LEGENDA PEDANG LANGIT

LEGENDA PEDANG LANGIT
Bunga Tujuh Bintang


__ADS_3

Chen Yi yang tidak sadar bahwa Xiahua telah datang kini telah selesai bermeditasi dan meninggalkan sesuatu untuknya.


"Apa ini, ini bungkusan apa?" Chen Yi membuka bungkusan tersebut, ternyata sebuah sapu tangan yang ditengah tersulam gambar bunga teratai biru sedang mekar, tidak lupa sulaman nama pemilik sapu tangan tersebut "Xiahua".


Chen Yi hanya tersenyum lalu menyimpan sapu tangan tersebut ke adalam kantong bajunya.


Pada hari yang telah ditentukan ketiganya kemudian menghadap pada kakek Sion, sekarang terdapat banyak perubahan pada mereka, terlihat aura yang mereka pancarkan begitu kuat, tidak ada lagi keraguan dalam diri mereka lagi.


"Kalian pasti bertanya tanya kenapa kalian aku hukum di hutan berdarah tersebut, aku tidak ingin kalian mendapatkan tekanan lebih dari kemarin, aku ingin kalian membuktikan bahwa murid dari Roh Bintang adalah yang terkuat, buktikan kebangkitan dari Roh Bintang, dan aku yakin kalian bukan murid yang bodoh, waktu lima hari bagi kalian sangatlah cukup."


"Saat kalian mendapatkan bunga tujuh bintang tersebut ada sesuatu yang aku berikan kepada kalian." Ujar Kakek Sion.


"Baik Kek kamu semua paham, kami akan membuktikan bahwa Roh Bintang akan kembali bangkit " Ujar Kha Chung dan ikuti kepalan tangan dan anggukan kepala dari Chen Yi dan Beng Ong.


Ketiganya langsung melesat kearah hutan jiwa, dan langsung melesat terus ketengah dimana letak hutan berdarah tersebut.


Saat mereka baru menapakkan kaki di hutan berdarah, hembusan angin hutan terasa sangat dingin, walaupun siang hari akan tetapi sinar matahari tidak sepenuhnya bisa menembus gelapnya hutan tersebut.


"Kakak Ong jangan!" Teriakan Chen Yi tidak mampu menghentikan tebasan pedang Beng Ong pada sebuah pohon yang besar disampingnya, maksud dari Beng Ong adalah memeriksa area sekitarnya, Akan tetapi dia tidak menyadari bahwa apa yang dia tebas adalah tubuh monster ular jambul merah.


Dan sekarang ular dengan tubuh yang sangat panjang dan badan sebesar pohon kelapa, kepalanya sekarang berada tepat di atas Beng Ong, dan seketika ular dengan kepala dengan jambul seperti ayam jantan dengan warna merah menyala.


Ular tersebut mengeluarkan api dengan asap kehitaman langsung disemburkan kearah Beng Ong, dengan cepat Beng Ong langsung berguling kesamping dan meloncat kebelakang, akan tetapi ekor dari ular tersebut menyambut tubuh Beng Ong dengan cepat.


Tubuh Beng Ong langsung terpental dan menghantam pepohonan yang ada didalam hutan tersebut.


"Chen Yi, Ular Jambul merah ini akan sulit kau kalahkan, dia sudah ada dilevel raja petarung, akan tetapi kalo dia sudah marah tingkatanya bisa sampai dengan kaisar petarung." Ujar Chang Mao.


"Apa yang harus kita lakukan?" TanYa Chen Yi.


"Gunakan pengebadalian bintang dan nanti kau harus segera mengambil jantunh yanh berwarna merah tersebut." Chen Yi langsung melihat arah yang di tunjukan oleh Chang Mao.


Terlihat ada tiga titik di bagian bawah tubuh ular itu berwarna merah, sangat kontras dengan sisik hitam dan dan kuning keemasan.


Beng Ong dan Kha Chung mencoba untuk tidak hanya menghindar tapi juga mencari cela bagaimana caranya untuk membunuh ular tersebut, karena sisik ular tersebut tahan panas maupun dingin, sehingga tidak terpengaruh dengan serangan api dan es.


Chen Yi segera melesat menyelamatkan kedua kakak tingkatnya, sebenarnya bukan apinya yang berbahaya, akan tetapi asap racun yang sebarkanya.


Racun tersebut seperti racun dewi racun milik Jingmi, racun yang langsung melelehkan anggita tubuh yang terkena dan merambat dengan cepat karena racun melalui darah.


