LEGENDA PEDANG LANGIT

LEGENDA PEDANG LANGIT
Gerbang Kematian _ Menuju Pedang Langit Bag. 03


__ADS_3

Yin He yang terkejut hendak menanyakan tentang kutukan tersebut, akan tetapi Su Shang telah menghilang bersamaan dengan hancurnya batu kecil yang usang tersebut, semuanya menatap Yin He dengan penuh harap.


“Tuan, maafkan saya dahulu yang tidak mengerti tugas tuan yang sangat berat ini, saya hanya mengikuti ego kami.” Kalden berlutut dihadapan Yin He, diikuti Jetsan yang kemudian meminta maaf sama seperti Kalden. Yin He hanya tersenyum dan meminta mereka bangun, yang Yin He harapkan adalah nantinya setelah pedang langit ini tercabut, dia ingin sembilan naga ada disampingnya ditambah dengan kekuatan dari  paman Han Bing.


Yin He meminta semuanya berkumpul, dia meminta agar mereka tidak meninggalkan tempat ini selama Yin He dalam misi mengambil pedang langit, karena setelah ini ada beberapa hal yang ingin dibicarakan dengan mereka, terutama tentang sembilan naga yang masing masing ada ketiga Wei dan Xiao bersaudara, Jingmi, Kalden dan juga Jetsan, Yin He meminta paman Han Bing mengawasi mereka dalam berlatih dan juga memberikan pengalaman dalam sebua pertempuran, Paman Han Bing tersentak dan terbatuk, Han Bing tau pengalaman dari ketiga Xiao bersaudara, Jingmi , Kalden dan Jetsan pastinya lebih banyak dari pada pengalamanya.


Yin He segera mengambil bantu Jade langur warna merah pemberian dari  penjaga gerbang jiwa, dengan mengalirkan hawa energi aura naganya, membuat batu jade langit warna merah tersebut bersinar dengan terang, dan sebuah lingkaran kemerahan muncul dibelakang tubuh Yin He, Yin He membalikan badanya dan melihat kearah semuanya, karena untuk perjalanan ini adalah perjalanan yang paling berat dan palibg berbahaya dari kesemuanya, karena untuk mencapai gerbang langit itu sendiri bukanlah perkara mudah yang bisa dilalui oleh semua orang hanya orang dengan takdir langit yang bisa menjalankanya.


Yin He melangkah kedalam lingkaran warna merah tersebut, dan lingkaran tersbeut langsung mengccil bersamaan dengan hilangnya tubuh Yin He dari pandangan, Jingmi yang asalnya tegare dan tidak mengangis melepaskan kepergian Yin He, setelah tubuh Yin He menghilang, akhirnya tubuh gadir tersebut ambruk karena takut Yin He tidak akan pernah kembali.


“Kalian tetap tenang, ingat apa yang dikatakan Yin He kepada kita, kita harus tetap disini dan berlatih, kita tidak tahu kapan dan dimana Yin He akan kembali, kita berdoa saja semoga dia selamat, tapi aku yakin , Yin He adalah pembawa takdir langit, dan dia akan kuat dan tetap hidup dengan semuanya.” Han Bing menyemangati para sembilan naga yaitu, Jingmi, Kalden, Jetsan dan Ketiga Wei, Xioa bersaudarah.


Setelah Yin He pergi, Han Bing meminta mereka berlatih naga spirit mereka , dengan dibantu dengan naga merah milik Han Bing, sekalin hal ini akan menjadi ajang bagi para sembilan naga untuk berlatih, Kalden mencoba dengan Jingmi yang mempunyai kemampuan baru yaitu sebuah elemen yaitu elemen logam. Hal ini membuat perubahan tubuh dan badan Jingmi sangat kuat. “Tunggu Kalden, maukah kau menemaniku bermain? aku ini kau mendengarkan bait bait syair perebut jiwaku.” Ujar Xiao Zhao kepada Kalden.


“Hahahahaha, baiklah, rupanya kau masih penasaran dengan ku ya Zhao er, baiklah akau akan memberikan permainan yang bagus buatmu dengan pedang petir ini.” Kalden bersiap siap melawan Xiao Zhao, diantara mereka memang tidak ada permusuhan, dan ini adalah sekedar latihan, akan tetapi sejak penyerangan di hutang kakek Huang, Xiao Zhao tidak pernah sekalipun menghadapi Kalden, makanya dia penasaran dengan kemampuan dari pangeran penjaga gerbang utara dari kota Lasha Tibet tersebut.


