
Pertarungan dimenara emas membuat tenaga mereka banyak terkuras, Yin He menemukan harta yang sangat berharga yaitu berupa mustika alam dan juga mustika siluman yang mereka kumpulkan untuk bahan tambahab untuk membuat obat dengan bahan utama adalah tubuh dewi racun, karena sekarang mereka telah dikalahkan, mustika mustika tersebut oleh Yin He dan simpan diruang hampa, dan sebelum mereka akan melanjutkan perjalanan, Yin He meminta mereka untuk beristirahat dan juga memberikan mereka masing masing 50 mustika alam dan 10 mustika siluman 100 tahun yang telah dinetralisir oleh Yin He.
Semuanya tersenyum gembira menerima mustika alam dan siluman tersebut Yin He sendiri hanya menyerap hawa murni dari alam, dan tidak menyerap mustika alam ataupun mustika siluman.
Sekarang semuanya bermeditasi sambil menyerap satu persatu mustika alam dan siluman, sesuai perintah Yin He mereka diharuskan menyerap semuanya sebelum mereka berangkat menuju gerbang langit.
keesokan harinya Ketiga Xiao bersaudara menuju aula menara emas, sebelum meraka beristirahat mereka telah melakukan penguburan terlebih dahulu semua anggota menara emas yang tewas, dan sisa yang belum tewas dibunuh Shi Ren dibiarkan untuk menyelamatkan dirinya masing masing.
"Tubuh kalian terlihat lebih bugar, kalian sudah menyerap semua mustika tersebut?" Ketiga saudara mengangguk, dan juga terlihat Jingmi yang terlihat lebih fresh, hati Yin He bergetar melihat kecantikan Jingmi, sehingga ada semburat rasa malu ketika Jingmi menatapnya.
Jingmi berjalan mengitari lorong aula seolah olah mencari seseorang, Xiao Yan melihat gerak gerik Jingmi yang celingukan akhirnya bertanya, "Apa yang sedang kau cari Jingmi." Jingmi pun tidak menjawab dia masih mencari cari, sampai akhirnya dia kembali kearah Yin He dan ketiga Xiao bersaudara, "Apakah kalian melihat bibi Xia Yuan dan bibi Shi Ren? Xia Yuan dan Shi Ren yang berada ruang jiwa Yin He.
Yin He menjelaskan kepada Jingmi, tentang siapa Xia Yuan dan Juga Shi Ren dan keberadaan mereka sekarang, akhirnya Jingmi laham dan mengerti siapa Xia Yuan dan juga Shi Ren sebenarnya.
Yin He dan rombonganya segera meninggalkan menara emas dan menuju ke Kekaisaran Song dimana gerbang langit berada, setelah beberapa saat meninggal menara langit dengan kecepatan penuh, dan tinggal 10 hari perjalanan lagi akan sampai ke gerbang langit, Yin He dikejutkan dengan kehadiran seorang lelaki yang menghalangi perjalanan mereka.
Yin He meminta ketiga saudara berhati hati dan jangan gegabah menyerang, karena sesorang yang bisa mempertahan kan keseimbangan saat melayang adalah orang dengan tingkat level tentu.
__ADS_1
"Maaf tuan, tuan menghalangi jalan kami, bolehkah tuan mengijinkan kami lewat, karena setiap kami mau melewati jalan yang lainya, tuan selalu berhenti didapan kami." Ujar Yin He sopan.
"Dasar anak mudah, kau lambat sekali, aku sudah menunggumu dari 2 hari yang lalu." saat lelaki itu berbalik arah dan wajahnya terlihat oleh Yin He.
Raut muka Yin He langsung tersenyum, "Kakek Huang, kenapa kakek ada disini?" Yin He menghampiri Huang Liao dan membungkuk hormat pada lelaki tersebut.
"Mari kita turun dulu, mampirlah ketempatku dahulu, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepadamu." Mereka pun melesat turun menuju sebuah hutan yang lebat, dan setelah beberapa saat berjalan mereka sampai disebuah pondok yang sederhana.
