah dengan lepas dan keras, namun saat aku iseng berkata bahwa kamar ini tidak kedap suara, padahal semua kamar di rumah ini kedap suara. Dia langsung menutup mulutnya dengan menggigit bibir bawahnya sambil menutup matanya.
__ADS_1
Sialnya dimataku justru itu semakin menambahkan kesan sexy di mataku. Ternyata bermain lembut lebih enak daripada bermain kasar. Setiap bersama Bo Reum aku selalu bermain kasar karena Bo Reum tak akan puas jika aku bermain lembut. Benar-benar berbeda dengan Yuna yang terlihat begitu menikmati permainanku. Bahkan satu jam sudah berlalu, dia sudah berkali-kali mencapai puncaknya, sedangkan aku baru sekali dan kini aku akan mencapai puncak yang kedua kalinya.
Aku menyuruhnya membelakangiku. Dan dia semakin menggelinjang karena perbuatanku. Aku tahu dia sudah akan sampai. Dan bertepatan sekali aku juga ingin mengeluarkannya lagi. akhirnya dengan perasaan yang begitu puas aku ambruk dengan bagian tubuhku yang masih di dalamnya. Aku tidur di belakangnya sambil memeluknya.
"Apakah kamu puas oppa?" tanyanya.
"Kalau aku jawab aku belum puas?" ucapku sambil mencium lehernya.
"Lakukan saja sampai kamu puas oppa. Aku akan melayanimu, bahkan jika kamu melakukannya sampai pagi." ucapnya.
"Tidak sayang, aku tak ingin membuat eomma curiga jika kamu sampai tak bisa jalan besok. Aku akan menahannya malam ini. Karena dua ronde saja itu pasti akan membuatmu sulit berjalan besok." ucapku sambil mencium tengkuknya.
"Baiklah oppa. Kapanpun kamu memintanya, aku akan memberikannya." ucapnya sambil memegang tanganku yang berada di perutnya.
"Saranghae..." ucapku. Namun tak ada respon darinya. Pasti dia sudah terlelap dalam tidurnya karena kelelahan. Aku pun ikut tertidur sambil memeluknya setelah mengeluarkan milikku dari pusat intinya dan menyelimuti tubuh ***** kita berdua.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.