
Besok adalah hari seleksi antar murid pertapa sakti akan dimulai, semuanya sudah mempersiapkan kemampuan diri nya masing masing.
Tidak ketinggalam Kha Chung dan Beng Ong yang penuh semangat mengikuti seleksi ini, sudah hampir dipastikan setiap tahunnya, sebelum kedatangan Chen Yi, Kha Chung dan juga Beng Ong pasti akan pergi sampai seleksi berakhir.
“ Yi er, kebetulan kamu pulang, boleh tidak kita belajar bersama? Memang seharusnya aku yang memberikan petunjuk padamu, tapi pada kenyataanya berkat kamu , kami bisa seperti ini, dan yang paling penting kultifasi kami tidak terhenti sampai sekarang.” Ujar Kha Chung.
“Dengan senang hati, saya akan menemani senior berlatih, saya dengar dari kakek Sion, Kakak Beng Ong mendapatkan jurus pedang, yaitu kitab pedang pembelah sukma. Dan juga kakak Kha Chung mendapatkan jurus tapak dewa, wah kayaknya aku harus lebih hati hati.” Ujar Chen Yi
"Kami memang mendapatkan jurus pedan dan pukulan, tapi kami butuh kamu untuk memahami beberapa esensi yang blm kami mengerti." Ujar Kha Chung.
Chen Yi kemudian memeriksa beberapa yangbada ditulisn tersebut, berkat ingatan dari sang ayah, sangat mudah bagi Chen Yi untuk mengartikanya.
"Bergerak mengikuti semilir angin gunung Tangcue, terbalik dengan aliran sungai Kuning, menyatu dalam sebuah lautan dan meleburkan semesta."
"Semilir angin gunung Tanchue, itu adalah aliran hawa panas ditenggorakan, sedangkan aliran sungai kuning adalah aliran energi Qi."
"Berarti salurkan aliran hawa panas berbanding terbalik dengan hawa Qi, dan semuanya akan bermuara di lautan spirit, disinilah akan terjadi sebuah ledakan kekuatan yang sangat kuat."
Kha Chung tersenyum, dan mengikuti apa yang dijelaskan oleh Chen Yi.
Dan beberapa keanehan pun terjadi dengan tubuhnya, sebuah kekuatan mengalir hebat disemua vena dan aliran Qiny.
Kha Chung pun melempat dan menghantamkan telapaknya kearah sebuah batu besar dan,
DHHUUAAARRR....!
Batu besar pun meledak dan menjadi serpihan kecil kecil, Kha Chung melompat kegirangan.
"Kau memang jenius adiku, kemarin aku hanya bisa membuat batunya bergoyang terkena tapak dewa, sekarang bahkan batu itu hancur berkeping keping."
"Itu karena kakak senior juga jenius, bisa langsung memahami apa yang aku katakan." Ujar Chen Yi kepada kakak seperguruanya Kha Chung.
"Yi er, sekarang giliranku, ada beberapa.yang belum bisa aku mengerti." Ujar Beng Ong.
Chen Yi segera melihat apa yang menjadi permasalahan dari Beng Ong, setelah dia melihat jurus yang peragakan kakak nya.
Dari jurus pedang yang diperagakan sangat bagus dan memeatikan, tapi tidak memiliki daya hancur sama sekali.
"Apa yang salah dari semua ini, kenapa jurus pedang pembelah jiwa sepertinya tidak ada tenaga sama sekali." Ujar Chen Yi.
Kemudian Chen Yi melihat kejanggalan di tubuh Beng Ong, seharusnya dengan buah jiwa dan pelatihan selama ini, maka seharusnya lautan Qi yang dimiliki Beng Ong sangat luas dan besar, tapi mengapa sepertinya tidak ada kekuatan yang keluar.
"Kakak, sebelumnya mohon maaf, boleh saya mencoba jurus pedang pembelah jiwa?"
Beng Ong mengangguk, dia penasaran dengan jurus yang sama apakah akan ada perbedaan antara dirinya dan Chen Yi.
Chen Yi segera memperagakan jurus jurus yang ada di kitab tersebut, Beng Ong yang harus membutuhkan waktu 3 hari untuk setiap jurusnya terbengong bengong, karena dengan hanya melihat beberapa kali, Chen Yi dapat menggunakan jurus tersebut dengan amat sangat sempurna, dan saat pedang yang dia pinjam dari Beng Ong menyabet sebuah batu besar, maka batu tersebut terbelah menjadi dua bagian.