Kakek Huang menyuruh Yin He, Jingmi dan Xiao beristirahat, mereka masuk kedalam pondok kakek Huang dan beristirahat sejenak.
Jingmi dipersilahkan kakek Huang untuk beristirahat dikamar sebelah yang telah disiapkan kakek Huang.
Yin He kemudian menemui kakek Huang yang sedang berbincang dengan ketiga Xiao bersaudara. "Kakek, maafkan aku membuat kakek menunggu selama 2 hari." Kakek Huang tertawa, dia mengelus kepala Yin He, dalam ingatan kakek Xue Zhao, Huang Liao adalah sahabat karib dari Xue Zhao kakeknya Yin He, sehingga dia merasa nyaman saat berada disebelah Huang Liou.
"He'er ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, aku lihat segel naga mu juga sudah lepas, sehingga kau bisa mengeluarkan aura naga, benarkah?"
"Kakek benar sekali, segel tersebut sudah lepas kakek, sehingga aura naga bisa keluar dari tubuhku kek." Ujar Yin He dan kakek Huang pun hanya mengelus jenggotnya saja.
__ADS_1
"Kabar yang bagus, aka tetapi aku harus sampaikan kepadamu, tidak hanya beberapa mustika dan persyaratan yang kau temui, akan tetapi kemampuan sastra dan juga kemampuanmu terkait spirit pedang kau harus menguasainya."
"Ilmu sastra pastinya dari jiwa singa emas telah mengajarimu dilembah terlarang, akan tetapi jiwa pedangmu, kamu juga harus tingkatkan level sampai ke tingkat Master"
"Kakek Level spirit pedang ku sudah sampe level tertinggi." Kakek Huang hanya tertawa, tapi kau belum sampe ke tingkat master He'er, tingkat master adalah esensi dari jiwa pedang itu sendiri, kau adalah pedang itu sendiri, seperti pedang matahari dan rembulan saat kau mengusai mereka secara material, akan tetapi secara esensi kau masih belum menguasainya."
Kakek Huang segera mengayunkan tanganya kesamping, dari ayunan tanganya seperti ada hembusan angin yang lembut, akan tetapi saat hembusan angin tersebut mengenai pohon besar, pohon tersebut langsung terpotong
"Padahal tadi hembusan tangan dari kakek mengenai badan saya, kenapa badan saya tidak apa apa?" Ujar Xiao Yan sambil memegang tubuhnya. Kakek Huang tertawa terkekeh, itulah esensi pedang kau bisa kendalikan dengan hati dan fikiranmu.
Yin He mengerti apa yang disampaikan oleh kakek Huang Liou. " Jadi apa yanh seharusnya saya lakukakan kakek?" Tanya Yin He.
"Kau belajarlah esensi pedang disini, biarkan adik adik angkatmu melatih spirit pedang mereka disini. Dan Jingmi juga akan aku bimbing langsung, aku ada jurus pedang Phoenix Biru sepertinya akan sangat cocok dengan Jingmi, Cantik tapi mematikan." Yin He dan ketiga Xiao bersaudara pun tertawa.
"Kalian sekarang beristirahatlah, besok aku akan memulai latihanya kepada kalian berlima." Ujar kakek Huang, segera Yin He dan ketiga Xiao beristirahat.
"Yin He, dalam umurmu yang masih remaja kau harus menjalankan takdirmu, aku yakin kau bisa, aku akan bantu dirimu untuk mencapai sebagai master pedang seperti kakekmu dulu." Bathin Huang Liou sambil memandang Yin He yang pergi beristirhat.
__ADS_1
Dalam kamar Yin He, matanya menerawang jauh, ternyata apa yang dicapainya sekrang masih sangat jauh, dia hanya berharap bisa melakukanya dengan baik.
Tiba tiba wajah Jingmi melintas dalam pelupuk mata Yin He.."Jingmi, mengapa selalu dalam fikiranku, ah tidak." Yin He mencoba memejamkan matanya