
"PARK CHANYEOL.........." teriakan lelaki paruh baya yang berumur hampir setengah abad itu menggema di seluruh rumah. Siapa lagi kalau bukan teriakan dari Yong Jin yang memanggil anak bungsunya itu.
Lagi-lagi dia harus kesal karena di buat oleh anak bungsunya yang baru saja berumur delapan belas tahun itu. Dia terpaksa terbang dari Canada dan pulang ke Korea karena mendapatkan telfon dari Jin-young yang lebih memilih menetap di Korea, bahwa anaknya dan anak Jin-young membuat ulah lagi di sekolahnya. Kali ini bukan hanya siswa atau wali kelasnya yang di buat meradang oleh mereka. Melainkan kepala sekolahnya.
"PARK CHANYEOL... KELUAR KAMU SEKARANG." teriak Yong Jin lagi karena memang dirumah itu hanya ada Chanyeol seorang.
Lalu dimanakah Kevin dan Key? Kejadian naas menimpa mereka berdua bersama Nyonya dan Tuan Park. Mobil yang di kendarai oleh Tuan Park mengalami rem blong. Hal ini merupakan sabotase yang di buat oleh saingan peserta calon perdana menteri. Saingan kuat dari Tuan Park. Ke empat nya tidak tertolong. Saat itu Chanyeol masih berumur sepuluh tahun. Kejadian itu sudah tujuh tahun berlalu dan masih di kenang oleh seluruh negeri karena Tuan Park dan Kevin terkenal dengan kedermawanan nya.
"Waduh, bokap pulang. Ini pasti ulang Om tengil itu." ucap Chanyeol dari kamarnya, dia selalu memanggil Jin-young dengan sebutan Om tengil. Karena baginya wajah Jin-young selalu tengil dimatanya.
Dok dok dok...
"Chanyeol keluar kamu. Papa tahu kamu di dalam. Cepat buka pintunya atau Papa dobrak pintunya." ucap Yong Jin dari sebalik pintu sambil terus di gedor oleh Yong Jin.
"Mati nih gue. gimana nih. emm... ayo dong otak mikir mikir... A ha... gue lompat aja kali ya ke kamar Han Sung." Chanyeol pun langsung menyambar HP, dompet dan topi lalu melompat dari balkon kamarnya ke balkon kamar Han Sung yang hanya berada di sebelah rumahnya.
Walaupun jarak dari balkon rumah Chanyeol dan Han Sung hanya dibatasi oleh tembok setinggi empat meter dan jarak balkon satu dari yang satunya selebar dua meter, tapi dengan mudah dia melompati nya karena tinggi Chanyeol yang baru berusia delapan belas tahun itu sudah mencapai seratus delapan puluh lima centi. Berbeda dengan Han Sung yang usianya satu tahun di bawahnya tingginya hanya seratus tujuh puluh tiga.
"Han Sung a..." panggil Chanyeol saat dia sudah masuk ke dalam kamar Han Sung.
"Siapa itu Han Sung? Gue gak kenal." ucap lelaki yang masih sibuk dengan game nya.
"Oke oke.. Hans.. gue numpang di kamar lo ya." ucap Chanyeol. Han Sung memang tak suka di panggil dengan nama lengkapnya. Dia tumbuh besar di Venezuela. Dan dia bergaul dengan anak-anak bule yang tak begitu familiar dengan nama koreanya. Jadi dia lebih sering di panggil Hans.
Dia tumbuh sampai umur lima belas tahun di Venezuela. Namun karena disana dia menjadi trouble maker yang parah karena hampir tiap hari membuat darah tinggi Yuna, maka Yuna dan Jin-young memutuskan untuk menetap di Korea setelah enam belas tahun berada di Venezuela.
Namun ternyata disini Han Sung tak berubah. Justru dia merasa mendapat teman karena ada Chanyeol sepupunya yang juga trouble maker sepertinya. Terlebih Han Sung sangat pintar. Dia bahkan sudah setingkat dengan Chanyeol yang lebih tua satu tahun darinya. Tapi sifat trouble maker mereka tidak berubah.
Meskipun begitu mereka terkenal sebagai TBH alias Trouble Maker Handsome dikalangan para wanita di sekolahnya. Bahkan guru pun juga mengagumi wajah tampan mereka. Dan itu juga di jadikan salah satu alat untuk bisa mengencani para gadis, walaupun mungkin hanya sehari dua hari. Tapi tidak sampai di tiduri ya. Mereka bukan seperti itu. Mereka berdua punya prinsip, pacar boleh banyak, tapi lubang hanya satu. Itu kata Han Sung.
"Iya, gue tahu kok. bokap lo mudik kan? Gue juga denger lagi sama teriakannya. Mulut bokap lo terbuat dari toa ya?" tanya Han Sung yang menyudahi permainannya lalu beranjak ke almari pendingin yang ada di kamarnya.
