
Pagi hari, untuk pertama kalinya Yuna dan ayahnya tidur sangat lelap diatas kasur yang mewah. Bahkan Yuna tak perlu bangun pagi-pagi untuk memasak karena sudah ada pembantu. Meskipun begitu, karena sudah terbiasa bangun pagi sejak kecil, Yuna tetap terbangun pagi sekali.
"Yuna bangun nak. siapkan sarapan untuk suamimu." ucap ayah dari balik pintu kamar tidurnya.
Yuna tidur di kamar milik Jin-young, sedangkan ayahnya tidur di kamar samping kamarnya. Yuna perlahan keluar dari kamar menggunakan baju santainya setelah mandi.
"Kata Hans, kita gak perlu repot-repot masaka yah. Karena ada bibi yang menyiapkan semuanya." ucap Yuna.
"Benarkah? pantas saja orang kaya banyak yang malas, buat makan aja minta di siapin." ucap ayah sambil beranjak turun bersama Yuna.
"Bukannya malas yah. Tapi mereka punya uang untuk memperkerjakan orang lain. Tanpa sengaja kan mereka sama saja membuat lowongan pekerjaan untuk orang yang membutuhkan." ucap Yuna. "Lagipula ya yah, tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam keluarga Park dan Lin. Bahkan hanya untuk pembantu saja mereka harus sarjana." lanjutnya.
"Benarkah?" tanya ayah tak percaya.
"Nanti bisa kita buktikan yah. ayo kita sarapan." ucap Yuna sambil mengajak ayahnya ke meja makan.
Disana mereka sudah di sambut oleh pembantu dan ternyata juga ada Hans disana. Semuanya menyapa Yuna dan ayahnya dengan hormat. Mereka merasa di hargai. Baru kali ini ada yang memanggil mereka dengan sebutan Nyonya dan Tuan.
"Nyonya, hari ini saya yang akan mengantar anda ke sekolahan. Dan untuk Tuan, anda sudah tidak bekerja sebagai penjaga sekolah lagi." ucap Hans membuat ayah Yuna kaget.
"Kenapa? Apakah saya membuat kesalahan? kenapa saya di pecat?" pertanyaan dari ayah Yuna membuat Yuna, Hans dan bibi pembantu tertawa.
"Ayah, mana ada seorang mertua dari pengusaha terkenal menjadi penjaga sekolah. Yang membuat ayah sudah tidak bekerja di sana lagi itu pasti Hans yah. Lagipula untuk apa sih ayah bekerja lagi. Kan kata Jin-young oppa, apapun yang ayah butuhkan tinggal bilang sama Yuna atau Hans. iya kan Hans?" ucap Yuna.
"Iya Tuan, Tuan Jin-young yang menyuruh saya untuk Tuan tua tetap di rumah dan tidak bekerja. Tuan Jin-young akan membuka sebuah cafe kopi untuk Tuan tua nanti. bukankah bersantai sambil mengopi adalah hobi anda Tuan?" ucap Hans.
"Benarkah? apakah aku sedang bermimpi?" ucap Ayah Yuna.
"Coba ayah tampar pipi ayah sendiri sakit tidak?" celetuk Yuna bercanda sambil meminum susunya.
Plak.
"Aww.. sakit nak. Iya ayah tidak bermimpi." ucap ayah Yuna terlihat begitu polos.
Semuanya pun tertawa melihat tingkah polos ayahnya Yuna yang tak sesuai dengan umurnya itu. Setelah sarapan, Hans mengantar Yuna ke sekolah sedangkan ayah Yuna bersantai di rumah.
"Sudah sampai Nyonya." ucap Hans sambil membukakan pintu untuk Yuna.
"Ohh iya Hans, kamu kan sudah pegang nomorku, nanti kalau ada apa-apa kabari ya. Perasaanku tak enak hari ini." ucap Yuna.
__ADS_1
"Baik Nyonya."
Yuna pun masuk ke dalam sekolahnya. Dia dilihat oleh banyak orang. Yuna memang tipe orang yang cuek. Jadi dia tak mengurusi omongan orang. Sampai di parkiran ternyata ke empat temannya sudah datang dan menunggu Yuna karena melihat Yuna pergi di antar oleh mobil mewah. Bahkan mobil yang mengantar Yuna lebih mewah dari mobil pribadi yang mengantar mereka.
"Ceritakan semuanya secara detail." ucap gadis bercepol dengan mata sipitnya, Yeji.
"Oke, kita ke kantin. Hari ini gue yang traktir." ucap Yuna sambil menggandeng tangan Lia dan Ryujin.