Xiao segera menarik nafasnya dan dengan amat tenang dia melantunkan bait baik syair perebut jiwa miliknya, membuat angin serasa berhenti dan jiwa yang mendengar syair tersebut bergetar;


Ketika kata-kata……………


Sudah tidak bisa menjawab tanya……………


Maka bahasa pedanglah yang bicara………………


Bahasa para ksatria……………


Bahwa bumi mununtut sesaji darah manusia……………


Pedang……………


Taring sang penjemput maut sedang di amuk murka……………


Amarahnya menelan rembulan jadi gerhana……………


Bumi……………


Gelap pekat menangis air mata merah……………


Gemerlap kilat pedang menusuk dunia……………


Darah mengalir dari ujung pedang kekuasaan……………


Tergelar dari ujung pedang……………


Sebagaimana derita juga tergelar dari ujung yang sama…………


Jangan ada suara kalau syairku sedang bicara


Karena suaraku ingin memutar balik cakra dunia


Kenapa orang bijak bicara dengan jumawa


Tidak ada yang abadi di dunia ini


Kecuali ketidak abadian itu sendiri


Padahal duka hidupku abadi


Luka hatiku abadi


Pagi mengusir malam


Siang menghardik embun


Dan malam menelan matahari juga abadi


Dari waktu ke waktu


Sampai ratusan abad sejak alam mayapada


Digelar para dewa

__ADS_1


Dendamku pada mu juga abadi


Begitu juga dendamku pada nasib juga abadi


oooh…


Akan kutebar gelembung dendam membara


Menyebar keseluruh mayapada


Menutup kayangan di puncak Amarah


Oh dewa,


Sudah sulit ku bedakan hidup dan siksa


Setiap nafas dan langkah ku raja derita


Oh dewa,


Buka matamu dan saksikan derita ku


Telah kau kalahkan aku dengan tangan perkasamu


Oh dewa,


Kini mimpi-mimpiku pun hitam gelap


Segelap bola mata ku


Letih sudah kaki menyelusuri lembah


Tapi,


Perjalanan tidak kunjung usai


Tidak terperih luka


Carut marut oleh onak duri


Oh..


Perih luka ternyata jauh lebih perih jiwa


Tapi aku tetap ingin pulang


Dewa,


Kembalikan masa bocahku kedalam jiwa


Jangan peluk akhir perjalananku


Aku masih punyak rindu


Yang belum pupus


Jemariku belum lagi menyentuh bayang-bayang mimpi ku


Oh  Dewa


Sejuta kutuk pasu ku tadah dengan dada terbuka


Tapi belum juga kau satukan aku dengan anak-anakku


Oh..


Hanya rindu yang meratapi dosa-dosa


Busuk


Satu-satu

__ADS_1


Orok dosaku mengering sudah


Satu-satu


Bayangan masa datang terasa benderang


Oh Dewa,


Sudah sulit ku bedakan hidup dan siksa


Setiap nafas dan langkah ku raja derita


Oh Dewa,


Buka matamu dan saksikan derita ku


Telah kau kalahkan aku dengan tangan perkasamu


Oh Dewa,


Kini mimpi-mimpiku pun hitam gelap


Segelap bola mata ku


Letih sudah kaki menyelusuri lembah


Tapi,


Perjalanan tidak kunjung usai


Tidak terperih luka


Carut marut oleh onak duri


Oh..


Perih luka ternyata jauh lebih perih jiwa


Tapi aku tetap ingin pulang


Dewa,


Kembalikan masa bocahku kedalam jiwa


Jangan peluk akhir perjalananku


Aku masih punyak rindu


Yang belum pupus


Jemariku belum lagi menyentuh bayang-bayang mimpi ku


Jagat dewa ,


Sejuta kutuk pasu ku tadah dengan dada terbuka


Tapi belum juga kau satukan aku dengan anak-anakku


Oh..


Hanya rindu yang meratapi dosa-dosa


Busuk


Satu-satu


Orok dosaku mengering sudah


Satu-satu


Bayangan masa datang terasa benderang

__ADS_1


Han Bing dan ketiga Wei bersaudara yang memang belum pernah melihat dan mendengarkan syair yang menyanyat dari jurus perebut jiwa, langsung terduduk dan lemas, tidak bisa menahan apapun yang ada dalam dirinya, energi mereka seakan tercekat fikiran mereka tiba tiba kalut, Hal yang sama juga dialami oleh Kalden dan juga Jetsan, kecuali Jingmi dan Xiao Zhuang dan Xiao Yan , mereka tidak terpengaruh karena memang Xiao Zhao tidak mengarahkan jurus tersebut kearah mereka.


Naga merah dileher Han Bing menggigit telinga Han Bing sehingga  Han Bing seperti tersengat aliran petir yang kuat, dan langsung bangun dari apa yang terjadi. “Zhao er, tidak aku sangkah jurus “perebut jiwa” milikmu sangat menakutkan, aku benar benar masuk dalam kesedihan dan kesakitan yang sangat mendalam.” Ujar Han Bing, kemudian Han Bing langsung menyadarkan ketiga Wei bersaudara dengan tamparan yang sekeras kerasnya, membuat ketiga tersentak dan terbangun dari ilusi yang dibuat oleh jurus perebut Jiwa.


__ADS_2