"Emang bokap lo kagak ngamuk apa pas dapat surat itu dari kepsek?" tanya Chanyeol karena Han Sung terlihat begitu santai.
__ADS_1
"Lo gak lihat nih telinga gue udah merah kaya mau putus? Belom lagi pantat gue kena sabet sama bokap gue pakai sapu. panas bro." ucap Han Sung dan melemparkan minuman dingin untuk Chanyeol.
"PARK CHANYEOL... KAMU YANG KESINI ATAU PAPA YANG KESITU." teriak Yong Jin yang sudah berada di balkon kamar Chanyeol.
"Tuh bokap lo teriak. keluar gih." ucap Han Sung.
"Ogah gue. gue mau disini aja." ucap Chanyeol merebahkan dirinya di kasur Han Sung.
Perlahan Han Sung berjalan ke balkon dan melambai kan tangannya kepada Yong Jin. Dia tersenyum melihat Yong Jin sambil menenggak minumannya.
"Hai Om. baru pulang kenapa teriak-teriak sih. Chanyeol gak akan keluar Om. mending Om yang kesini aja. Atau Om lompat aja dari sana sampai sini. Biar cepet." ucap Han Sung dengan sedikit nada ejekan.
"Dasar kalian berdua ya anak kurang ajar." Yong Jin pun kembali masuk ke kamar Chanyeol dan meninggalkan Han Sung.
"Bokap gue udah pergi?" tanya Chanyeol.
"Paling bentar lagi kita akan di panggil kebawah." ucap Han Sung yang selalu tepat dengan tebakannya.
"Sok tahu lo." ucap Chanyeol karena meskipun dia tahu bahwa tebakan Han Sung itu selalu benar, tapi dia tidak mau mengakuinya.
"Oke."
"Satu....
Dua...
Tiga....
Empat....
Li....
"Han Sung a... Chanyeol a... Turun nak.." teriak Yuna.
__ADS_1
"Gagal. belum sampai lima." ucap Chanyeol lalu turun karena tak bisa berkutik jika mendengar teriakan Ibu keduanya itu. Karena semenjak keluarga Han Sung pulang, Ela jarang berada di Korea menemani Chanyeol. walaupun Yuna sama sibuknya dengan Ela, tapi setidaknya jika dia rindu sosok ibu, dia bisa memeluk Yuna saat Yuna berada di rumah.
"Nah ini nih.. anak nakal.. mau jadi apa kamu ha.." ucap Yong Jin yang langsung memarahi anaknya ketika sudah melihat Chanyeol.
"Ya jadi manusia lah. Masak jadi hewan. Kalau Chanyeol jadi hewan berarti Papa hewan juga dong." jawab Chanyeol.
"Kamu... berani ya kamu menjawab sekarang." ucap Yong Jin meradang.
"Kenapa? Papa mau pukul Chanyeol? pukul aja, nih... pipi Chanyeol kayanya kangen sama pukulan Papa." ucap Chanyeol sambil menyodorkan pipinya.
Plak... Benar saja Yong Jin menampar Chanyeol. Dia sudah merasa kualahan dengan sikap Chanyeol yang semakin dirasa begitu liar. Dia tidak tahu harus bagaimana membuat Chanyeol tidak seperti itu lagi.
"Sudah cukup bro. Kasihan Chanyeol." ucap Jin-young yang memang meskipun kesal dengan Han Sung, tapi dia tetap sayang dan tak pernah menampar Han Sung. Hanya memukul pantat Han Sung dan Yuna menjewer telinga Han Sung. Pukulan itupun tak sekeras tamparan Yong Jin barusan yang sampai membuat ujung bibir Chanyeol sedikit berdarah.
"Anak ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Mau jadi apa kamu Ha?! Lihat kedua ka...." ucapan Yong Jin terpotong.
"Kakakmu. Minky menjadi dosen terkenal dan Junnie menjadi Designer terkenal di penjuru dunia. Mau di taruh dimana muka mereka kalau dunia tahu mereka punya adik biang masalah seperti kamu?" ucap Chanyeol menirukan kata demi kata yang selalu di ucapkan oleh Yong Jin jika dia sedang memarahi Chanyeol.
Untuk kemarin-kemarin mungkin Chanyeol dia hanya diam sambil mendengarkan. Namun untuk kali ini, tidak. Dia tidak tahan mendengarkan perkataan Yong Jin yang selalu membandingkannya dengan kedua kakak kembarnya itu. Dia memang tidak terlahir sepintar kedua orang tuanya dan kedua kakaknya yang pintar dalam bisnis dan juga design. Chanyeol lebih suka dengan musik. Dia suka sekali musik. Bahkan dia sering mengamen di pinggir jalan bersama Han Sung dan teman-temannya yang lain. Negara ini bahkan tidak tahu bahwa Chanyeol dan Han Sung itu anak ternama. Bahkan semua guru di sekolah nya pun Chanyeol bungkam dengan banyak uang agar tidak menyebarkan asal usul mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.