
Setelah diberitahu oleh kakek tua yang sednag menyapu halaman paviliun, Chen Yi langsung menuju gedung yang ditunjukan oleh kakek tua tersebut.
Sebuh gedung yang sangat besar akan terlalu sepi bahkan tidak ada satupun pengunjung, kenapa gedung ini tidak seperti dengan gedung yang ada disebelah kanan dan kiri gedung tersebut.
Chen Yi pun melihat papan tulisan yang ada di gedung tersebut “Perpustakaan Roh Bintang” “Pantas saja sepi, karena murid yang ada juga hanya tiga orang, padahal ilmu dari Roh Bintang adalah ilmu yang terkuat bukan yang terlemah.” Ujar Chen Yi yang sengaja untuk menguatkan bathinya.
Seteleh beberapa saat mematung didepan gedung perpustakaan, Chen Yi pun masuk kedalam perpusatakaan tersebut. Dan Lagi lagi dikejutkan oleh seseorang yang membuatnya terkejut, Ya, sosok kakek tua yang tadi ditemuinya sedang menyapu halaman paviliun kini sosok tersebut sedanga terkekeh melihatnya dengan ekspresi yang tajam.
Chen Yi sendiri tidak tahu harus berkata apa lagi, "Hei Bocah jangan bengong gitu, kau mau cari apa? hampir lima tahun tidak ada yang mengunjungi perpustakaan ini, baru kau bocah yang mau mengunjungi perpustakaan ini." Ujar lelaki tua tersebut sambil menatap lekat ke arah wajah Chen Yi.
"Dilantai satu kau boleh membaca segala hal asal tidak dibawa pulang, jika kau ingin berlatih ilmu bintang semua buku ada di lantai 2 sampai lantai 5." Ujar Lelaki tua penjaga perpustakaan tersebut.
Chen Yi segera melahap buku buku di lantai 1 yang ternyata adalah tentang alam semesta dan juga tentang mengenali berbagai tanaan obat dan juga mustika mustika berharga, setelah hampir sebulan tiap hati Chen Yi menghabiskan waktunya diperpustakaan, dan hampir semua buku dia baca dan dia mengerti.
"Hei bocah kau tidak boleh lagi baca di lantai.2, sekarang pilihlah buku buku dilantai atas siapa tahu ada jurus yang cocok buamu." Ujar lelaki tua tersebut.
Chen Yi pun melangkah kelantai dua, dimana dilantai 2 adalah buku buku tentang ilmu pedang dan langkah pedang yang sangat bagus sekali.
"Jurus jurus disini tidak sebagus ilmu pedang hati es atau tarian phoenix biru, coba kamu naik kelantai lima ada sesuatu yang bagus disana." Ujar Chang Mao kepada Chen Yi.
Dengan sedikit berlari Chen Yin segera naik kelantai lima, dimana lantai tersebut adalah lantai paling atas dari perpustakaan tersebut.
Semua buku yang ada dilantai lima adalah buku yang belum dipelajari oleh Chen Yi, kebanyakan adalah gabungan dari spirit, elemen dan juga yuan, ilmu yuan adalah ilmu formasi yang sangat tinggi, akan tetapi buku tentang Yuan di perpustakaan Roh Bintang tidak hanya membahas Yuan terkait kehidupan sehari hari akan tetapi terkait alam semesta dan kekuatan dewa.
Chen Yi terperanjat dengan berbagai ilmu pengetahuan yang baru,akan tetapi dia tidak punya waktu yang lama untuk hanya membaca, dia harus mengambil dan berlatih sendiri.
Saat Chen Yi sedang asyik memilih, seperti ada kekuatan lain yang menarik tubuhnya untuk mendekati sebuah pintu yang tertutup.oleh tumpukan buku usang. "Sepertinya jangan kau kesana Chen Yi, aku tidak bisa merasakan seberapa besar kekuatanya, sepertinya kekuatanya sangat mengerikan." Ujar Chang Mao.
Chen Yi yang diberitahu seperti itu bukanya malah menghindar akan tetapi rasa yang dia rasakan membuat dia malah mendekatinya, dia mencoba mencari dari mana sumber kekuatan tersebut, beberapa lama setelah dia membongkar buku buku yang bertumpuk menutupi sebuah kotak yanh terbuat dari besi dengan sebuah rantai besar yang membelenggunya.
