Kisah Keysha

Kisah Keysha
S3. Trouble Maker Part 32


__ADS_3

...#masihflashback#...


"Tapi dok, selama ini istri saya tidak pernah mengeluh tentang kesehatannya. Dia sehat-sehat saja dok. Dia selalu olahraga dan makan teratur. Hanya beberapa hari terakhir dia berkata bahwa dia merasa tidak enak badannya. Bagaimana mungkin bahwa kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya? Bahkan selama ini dia juga sering medical checkup kesehatannya tidak pernah terdeteksi adanya kanker ini dok?" ucap Yohan yang hatinya ingin terus menyangkal bahwa istrinya itu baik-baik saja.


"Kanker ini memang tidak bisa di deteksi dini. Oleh karena itu kanker ini merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan. Sebenarnya, selama saya menjabat sebagai seorang dokter selama tiga puluh tahun, baru dua kasus saya menemukan penyakit ini. Dan kasus pertama saya seorang lelaki delapan belas tahun yang lalu." ucap dokter itu mengingat kembali pasien pertamanya.


"Apakah pasien itu bisa sembuh dok?" tanya Yohan.


"Orang yang menderita penyakit ini, peluang harapan untuk kesembuhan sangatlah kecil. Bahkan peluang itu kurang dari empat persen. Pasien pertama saya dulu juga seperti istri anda. Dia di diagnosa setelah kankernya sudah stadium akhir. Bahkan dia tidak bisa bertahan hidup, dia menghembuskan nafas terakhirnya kurang dari dua minggu setelah dia dinyatakan mengidap kanker pankreas."jelas dokter itu membuat Yohan yang tadinya memiliki secercah harapan kini harus putus asa dan memendam harapan itu dalam-dalam. Kalau dokter sendiri sudah seperti putus asa dengan kondisi Yura, lalu apa daya dirinya yang tidak tahu menahu perihal kedokteran?


"Lalu apa yang harus saya lakukan dok?" tanya Yohan dengan lesu.


"Walaupun berat, tapi kami selalu dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan kemungkinan kesembuhan untuk istri anda. Semoga ada mukiizat dari Tuhan agar istri anda bisa segera sadar dan sembuh dari sakitnya." tutup dokter itu.


Meskipun dokter itu berkata ingin berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Yura, tapi mengingat kembali pasien pertamanya yang hanya bertahan kurang dari dua minggu setelah pasien itu dinyatakan mengidap penyakit ini.


...#FlashbackOff#...


Yohan menyelesaikan ceritanya dengan linangan air mata. Chanyeol tak tahu harus berkata apa. Dia hanya diam menatap ke depan tak tahu ingin bereaksi seperti apa lagi. Semuanya terasa seperti mimpi. Jika benar ini hanya mimpi, dia ingin terbangun sesegera mungkin.


"Kan..... ker..... pankreas?" ucap Jin-young.


Brug.


Jin-young lalu terjatuh setelah berkata seperti itu. Yuna yang melihat suaminya jatuh terpuruk sudah bisa di pastikan bahwa suaminya itu begitu syok. Bagaimana tidak, seorang sahabat nya yang dulu begitu dia cintai juga pergi meninggalkannya setelah mengidap penyakit ganas yang mematikan ini.


Dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan bahwa Yura juga mengidap penyakit yang sama seperti ayahnya. Sedangkan bagi Jin-young, Yura adalah pengobat rindunya di kala dia rindu dengan Woodz dan juga Nana yang lebih dulu menghadap sang pencipta. Sampai sekarang pun, Jin-young masih menganggap Yura adalah anaknya.


"Daddy.. " ucap Chanyeol ketika melihat Jin-young terjatuh di dekat kakinya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya dia melihat seorang Park Jin-young menangis di depan matanya. Tapi bagi Yura, ini tangisan ketiganya. Untuk pertama kalinya Yura melihat Jin-young menangis setelah kematian Woodz, yang kedua kematian Nana yang begitu mendadak dan sekarang Yura. Jin-young terduduk lemah tak berdaya. Dia menangis dalam diam.


"Apakah ini ada hubungannya dengan uncle Woodz, mom?" tanya Han Sung yang paham dengan situasi Jin-young. Karena hanya dengan bercerita tentang masa-masa indahnya dengan Woodz saja, Han Sung sudah sering melihat Jin-young begitu sedih. Apalagi disini sekarang hanya ada Yuna dan Jin-young yang tahu sejarah keluarganya. Karena mereka yang di tuakan di sini.


"Benar nak. Mendiang uncle Woodz juga mengidap penyakit yang sama dengan Yura. Dia ayah dari Yura. Uncle Woodz meninggal tepat sehari setelah Mommy dan Daddy mengucapkan janji suci pernikahan di depannya. itu merupakan salah satu permintaan terakhirnya kala itu. Dan hari dimana kematian Uncle Woodz juga merupakan hari dimana Ela, Mama Chanyeol mengumumkan tentang kehamilannya. Dia waktu itu tengah mengandung Chanyeol."jelas Yuna mengingat masa masa menyedihkan di awal pernikahannya dulu.


