
Yuna pov.
Aku mendengar ada suara langkah masuk ke dalam kamar. Aku tak tahu itu siapa karena mataku terasa berat untuk di buka. Lama kelamaan aku kembali terlelap dalam mimpiku. Sampai aku merasakan seluruh tubuhku di belai dan di ciumi dengan begitu lembut dan romantisnya.
Sampai ketika aku merasakan ada sesuatu yang mencoba memasuki inti tubuhku. Orang itu terlihat begitu kesusahan memasukinya. Aku sekarang tahu siapa dia, karena dari bau harum badannya pun sudah bisa ku tebak bahwa itu suamiku. Namun aku lebih memilih untuk menutup mataku. Aku terlalu malu untuk melihatnya melakukan ini.
Hingga aku merasakan ada bagian tubuhku yang robek karena benda itu terus merangsek masuk ke dalam intiku. Akhirnya aku yang sudah tak bisa menahan perihnya, membuka mata. Dan yang kulihat pertama kali wajah mempesonanya suamiku.
Dia terlihat kaget ketika tahu bahwa aku sadar dialah suamiku yang melakukan ini. Dia pun meminta maaf dan hendak melepaskan miliknya dari dalam intiku. Tapi, aku beranikan diri, aku menciumnya. Ciuman yang begitu polos karena baru kali ini aku melakukannya.
"Tak apa Oppa. Aku sudah menjadi istrimu. Dan hari ini, aku menjadi milikmu seutuhnya. Lakukanlah secara lembut dan perlahan. Dan aku akan mengikuti semua arahanmu. Agar kamu bisa puas menikmatiku oppa." entah keberanian dari mana aku berbicara seperti itu.
Setelah itu yang ada hanya sebuah kelembutan yang membuatku terbang sampai ke langit ketujuh. Sentuhan dan ciumannya begitu memabukkan. Sikapnya yang begitu lembut kepadaku seolah aku ini sebuah porselen yang mudah rusak jika di perlakukan kasar.
Setelah dia melepaskan benihnya yang terakhir, dia terjatuh di belakangku dengan posisi kita masih menyatu.
"Apakah kamu puas oppa?" tanyaku kepadanya sambil menetralkan nafasku yang masih tersengal seolah habis lari maraton.
"Kalau aku jawab aku belum puas?" dia bertanya sembari terus menciumi tengkuk ku dengan lembut sekali.
"Lakukan saja sampai kamu puas oppa. Aku akan melayanimu, bahkan jika kamu melakukannya sampai pagi." ucapku. Karena aku masih ingat kata adik iparku bahwa Jin-young memiliki nafsu akan berhubungan intim dengan besar.
"Tidak sayang, aku tak ingin membuat eomma curiga jika kamu sampai tak bisa jalan besok. Aku akan menahannya malam ini. Karena dua ronde saja itu pasti akan membuatmu sulit berjalan besok." ucapnya sambil terus mencium tengkukku.
Ya benar, besok pagi eomma akan curiga jika melihat aku susah berjalan. Sedangkan aku merasakan perih diujung pahaku karenanya. Untungnya dia memperlakukanku dengan lembut.
"Baiklah oppa. Kapanpun kamu memintanya, aku akan memberikannya." ucapku sambil memegang tangannya yang berada di perutku. Ku pejamkan mataku karena lelah yang mendera padaku.
"Saranghae..." ucapnya lirih.
Mungkin dia berfikir aku sudah tertidur karena tak ada jawaban dan pergerakan dari ku, tapi sebenarnya aku masih sadar karena aku hanya menutup mataku saja. Bahkan aku masih sadar saat dia menyelimuti ku.
Setelah kurasa dia tertidur, baru ku beranikan diriku menghadapnya. Untuk pertama kalinya aku tertidur menghadapnya dan memeluknya dengan erat seolah tak ingin kehilangannya.
__ADS_1
"Nado saranghae oppa." gumamku.
Author pov
Pagi harinya, Yuna terbangun lebih awal daripada Jin-young. Yuna segera mandi dan membangunkan Jin-young. Untung inti tubuhnya tak begitu terasa sakit.