Beng Ong dan Kha Chung sudah menutup mata mereka, mereka pasrah dengan apa yang akan terjadi, akan tetapi kenapa rasa sakit kematian tersebut belum terasa.


Lama keduanya menunggu akhirnya mereka membuka mata, akan tetapi yang dilihat adalah, Chen Yi sedang bertarung seorang diri, dengan elemen angin Chen Yi menghindar dari racun ular jambul merah tersebut, dan dengan pedang awan Chen Yi mampu menembus sisik dari ular tersebur dengan beberapa sisik ular terkelupas, maka dengan mudah Chen Yi memberikan panas pada kulit ular tersebut.


Ular berjambul tersebut nampak menggelepar manakala panas yang disalurkan dengan formasin Yuan berhasil di goreskan oleh Chen Yi.


Dan benar saja ular tersebut langsung menggelepar dan tidak sanggup lagi untuk menyerang.


Dengan cepat Chen Yi langsung mengarahkan pedang awannya ke jantung ular tersebut, sebuah pekikan terdengar dari ular tersebut, Dan tiba tiba tubuh ular tersebut langsung meleleh dan yang tertinggal hanyalah sebuah batu merah yang memancar.


"Cepat ambil mustika ular jambul merah tersebut, dan seraplah untuk menambah kekuatanmu." Ujar Chang Mao agar segera memgambil mustika ular tersebut.


Belum sempat memgambil, sebuah bayangan dengan cepat mengambil mustika ular tersebut, dan tiba tiba cuaca berubah dengan signifikan.


Gelegar suara guntur bersahutan dan tiba tiba sebuah kilatan pedang berkelabat kearah Chen Yi, Dan dengan cepat pedang awan lansung berkelebat dan menangkis kilatan pedang tersebut. suara pedang berdenting saat dua kekuatan pedang tersebut beradu, tiba tiba suara gemuruh menggelegar.


Chen Yi segera kearah kedua kakak tingkatnya dan meminta mereka untuk waspada, karena saat ini musuh yang dihadapinya sangat berbahaya.


"Kalau menghadapi manusia kita lebih siapz dari pada menghadapi ular, sejak kecil aku sudah takut dengan ular." Ujar Beng Ong, tiba tiba dia langsung bersemangat.


Melihat Beng Ong bersemangat, membuat Chen Yi dan juga Kha Chung terheran heran, akan tetapi membuat Kha Chung pun sependapat dengan Beng Ong, selagi yang dihadapi adalah manusia dia masih bisa berfikir dengan jernih.


setelah beberapa saat, munculya seseorang yang dari lama sudah mengamati mereka, tubuhnya kurus hampir tinggal tulang, akan tetapi tatapanya sangat tajam dan mengerikan.


Di tanganya menggengam tongkat dengan mustika yang bertebaran di hampir diseluruh tongkat tersebut. Lelaki tersebut bejalan dan mustika ular jambul merah di tangan kirinya tiba tiba hilang dan cahanya masuk kedalam tubuh lelaki tersebut.


Tubuh lelaki tersebut langsung berubah menjadi sosok yang bertubuh besar dengan otot otot yang kuat, di seluruh kulit tubuh dan wajah lelaki tersebut ada motif sisik dengan warna hitam dan kuning keemasan.


"Lelaki tersebut sudah menyerap mustika ular tersebut, kau harus hati hati Chen Yi, bahkan pedang awanmu tidak mampu untuk menghadapinya, nanti gunakan pedang hati es, hanya pedang hati es yang bisa menggores kulitnya saat ini." Ujar Chang Mao


"Yi Er, biarkan kami yang menghadapinya, kami sudah mempunyai ide untuk mengalahkanya." Ujar Beng Ong.


Chen Yi mengangguk, dan tanpa basa basi lagi Beng Ong dan Kha Chung langsung menyerang orang tersebut dengan jurus tinju bintang dan pengendali bintang. Chen Yi dapat melihat bahwa kedua kakak tingkatnya dapat mengimbangi dan bahkan mulai mendesak lelaki tersebut.


"Kalian tidak akan bisa mengalahkanku, kalian akan menjadi koleksiku, apalagi kalian mempunyai bakat roh bintang, hal ini akan menambah kekuatanku."


