LEGENDA PEDANG LANGIT

LEGENDA PEDANG LANGIT
Klan Penjaga Gerbang Utara Bag.05


__ADS_3

Yin He dengan amarah yang memuncak, hanya dengan sekali kibasan tangan, rumah besar dihadapanya pun hancur, beberapa orang melesat kearah Yin He dan ketiga Xiao bersaudara, Yin He yang sudah menarik salah satu pengawal klan penjaga gerbang utara sebelum beberapa orang datang kearahnya, segera melempar orang tersebut setelah mengetahui tempat dimana tempat Kalden dan ketua Klan Penjaga Gerbang Utara.


Sebelum melesat pergi, Yin He berpesan kepada Xiao bersaudara untuk meratakan semuanya dengan dan jangan ada yang tersisa, setelah itu Yin He segera menuju ke kolam petir, untuk menuju kolam petir Yin He hanya mengandalkan resonasi petir yang ada dalam dirinya.


Hal tersebut sudah Yin He rasakan saat pertama kali tiba di kediaman Kalden waktu membebaskan Jingmi, ada getaran aneh yang seakan akan memanggil dirinya untuk kesana.


Kehadiran Yin He telah dirasakan oleh Tanseng, "Apakah ini kekuatan pemuda yang mempelajari kitab langit, tapi aku masih belum sepenuhnya mengetahui seberapa kekuatanya.


Yin He yang menangkap adanya kekuatan atau energi yang hendak menyerangnya dari jarak jauh, akhirnya Yin He memutuskan menyerangnya terlebih dahulu.


Yin He mencabut Pedang Matahari dan juga Pedang Rembulan sekaligus, kedua pedang yang spiritnya sudah bersatu dengan Yin He segera melesat menyerang Tanseng, Pedang Matahari dengan sinar hitam kemerahan dan Pedang Rembulan dengan sinar Biru keperakan melesat dengan kekuatan yang tak terduga, mata Tanseng terbelalak saat melihat kelebatan kedua pedang tersebut, dengan cepat dia mencabut pedang halilintarnya dan menyabetkan pedang tersebut kearah ke pedang Matahari dan pedang Rembulan, Pedang Halilinyar mengeluarkan pancaran petir yang menyerang kedua Pedang Matahari dan Rembulan.


Dua kekuatan yang sama kuat saling bertabrakan akan tetapi karena pedang matahari dan pedang rembulan menyerang pedang halilintar hal ini membuat aura pedang halilintar tertekan, dan membuat Tanseng terpental hingga membentur dinding mulut gua.


Yin He mendarat tepat di mulut gua kolam petir, dua penjaga yang akan menghalanginya lansung disabet oleh pedang rembulan dan pedang matahari, mata Yin He memancarkan kebencian yang sangat dalam, sebelum Yin He akan melangkah masuk kearah gua, Tanseng dengan segera menyerangnya dengan pedang halilintar, pancaran petir yang sangat kuat menyerang Yin He, petir petir tersebut seperti tidak berpengaruh kepada Yin He, bahkan Yin He menyerap petir petir tersebut, hal ini membuat Tanseng terkejut, Yin He kemudian mendekati Tanseng, dan dengan cepat Tanseng menyerangnya dengan pedang halilintarnya, Yin He meraih pedang rembulan dengan cepat kedua tangan Yin He memainkan jurus pedang rembulan, pedang kembar yang seperti bulan sabit mengeluarkan suara desingan yang membuat kosentrasi tanseng terganggu.


Beberapa kali benturan kekuatan terjadi saat pedang halilintar menekan pedang rembulanz akan tetapi pedang rembulan mampu meredam petir dari pedang rembulan, "Sepertinya kau tidak mengusai jalan pedang, sini aku ajari kau tua bangka keparat." Yin He bergerak dengan cepat, dia tahu kelemahan dari jurus lawanya, dengan cepat dia menarik tanganya dan sedikit menyerongkan tubuhnya, dan langsung menyabetkan pedang rembulan dipinggang Tanseng.


Cessss...Jlebbb....