"Ini sebenarnya apa? kenapa harus di kurung dalam sebuah kotak? dan disegel seperti ini?" Chen Yi terpaku melihat kotak yang mulai berontak, sepertinya kotak tersebut tahu kalau ada orang yang ada didekatnya dan memberi perintah untuk membukanya.
Sedangkan kakek penjaga perpustakaan tersebut tersentak manakala Chen Yi menemukan kotak tersebut. "Apakah dia putra raja iblis? sesuai dengan ramalan hanya putra raja iblis yang bisa menguasai kotak terlarang tersebut." Ujar Kakek penunggu perpustakaan.
Sedangkan Chen Yi langsung memegang kotak tersebut dan terjadi sebuah tekanan dan oerlawanan dari segel yang kotak tersebut, segel tersebut memancarkan sebuah sinar keemaasan dan membentuk sebuah binatang yang besar yaitu burung Hong.
Burung tersebut langsung memancarkan energi yang sangat besar dan menekan tubuh Chen Yi hingga terduduk, akan tetapi setelah beberapa saat Chen Yi berusaha melawan seluruh tenagany seperti perlahan lahan hilang, dan tanpa disadarinya dari dalam tubunya memancarkan empat sinar aura dari empat senjata langit yang ada ditubuhnya.
Pancaran sinar tersebut memancar dan menerobos sampai keatas langit, sehingga langit pun langsung berubah mendung dan terdengar guntur dan kilat petir saling bersahut sahutan.
Tetua Xiao dan beberapa guru besar perguruan pertapa sakti pun tersentak saat melihat sinar tersebut.
"Bukanya itu dari perpustakaan Roh Bintang? apakah legenda tersebut akan segera bangkit?" Ujar Guru Besar An Xion.
Sebuah legenda mengenai seorang pendekar yang akan menguasai ilmu tertinggi dari Roh Bintang yaitu Iblis dan Dewa, sebuah kitab yang mempelajari tentang sebuah kekuatan agung dan sangat besar, jika dia bisa mengendalikan kekuatanya maka dia akan menjadi dewa dan jika dia tidak bisa mengendalikan kekuatanya maka dia akan menjelma sebagai iblis yang lebih kuat dari raja iblis.
Tetua Xiao dan guru besar lainya segera turun dan menuju ke perpustakaan Bintang saat masuk mereka langsung diminta diam oleh penjaga perpustakaan tersebut, semuanya membungkuk hormat kepada penjaga perpustakaan tersebut.
"Jangan keatas, biarkan takdir langit menjalankan tugasnya, kita tidak tahu apa yang terjadi, apakah anak ini nantinya akan menjadi iblis atau menjadi seorang abadi dinirwana yaitu dewa." Ujar Kakek penjaga perpustakaan tersebut
"Apa maksud Maha Guru Sion? siapa bocah yang guru maksud? atau Chen Yi murid baru tersebut." Tanya Tetua Xiao kepada kakek Sion.
Kakek Sion menjelaskan siapa sebenarnya anak yang sedang berada di lantai lima sekarang.
Semua mata terkejut saat sang Maha Guru Sion menyebut nama Chen Yi yang sekarang sedang berada dilantai lima perpustakaan bintang.
"Bangkitnya kekuatan Bintang maka akan banyak masalah yang akan dihadapi, kalian tahu sesuai dengan yang dibilang oleh Maha Guru pendiri perguruan ini, yang bisa melepaskan roh bintang tersebut hanyalah anak dari raja iblis. Dan aku yakin tetua pertama tidak akan salah dalam meramalkan hal ini, oleh sebab itu kalian amati Chen Yi, selama dia masih dalam pengamatan kalian,.kita masih bisa untuk mengendalikanya."
"Satu hal lagi, aku akan mengangkatnya sebagai muridku dan aku yang akan memberikan pelatihan langsung." Ujar Maha Guru Sion.
Tetua Xiao dan para guru besar hanya mengangguk dan tidak ada yang berani membantah, jika Chen Yi menjadi murid Maha Guru Sion, maka secara tidak langsung Chen Yi adalah adik satu guru dengan tetua Xiao.
Kakek Sion segera meminta semuanya meninggalkan area perpustakaan dan membungkam semua yang melihat kejadian ini, "Informasikan ini adalah sebuah pertanda kemunculan pusaka sakti, sehingga tidak banyak yang akan bertanya tentang hal tersebut." Ujar Kakek Sion yang dipanggil sebagai maha guru oleh para guru besar.