Tapi yang membuat mata terbelalak, adalah meningkatnya ketajaman dari pedang tersebut dan dua buah batu yang ada pada jarak agak jauh meledak terkena tekanan dari jurus pedang pembelah jiwa.
"Apa mengapa jurus ini berfungsi dengan baik saat aku pakai?"Gumam Chen Yi.
"Tunggu..aku tahu kenapa kak Beng Ong ngga bisa menggunakan Qi, seperti aku tadi." Chen Yi langsung memeriksa beberapa bagian tubuh dari Beng Ong.
"Tapak Es, kakak pernah terkena serangan tapak es?" tanya Chen Yi.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Ujar Beng Ong.
Kha Chung pun mendekat dan bergabung serta mencari tahu bagaimana bisa Beng Ong terkena tapak es.
Dibeberapa arteri pembuluh darah kakam tersumbat, dan juga beberapa titik juga, ini membuat kemampuan kakak akan terus menerus menurun.
"Qi yang kakak simpan dan mencapai kultivasi hanya akan memperlambat tapak es menyebar ke area vital kakak."
"Jadi selama ini kakak makin melemah dalam setiap kali berlatih karena kakak terkena tapak es?"
"Iya, jadi sebenarnya aku terkena tapak es setelah aku menjalani seleksi di keluarga Beng."
"Dan kau adalah orang kedua yang mengetahui aku terkena tapak es, hanya ayahku yang percaya aku terkena tapak es."
"Ceritanya begini!"
Kemudian Beng Ong menceritakan asal mulanya dia mendapatkan pukulan tapak es.
Pukulan tapak es yang diterimanya memang tidak membuat beberapa organ vitalnya hancur ataupun terluka.
Tapi Beng Ong sepertinya dijadikan sampah secara perlahan, dengan menutup beberapa aliran meridianya.
Arteri pembuluh darahnya pun disumbat secara perlahan.
Tiga bulan sebelum seleksi perguruan pertapa sakti, seluruh Klan yang mendapat undangan akan menyeleksi para pendekar muda yang ada di Keluarganya.
Beng Ong adalah salah satu dari jenius dari keluarga Beng yang telah di tunjuk menjadi perwakilan dari keluarga Beng untuk seleksi masuk perguruan Pertapa Sakti.
Ada empat keluarga yang ikut dalam seleksi tersebut yaitu keluarha Beng, Tong. Xue dan Yun.
Keempat keluarga ini adalah empat pilar dikota Huanzi.
Masing masing keluarga mengirimkan 3 jenius yang telah mengikuti seleksi dimasing masing keluarga.
Babak pertama, Beng Ong melawan Yun Fei, keduanya langsung melesat kearena pertarungan, dengan cepat Beng Ong menggabungkan antara elemen air dan spirit angin, penggabungan keduanya membuat mata orang orang pun tersentak.
Yun Fei yang juga berelemen air langsung membentuk naga air yang sangat besar.
"Tidak mungkin, untuk membentuk naga tersebut dibutuhkan qi yang sangat besar, aku bisa kalah kalo seperti ini." Beng Ong walau mampu menggabungkan antara elemen dan spirit, akan tetapi dia tidak mempunyai kemampuan membentuk sebuah bentuk hewan spirit." Wajah Beng Ong mulai pucat.
Serangan demi serangan yang dilontarkan oleh Beng Ong dengan mudah dapat di tangkis oleh Yun Fei.
Pemuda dari Klan Yun tersebut, dengan lincahnya mengendalikan naga airnya.
Beberapa kali Beng Ong harus berguling guling untuk menghindari serangan dari Yun Fei.
Dan Jlebs..sebuah es yang berbentuk tombak mengenai paha dari Beng Ong dan langsung membuat tubuh Beng Ong ambruk, karena sakit yang dideritanya.
Saat Beng Ong mengerang menahan sakit di pahanya, tiba tiba ada perasaan marah dalam fikiranya, dan juga ada kekuatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Tubuh Beng Ong bergetar dan mengeluarkan cahaya ungu, dan setelah itu, dia merasakan sebuah aliran energi yang sangat kuat.
