
Kalden sendiri masih belum sadar, dan ketika Xiao Zhao menaruh pedang darahnya di leher Kalden, maka dengan cepat Jingmi menampar Kalden, dan alangkah terkejutnya pedang milik Xiao Zhao telah menempel dilehernya.
Kalden mengucap syukur ini latihan bukan sebuah pertarungan, jika ini adalah pertarungan yang sesunguhnya pastinya pedang darah tersebut telah memenggal kepalanya. Kalden mengakui kehebatan dari jurus perebut Jiwa, akan tetapi dia meminta Xiao Zhao untuk beradu pedanf , antara pedang darah dengan pedang halilintar, beberapa jurus telah mereka selelesaikan, Jurus Pedang milik Kalden, sangat menguasai teknis dari aliran dari penjaga Gerbang utara.
Akan tetapi jurus dari perebut jiwa juga tidak kalah cepat dan kuat dari i pedang halilintar jurus dikuasai oleh Kalden, apalagi dengan tubuh dewa racun yang dimiliki oleh Xiao Zhao membuat Kalden jugga tersentak, dia kira hanya punya Jingmi saja, akan tetapi ternyata Xiao Zhao juga menguasainya.
Kalden mencoba menggunakan spirit dari 9 naga, dan juga demikian yang dilakukan oleh Xiao Zhao, dia juga mencoba menggunakan spirit sembilan naga mereka mereka dapatkan tadi di tempat kuil langit.
Kedua kekuatan sprirt bertemu, masing masing menkombinasikan kekuatanya dengan spirit naga yang sangat kuat, akibatnya dua kekuatan yang berbeturan menciptakan daya ledak yang sangat luar biasa, hal ini langsung membuat beberapa kerusakan di hutan tersebut.
Xiao Zhao dan Kalden sama sama terpental dan keduanya pun sama sama tersenyum senang dengan adanya latihan dan teman yang sebaya, mereka sperti saudara yang tidak terpisahkan.
Sementara itu, Yin He seperti tersedot kedalam sebuah dimensi baru yang selama ini hanya bagi orang orang yang telah meninggal, saat dia masuk kedalam lorongng waktu dia melihat disekelilingnya, bagaimana tangisan Jingmi yang meratap setelah kepergiannya, hal ini memberikan kebahagian tersendiri bagi Yin He.
__ADS_1
Yin He juga bisa melihat alam yang lain yang dia lewati, sesampainya disebuah gerbang, Yin He dihadang oleh dua orang yang berpakaian hitam dan berpakain putih. “Mau kemana kau anak muda? Kau belum mati kenapa kau bisa sampai ditempat ini? Ujar sosok yang menyeramkan tersebut kepada Yin He.
“Maafkan kami kakek ketujuh dan kakek kedelapan, aku hanya ingin menunjukan ini kepada kalian.” Kemudian tubuh Yin He memancarkan sebuah energi yang membuat kedua kakek tersebut dan tersentak. Kedua kakek tersebut saling melihat dan keduanya pun saling mengangguk.
Tiba –tiba keduanya menyerang Yin He dengan kekuatan yang sampai saat ini belum pernah Yin He jumpai, energi yang sangat padat sekali membuat Yin He tak berkutik terhadapnya, sampai sampai keduanya pun memberikan pukulan telak kepada Yin He. Dua pukulan tersbeut membuat dada Yin He serasa terbakar, “Ini tidak seperti yang diberitahukan oleh kakek Su Shuang, mengapa kedua penjaga ini juga menyerangku?” Yin He memegang dadanya yang serasa terbakar.
Tanpa bertanya apapun lagi, Yin He langsung mengeluarkan aura naga yang dimilikinya dan melakukan serangan kepada kedua penjaga Bai Wu Chang dan Hei Wu Chang, membuat keduanya mengerang kesakitan.
Hei Wu Chang pun mengibaskan kipas yang berada ditangan kanannya, kipas dari Hei Wu Chang membuat Yin He terpental jauh, akan tetapi ketika Yin He akan bangkit, sebuah rantai telah mengikatknya dengan kuat, hal ini membuat Yin He tidak bisa meggerakan badanya sama sekali.
Hei Wu Chang yang melihat rantai miliknya meleleh tidak bisa berkata kata lagi, manakala cengkaram Yin He telah bersarang dilehernya. “Jangan paksa aku untuk membuat kalian mati yang kedua kalinya.” Ujar Yin He sambil mencengkram leher bai Wu Chang dan Hei Wu Chang.