Sedangkan Dilantai lima perpustakaan Bintang, Chen Yi tersadar dan mendapati dirinya memancarkan sinar yang berkilauan, dan segera dia mengibaskan tanganya yang membuat sinar dari peti kontak yang membentuk burung Hong langsung memudar perlahan, dan sinar di kotak pun semakin melemah.
Saat Chen Yi membuka kotak tersebut, sebuah auman dari kotak tersebut sangat kencang dan menggetarkan dinding perpustakaan tersebut, saat setelah sinar tersebut meredup munculah sebuah sosok singa yang masih anak anak langsung mendekati Chen Yi mengendus ngendusnya.
Setelah itu anak singa tersebut menggosok gosokan kepalanya kearah kaki Chen Yi. Chen Yi membiarkan anak singa tersebut menggosokan kepalanya dikakinya dan melihat masih ada beberapa benda yang ada dalam kotak tersebut.
Chen Yi mengambil beberapa benda yang ada dalam kotak tersebut yaitu buku Dewa dan Iblis buku inilah yang mempunyai aura yang sangat kuat sekali.
Saat buku itu dipegang oleh Chen Yi, aura buku ini langsung mengelilingi Chen Yi dan tiba tiba di tubuh Chen Yi mengeluarkan sebuah energi yang belum pernah Chen Yi rasakan, dan tiba tiba muncul sebuah buku hitam dalam tubuh Chen Yi.
"Buku ini, hawanya sama dengan buku yang aku pedang apakah kedua buku ini saling berkaitan?" Chen Yi pun terkejut karena Chang Mao pun belum pernah bilang terkait hal ini.
Chen Yi pun mengambil buku Jiwa Hitam yang melayang dihadapanya saat kedua buku ini disatukan sebuah kekuatan memancar hebat dari kedua buku tersebut dan yang lebih mengejutkan adalah kedua buku tersebut ternyata adalah satu kesatuan dan sekarang keduanya telah bersatu.
"Aku sekarang mengerti, mengapa buku ini bergerak hebat seperti memanggilku, ternyata dalam tubuhku menyimpan setengah dari buku ini." Ujar Bathin dari Chen Yi.
Chen Yi mengambil sebuah sarung pedang yang berdiri didalam pojok kotak tersebut, dan lagi lagi tubuh Chen Yi bergetar rupanya sarung pedang tersebut adalah milik pedang Awan, saat pedang awan masuk kedalam sarung pedangnya maka lagi lagi ada cahaya yang keluar membuat Pedang Awan bercahaya, dan membuat gagang pedang dan karatanya hilang, dan aura Pedang Awan menjadi berlipat lipat.
Chen Yi pun turun membawa barang barang yang dia dapat dalam kotak tersebut turun, dia melihat kakek tua penjaga perpustakaan.
__ADS_1
"Kakek saya ambil buku ini dalam kotak, dan saya menemukan sarung pedang yang saya dapatkan saat akan masuk kedalam hutan Jiwa." Ujar Chen Yi.
Kakek Sion hanya tersenyum, saat memperhatikan barang barang yang dibawa Chen Yi, akan tetapi saat dia melihat buku Dewa dan Iblis dia terkejut, karena sampul buku tersebut berubah dari saat dia waktu muda dia melihatnya.
"Yi Er tunggu sebentar, buku ini, katakan apa yang terjadi dengan buku ini, karena seingatku buku ini bukan seperti ini." Ujar Kakek Sion sambil menunjuk buku yang di bawah oleh Chenyi.
Chen Yi pun menceritakan kejadianya dari awal sampai dengan akhir, dan yang mengejutkan kakek Sion adalah kemunculan. Chang Mao dan anak singa emas dari lantai atas.
"Kakek, ini adalah temanku Chan Mao, dan anak singa ini aku temukan bersama dalam kotak ini, bolehkah aku merawatnya?" Ujar Chen Yi.
Kakek Sion semakin kagum dengajn Chen Yi, dia tahu bahwa Chang Mao bukanlah manusia dan hewan spirit singa emas adalah hewan tingkat pertapa, walau masih kecil akan tetapi energi dan kemampuanya luar biasa.
"Yi Er, kau boleh merawatnya, oh ya kau telah mengetahui semua tentang tanaman dan juga batu kristal, dan tentunya kau paham apa yang menjadi santapan dari singa emas milikmu itu?" Ujar Kakek Sion kepada Chen Yi.