"Apakah nasib kak Yura akan seperti Uncle Woodz?" tanya Han Sung.


"Entahlah. Hanya mukjizat dari Tuhan lah yang bisa mengabulkan permintaan kita." ucap Yuna.


Chanyeol bangkit dari duduknya. Dia berjalan perlahan menuju kaca besar di depannya. Hanya lewat kaca itu mereka melihat Yura. Mereka di larang masuk ke dalam. Chanyeol menatap tubuh Yura yang terbaring lemah tak berdaya di sana. Matanya tertutup dengan begitu damai. Meski terhalang oleh selang oksigen, Chanyeol masih bisa melihat senyum Yura. Senyum manis yang selalu dilayangkan untuknya.


Chanyeol menitikkan air matanya. Selama ini dia tahu bahwa kakaknya sellau menjalani hidup sehat. Tak pernah sekalipun kakaknya itu sakit parah. Tapi kali ini, kakaknya harus merasakan sakit yang teramat sakit. Ingin rasanya Chanyeol menggantikan rasa sakit yang dirasakan oleh kakaknya sekarang. Ingin rasanya dia yang menggantikan posisi kakaknya di dalam sana.


Dia ingin menggantikan kakaknya tertidur di brangkar itu dan merasakan tiap tetes infus dan obat yang masuk ke dalam tubuhnya. Chanyeol masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka. Dia tak ingin bahwa ini suatu kenyataan yang menyakitkan nya. Chanyeol kembali teringat ucapan Yohan barusan bahwa umur Yura tak panjang lagi. Chanyeol tak bisa membayangkan bagaimana dia bisa hidup tanpa kakaknya. Selama ini, Yura satu-satunya tempat bersandar untuknya di balik kesibukan semua keluarganya. Baginya Yura bukan hanya seorang kakak tapi juga seorang Ayah dan Ibu pengganti untuknya. Yura memerankan berbagai peran penting dalam hidup Chanyeol.


...***...


Rumah megah dan mewah keluarga Park di San Francisco hanya berisi Ela dan Yong Jin sekarang. Ela dan Yong Jin tengah menyantap sarapan mereka di meja makan. Ditengah kegiatan mereka, tiba-tiba saja handphone Ela berdering. Dia melirik sekilas siapa yang menelfon. Saat melihat Yuna yang menelfon, dia tidak mengangkatnya sampai telfon itu mati dengan sendirinya. Karena dia pikir itu tidaklah penting. Nanti setelah selesai makan ia akan menelfon nya lagi. Namun setelah itu berganti telfon rumah mereka yang berbunyi. Pembantu di rumah itu pun segera mengangkatnya dan memberikannya kepada Ela.


"Halo?" sapa Ela yang tak tahu siapa yang menelfonnya pagi-pagi sekali.


^^^"Halo kak, ini aku Yuna." ucap Yuna yang berada di seberang. ^^^


Yong Jin bertanya dengan isyarat bibir siapa dan Ela pun menjawab bahwa yang menelfon itu Yuna.


"Ada apa Yun? Tumben kamu menelfon ke telfon rumah? apakah ada yang penting?" tanya Ela.


^^^"Aku dan kak Jason sudah menghubungi handphone kalian tapi kalian tak menjawabnya." jawab Yuna. ^^^

__ADS_1


"Ohh maafkan kami. Kami sedang sarapan. Ada apa menelfon? apakah ada masalah dengan Chanyeol?" tanya Ela sembari bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari Yong Jin agar tak mengganggu sarapan Yong Jin.


^^^"Kak, apakah kalian bisa pulang ke Korea hari ini juga?" tanya Yuna. ^^^


"Ada apa Yun? Bicaralah. Bukankah sekarang sedang malam di Korea." ucap Ela sedikit tidak sabar. Apalagi mengingat perbedaan waktu di negara mereka yang berbeda.


^^^"Kakak pulang lah dulu ke Korea. Nanti akan aku jelaskan." ucap Yuna mendesak Ela dan Yong Jin agar segera pulang. ^^^


"Tidak bisa Yuna. Aku dan kak Yong Jin harus terbang ke Swedia hari ini juga." ucap Ela mengingat jadwal sibuk mereka. "Apa Chanyeol membuat masalah yang lebih parah lagi?" tanya Ela. Kalimat terakhir yang dikatakan oleh Ela terdengar oleh Yong Jin. Dia mengepalkan tangannya jika benar Chanyeol membuat masalah lagi.


"Bukan kak. Ini bukan tentang Chanyeol melainkan tentang Yura." ucap Yuna.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2