"Dan kau bocah kecil, tunggu giliranmu setelah aku menghabisi kedua orang ini, karena tubuhmu menyimpan aura yang belum pernah aku lihat, aku yakin kekuatan aura dalam tubuhmu mampu menambah kekuatan dalam diriku." Lelaki tersebut melayang keatas dan tongat dengan kepala ular tersebut bergetar.


Dari tongkat tersebut memancarkan petir petir dengan warna hitam kemerahan, dan tiba tiba lelaki tersebut melemparkan tongkat tersebut dan berubah menjadi wujud lelaki dengan tubuh hampir penuh luka, wujud lelaki tersebut sangag menakutkan.


Dan dengan cepat lelaki yang penuh luka tersebut mencengkram leher Kha Chung dan juga Beng Ong. keduanya hanya bisa mengerang kesakitan dan mata kedua kakak tingkat Chen Yi melotot.


Chen Yi segera bergerak cepat sambil mengayunkan pedang awan, akan tetapi dengan mudah lelaki tersebut menangkis pedang awan tanpa menggores kulitnya, hal ini membuat Chen Yi segera memanggil pedang hati es dan kembali mengayunkan pedangnya.


Kali ini pedang yang mengayun tidak dapat dibendung lagi, dan akhirnya pedang hati es langsung memotong tangan dari sosok tersebut.


Suara jeritan langsung muncul dari mulut sosok tersebut karena tangan kanannya putus dan otomatis kedua kakak tingkat Chen Yi terlepas.

__ADS_1


Akan tetapi hal yang tidak terduga, tangan dari sosok tersebut langsung melayang dan tersambung kembali, hal ini membuat Chen Yi jdan yang lainya langsung tercengang.


"Kau hadapi lelaki yang sekarang melayang tersebut, karena jika kau belum membunuhnya maka kau tidak akan berhasil.membunuh laki laki yang mempunyai wajah buruk rupa tersebut." Ujar Chang Mao.


Chen Yi pun memberi kode kepada Beng Ong san juga Kha Chung untuk tetap bisa menghalau atas lelaki buruk rupa tersebut.


Chen Yi langsung melesat keatas dan menyerang sosok yang melayang tersebut, lelaki tersebut berusaha untuk menghindar akan tetapi terlambat, sebuah sabetan pedang.


Kali ini lelaki tersebut tidak dapat lagi menghindar dari sabetan pesang hati es milik Chen Yi, pedang ini sepertinya merasakan gairah gerakan tubuh lelaki tersebut.


Sedangkan Chen Yi hanya menggenggam erat pedang tersebut agar sabetan tetap stabil.


Lagi lagi pedang hati es menguasai tubuh Chen Yi, dan kini Chen Yi berkelit membabat lelaki yang masih melayang diatas melihat aura pedang yang dipancarkan oleh pedang Chen Yi.


"Kurang ajar, aura pedang ini mampu menghisap kekuatanku, dan menjadikanya untuk menyerangku, aku tidak boleh lagi bermain main dengan anak ini, kalau tidak aku sendiri yang akan menjadi korbanya."


"Hei kakek tua, kau sudah tua mengapa masih suka dengan permainan petak umpet, sini lawan aku." Chen Yi langsung mengubah hawa dingin dari pedang hati es dengan menggabungkan formasi Yuan , sehingga tercipta sebuah arena bertarung yang dilapisis oleh dinding es yang sangat tebal.


"Brengsek, anak ini pintar juga, dia membatasi ruang gerakku, dengan ruang gerak terbatasi, mau tidak mau aku harus menggunakan tubuh iblis miliku."


Sedangkan, Beng Ong dan Kha Chung masih terus menghindari sosok aneh yang terus mengejar dirinya, akan tetapi sekarang dia merasakan suatu keanehan, kekuatanya sudah tidak semengerikan saat pertama kali.


"Sepertinya aku harus menggunakan jurus pengendali bintang." Ujar Kha Chung.


Tubuh Kha Chung langsung berpendar berwarna keemasan dan beberapa bola cahaya putih bermunnculan menegelililingi tubuhnya, kini tubuhnya dikelilingi oleh cahaya yang sangat terang.


Kha Chung terus berkosentrasi, dan tiba tiba bola bola cahaya melesat menghantam sosok yang tubuhnya penuh luka, "Kau milikku, kata kataku adalah perintah, energi dan nafasmu adalah perintahku." Kha Chung mencoba terus menerus memberikan sugesti, an setelah beberapa lama sosok itu mengeluarkan semua cahayanya dan tiba tiba berubah wujud menjadi seekor ular cobra warna hitam dengan kepala berwarna emas, ular tersebut langsung mendekati Kha Chung dan melingkar dihadapan Kha Chung.


