
Tubuh Kangjian bergetar hebat menahan amarah yang bergemuruh, dari sekian kali ratusan pengalaman bertarung, ini adalah kali ketiga musuhnya dapat mematahkan Teknik Ilusi Es miliknya, dan Yin He salah satunya yang dapat mematahkanya, sekarang terulang kembali ditambah dia harus kehilangan satu tangannya.
Yanzu yang melihat situasi ini tanpa berfikir panjang langsung menyerang Kangjian dengan pukulan Es Abadi. Kangjian yang belum siap harus rela menerima kepahitan dalam bertarung tubuhnya dijadikan sasaran empuk oleh Yanzu, luka yang dialami oleh Kangjian sangat parah, membuat tubuhnya tidak dapat digerakan kembali.
"Saatnya kukirim kau ke neraka paman!" Tangan Yanzu mengeluarkan semacam uap dengan hawa yang sangat dingin, dalam beberapa detik tubuh Kangjian pun membeku.
Melihat temannya tewas dengan mengenaskan, Fang Ang yang sedari tadi melihat pertarungan itu tidak dapat membendung lagi amarahnya, Fang Ang melesat dengan cepat kearah Yanzu, di saat Yanzu memukul tubuh beku Kangjian sampai hancur berkeping tak bersisa.
"Mati kau bocah sialan." Fang Ang mengerahkan jurus pukulan petir kearah Yanzu, akan tetapi Ryuzu yang melihat gelagat dari Fang Ang langsung melesat dan menahan pukulan petir Fang Ang dengan pukulan tornado.
Fang Ang pun terpental, pukulan petirnya ditahan dengan mudah oleh Ryuzu, tanpa pikir panjang lagi, Fang Ang pun menyerang Ryuzu dengan petir biru yang menyambar dari kedua tanganya, setiap Fang Ang membuka kepalan tanganya, maka terbentuk petir biru yang akan menyerang sesuai dengan arah tangan itu ditujukan.
Ryuzu menghindar dengan berpindah tempat dengan cara melompat, akan tetapi hal tersebut semakin menyulut amarah Fang Ang, dengan keras dia meraung, suara raungannya sangat keras seperti bunyi gemuruh petir yanh menyambar, dan tiba tiba tubuh Fang Ang melayang ke udara. Ryuzu segera membuat perisai pelindung untuk berjaga jaga dengan kondisi yang terburuk.
"Petir hanya bisa ditahan oleh tanah, disini tidak ada tanah, aku harap pasir pasir ini dapat menghisap energi petir tersebut." Pikiran Ryuzu berputar mencari cara untuk mengalahkan Fang Ang.
__ADS_1
Fang Ang menyerang dengan amukan pukulan petirnya, petir petir yang menyambar nyambar disekitar tubuhnya kini berbentuk naga menyerang Ryuzu.
Ryuzu pun tidak ketinggalan, dia membentuk tornado dan membawa partikek partikel pasir yang sangat banyak berbentuk seekor naga.
Dua Naga Petir dan Badai Pasir pun bertemu, gesekan kekuatan pun beradu, hal ini menciptakan suasana yang mencekam, suara gemuruh yang sumbernya berasal dua naga yang saling menyerang dan melilit satu sama lain membuat suasana makin mencekam.
Fang Ang terkejut dengan apa yang terjadi, kekuatan petirnya tidak berpengaruh sama sekali kepada naga badai pasir milik Ryuza, Naga Ryuza kemudian menyemburkan pasir pasir ke arah Fang Ang, dengan cepat Fang Ang membalas serangan tersebut dengan panas apinya, akan tetapi karena kecepatan angin yang sangat cepat, sehingga tidak semua pasir pasir tersebut dapat ditahanya.
Butiran butiran pasir oleh Ryuza dipadatkan dengan mendapat tekanan dari angin yang kuat, sehingga butiran butiran pasir trsebut sanggup menerobos kulit dari Fang Ang.
Dengan cepat Ryuzu membuat tornado yang mengitari Fang Ang, api yang berasal dari tubuh Fang Ang tiba tiba hilang, dan Fang Ang tidak bisa lagi menggunakan Teknik Api. Ryuzu segera memanfaatkan situasi kepanikan dari Fang Ang, Ryuzu menyapu kerikil kerikil kecil disekitarnya, dengan kecepatan dan kekuatan penuh kerikil kerikil tersebut dapat menembus tubuh Fang Ang.
Seketika itu juga tubuh Fang Ang pun langsung bermandikan darah yang mengucur deras, Ryuzu terus menghantam tubuh Fang Ang sampai mukanya tidak dapat dikenali, tubuhnya koyak berlobang karena dihantam kerikil kerikil tersebut.
Han Bing terkejut, dia tercengang dengan cara membunuh Ryuzu yang mengerikan di usia mudanya. "Jangan terkejut paman, terkadang pada situasi tertentu kita harus mengubur rasa kemanusiaan, demi terciptanya sebuah perdamaian." Han Bing pun bergidik melihat senyum simpul dibibir Yin He.
__ADS_1
Tiga Wei bersaudara telah berhasil melewati ujian dari Han Bing dan Yin He, rasa percaya diri mereka tumbuh pesat, hal ini membuat aura yang dipancarkanya sangatlah kuat.
"Selamat buat kalian bertiga, kemampuan dan analisa kalian dalam bertarung meningkat tajam, ingat pada turnamen besok, kalian akan berhadapan dengan musuk yang mempunyai keahlian jurus maupun teknik elemen yang beragam, aku harap kalian dapat belajar dari turnamen besok." Ujar Han Bing kepada tiga Wei bersaudara.
Han Bing dan Yin He menyuruh tiga Wei bersaudara untuk beristirahat, karena besok mereka akan melanjutkan perjalanan ke lembah kesunyian.
"Paman, apakah rencana kita saat ini? menunggu atau kita jalankan rencana kita yang kemarin?" Tanya Yin He pada Han Bing.
He'er, kalau kita habisi mereka sekarang, maka itu akan membuat kekacauan disemua aliran dan sekte yang ikut turnamen tersebut, kita sendiripun tidak tahu masing masing yang mana orangnya, karena mereka bersembunyi dibalik aliran dan sekte mereka masing-masing itu yang susah." Ujar Han Bing.
Yin He menarik nafas pelan, dia tidak bisa membayangkan betapa banyak nyawa yang akan melayang jika benar benar sekte iblis akan menyerang.
"Sebaiknya aku menyebarkan mata mata dari sekarang." Ujar Yin He kepada Han Bing, segera dia memerintahkan burung dan para tikus untuk mencari informasi atas para anggota sekte iblis yang menyusup.
"Paman, kemarin saat sebelum kita berangkat, aku dan para tetua mendapatkan jurus baru dari batu mustika Giok Hijau, aku akan mengajari paman teknik pemanggil petir, apakah paman bersedia?" Tanpa pikir panjang Han Bing menerima tawaran Yin He.
__ADS_1