"Oppa, bangun oppa udah pagi. Balik lah ke kamar, nanti eomma curiga." ucap Yuna.
"Kenapa gak biarin aja sih eomma tahu kalau kita itu sebenarnya suami istri." ucap Jin-young sambil malas beranjak dari ranjang.
"Oppa, aku tak ingin ada masalah. Biar nanti eomma yang menilaiku bahwa aku ini istri yang cocok untuk kamu." ucap Yuna sambil membelai pipi Jin-young dengan lembut.
Jin-young yang di berlakukan seperti itu pun langsung duduk berhadapan dengan Yuna dan menarik tengkuk Yuna agar memudahkannya untuk mencium Yuna dengan lembut. Ciuman itu berlangsung lama. Sampai Jin-young melepaskan pagutannya lebih dahulu.
"Berjanji padaku, apapun yang terjadi kamu tak akan meninggalkanku." ucap Jin-young dengan menatap dalam mata Yuna.
"I'm promise." ucap Yuna sambil menyunggingkan senyum polosnya.
Ketika mentari sudha mulai memasuki celah jendela kamar mereka, barulah mereka terbangun. Kecuali Jin-young yang sudah melakukan beberapa kali putaran lari di halaman rumahnya. Sedangkan Yuna sendiri sudah selesai membuat sarapan untuk semuanya.
"Wah... kamu memang calon istri yang baik. Jam segini ketika yang lain masih tidur justru kamu sudah bangun dan memasak. hebat sekali kamu nak." puji Joanna yang ketika bangun dia sudah melihat makanan tertata disana. Sedangkan Bo Reum justru baru saja bangun tidur bahkan belum mandi karena mukanya masih kusut.
"Pagi eomma." ucap Bo Reum dengan nada malas.
"Pagi. Kenapa kamu gak ikutan bangun pagi seperti Yuna dan menyiapkan makanan untuk calon suami kamu?" ucap Joanna kepada Bo Reum..
"Eomma, aku tak terbiasa bangun sepagi dia. butuh waktu lama sampai kebiasaan itu ada." ucap Bo Reum.
"Memangnya kamu sering bangun pagi nak?" tanya Joanna kepada Yuna.
"Iya Nyonya, karena dulu sebelum saya bekerja dengan Tuan Jason, dari kecil saya sudah sering jadi loper koran atau pengantar susu di pagi jari. Jadi itu mengharuskan aku untuk bangun pagi dan menyiapkan segalanya untuk ku sendiri dan Ayah." ucap Yuna dengan percaya dirinya.
"Dia itu wanita pekerja keras yang pernah Jason temui eomma. Sungguh bersyukur sekali yang menjadi suaminya." ucap Jin-young yang baru saja ikut bergabung dan langsung berkata seperti itu guna menyindir Bo Reum.
__ADS_1
"Aku juga bisa kok kaya dia. Tinggal pasang alarm saja besok. Aku pasti bisa bangun lebih awal dari dia." ucap Bo Reum percaya diri membuat Jin-young memutar bola matanya malas menatap Bo Reum.
"Sudah sudah. Sekarang ayo kita makan sarapannya." ucap Joanna.
"Ohh ya eomma, nanti aku mau ke kantor ya." ucap Jin-young.
"Sama Bo Reum juga kan?" tanya Joanna.
"Ya gak bisa eomma, dia kan udah berhenti dari kerjanya. Aku berangkat bersama Yuna nanti. Lagipula aku memakai mobil sport ku. soalnya mobil ku yang satunya kan tengah di bengkel. Dan aku gak mungkin pakai mobil eomma. Nanti eomma kan mau ke tempat Cassie kan?" tanya Jin-young.
"Iya juga ya."
"Tak apa eomma, nanti aku akan menyusul Jason ke kantor sekalian bawain makan siang." ucap Bo Reum dengan melirik ke arah Yuna yang tengah menatapnya tak suka.
"Bagus itu.. nanti kamu masakkan dia." ucap Joanna.
"datang aja ke kantorku nanti. Aku tak akan ada disana." batin Jin-young.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1