
Sebuah pisau daun mengenai pipi dari tetua Jian Lie, akan tatapi hal ini malah membuat putri Jian makin mengamuk. Dan tiba tiba kelima anak buah dari Xuan Yuan berdiri kaku, mata melotot dan tidak bergerak, sekujur tubuh mereka bergetar hebat, dan lama lama tubuh mereka mngeluarkan banyak darah dari semua lubang tubuh mereka, mulai satu persatu anggota dari Xuan Yuan pun meninggal dengan kondisi yang amat mengenaskan.
"Bukankah ini elemen pengendali air, Jurus Pengendali Darah, jurus ini setahuku hanya Guru Yin He yang menguasai, berarti runor iru benar, Jian Lie dikalahkan oleh guru Yin He saat menggunakan jurus pengendali darah." Ujar Wei Hanzu sambil menoleh kepada sang adik Wei Ryuza.
Adik dari Wei Hanzu kemudian melesat dan menghantam Jian Lie dengan angin ****** beliung yang sangat kuat, kecepatan putaran angin nya membuat tetua lembah es Jian Lie mengumpat habis habisan karena hempasan ****** beliung tersebut membawa material disekitarnya, termasuk panah es dari Jiang Lie itu sendiri, membuat wanita cantik harus dengan cepat menghindari serangan dari angin tersebut.
"Kurang ajar, aku tak akan mengampuninya." Jian Lie yang sudah terbawa dititik puncak emosinya segera membuat hawa dingin yang ada disekitarnya, akan tetapi hal tersebut seperti menjadi senjata makan tuan bagi Jian Lie, semakin banyak es yang terbentuk semakin banyak material es tersebut menyerangnya, walaupun dia pengendali es, akan tetapi kekuatan pusaran angin yang dimiliki oleh Ryuza lebih kuat teknanannya.
"Paman Xuan Yuan, biarkan saya mencoba menghadapinya, paman bantu untuk anggota dan penduduk yang terluka untuk mengungsi dari sini, karena saya tidak dapat bergerak menghadapinya dengan bebas jika masih banyak penduduk dan anggota yang lainya.
Xuan Yuan menggangguk mengerti dan dia akan melihat dari jauh jika Ryuza mendapat kesulitan segera mengirimkan kode bantuan.
Wei Ryuza mengangguk dan setelah memastikan semua dalam keadaan aman, maaka dengan cepat dia mengerahkan beberapa jarum beracun untuk melumpuhkan tetua lembah es Jian Lie, Ryuza segera ****** beliungnya mengarah kesamping dan agak menjauh, akan tetapi dengan cepat Wei Ryuza melemparkan jarum beracun kearah Jian Lie, akan tetapi ternyata wanita didepanmya memang bukan lawan yang biasa, dengan sekali tiup dia dapat membuat perisai es sehingga racun racun yang dilemparkan oleh Wie Ryuza tidak menembus perisai diding esnya.
__ADS_1
Giliran Jian Lie langsung mendekat dan memberikan pukulan es kepada Wei Ryuza, dengan kecepatan es yang sangat cepat, akan tetapi gerakan dari Wei Ryuza sangat lincah berkat dorongan tekanan angin, dan juga serangan serangan dari Jian Lie langsung dapat dia tangkis, tidak hanya menangkis Wei Ryuza pun membalikan serangan panah es tersebut kearah Jian Lie, hal ini membuat mata Jian Lie semakin melotot dan aura kemarahanya tidak dapat lagi terbendung.
Dengan dia mundur dan mengatur nafasnya, dengab cepat dia memutarkan kedua tanganya didepan dada dan tiba tiba tekanan di kedua matanya meningkat.
Wei Ryuza awalnya senang karena dapat membalikan serangan dari Jian Lie, bahkan telah membuat wanita tersebut kelabakan dengan serangan balik yang dibuatya, akan tetapi tiba tiba dadanya sesak, pandanganyan kabur semua anggot tubuhnya tidak bisa bergerak, tekanan kearah mata dan kepalanya semakin kuat.