Chen Yi pun hanya menganggu pertanda mengerti dan sebelum dia melangkah keluar kakek Sion memanggilnya.
"Yi Er, namaku Sion, kamu bisa panggil aku dengan panggilan kakek Sion. Dan karena tidak ada guru untuk roh bintang, maka aku akan mengajarimu, besok malam kita akan memulai latihanya, sekarang kasih makan singa emasmu sebelum dia membuat masalah karena lapar." Ujar Kakek Sion.
Chen Yi pun mengangguk senang, dan dia semakin yakin saat Chang Mao pun mengangguk tanda setuju.
*** Dunia Iblis ***
Semua iblis di dunia iblis merasakan goncangan yang teramat dahsyat, membuat semua iblis panik dan terjadi kegemparan yang sangat hebat didunia iblis tersebut.
Yin He dan Jingmi yang sedang duduk disinggasana pun merasakan goncangan yang teramat dahsyat.
Yin He memutar telapak tangan di udara dan semua gambar muncul yang menunjukan sebuah cahaya yang sangat dahsyat muncul dan tembus sampai ke dunia para dewa.
Langit yang cerah kemudian berubah menjadi gelap gulita, suara guntur saling bersahutan, kilatan dari cahaya petir menerjang hitamnya awan, sehingga menjadikan pemandangan yang sangat mengerikan.
Saat dicari sumber cahaya tersebut dengan melihat lurus kebawah, alangkah terkejutnya mereka, Yin He melihat seorang anak kecil yang mengeluarkan cahaya yang bisa mengetarkan ketiga dunia. "Aku harus segera membunuhnya, dia merupakan ancaman dari dunia iblis." Ujar Yin He sambil menggengam tanganya.
Berbeda dengan suaminya, Jingmi langsung menutup mulutnya sendiri, karena melihat siapa yang bisa mengguncang langit, dunia asura dan dunia iblis.
Yang lebih mengejutkanya adalah perkataan dari suaminya yang ingin membunuh anak lelaki tersebut. "Tidak, ini tidak boleh terjadi Yin He tidak boleh membunuh Chen Yi, karena mereka adalah anak dan ayah, tapi bagaimana menjelaskannya kepada Yin He, sedangngkan jiwanya benar benar menjadi jiwa iblis." Ujar Hati Jingmi sambil menahan tangis yang akan pecah.
Melihat raut muka dari Yin He yang lagi menahan amarah yang meluap luap. " Suamiku, dia masih anak kecil dan bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan mu seorang raja iblis yang paling kuat." Jingmi berusaha untuk menenangkan Yin He.
Yin He pun masih belum bisa tenang, dia langsung memanggil semua para petinggi iblis, mereka diminta untuk menyelidiki siapa dan dimana itu anak tersebut, semua mengangguk dan segera menyebar mencari informasi tentang anak yang memancarkan cahaya dengan kekuatan yang sangat besar.
Jingmi yang tidak ingin terjadi apapun dengan Chen Yi, dia segera mencari cara untuk melindungi Chen Yi anaknya.
*****
Chen Yi segera masuk, dan Chang Mao menjelaskan kalau anak singa tersebut adalah hewan spirit, yang bisa menampakan diri dan menyembunyikan diri pada yang dikehendakinya.
Chang Mao segera mengeluarkan beberapa ramuan dan memberikanya kepada Singa kecul tersebut, dan benar saja setelah memakan beberapa butir pil dari Chen Yi anak singq tersbejt lelap tidur dibawah.
"Ibu, kenapa hari ini tiba tiba teringat dengan ibu, Ah..mungkin hanya rasa kangenku saja yang membuat aku berhalusinasi.
Yi Er....! ini ibu nak, sayup terdengar suara panggilan yang mengalun lembut ditelinga Chen Yi.
Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”
Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan
"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.
"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.
Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.
" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.
"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.
"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.
Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.
"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.
Bhuukkk!!
Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.
"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.
Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.
Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.
__ADS_1
Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.
"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.
"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.
"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.
Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.
Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.
Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.
"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.
Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.
Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.
"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.
Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.
"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.
Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.
Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.
"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.
Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.
Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.
Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.
"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.
Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.
Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.
****
Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.
Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.
"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.
Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.
Babak kehidupan Dewi Reng
Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.
"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.
"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.
3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.
Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.
Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.
Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.
"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.
"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.
Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.
Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.
Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yang saat itu sedang menyamar.