Dia bangkit, dan menjerit kuat, dan tiba tiba sebuah bayangan sebuah burung besar, dan bayangan tersebut merupakan energi burung Hong.
__ADS_1
Tiba tiba sebuah suara gemuruh yang besar terdengar dari dasar sungai.disebelah arena tersebut.
Dan sebuah burung Hong terbentuk dari elemen air yang sangat, kepakan sayapnya membuat arena pertempuran tersebut menjadi tegang.
Yun Fei segera menyerang Beng Ong yang masih dalam keadaan seperti tersambung dengan spirit burung Hong.
Akan tetepi belum sempat kepala naga air tersebut menyentuh Beng Ong. sebuah cakar yang besar menghancurkan kepala naga dari spirit air tersebut.
Kepala naga tersebut hancur tapi dengan cepat terbentuk lagi dan langsung menyerang burung besar tersebut.
Pertarungan dua hewan dari spirit elemen tersbeut saling menyerang, akan tetapi spirit angin yang dimiliki oleh Beng Ong langsung digabungkan dengan bentuk elemen tersebut.
Sehingga kekuatan kepakan sayap dari sang burung Hong mampu membuat tubuh naga
tersebut tidak dapat bertahan lama mempertahankan bentuk tubuh naganya.
Yun Fei memuntahkan darah segar, karena terlalu menekan kekuatannya.
Beng Ong yang melihat hal tersebut langsung menahan tubuh Yun Fei yang terhuyung huyung.
Dengan cepat Beng Ong menyalurkan tenaga dalamnya membuat Yun Fei langsung bisa bernafas dengan lega.
Yun Fei kemudian bangkit dan mengucapkan terima kasih, karena kalau sedikit saja adanya keterlambatan dalam menolongnya maka kemungkinan tenaga dalamnya tidak dapat dikendalikan.
Jika tenaga dalamnya tidak bisa dikendalikan maka akan membuat aliran darahnya pecah dan membuat dia meninggal atau tetap hidup tapu kemungkinan akan mengalami kelumpuhan total.
Setelah berhasil mengalahkan Yun Fei, dengan kekuatan yang baru dia merasakan, dia bisa menyingkirkan para pesaing yang lain dan berhadapan dengan pesaing yang paling kuat dari keluarga Xue.
Xue Liang, adalah sosok jenius dari keluarga Xue, dan juga adalah sosok yang menjadi saingan Beng Ong dalam setiap hal.
"Hari ini kau akan bertekuk lutut dihadapanku Beng Ong, dan Yun Lian akan menjadi milikku." Ujar Xue Liang.
Mereka langsung saling bertukar jurus, dari beberapa jurus sampai ratusan jurus.
Beng Ong langsung membuat serangan dengan berupa ratusan tombak yang langsung menyerang Xue Liang.
Akan tetapi dengan mudah dia menangkis semua serangan dari Beng Ong, bahkan dengam mudah dia menerobos serangan es yamg dimerahkan Beng Ong.
Kalau aku menggunakan elemen spirit, maka qi ku akan terkuras habis, karena dia mempunyai kekuatan untuk menghalau spirit angin dan juga elemen es milik Beng Ong.
Dengan cepatz Beng Ong mengambil salah satu tombak es yang masih menancap lantai, dan segera Beng Ong menyerang dengan kekuatanya yang tersisa.
Tapi semuanya sia sia, dia malah menyerang balik Beng Ong.
"Tapak Es, apakah dia benar benar sudah mengusai tapak es, sedangkan ilmu itu adalah ilmu terlarang." Ujar Beng Ong dalam hatinya.
Dan benar saja, apa yang menjadi praduga dari Beng Ong sebenarnya adalah yang terjadi, jika dia tidak menghindar dengan kecepatan spirit angin miliknya maka tapak es akan menyentuh seluruh tubunya.
Beruntungnya hanya terkena tekanannya saja sehingga kala itu Beng Ong tidak terluka.
Dan disaat kemarahanya memuncak, tiba tiba kekuatan aneh tersebut hadir kembali dan dengan kuat dan cepat Beng Ong tidak mau kehilangan momong untuk menyerang Xue Liang.
Beng Ong menyerang dengan kekuatan besar, yang teringat pertama kalinya adalah dia menyarangkan pukulan secara bertubi tubi kepada Xue Liang kemudian dia pingsan dan baru bangun 2 hari setelahnya.
