
Jin-young menghampiri Nana yang terlihat duduk bersama Jhos dan juga dia karyawannya. Nana kaget melihat Jin-young berada di sampingnya. Namun sedetik kemudian dia tiba-tiba begitu ingin memeluk Jin-young. Menumpahkan rindu yang selama ini dia pendam karena dia sendiri yang ingin menjauhi Jin-young.
"Maafkan aku Jas.. aku rindu padamu." ucap Nana saat dalam dekapan Jin-young.
"Sudah tidak apa-apa. Aku kesini ingin memberinu ini." ucap Jin-young.
"Kamu mendapatkannya? untukku?" ucap Nana.
"Ya.. ini untukmu. Ingat, kamu masih berhutang satu jawaban untukku." ucap Jin-young.
"Emm.. baiklah. Akan ku pikirkan. Terlebih aku juga ingin ada seseorang yang mendampingiku dalam melahirkan anakku ini." ucap Nana sambil mengelus pelan perutnya yang sudah begitu membuncit.
"Baiklah.Kalau begitu sekarang ayo ketempat keluarga besarku. Aku ingin mengenalkanmu dengan mereka." ucap Jin-young sambil menggandeng pelan Nana.
Akhirnya Nana dan Jin-young pun mendekati meja mereka. Mereka semua belum ada yang menyadari bahwa Jin-young sudah berada di samping meja Vin's dan yang lainnya. Nana sendiri masih menundukkan kepalanya sambil terus memandang bunga yang begitu cantik di tangannya itu.
"Semuanya.. kenalin ini wanita yang sudah merebut hatiku." ucap Jin-young.
Semuanya pun memandang kearah Jin-young. Kakak-kakaknya yang sudah mengenal Nana pun memanggilnya. Sedangkan kedua keluarga yang dari Korea masih menatap Nana.
"Nana sayang, sini duduk di samping kakak.xucap Soo Young.
Nana pun mengangkat kepalanya dan matanya memanas menatap keluarga yang berada di depannya. Terlebih menatap Vin's, suaminya. Bisa dilihatnya wajah tak percaya mereka. Terlebih juga dia orang yang baru saja bergabung duduk di meja mereka. Kedua orang tua Nana.
"Nana... Nana sayang... ini kamu nak?" tanya Nyonya Kim yang melihat anaknya.
Nyonya Kim dan Rei sudah menangis sesenggukan. Mereka tak menyangka bahwa anaknya masih hidup dan kini tengah hamil besar yang mungkin sudah mau melahirkan. Sedangkan Vin's perlahan jalan mendekati Nana. Namun secepatnya Nana menghindar dari pelukan kedua orang tuanya lalu ingin beranjak pergi dari hadapan Vin's. Namun Vin's mencegahnya.
__ADS_1
"Nana... Kamu kemana saja sayang. Kamu kemana saja? aku sudah mencarimu lama sekali dan tidak menemukanmu. Benar firasat ku bahwa kamu belum meninggal. Aku rindu kepadamu sayang." ucap Vin's.
Vin's memeluk Nana. Namun berusaha keras Nana menghindarinya. Tapi yang ada Vin's semakin memeluknya erat. Nana merasa kesakitan sambil menangis. Jin-young pun hendak ingin melepaskan Nana dari pelukan Vin's namun ditahan oleh Ela.
"Biarlah kak. Biarkan mereka melepas rindunya. Apa kakak tidak tahu bahwa wanita yang kakak kejar itu istri dari kak Vin's yang hilang?" ucap Ela.
Mendengar ucapan Ela, Jin-young pun mematung. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang selama ini dia cintai itu istri dari sahabatnya sendiri. Bahkan tanpa sadar dia juga sudah menyembunyikan Nana dari Vin's padahal dia sendiri juga sudah melihat bagaimana frustasi nya Vin's ketika mencari Nana. Dia bahkan sudah melihatt banyaknya bekas goresan ditangan Vin's. Goresan dan luka itu menandakan bagaimana putus asa nya Vin's untuk melanjutkan hidup ketika dia tahu bahwa istrinya dinyatakan meninggal.
Jin-young pun pergi dari sana melewati Nana dan Vin's yang tengah berpelukan. Nana yang melihat itu pun langsung melepaskan pelukan Vin's yang dirasa sudah melonggar. Dia sebisa mungkin mengejar Jin-young dengan memanggil namanya. Namun jalannya terhenti ketika merasakan ada yang mengalir di kakinya. Dia melihat darah disana.
"JASON!" pekik Nana.
Jin-young pun berbalik dan melihat Nana yang sudah jatuh terduduk disana dan langsung menghampiri Nana dan menggendongnya membawa ke rumah sakit. Dia bahkan tak mendengarkan teriakan Vin's yang terus berteriak memanggil nama Nana dan Jin-young.
*
*
*
"Apa yang aku buat. Ternyata selama ini aku tanpa sengaja sudah menyembunyikan Nana dari Vin's. Kenapa dari dulu aku tak pernah mencari tahu siapa sebenarnya lelaki yang menjadi suami Nana. Bahkan dengan egoisnya aku terus menutup mata tentang status Nana." ucap Jin-young dalam hatinya.
"Sayang, maafkan aku. Apakah aku masih ada di hatimu? atau sudah ada nama Jin-young di hatimu? Jika memang iya, aku ingin mendengar dari bibirmu sendiri bahwa kamu sudah tidak mencintaiku lagi." ucap Vin's dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Mereka semua menatap seorang dokter yang tengah keluar menemui mereka. Semuanya mendekat bertanya kepada dokter itu.
"Siapa suaminya yang bernama Jason disini?" tanya Dokter itu.
__ADS_1
"Saya suaminya dok. Tapi nama saya bukan Jason melainkan Vin's dok." ucap Vin's cepat.
"Tapi pasien ingin ditemani oleh yang bernama Jason." ucap Dokter itu dan menunggu reaksi semuanya yang tengah saling pandang. Lalu mata donter itu berhenti di Jin-young yang berada di belakang. diapun memanggil. "Anda Tuan, anda yang mengantar Nyonya Nana tadi. Apa anda yang bernama Jason?" tanya dokter itu. Dan dengan ragu Jin-young pun mengangguk kecil.
"Mari ikut saya masuk. Beliau ingin anda menemaninya melahirkan buah hati tercintanya." ucap dokter itu.
Jin-young pun berjalan pelan melewati semuanya. Dia menatap Vin's sekilas. terlihat jelas sorot mata kekecewaan dan kesedihan di mata Vin's. Vin's pun beralih menuju keluar dan pergi dari depan ruangan Nana. Dia duduk dengan lemas.
Sedangkan Jin-young sudah masuk menemui Nana yang tengah berjuang sendirian mengeluarkan anaknya. Melihat Jin-young masuk, Nana pun langsung meraih lengan Jin-young dan berkata.
"Terimakasih... aku menerimamu untuk menjadi ayah dari anakku. Maka dari itu aku ingin kamu yang menemaniku melahirkan." ucap Nana dengan sedikit terbata karena nafasnya yang ngos-ngosan.
Jin-young yang mendengar itu hanya tersenyum. Ada sedikit perasaan senang yang mendera hatinya mendengar Nana berkata seperti itu. Namun wajah putus asa dan kesedihan Vin's tadi masih membekas di ingatannya. Membuat Jin-young sedih karena harus memikirkan perasaan Vin's selaku suami Nana.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.