LEGENDA PEDANG LANGIT

LEGENDA PEDANG LANGIT
Pil Penyatu Jiwa Bang.02


__ADS_3

Chen Yi tidak dapat mengendalikan lagi tubuhnya yang terus bergetar disetiap aliran hawa murninya, Lautan spiritnya seperti teraduk aduk, manakala dia mengkonsumsi pil penyatu jiwa.


" Ada apa dengan tubuhku, mengapa sakit semua, aku merasakan sepertinya dadaku mau meledak."


Chen Yi merasakan seluruh aliran tenaganya terpusat pada dadanya, sehingga kekuatan itu menekan dadanya sangat kuat, sehingga dia tidak dapat bernafas dan juga aliran darah ditubuhnya terhenti.


" Kau harus kuat Chen Yi, jangan panik dan atur hawa murnimu untuk meredakan lautan spirit mu yang sedang bergejolak." Ujar Chang Mao kepada Chen Yi.


"Sebenarnya apa yang terjadi, ada apa dengan tubuhku, mengapa sakit sekali." Ujar Chen Yi.


"Jangan banyak tanya, ikuti saranku, atau kau akan mati." Ujar Chang Mao dengan nada dingin sekali.


Chen Yi pun terdiam, dia langsung mengikuti apa yang disarankan oleh Chang Mao.


Dia langsung mencoba mengalirkan hawa murninya kesekujur tubuhnya, dia meresa tidak memiliki apapun, tubuhnya serasa tenang.


"Jiwa adalah titik sumber dari segala energi di seluruh alam ini, dengan mengenal jiwa berarti kau mengenal alam, kekuatanmu hanya bagian dari jiwamu, jika kau mengerti dan bisa memiliki jiwamu sendiri, kekuatan itu tidak ada batasnya." Ingatan Chen Yi pun teringat kalimat yang ada di kitab jiwa langit.


Akhirnya di melepaskan semua beban semua fikiran untuk bisa sekali lagi mengenali jiwanya.


Seberkas sinar ungu terang langsung memancar dari tubuh Chen Yi saat dia mencapai titik meditasi kosentrasi tertinggi.


Dua buah bola ungu keluar dari dalam tubunya, terus bertambah satu lagi, bertambah lagi dan lagi, sampai semua ruangan tersebut terisi penuh dengan bola bola ungu tersebut.


Tiba tiba bayangan Chen Yi keluar dari tubuhnya, bayang tersebut melayang dan mengitari bola bola tersebut, saat dimenemuka. satu bola yang kecil seperti lemah, akan tetapi pusaran didalam bola tersebut sangat kuat.


Bayangan Chen Yi langsung memasuki bola ungu tersebut dan semua getaran hebat mengalir dari tubuh Chen Yi dan mengalir sampai keatas dan membumbung tinggi dan menjadikan awan malam seperti cahaya ungu.


"Jiwa Langit, siapa gerangan yang sedang berlatih jurus jiwa langit, semoga jurus tersebut jatuh kepada yang tepat." Ujar kakek Sion dalam hatinya.


Fenomena ini pun juga dirasakan oleh Jingmi dan juga Yin He, Jiwa Langit adalah jalan jadi praktisi Dewa atau Iblis.


"Chen Yi, kau sudah bisa membuka gerbang Jiwa mu yang kedua, jika kau berhasil memahaminya maka kau akan mempunyai sumber kekuatan yang tak terbatas." Ujar Chang Mao kepada Chen Yi.


Chen Yi terus memusatkan fikiranya untuk tetap bisa berkosentrasi dalam pemahamanya, jangan sampai dia salah jalan dan akan menempuh praktisi kegelapan.


"Jika gelap dapat melihat mengapa kau butuh cahaya, cahaya hanya sebuah sinar untuk penerang, sedangkan gelap adalah penglihatan." Fikiran Chen Yi sudah memasuki Fase pencarian pemahaman jiwa gerbang kedua.


