
"Apa yang kamu inginkan nak? katakanlah..." ucap Kevin.
Ela sudah tak bisa berbicara di depan kakaknya. Dia tidak bisa berkata apapun lagi. Dia tak ingin mengakui bahwa memang umur kakaknya itu hanya tinggal sebentar saja. Namun dia juga tak ingin melihat kakaknya itu putus asa. Dia ingin melihat kakaknya bersemangat dalam proses penyembuhan ini.
"Untuk yang pertama, aku ingin, eomma panti Han Seung Woo dan anak-anak panti kesini. Aku begitu merindukan mereka. sungguh merindukan mereka." ucap Woodz sambil terus mengelus rambut sang adik yang memeluk perutnya.
"Baiklah, biar aku saja yang menjemput mereka." ucap Jin-young kepada yang lain.
Dan hari itu juga, Jin-young datang ke Busan. Dia datang membawa beberapa bus besar agar bisa membawa semua orang panti. Kecuali penjaga yang pastinya tidak akan ikut karena menunggu panti yang kemungkinan kehilangan sembilan puluh persen dari penghuninya nanti.
"Tuan Jason, ada apa anda kesini? Dan kenapa anda membawa bus besar banyak sekali?" tanya Seung Woo.
"Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua." ucap Jin-young dengan raut wajah yang serius.
Langsung saja Eomma menyuruhnya masuk kedalam ruangan pribadinya. Han Seung Woo pun ikut berada di sana. Mereka bertiga duduk saling berhadapan di meja bundar yang berada di dalam ruangan itu.
"Saya kesini karena ingin mewujudkan permintaan terakhir seseorang yang mungkin sangat berarti bagi panti ini. Beliau ingin anda sekalian dan seluruh anak panti datang ke Deoul bertemu dengannya. Maka dari itu saya membawa bus kesini untuk mengangkut anak panti nantinya." ucapan Jin-young membuat Eomma langsung menjadi kepikiran dengan Woodz.
"Apa ini ada hubungannya dengan Woodz?" ucap Eomma panti. Jin-young hanya mengangguk pelan karena tak sanggup berbicara mengingat sahabatnya itu.
"Ada apa? Apa yang terjadi dengan adikku?" tanya Seung Woo.
Eomma panti dan Seung Woo belum tahu bahwa Woodz itu termasuk keluarga Lin. Mereka bahkan tahunya Woodz ikut pergi ke Seoul karena bekerja untuk panti. Karena selama Woodz berada di Seoul, rekening Seung Woo selalu gendut tiap bulannya. Bahkan cuma untuk makan seluruh penghuni panti selama sebulan saja dengan daging termahal setiap hari pun cukup. Bahkan sisa.
Sebenarnya itu saham satu persen di keluarga Lin yang di beli Woodz dengan nama anonim. Sudah sepenuhnya di alihkan atas nama Seung Woo. Woidz yakin, Seung Woo tak ingin melihat anak anak panti kekurangan gizi. Maka dari itu dia mengalihkan saham itu agar penghasilan mereka sebulan lebih dari cukup untuk makan semuanya. Karena jika hanya mengandalkan donatur dan gaji Seung Woo, Woodz sangsi jika mereka bisa menghidupi keluarga panti dengan baik. Maka Woodz melakukan ini secara diam-diam.
"Saya tahu, Woodz bukanlah adik anda kan Tuan Han Seung Woo? Dia juga bukan anak anda kan Eomma panti?" tanya Jin-young membuat keduanya diam.
__ADS_1
"Maaf menyembunyikan ini dari kalian berdua. Sebenarnya kami adalah keluarga kandung dari Woodz. Nama aslinya Lin Kevin. Dia putra pertama dari keluarga Lin yang pergi secara misterius setelah berita perceraiannya terkuak di media massa. Pasti kalian semua tahu karena adiknya, Angela Lin menikah dengan putra pertama keluarga Park." ucap Jin-young membuat kaget semuanya.
"Sungguh? jadi dia anak orang kaya?" ucap Seung Woo tak percaya.
"Bukan hanya kaya, namun milyarder. Dan asal anda tahu Tuan Han. Uang yang terus mengalir di rekening anda tiap harinya, itu merupakan hasil dari pendapatan yang anda dapat selalu pemegang saham satu persen di perusahaan Lin. Bahkan bukan hanya saham di perusahaan cabang. Melainkan saham di perusahaan induk yang berada di Amerika sana." ucap Jin-young membuat Eomma makin kaget.
"Bagaimana anak saya bisa memiliki semuanya itu?" tanya Eomma panti.