"Kau berhasil kakak pertama, sosok tersebut adalah ternyata makhluk spiirt berwujud ular, dan ini bukan sembarang ular, akan tetapi raja dari ular spirit." Ujar Beng Ong.


Lelaki yang bertarung dengan Chen Yi tidak bisa berbuat apapun manakala ular cobra yang dia tundukan sekarang menjadi patuh kepada orang lain, yang harus difikirkan adalah bagaimana caranya untuk tetap hidup dan keluar dari hutan berdarah ini.


Lelaki yang bertarung dengan Chen Yi mencoba menyerapa energi dingin yang diciptakan oleh Chen Yi, dan benar energi dingin bisa serapnya dan dijadikan energi yang besar, tubuhnya semakin kuat dan pancaranya juga semakin kuat.


"Hahahaha anak bodoh, kau mengurungku, tapi kau terlalu naif anak kecil, aku mempunyai kemampuan untuk menyerap energimu, dan aku akan menjadi yang terkuat setelah ini, dan tenang sisa energimu yang lain akan aku serap juga." Ujar lelaki tersebut pada Chen Yi.


Chen Yi tak bisa menahan tawanya sekarang, "Dasar kakek kakek bodoh, apakah kau tidak sadar dengan jebakan yang aku kasih kepadamu, silahkan kau menyerapnya sebanyak mungkin, asal kau tahu energi ini akan terus mengalir ke tubuhmu dan kau tidak bisa menghentikanya, dan jika itu terjadi, maka tubuhmu akan meledak hahahaha." Ujar Chen Yi penuh kemenangan.


Dan benar, lelaki tersebut tidak bisa menghentikan aliran energi yang masuk kedalam tubuhnya, sebelumnya Chen Yi telah menambahkan formasi Yuan saat dia membentuk arena ini, Formasi Yuan akan melipat gandakan dan juga sebagai jebakan yang ditaruh oleh Chen Yi.


"Dasar kau bocah anak iblis, beraninya kau berbuat seperti ini." Ujar Lelaki tersebut.


Chen Yi pun tersulut emeosinya saat dikatakan sebagai anak iblis. "Hahahahahahaha, kakek tua, akhirnya kau tahu identitasku yang sebenarnya, dan akan aku antar kau ke istana ayahku di dunia iblis sana." Tangan Chen Yi menggenggam erat gagang pednag hati es. dan dalam hitungan detik kepala lelaki tersebut terpenggal dan badan serta kepalanya menjadi es dan langsung hancur berkeping keping.


Melihat adik seperguruanya sudah menyelesaikan pertarunganya, Beng Ong dan Kha Chung langsung mendekati Chen Yi.


"Apakah ini makhluk spirit yang tadi kita bertarung, wah beh juga kakak pertama, aku akan memberikan hadiah kepadamu." Chen Yi mengeluarkan batu mustika ular jambul merah dan juga beberapa batu mustika kepada Kha Chung, karena hewan spirit memerlukan energi untuk bertahan hidup dan berkultivasi.


"Yi Er selanjutnya kita kemana mencari bunga tujuh bintang tersebut?" Tanya Beng Ong.


"Menurut Kakek harusnya disekitaran sini, bunga tujuh bintang hanya bisa tumbuh pada tanah yang diselimuti kekuatan qi yang sangat besar. Ujar Chen Yi.


Kemudian mereka melesat lebih dalam ke tengah tengah hutan untuk mencari Bunga Tujung Bintang.


Setelah beberapa lama, tiba tiba sekawanan monyet api menyerang ketiganya dengan sangat brutal.


Aaakkkkhhhhhh....!


Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”


Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan


"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.


"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.


"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.


Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.


" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.


"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.


"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.


Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.


"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.


Bhuukkk!!


Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.


"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.


Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.

__ADS_1


Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.


Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.


"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.


"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.


"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.


Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.


Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.


"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.


Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.


"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.


Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.


Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.


"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.


Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.


"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.


Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.


Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.


"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.


Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.


Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.


Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.


"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.


Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.


"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.


Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.


****


Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.


Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.


"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.


Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.


Babak kehidupan Dewi Reng


Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.


"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.


"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.


3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.


Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.


Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.


Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.


"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.


"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.


Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.


Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.


Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.


"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yang saat itu sedang menyamar.

__ADS_1


__ADS_2