LEGENDA PEDANG LANGIT

LEGENDA PEDANG LANGIT
Pendekar Topeng Emas


__ADS_3

Jingmi berlatih Jurus Tubuh Dewa Racun dengan tekun sehingga pencapaiannya sangat fantastis, 1 bulan sudah mencapai puncak tertinggi jurus tubuh dewa racun, sekarang tubuhnya sudah mempunyai segala penawar racun yang ada dalam tubuhnya, sehingga dia tidak akan lagi takut tubuhya akan meledak setelah 5 tahun tubuh dewi racunya diaktifkan.


Tidak hanya itu, Setelah menyempurnakan jurus tubuh dewi racun, Jingmi diberi jurus pukulan ombak oleh Yin He dan juga diberinya Jingmi senjata pertarungan jarak jauh berupa cakra, cakra-cakra ini dibuatkan khusus oleh Yin He dari sisik siluman naga emas, sisik ini lebih kuat dari pada baja dan lebih ringan dari pada besi ataupun metal lainya.


"Kak Yin He, mengapa Jingmi diberikan senjata berupa cakra? kenapa tidak pedang seperti kami?" Xiao Zhao bertanya kepada Yin He, hal ini juga sebenarnya ingin ditanyakan oleh Jingmi sendiri kepada Yin He, akan tetapi Jingmi tidak punya keberanian untuk bertanya.


Yin He hanya tertawa, kemudian melihat Jingmi yang hanya menunduk, "Pasti kau juga ingin tahu alasanya kan Jingmi?" Jingmi mengangguk pelan.


"Aku hanya melihat potensial dan kurangnya yang ada pada dirimu, kelebihanmu adalah, kau mempunyai tubuh dewi racun dan kau bisa menyebarkan hawa racunmu, orang yang tidak mempunyai kemampuan menahan racun pasti akan berfikir 2x untuk mendekatimu, trus bagaimana kau ingin bertarung dengan jarak dekat?"


"Kelebihanmu yang lain, karena kau mempunyai tubuh dewi racun, kamu akan kebal dari serangan berbagai racun, terus kamu mempunyai aliran hawa murni dan juga tenaga dalam murni yang bisa membuat kau mengirimkan pukulan berupa racun pada jarak yang sangat jauh sekalipun, dan aliran qi juga besar sehingga dengan kecepatn seranganmu maka efeknya akan dahsyat sekali, tidak hanya terkena racun, akan terkena tenaga dalam juga, sehingga sekali serang dengan dengan 2 senjata."


"Tapi kau juga mempunyai kekurangan yang nantinya bisa kau latih sehingga kekuranganmu sekarang bisa tertutupi, yaitu kau tidak mempunyai tulang yang bagus, sehingga fisikmu kurang bagus, tapi jangan khawatir aku akna memberikan sumber daya yang bagus buat tulangmu, sehingga jika nanti tulangmu sudah kuat, kau boleh belajar jalan pedang, tapi jangan kira cakrammu tidak sehebat pedang maka kau bisa mengalahkan pedang, karena cakram yang kau kendalikan jumlahnya ratusan, dan dengan keahlian racunmu, kau bisa mengalirinya dengan racunmu." Jingmi tersenyum dengan penjelasan dari Yin He sekarang dia tidak akan ragu dengan senjata yang dibuatkan eh Yin He.


Sebulan setelahnya kini Jingmi sudah menguasai jurus tinju ombak, dengan senjata cakramya dia akan menjadi salah satu pendekar hebat, Yin He memanggil Jingmi dan memberikanya baju dari sisik naga emas, "Baju ini pakailah, karena akan sangat berguna bagimu."


Keesokan harinya mereka berlima akan meneruskan perjalanan memuju gerbang emas, Xia Yuan dan Shi Ren berpamitan kepada yang lainya untuk kembali keruan g jiwa Yin He.


"Tugas kami telah selesai disini, kami akan kembali." Xia Yuan dan Shi Ren berpamitan, sebelumnya Yin He telah meminta kepada Xia Yuan dan Shi Ren untuk mengajari Jingmi tentang segala yang terkait dengan masalah perempuan, karena Jingmi telah lama di hutan dengan segala dendam dan juga pola hewan buas yang diikutinya, sehingga saat berada di sekitar penduduk dia berbuat seenaknya.