“Maafkan kami anak naga, kami hanya memastikan bahwa yang masuk kedua ini adakah dirimu, karena sudah beberapa kali, telah tertipu dengan para pengikut dari iblis nirwana yanf berhasil menyusup kegerbang kematian.” Ujar Bai Wu Chang.
__ADS_1
Yin He kemudian melepaskan keduanya, dan segera keduanya membawa Yin He kesebuah ruangan yang terdapat cermin yang sangat indah, dengan ukiran yang terbuat dari emas. “Cermin ini adalah Cermin Karma, kau bisa melihat siapa dirimu sebenarnya, dan kau juga akan tau siapa saja yang akan menjadi pendukung dan juga pengetahuan akan masa lalumu dikehidupan sebelumnya.” Ujar Hei Wu Chang.
“Tapi sebelumnya kau akan bertemu dengan raja Qin Guan, dia yang akan melihat dan mendata dirimu, jangan takut, ini hanya sebuah proses, agar saat di cermin karma, masa lalumu tidak tertukar, sehingga dia akan memastikan ulang.” Yin He kemudian berjalan menuju sebuah aula yang besar dan disana duduk seorang raja yang sudah tua akan tetapi memancarkan kharisma yang luar biasa, dialah raja Qin Guan, setelah menjawab beberapa pertanyaan yang dari raja tersebut, Yin He diantar kembali kehadapan Cermin Karma dan disaksikan oleh raja Qin Guan dan juga Bay Wu Chang dan Hei Wu Chang.
Yin He berdiri didepan cermin yang sangat besar, cermin tersebut kemudian mengeluarkan cahaya dan tiba tiba Yin He melihat seorang pemuda yang dia adalah pemuda dikehidupan Yin He sebelumnya.
Yin He terkejut dengan semua yang teah disaksikanya, banyak hal yang tidak terduga, oleh sebab ini kini dia bertekad akan memberikan semua kekuatanya untuk menjaga perdamaian dibumi ini.
Setelah semuanya sudah Yin He lihat, raja Qin Guan, menunjukan arah yang berikutnya yaitu kesebuah bukit yang indah, Yin He segera melangkah kesebuah bukit tersebut, setelah lama berjalan akhirnya sampailah Yin He di puncak bukit tersebut, disana terdapat sebuah kedai minuman yang menyuguhkn teh yang teramat sangat wangi, Yin He teringat akan pesan dari Su Shang, agar tidak menerima teh dari perempuan tua di roda reinkarnasi, ketika Yin He akan melangkah kedepan Jurang Roda Reinkarnasi, langkahnya ditahan seorang nenek yang sangat ramah, dia memperkenalkan diri dengan sebutan nenek Meng Po. “Anak muda, mampirlah dulu beristirahat dikedai ku, minumlah teh sebentar agar kau bisa melanjutkan perjalanan dengan tubuh yang segar, Yin He kemudian mengikuti permintaan nenek Meng Po, sesampainya di pondok milik nenek tersbeut, Yin He melihat sebuah air minum disebuah kendi yang sudah usang di atas sebuah lemari milik nenek Meng Po.
Ketika nenek Meng Po menyuguhkan teh dengan aroma yang sangat menggoda, jika saja Yin He tidak diberitahu oleh Su Shang, kemungkinan besar dia akan langsung meminum Teh dari perempuan tua tersebut.
“Maaf nenek, saya tidak suka dengan Teh, bolehkah saya minta diganti dengan air minum dikendi tersebut?” Tangan Yin He menunjuk kearah kendi usang yang ada diatas lemari nenek Meng Po. Nenek tersebut terkejut akan tetapi langsung bisa menguasai dirinya. “kendi itu sudah kotor, airnya juga pasti ngga enak dan sudah mau.” Ujar nenek Meng Po, akan tetapi Yin He tetap gigih meminta air dari kendi tersebut, akhirnya nenek Meng Po membawa kendi tersebut dan memberikanya kepada Yin He, bau kendi tersbeut sangat busuk, melebihi busuknya mayat manusia yang membusuk, hampir saja Yin He muntah saat mencium bau busuk dari kendi terseut.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Yin He langsung meminum air kendi yang beraroma sangat busuk tersebut, akan tetapi aroma busuk tersebut hilang saat air tersebut masuk kedalam mulut dan mengalir ke tenggorokan Yin He. Nenek Meng Po pun terkejut, dia akan matanya sudah menyala seakan mau menerkam Yin He, akan tetapi tubuh Yin He sudah berubah menjadi tubuh dewa petir, sehingga sang nenek langsung mundur kebelakang, pada saat yang bersamaan Yin He langsung terjun ke roda reinkarnasi.