"Terang membutakan, mengapa kau terus mengejarnya, sedangkan kau damai dalam sebuah kelam." Jiwa Chen Yi semakin terpuruk jatuh kesebuah persimpangan.


Fase pahaman jiwa pada gerbang kedua menentukan arah dari praktisi Jiwa langit.


Sinar ungu terang mulai memudar dan berganti menjadi kemerahan, akan tetapi tidak cerah, hal ini menandakan pergolakan jiwa yang dialam oleh sang praktisi yang akan memasuki gerbang kedua.


Chang Mao pun keluar dari tubuh Chen Yi, dia berjaga jaga dari segala gangguan yang akan membuyarkan kosentrasikan.


Ancamanya adakah nyawa dari sang praktisi tersebut, aura sinar keunguan mulai menyebar dan menguat, aura kemerahan juga akhirnya meredup dan dan tergantikan dengan sinar ungu terang yang bersinar kuat.


Hanya orang orang tertentu yang bisa menyaksikan fenomena ini termasuk para dewa dan iblis.


Chen Yi akhirnya membuka kedua matanya, selain aliran kekuatan yang tak terbatas tubuh dan kekuatan tubuhnya pun bertambah kuat.


"Ini memang takdirmu Chen Yi, karena hanya manusia dengan tulang level naga yang mampu dan cocok dengan pelatihan jiwa langit." Ujar Chang Mao.


"Jika manusia dengan level tulang harimau pun akan lumpuh karena tidak kuat menahan beban energi dari lautan spirit yang sangat besar."


"Sekarang dilevel gerbang dua, kau tidak perlu takut dengan para murid inti yang ada diperguruan ini, bahkan tetua Xiao dan para guru besar dia hanya berada digerbang level 4."


"Dan tulang mereka paling tinggi adalah di level harimau emas, sehingga mereka butuh banyak sekali pil pembersih yin dan juga penyatu jiwa sepertimu." Ujar Chang Mao.


Segera mereka berlatih jurus pedang tarian phoenix dan kali ini Chen Yi berhasil menyalurkan energinya menjadi energi pedang yang sangat dahsyat.


Setelah itu dia berganti jurus pukulan peninggalan ibunya yaitu tinju ombak, daya hancurnya kita sangat besar, berkali kali lebih besar dari sebelumnya..


"Chang Mao, aku ingin berlatih jurus pedang hati es, bagaimana menurutmu?" Tanya Chen Yi kepada Chang Mao.


"Selagi para iblis mengincarmu jangan sekali kali kau gunakan salah satu diantara kami, gunakan pedang phoenix atau pedang awan."


"Akan ada waktunya saat kau harus belajar pedang hati es, karena jurus pedang tersebut hanya bisa dilatih menggunakan pedang hati es, jika dia berlatih dengan pedang lain, maka akan menghancurkan dirimu sendiri." Ujar Chang Mao.


"Sebenarnya apa yang menjadi masalah bagi para iblisz, kenapa mereka mencariku, sedangkan banyak praktisi yang levelnya lebih tinggi dari padaku." Ujar Cheng Yi.


"Karena kamu yang telah menyatukan kitab jiwa hitam dan jiwa putih, atau kitab dewa dan iblis."


"Orang tersebut adalah ancaman bagi para iblis."


Chen Yi pun tersentak dengan apa yang dikatakan oleh Chang Mao.


Chen Yi tahu, bahwa dengan kondisi seperti itu, maka dia harus berhadapan dengan raja iblis.

__ADS_1


Sedangkan Chen Yi sendiri ingin membebaskan sang ayah dari jiwa iblis tersebut, sehingga dengan jalan jiwa ini dia ingin membebaskan ayahnya.


Akan tetapi malah menjadikanya sebagai musuh sang ayah. Hal inilah yang membuat Chen Yi terkadang tidak mau meneruskan pelatihanya.