"Para paman dan Beng Ong kebingungan, karena pengecekan tabib tidak ada luka dalam yang membuat Beng Ong pingsan selama itu.
Setelah Beng Ong sadar dan semuanya baik baik saja, dan dia diberi tahu kalau dia menang atas Xue Liang dan berhak atas rekomendasi untuk ikut seleksi masuk perguruan pertapa sakti.
Karena aliran darahnya yang terbalik dan juga Beng Ong tidak bisa mengumpulkan banyak Qi dalam jumlah banyak.
Hanya kepada ayahnya Beng Ong menceritakan semuanya, akan tetapi semuanha terlambat, ayahny Juga tidak sanggup untuk.memgobatinya.
"Kau harus tetap bisa masuk kedalam perguruan pertapa.sakti, siapa tahu kau akan mendapatkan kemajuan dan kesembuhan." Ujar ayah Beng Ong.
Dan dengan energi yang tersiksa dan dipaksakan Beng Ong berhasil masuk kedalam perguruan pertapa sakti, walau dia terluka dibeberapa meridianya.
Dan berkat tinju langit, dia bisa menekan tapak.es yang mulai mengggerogotinga.
Beng Ong hanya tertunduk, dan kini Kha Chung dan Chen Yi sadar, bahwa Beng Ong menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar.
"Aku akan mencobaa mengobatimu, tapi kau harus bisa betahan dengan semua cara pengobatanku." Ujar Chen Yi.
Chen Yi kemudian menyiapkan beberapa sumber daya yang dia butuhkan untuk menyembUhkan Beng Ong.
Tidak lupa dia menggunakan bejana yang sangat besar.
"Kakak, kau harus berendam kuali tersebut selama kau masih belum bisa merasakan seluruh titik meridianmu dan arterimu terbuka.
Beng Ong hanya menelan ludah saat Chen Yi mendidihkan kuali besar tersebut. dia membayangkan dia harus berendam disana.
"Jangan takut, kau bisa menggunakan hawa es untuk melindungi beberapa organ vitalmu, jika tidak, kakak bisa berakhir disini." Ujar Chen Yi dengan ekspresi menakut nakuti Beng Ong
Setelah semua siap dan kuali tersebut sudah mendidih, Chen Yu menyuruh Beng Ong untuk masuk berebdam dalam ramuan yang sudah mendidih.
Tidak ada lagi cara lain, sehingga Beng Ong menuruti semua perkataan dari Chen Yi.
Setelah beberapa lama didalam kuali tersebut sepertinya Beng Ong merasakan sesuatu yang asing dan seluruh tubuhnya bergetar.
Tiba tiba seluruh tubuhnya bergetar dan dia memuntahkan hampir 20 seperti gumpalan darah yang sudah membeku dan berbetnuk seperti biji bijian sebesar biji salak.
Chen Yi tersenyum bahagia karena kakaknya kini sudah terbebas dari tapak es, dan semua terlihat dari raut muka Beng Ong yang terlihat lebih segar.
Dan seketika itu Chen Yi yang sudah memastikan bahwa tidak ada luka lagi dalam tubuh Beng Ong.
Dan ketika Beng Ongmenggunakan jurus pedang pembelah jiwa, dia bisa mengalirkan energi Qi nya kearah pedang tersebut, dan dia berhasil.walau kekuatanya masih belum besar.
Chen Yi mendekati Beng Ong , dia sadar bahwa kekuatanya masih belum besar , Beng Ong diminta untuk meditasi guna menyerap hawa murni dan juga memperlancar meridianya.
Arrrrrggghhh...
Tubuh Beng Ong bergetar dan memancafkan energi ungu terang yang membuat Chen Yi dan Kha Chung terkejut melihat kejadian dari tubuh Beng Ong.
****
Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”
Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan
"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.
__ADS_1
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.
"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.
Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.
" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.
"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.
"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.
Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.
"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.
Bhuukkk!!
Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.
"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.
Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.
Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.
Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.
"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.
"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.
"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.
Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.
Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.
Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.
"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.
Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.
Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.
"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.
Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.
"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.
Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.
Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.
"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.
Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.
Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.
Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.
"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.
Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.
Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.
****
Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.
Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.
"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.
Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.
Babak kehidupan Dewi Reng
Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.
"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.
"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.
3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.
Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.
Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.
Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.
"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.
"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.
Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.
Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.
Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yang saat itu sedang menyamar.