Yin He ingin Jingmi mempunyai pembawaan wanita yang anggun tapi mematikan, hal ini sangat cocok dengan Jingmi yang cantik jelita tapi mematikan.


karena ketiga Xiao sudah mempunyai spirit pedang maka mereka terbang mengendarai pedang mereka masing masing, sedangkan Yin He menemani Jingmi dengan terbang biasa, karena kekuatan qi dan gerbang cakranya dari awal sudah terbuka maka Jingmi pun dengan cepat mengusai ilmu meringankan tubuh dengan baik, penampilan Jigmi berubah layaknya dewi dengan pakaian yang serba putih melayang dengan anggunya disamping Yin He yang gagah dan Tampan.


Mereka melesat dengan kecepatan sedang karena jingmi maish dalam tahap penyesuaian terbang jauh, biasanya dia akan terbang disekitar hutan untuk berlatih dengan Xiao bersaudara.


Matahari sudah diatas kepala, Yin He dan yang lain memutuskan untuk turun didekat sebuah kota untuk mengisi perut mereka, lalu mereka berjalan untuk mencari rumah makan atau kedai untuk sekedar melepas penat serta hawa panas yang mereka rasakan.


Yin He dan ketiga Xiao berjalan mencari rumah makan atau kedai, akan tetapi mereka merasa ada yang aneh dengan penduduk disana, terutama para lelakinya, mereka memandang ke arah Yin He dan ketiga Xiao dengan tatapan yang aneh, "Kenapa mereka menatap seperti itu, apa ada yang aneh dengan penampilan kita?" Ujar Xiao Yan.


Rasa penasaran mereka terbayar manakalabada seorang lelaki dengan pakaian yang bagud menyapa meraka, "Hai nona cantik, bolehkan aku menemanimu, dari pada kamu ditemani oleh empat pengawal seperti mereka yang tidak gunanya." Pemuda itu merayu dan mencoba memegang tangan Jingmi.


Jingmi hanya tersenyum tidak menolak saat tanganya dipegang oleh pemuda trsebut, akan tetapi hanya dalam hitungan detik pemuda tersebut terjatuh dan tersungkur, "Tuan tuan kenapa?" Jingmi menggoyang goyangkan tubuh pemuda tersebut, orang orang pun melihatnya, Yin He segera membuka kerumunan orang dan memeriksa kondisi pemuda tersebut. "sepertinya dia pingsan, mungkin kelelahan." Ujar Yin He dan segera orang orang tersebut membawanya ketepian, pemuda tersebut bangun dan kebingungan mengapa dia bisa berada dipinggiran dan kemana Jingmi yang mau diajaknya makan.


"Kau memang mawar beracub Jingmi, kau memberinya racun dosis rendah kan?" Ujar Xiao Zhao, Jingmi hanya tersenyim tersipu malu, melihatnya begitu Yin He tertawa, dan di ikuti oleb ketiga Xiao.


Akhirnya mereka tiba disebuah rumah makan, Yin He memesan makanan kepada seorang pelayan, dan betapa kagetnya Yin He dan ketiga Xiao bersaudara saat Jingmi memesan makanannya, bukan apa yang makan akan tetapi porsi yang dimakan oleh Jingmi bisa dimakan oleh 5 orang sekaligus, "serius kamu makan segini banyaknya?" Xiao Zhuang hanya tidak percaya saat pelayan menghidangkanya dimeja, Jingmi mulai makan, dan mereka berempat kemudian memperhatikan Jingmi makan, "Dia makan dengan cara putri kerajaan yang anggun, tapi porsi yang dia makan seperti singa kelaparan." Ujar Xiao Yan, seketika Jingmi menghentikan makanya, dia menatap lekat lekat kepada Xiao Yan, Xiao Yan pun salah tingkah, dia mengira Jingmi telah mendengar apa yang diucapkan dalam hati barusan.


"kakak Yan Er, bolehkah aku minta nasimu, aku lihat dari tadi nasimu tidak dimakan, sayang sekali." Xiao Yan menelan ludahnya, apa yang ditakutnya ternyata salah.


Xiao Yan memberikan nasinya kepada Jingmi, ketiga Yin He menawari Jingmi tambah saja, akan tetapi dia bilang tidak usah makan yang ada saja, dari pada dibuang sia sia.