"Chen Yi yang harus kau lakukan nanti adalah membebaskan jiwa iblis Yin He, walau kau harus bertarung denganya, tapi sebelumnya kau harus benar benar menguasai kitab jiwa langit dan kitab dewa dan iblis." Ujar Chang Mao.


Chen Yi hanya bisa terdiam dan tertunduk,matanya berkaca kaca, sekuat apapun dirinya jika harus bertarung dengan orang tuanya, hatinya serasa teriris.


****


Chen Yi , Kha Chung dan Beng Ong, akhirnya dipanggil oleh Kakek Sion, setelah semimggu terakhir ini kakek Sion dan para guru besar melakukan penyegelan Bunga tujuh bintang untuk pelatihan para murid pertapa sakti.


"Kalian telah mempunyai jurus yang telah kalian ambil dari perpustakaan roh bintang, hari ini aku akan melihat sebagai mana kalian menguasainya." Ujar Kakek Sion.


"Chen Yi, untuk kitab yang kau ambil, itu adalah kita praktisi, kau harus menguasai sebuah jurus terlebuh dahulu, dan aku lihat sekarang kau telah mencapai gerbang kedua." Ujar Kakek Sion.


Betapa terkejutnya Chen Yi, tubuhnya dingin dan tidak bisa mengatakan apapun kecuali menunduk.


"Kau tidak perlu takut, aku akan tidak akan menghalangi mu, aku juga paham, sesuai dengan ramalan yang aku ketahui, seharusnya kau adalah putra dari raja iblis yang sekarang."


"Dan aku tahu kemarin sebelum kau pergi ke hutan, raja iblis mengunjungimu saat kau sedang melakukan meditasi." Ujar Kakek Sion kepada Chen Yi.


Hal ini membuat Chen Yi pun terkejut, karena selama meditasi dia tidak merasakan kehadiran apapun.


"Kakek, terus kakek bisa tahu tentang jiwa langit, bagaimana bisa ?" Tanya Chen Yi kepada Kakek Sion.


"Kami mengetahuinya karena adanya sinar ungu pemahaman gerbang kedua, kau memiliki pemahaman paling murni yang pernah aku lihat."


"Sebuah pemahaman yang kamu capai adalah yang paling terbaik." Ujar Kakek Sion.


"Kakek, ini buat kakek dan para guru besar." betapa terkejutnya Kakek Sion saat Chen Yi mengeluarkan sebotol pil pembersih yin dan sebotol lagi pil penyatu jiwa.


Kakek Sion hanya tertawa, dia menepuk pundak Chen Yi yang mempunyai bakat yang sangat jenius.


"Terima kasih Yi Er, aku akan membagikan kepada semua guru besar dan tetua Xiao, kami hanya bisa membuat pil ini dengan level 3 tapi kau bisa mencapai pembuatan pil pembersih yin sampai level 5."


"Untuk Pemahaman Kitab Iblis dan Dewa, kau akan berada langsung dalam bimbinganku dan tetua Xiao."


"Untuk kedua kakakmu, mereka akan berada dalam pengawasan para guru besar langsung, karena beberapa hari ini kekuatan kalian berkembang dengan pesat." Ujar Kakek Sion.


"Satu lagi, kau tidak usah takut jika harus keluar ke toko obat Youli, karena Tuan Han adalah temanku, dia juga adalah pengguna Roh Bintang, dengan melihat bakat dan kemampuanmu dia sangat tertarik kepadamu."


****


Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”


Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan


"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.


"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.


"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.


Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.


" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.


"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.


"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.


Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.


"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.


Bhuukkk!!


Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.


"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.


Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.


Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.


Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.


"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.

__ADS_1


"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.


"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.


Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.


Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.


"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.


Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.


"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.


Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.


Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.


"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.


Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.


"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.


Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.


Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.


"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.


Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.


Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.


Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.


"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.


Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.


"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.


Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.


****


Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.


Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.


"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.


Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.


Babak kehidupan Dewi Reng


Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.


"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.


"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.


3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.


Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.


Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.


Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.


"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.


"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.


Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.


Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.


Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.

__ADS_1


"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yang saat itu sedang menyamar.


__ADS_2