"Tanpa sepengetahuan anda, Woodz sudah mengalihkan nama pemegang saham satu persen itu atas nama anda Tuan Han. Asal anda tahu, dalam perusahaan induk, hanya ada nama keluarga yang menjadi pemegang saham. Tak ada orang lain selain anda sekarang. Dan itu semua Woodz lakukan untuk panti yang sudah dia bangun ini. Karena dia begitu mencintai anak panti ini." ucap Jin-young.
"Lalu apa yang terjadi dengannya? kenapa dia mengirim anda kesini tuan?" tanya Seung Woo menutupi kekagetannya.
"Belum lama ini, Woodz di diagnosis dokter menderita penyakit yang mematikan. Kanker pankreas." ucap Jin-young.
"APA!" ucap Seung Woo dan Eomma panti secara bersamaan karena apa yang diucapkan Jin-young ini merupakan hal yang paling mengguncang hati mereka.
"Anakku..." tatap Eomma panti yang sudah menganggap Woodz seperti anak kandungnya sendiri.
"Baiklah. Kami akan kesana. Tapi karena disini ada ratusan anak, akan saya ambil mereka yang paling dekat dengan Woodz saja. Tidak memungkinkan juga untuk menjenguk di sebuah rumah sakit dengan jumlah pen jenguk yang banyak." ucap Seung Woo mewakili eomma panti yang sudah tak bisa berbicara karena sudah menangis.
"Baik. semua saya serahkan kepada anda." ucap Jin-young.
Dan hari itu juga, mereka semua berangkat ke Seoul untuk bertemu dengan Woodz. Selama dalam perjalanan, bagi mereka yang sudah remaja dan tahu penyebab kenapa mereka dadakan ke Seoul tengah menitikkan air matanya.
Perjalanan itu seharusnya menjadi perjalanan yang indah karena jarang sekali mereka bisa keluar dari panti selain sekolah, apalagi keluar dari Busan. Namun bagi mereka ini perjalanan yang menyedihkan. Karena mereka akan datang menemui seseorang yang begitu berjasa bagi mereka anak panti. Memberi mereka makan, pengetahuan dan tempat tinggal serta keluarga yang begitu mereka inginkan. Woodz mereka tengah berjuang dengan penyakit yang mematikan.
Tepat menjelang malam, rombongan tiba di Seoul. Semuanya langsung turun. Namun tidak semuanya langsung masuk menjadi satu. Mereka masuk bergiliran sesuai arahan Jin-young. Setiap rombongan hanya terdiri dari tiga puluh orang saja. Dan hanya di beri waktu satu jam dalam setiap rombongan. Kecuali eomma panti dan Seung Woo yang akan lama disana.
__ADS_1
Sedangkan bagi yang menunggu giliran untuk menjenguk, mereka di sewakan sebuah hotel yang berada tepat di samping rumah sakit Seoul yang kebetulan hotel itu milik Keluarga Park yang baru saja di bangun. Dua lantai hotel yang terdiri dari dua puluh kamar president suit di kosongkan demi menampung hampir dua ratus orang karena banyak anak yang ngeyel tetap ikut. Sehingga sampai membawa empat bus besar.
"Anakku..." ucap Eomma panti saat masuk pertama kali bersama Seung Woo.
Yang pertama kali mereka lihat adalah tubuh lemas Woodz yang terpasang berbagai alat rumah sakit, Wajah pucat Woodz dan tubuh kurus Woodz lah yang menjadi pemandangan mereka berdua di depan mata. Woodz menyambut mereka dengan senyuman. Senyum yang terlihat begitu pucat dan lemas. Namun itu menjadi senyum yang paling cerah bagi seseorang yang tengah menunggu ajalnya seperti Woodz.
"Eomma.." ucap Woodz lirih.
"Ini Eomma sayang... kenapa kamu menjadi seperti ini nak? Eomma sedih melihatmu seperti ini." ucap Eomma panti tak tahan mengeluarkan air matanya.
Untuk keluarga sementara menyingkir dahulu karena ingin memberi ruang kepada Woodz untuk bersenda gurau dengan orang panti. Mata Woodz berbinar ketika melihat para anak panti satu persatu mendatanginya.
Woodz berasa ingin menangis karena sebentar lagi dia tak akan bisa melihat senyum malaikat kecilnya yang selalu menghiasi hari-harinya selama enam tahun belakangan ini. Woodz sedih sekali.
Namun dia bahagia karena bisa bersama dengan mereka walau hanya dalam waktu yang relatif singkat. Namun tidak untuk eomma panti yang enggan ikut pulang bersama rombongan. Akhirnya Seung Woo terpaksa meninggalkan eomma panti sendiri di Seoul karena eomma panti ingin sekali menemani Woodz sampai Woodz sembuh.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.