Padahal sebenarnya nasi Xiao Yan bukanya tidak dimakan akan tetapi karena kaget melihat porsi makan jingmi, Xiao Yan belum menyentuh nasinya.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka menyelesaikan makan siang mereka dan segera berjalan kearah hutan, hal ini dilakukan agar mereka tidak menjadi pusat perhatian.


Sesampainya ditepi hutan, tiba tiba mereka terhenti oleh lantunan suara syair seorang pendekar yang belum menampakan diri, Yin He segera memberikan isyarat kepada Jingmi dan ketiga Xiao bersaudara.

__ADS_1


"***Aku berselimut dalam kabut fana


mendera rindu kelam berbalut lara


bernafas dan bercengkrama dengan derita


akan kutumpahkan darah untuk hapus duka


Kurindu kau wahai perawan terlarang


kutulis syair dan kugantung di awang awang


merindu dirimu yang sekarang bimbang


kematian atau menjadi ******


Wahai sang penjemput kematian


akan ku tuang darah persembahan


dari seorang perawan yang terlarang


menjadi perjalanan sebuah pedang


Ketika kata-kata


Maka bahasa pedanglah yang bicara


Bahasa para ksatria


Bahwa bumi menuntut persembahan darah manusia


Pedang Taring angkara sedang di amuk murka


Amarahnya menelan rembulan jadi gerhana


Bumi Gelap pekat menangis air mata merah


Gemerlap kilat pedang menusuk dunia


Darah mengalir dari ujung pedang kekuasaan


Tergelar dari ujung pedang


Sebagaimana derita juga tergelar dari ujung yang sama


ku mainkan nada-nada asmara

__ADS_1


untuk mengoyak suci menjadi lara


ku renggut paksa indahnya anganmu


wahai ...wanita terlentanglah pasrah


sambut birahiku seribu gairah


aku tak percaya dengan cinta


sudah kucari ke pelosok dunia


tapi cinta tak punya rasa


hanya bergumul nafsu gairah


takkala cinta dua manusia


menyatu peluh raungan manja


Aku kau usir pergi saat masih ingin menyusuri padang hatimu


Kini biarkanlah jalanku berlinang darah


rembulan memapahku perlahan menuju maut abadi...


Aku datang dari balik kabut hitam


Mengisi relung hati yang kelam


Aku mengarungi samudera darah


membasuh luka, duka dan lara***"


Yin He mengalirkan hawa murninya kearah ketiga Xiao bersaudara dan Jingmi, dari kekuatan suaranya yang terdengar, pendekar tersebut pastinya bukan pendekar sembarangan, syairnya seperti sebuah hipnotis yang membuat musuhnya akan melemah secara spirit.


sebuah hembusan angin tiba tiba menerpa mereka dan diikuti munculnya seorang pendekar dengan topeng emas, pendekar tersebut perkiraan Yin He berumur 30 tahun dengan perawakan tinggi besar.


"Akhirnya ku menemukanmu Dewi Racun dari Hubei." lelaki tersebut membungkuk ke arah Jingmi, dia mengacuhkan Yin He dan ketiga Xiao bersaudara.


"Jingmi berhati hatilah, ingatlah apa yang diajarkan oleh Shi Ren dan Xia Yuan." Bisik Yin He kepasa Jingmi yang berada disebelahnya, Jingmi mengangguk pelan dan berjalan menuju pendekar bertopeng emas.


"Siapakah tuan, siapa dewi racun? sepertinya tuan salah sasaran, saya bukanlah dewi racun, nama saya Jingmi, mohon ijinkanlah kami untuk lewat." Jingmi berbicara dengan sopan.


"Hahaha, kau tidak bisa menipuku dewi racun, walau kau menyembunykan kemampuanmu, aku masih bisa mengenalimu, ikutlah denganku jangan sampai aku memaksamu." Ujar pendekar topeng emas tersebut kepada Jingmi.


"Aku tidak mengenal tuan, mengapa tuan memaksa saya ikut tuan, sebenarnya apa yang tuan mau?" Jingmi sudah mulai waspada, karena aura pembunuh yang dikeluarkan oleh pendekar bertopeng emas sudah mulai menekan Jingmi.

__ADS_1


"Kau tau, aku paling tidak suka dengan penolakan." Ujar pendekar bertopeng, dia segera melesat untuk memaksa Jingmi ikut


__ADS_2