Pinggang Tanseng terkena sabetan pedang rembulan, luka yang dalam membuat darahnya mengucur deras, Tanseng tertahan menahan perih dan rasa sakit yang dirasakanya.


"Sekarang kau akan merasakan bagaimana antara hidup dan mati, Yin He menggunakan tubuh dewa racunya dengan sedikit cengkraman tanganya Yin He memasukan racun dewa kematian, akan tetapi Yin He juga dengan paksa memasukan pil merah agar jantung Tanseng tetap terpacu sehingga menghambat kematianya.

__ADS_1


Badan Tanseng bergetar hebat, dia merasakan nyeri yang teramat sangat menyakitkan kulitnya berlahan lahan seperti gelembung sabun, matanya melotot nafasnya tersengal sengal, bagian ujung kakinya kulitnya mengelupas dan daging jari dan telapak kakinya rontok, membuat jeritan Tanseng sangat memilukan.


"Itu hukuman atas perlakuanmu pada Jingmi." Yin He menatap sinis tubuh Tanseng bergetar dan kelojotan.


Sedangkan ketiga Xiao bersaudara menghadapi ratusan anggota dari penjaga gerbang utara, dengan ganasnya mereka menghabisi anggota klan penjaga gerbang utara, dan saat itu juga mereka bertemu dengan keempat anggota dari Kalden yang ikut mereka.


"Mereka bagianku."Ujar Xiao Yan. dengan cepat Xiao Yan membabat semua anggota penjaga gerbang timur.


"Kau, harus mati ditanganku." Xiao Yan menunjuk lelaki yang menggunakan formasi spirit yang membuat kekalahan dari ketiga Xiao bersaudara.


Lelaki tersebut dari tadi sudah mencoba menggunakan formasi spiritual, akan tetapi oleh Xiao Zhuang selalu digagalkan, sehingga membuat Xiao Yan tidak lagi kerepotan untuk mengabisinya.


Puluhan jurus mereka telah habiskan, Xiao Yan akhirnya dapat menirukan jurus yang dipakai lelaki tersebut, Akhirnya Xiao Yan menangkis dengan jurus yang sama, sehingga membuat lelaki tersebut terkejut, Xiao Yan mengkombinasikan jurus tersebut dengan jurus langkah bayangan sehingga kecepatan dan kekuatanya semakin bertambah, sehingga dalam dua langkah, Xiao Yan sudah dapat memenggal kepala lelaki tersebut.


Yin He masih tersenyum sinis atas kesakitan yang dialami Tanseng, tiba tiba Yin He merasakan hawa pembunuh yang sangat kuat, pedang halilintar yang tergeletak dekat tubuh Tanseng yang tidak berdaya, kini bergetar, seakan akan pedang tersebutbtarik oleh suatu kekuatan yang sangat kuat.


Pedang Halilintar pun melesat melayang masuk kedalam gua, dan tak lama kemudia sesosok lelaki muda keluar dari gua tersebut, dengan mata yang penuh dendam setelah mamandang sang ayah tergelepar kemudian tidak bergerak lagi, yang lebih menyedihkan adalah organ tubuh dan daging tubuhnya rontok dari tinggal tulang saja.


"Jadi kau yang bernama Kalden yang telah melukai kakek dan ketiga adik angkatku, serta menyiksa Jingmi, sekarang kau akan merasakan pembalasanku." Yin He bergerak cepat, dengan beberapa langkah Kalden dengan mudah dikalahkan.


"Sebenarnya siapa dia? apakah dia pemuda yang melatih jurus pedang langit tersebut, bahkan pedang halilintar pun tidak mempan terhadapnya." Bathin Kalden bertanya - tanya sebenarnya siapa sebenarnya Yin He, saat Yin He hendak mengayunkan tanganya, suara kakek Huang pun mencegahnya.


"Cukup Yin He, hentikan, semakin kau menuruti amarahmu maka kau akan terus menjadi manusia yang akan haus darah. Yin He kami semua sekarang disini dan kuharap kau hentikan semuanya." Kakek Huang mendekati Yin He dan mencoba untuk menahan membantu menekan keinginan membunuh Yin He.