Melihat hal ini Wei Hanzu sangat khawatir dengan keadaan adinya tersebut, akan tetapi Wei Ruyza meminta waktu beberapa saat jika nanti Jian Lie menggunakan jurus pengendali darah, hati Wei Hanzu semakin tidak menentu, disatu sisi dia tidak tega melihat sang adik melotot kesakitan, akan tetapi janji seorang pendekar tidak boleh dilanggar, dengaj perasan campur aduk Wei Hanzu terus mengamati pertempuran tersebut.
Wei Ryuza pun merasakan sakit yang luar biasa, akan tetapi dia terus mengalirkan hawa murninya agar tetap bisa fokus dan tersadar, dengan tekanan peredaran darah yang di beberapa titik disumbat dan beberapa lagi di bolak balik oleh Jian Liez membuat sensasi kesakitan yang teramat hebat.
Dengan sisa kekuatannya dan juga spirit dari sembilan naga yang ditubuhnya, dia mengaktifkan jurus pengendali fikiran, dengan cepat Wei Ryuza memasuki alam fikiran dari Jian Lie dan memerintahkan untuk berhenti, akan tetapi karena semua kekuatanya tidak maksimal, maka perintah Wei Ryuza kadang dilakukan kadang tidak oleh Jian Lie, dan juga karena tingkat kosentrasi yang tinggi Jian Lie lah yang membuat dia susah untuk dikendalikan.
Wei Ryuza tetap berusaha, dia terus masuk kedalam ingatan masa lalu dari Jian Lie dan dengab segera membuat ilusi di fikiran Jian Lie, saat Wei Ryuza memasuki ingatan masa lalu nya, Jian Lie langsung memghentikan seranganya, dan mendadak terduduk dan terkulai.
__ADS_1
Air mata Jian Lie tiba tiba mengalir, dia tertunduk, dalam tanginsnya matanya menatap seorang anak perempuan yang datang dihadapanya, seorang anak yang cantik dengan pipi yang merah putih bersih, rambut panjang hitam terurai tersenyum dan berjalan kearahnya. Tangis yang kerinduan yang selama ini dia pendam membuncah, dia memeluk anak perempunya.
Wei Ruzya yang mengetahui ingatan masa lalu dari Jian Lie mencoba melihat masa lalu dari Jian Lie, dan betapa dia terkejut masa lalu wanita cantik didepanya. masalah lalu dimana seorang perempuan yang tidak akan pernah mau untuk menjadi dirinya. Sehingga dia ingin memberikan ingatan yang bahagia kepada Jian Lie walau hanya sebuah ilusi.
Jian Lie yang masih terpengaruh didalam ilusi yang dibuat oleh Wei Ryuza, dengan segara Wei Ryuza mencoba untuk menata aliran darah dan meridian yang aliranya sudah tidak karuan karena ulah Jian Lie.
Wei Hanzu segera turun dan membantu memulihkan keadaan dari adiknya, "Mengapa dia menangis dan tersenyum sendiri? apa dia benar benar gila?" Tanya Wei Hanzu pada adiknya .
"Aku membawanya ke ingatan masa lalunya, sampai dia menjadi tetua lembah es dan bersifat kejam, dibalik itu semua ada sebuah masa lalu yang sangat kelam, yang merubah setiap pemikiranya terhadap seorang lelaki, bahkan lembah es adalah sekte khusus perempuan perempuan yang mempunyai masa lalu yang hampir sama dengannya yaitu di sakiti oleh lelaki. " Hembb..begitu ya, itulah sebabnya aku tidak menyukai lelaki." Jawaban konyol dari Wei Hanzu membuat Wei Ryuza tertawa terbahak bahak.
Mereka terus memperhatikan apa yang dilakulan oleh Jian Lie. "Ryu er, sampai kapan dia akan dalam pengaruh ilusimu? karena tidak mungkin kau akan terus memenjarakan dia dalam ilusi seperti ini." Tanya Wei Hanzu.
"Aku ingin menyadarkanya, akan tetapi apakah bisa ? aku mempunyai sebuah rencana untuk menyadarkanya lewat ilusiku, aku akan bawa setengah ingatanya kedalam keadaan normal, aku ingin memberitakuknya, tidak semua laki laki adalah sama." Jawab Wei Ryuza, dan ide tersebut di setujui oleh kakaknya Wei Hanzu.
__ADS_1