"Tumben lo traktir kita? Biasanya lo minta traktiran." ucap Chaeryong mengikuti ketiga hadis di depannya itu bersama Yeji.
"Mulai hari ini aku bisa traktir kalian." ucap Yuna di selingi senyumnya yang tak pernah luntur itu. Ketiga temannya pasti heran karena selama ini setiap pagi, dia yang paling terlihat lemas karena kerja part time nya.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Lia.
"Terus kenapa lo pakai cincin kaya gini? gila, cincin mahal ini mah. mirip punya nyokap bokap gue. cincin pernikahan ini." ucap Ryujin menilik cincin Yuna.
"Kalau gue jujur sama kalian, janji jangan kaget. Oke." ucap Yuna dan keempat teman lainnya menatap Yuna serius. "Gue udah nikah." ucap Yuna lirih.
"HA! SERIUS?!" ucap ke empat temannya, lebih tepatnya berteriak.
"ish... mulut lo orang ya gak bisa kecilin dikit apa suaranya. iya gue udah nikah kemarin. tapi jangan bilang sama siapa-siapa oke." ucap Yuna.
"Tapi kenapa lo buru-buru menikah Yuna?" tanya Lia.
"Dan siapa laki lo?" tanya Ryujin.
"Jangan bilang tadi yang kita lihat itu laki lo ya?" tanya Chaeryong.
"Laki lo kerja apa?" tanya Yeji.
"Ceritanya panjang, kalau gue cerita siapa laki gue kalian pasti gak percaya. Yang tadi pagi pergi nganter gue itu asisten pribadi suami gue. Dan suami gue seorang pengusaha ternama di negaranya." ucap Yuna.
"Oke, kita lanjut nanti istirahat. udah masuk nih." ucap Ryujin.
Mereka berlima pun masuk ke dalam kelas. Namun saat istirahat karena kesibukan masing-masing dengan oraganisasi nya masing masing, mereka tak bisa bercerita. Hingga pukul lima sore, mereka berkumpul di sebuah cafe dekat sekolah.
"Capek banget gue hari ini." ucap Yuna.
"Sama, mana pelatih tari gue lagi pms kali, masak kita anak tari kena omel mulu." ucap Ryujin.
__ADS_1
"Biasa aja kali." ucap Yeji karena pelatih tari itu kekasih Yeji, dan Yeji ikut di organisasi yang sama dengan Ryujin.
Berita terkini, anak lelaki pertama keluarga Lin, Lin Kevin, tepat hari ini meninggal dunia di karenakan penyakit ganas yang di deritanya. Kabar itu di klarifikasi oleh keluarga Park yang mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi kebenaran kabar itu. Dan sekarang rekan reporter saya, Kim Shin Ah tengah berada di lokasi penghormatan terakhir saudara kita Lin Kevin.
Yuna mendengar berita itu pun langsung kaget. Dia tahu siapa lelaki yang berada di berita itu.
"Hua... calon suami gue meninggal.. gila ini bakal jadi berita tranding banget ini." ucap Ryujin yang tahu siapa lelaki itu.
Yuna pun langsung menelfon Hans.
"Hans, apa benar Tuan Woodz meninggal?" tanya Yuna to the point.
"Benar Nyonya. Ini akan di adakan pemakaman. anda akan di jemput oleh sopir nanti. Langsung lah kesini. saya juga menyiapkan ganti nanti." ucap Hans di telfon.
"Oke.."
Yuna pun menutup telfonnya dan segera menatap ke empat temannya.
"Gue harus pergi. Suami gue butuh gue. percaya atau gak, suami gue sahabat dari Tuan Lin Kevin. itu aja bocoran dari gue." ucap Yuna yang langsung pergi meninggalkan temannya.
Yuna langsung menuju ke tempat pemakaman. Sebelum keluar dia mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian serba hitam yang di bawakan oleh Hans. Dia melihat Hans lalu melambaikan tangan. Di tempat itu benar-benar padat oleh peziarah.
Hans menunjuk ke arah dimana Jin-young berada. Bisa dilihat betapa terpukul nya Jin-young kalau itu. Yuna pun mendekat setelah Hans menjemputnya. Tanpa Yuna sadari, ternyata Jin-young langsung memeluk Yuna erat. Menyandarkan semua kesedihannya pada gadis itu. Yuna pun ikut menangis. Karena Yuna pasti akan merasakan sedih jika sahabat terbaiknya meninggalkannya, bukan hanya di belahan dunia berbeda, tapi di alam yang berbeda.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1