__ADS_1


Tiba tiba mustika petir dalam tubuh Yin He berpendar, Pedang Petir pun bergetar seakan akan terkena getaran resonasi mustika petir tersebut, terdengar sebuah ledakan hebat yang terdengar di dalam ruangan gua, segera Yin He dan lainya masuk kedalam gua tersebut. dan tubuh Yin He seperti tersebut oleh kekuatan yanh lebih besar dari tubunya, dan tubuh Yin He masun kedalam kolam petir bersama dengan pedang petir tersebut.


Kolam petir bergejolak, sambaran petirnya lebih dasyat dari pada saat Kalden masuk kedalamnya, Kalden yang melihat hal ini.hanya bisa terperanjat, saat tubuh Yin He melayang dengan energi penuh petir yang ada didalam tubuhnya "Tubuh Petir, bagaimana bisa, hanya keturunan Ras Naga yang bisa mewarisi tubuh petir ini, apakah ini?" Tubuh Kalden pun bergetar tiba tiba dia tertunduk dan berlutut di depan Yin He.


Kakek Huang terkejut dengan sikap dari Kalden, sebenarnya apa yang terjadi? melihat Kalden yang begitu ketakutan melihat Yin He.


"Katakan kepadaku apa sebenarnya kau ketahui tentang hal ini? Tanya Kakek Huang kepada Kalden, sementara Yin He masih menyerap semua petir petir yang menyambar dirinya bagaikan sebuah baterai kosong yang diisi ulang.


"Cerita dari leluhur kami, Nantinya akan mumcul keturunan ras naga, dimana kami harus menjaga kolam petir sampai dengan anak naga akan datang dan mengambil pedanh halilintar tersebut, dan sekarang aku bisa menyaksikanya langsung." Ujar Kalden sambil terdiam.


"Tapi mengapa kalian ingin mengambil kitab pusaka Pedang Langit tersebut?" Tanya Kakek Huan kepada Kalden.


" Ada dua Klan Penjaga gerbang di kota Lasha ini, Gerbang utara yaitu atau disebut dengan gerbang petir dan Gerbang Selatan atau disebut dengan gerbang bintang, selama bertahun tahun kami hidup berdampingan dengan harmonis, sampai pada suatu saat muncul dekrit dari kerajaan untuk menentukan siapa yang akan menjadi penguasa dari kota Lasha ini, sehingga diputuskanlah siapa yang terkuat diantara kami, Gerbang Utara atau Gerbang Selatan, jadi setiap 10 tahun sekali kami akan selalu mengadakan perlombaan dimana siapa yang menang maka dia yang akan menjadi penguasanya.


Tahun ini adalah tahun ke sembilan, dan tahun depan adalah perlombaan itu, Klan kami sepuluh tahun yang kalah, oleh sebab itu, tahun berikutnya kami tidak boleh kalah, oleh sebab itu, ayah melakukan segala cara agar kami dapat memenangkanya."


"Setelah mendengarmu membawa kitab pedang langit, kami terus memburuhmu sampai dengan kemarin. Kami harap dengan kitab tersebut kami bisa merebut kemenangan atas gerbang selatan."


"Tapi setelah melihat Yin He mempunyai hubungan dengan pedang halilintar, aku baru sadar bahwa apa yang menjadi tugas kami yaitu menjaga gerbang utara dan gerbang selatan, dan yang kami tunggu telah hadir dan kami harus menyerahkanya."


Tubuh Yin He terus menghisap energi petir alam yang dahsyat, sampai akhirnya tubuhnya bersinar keperakan. Yin He melayang mendekati kakek Huang dan lainya, yang membuatnya terkejut adalah Kalden membungkuk dan memberi Hormat.


"Maafkan kami tuan kami baru sadar bahwa tuan yang selama ini kami tunggu." Kalden menceritakan kepada Yin He semuanya.

__ADS_1


"Tuan, ikutlah bersama kami karena ada satu gerbang lagi yang harus tuan kunjungi, yaitu gerbang selatan atau gerbang bintang." Ujar Kalden


__ADS_2