
Chen Yi, Beng Ong dan Kha Chung sudah sampai di tengah hutan berdarah, akan tetapi bukanya menemukan bunga tujuh bintang, malahan mereka mendapatkan serangan dari Monyet api dengan sangat brutal.
Monyet api adalah jenis monyet yang bertubuh kecil akan tetapi mempunyai kecepatan dan kekuatan yang sangat besar, ujung kuku cakarnya sangat dan mampu menembus baja sekalipun, ditambah dengan api yang akan muncul di setiap ujung ujung kukunya, oleh sebab itulah dia dijuluki monyet api.
Kemampuan yang mengerikan dari monyet apai adalah kempuan dirinya untuk membelah diri sampai dengan wujud ratusan cloningan, hal ini yang menyebabkan monyet api walau masih ditingkat petarung Jendral emas, akan tetapi jika sudah menyerang secara berkelompok akan menjadi sebuah ancaman yang sangat mengerikan.
Chen Yi , Kha Chung dan Beng Ong, hanya bisa menangkis dan mencoba untuk mencari sela keluar dari kepungan dari monyet api.
Akan tetapi setiap mereka mencari cela menghindar mereka membelah diri mereka menjadi banyak, dan sekarang mereka telah di kepung ribuan monyet api tersebut.
"Sepertinya mereka terganggu dengan kehadiran kita di tanah kekuasaanya." Ujar Kha Cung.
Chen Yi punya ide , "Bagaimana kalau cara ki mengusir mereka dengan cara menjadi musuh alami mereka?" ujar Chen Yi menyeringai.
"Maksudmu apa Yi er, kami tidak paham dengan apa yang kau fikirkan, kadang kadang kami merasa kau sepertinya bukan berusia 8 tahun tapi kakek kakek yang sedang menyamar." Ledek Kha Chung pada Chen Yi, tapi apa yang diungkapkan oleh Kha Chung benar adanya, bagaimana mungkin seorang anak 8 tahun mencapai pemikiran yang sangat matang melebihi mereka yang umurnya jauh lebih tua.
Chen Yi hanya tertawa sambil terus memperhatikan para gerombolan monyet api yang terus mengintai.
"Mereka tidak mengejar kita sampai disini, sepertinya mereka tidak ingin daerah kekuasaan mereka di jamah oleh monyet besar seperti kalian." Lagi lagi Chen Yi bercanda dengan kedua kakaknya, Kha Chung dan Beng Ong langsung saja menjitaki kepala Chen Yi.
"Kalo kita monyet besar, kamu juga monyet kecil,wkwkwwkwkwkwk." Ujar Beng Ong yang tertawa melihat Kha Chung memegang badan Chen Yi dan menjitakinya.
"Sepertinya kita harus menjalankan ide mu itu bocah, kita harus menjadi musuh mereka, kita jadi singa saja, itu adalah musuh alami mereka." Ujar Kha Cung dan di ikuti anggukam dari Beng ong.
"Chen Yi, biarkan anak singa singa ini ikut berburu, dan juga raja ular milik kakakmu juga, biarkan berburu kera api, hal ini akan menambah kekuatan mereka." Ujar Chang Mao kepada Chen Yi.
"Kakak pertama, selain kita menyerang mereka, biarkan ular mu juga mencari mangsanya, monyet api akan dapat memulihkan kekuatan ularmu, mereka juga harus dilatih bertempur juga, sekalian aku akan memperkenalkan binatang sipritku." Ujar Chen Yi sambil bersiul kencang.
Tiba tiba ada hembusan angin yang sangat kencang, dan dari kejauahan terdengar auman yang sangat kuat, sampai sampai para monyet api langsung mencicit seperti mengirimkan pesan kepada yang lain bahwa akan ada bahaya yang menyerang.
Kedua kakak tingkat Chen Yi pun terkejut melihat sosok singa yang besar sekali dengan surai yang panjang dan tatapan yang sangat tajam.
"Dari mana kau punya hewan spirit yang begitu kuat seperti ini?" Ujar Beng Ong yang masih terkagum kagum dengan Singa Emas Chen Yi, dan mereka makin terkejut saat mereka tahu bahwa singa emas tersebut masih belum dewasa, melainkan masih. anak anak.
Kha Chung juga sudah memanggil raja cobra, mereka sekarang melukis formasi yuan perubah bentuk, jika Chen Yi dan Kha Chung berubah sesuai dengan hewan spirit mereka, sedangkan Beng Ong yang masih kebingungan akhirnya memilih bentuk seekor badak api.
Kawanan monyet api pun bercicit, suaranya bergemuruh manakala kedatangan 5 hewan liar yang akan mengganggu kawasan kekuasaan mereka.
Tidak butuh waktu lama mereka segera mengepung Chen Yi dan yang lainya, walaupun mereka dengan jumlah yang banyak akan tetapi dari tatapan para monyet api tersebut sepertinya mereka ketakutan.
Dengan cepat Chen Yi dan yang lainya segera menyerang para kawanan monyet api tersebut, dengN tambahan kekuatan Yuan, dengan mudah mereka membuat kawanan monyet api yang jumlahnya sekitar ribuan menjadi tidak berdaya dihadapan mereka.
Para monyet api yang sudah tidak berdaya langsung menjadi santapan empuk ular cobra dan juga singa emas milik Chen Yi, mereka langsung berkultivasi pada tingkatan yang lebih hari tingkatan mereka sebelumnya.
Setelah mengalahkan para monyet api dan Beng Ong juga telah melakukan kontrak dengan raja monyet api, sehingga raja monyet api kini menjadi hewan spirit dari Beng Ong.
Setelah beberapa saat mereka berjalan di kawasan dalam hutan berdarah yang dikuasai para monyet api, mereka dikejutkan dengan sebuah pohon yang memancarkan warna ungu dengah dahan dan daun yang rindang, buah yang ranum berwarna merah semerah darah, akan tetapi dengan pohon dan daun selebat itu hanya berbuah tujuh buah.
"Itu adalah pohon jiwa, jika mau makan buahnya maka kekuatan jiwa dan spiritmu akan bertambah Chen Yi, pohon ini akan tumbuh dan berbuah sekali seumur dalam hidupnya. jika manusia dapat memakanya buah dari pohon jiwa maka dia akan menjadi manusia yang mempunyai lautan spirit yang kuat."
"Dan juga pembentukan tulangmu bisa mencapai tulang naga, karena kau sudah ada di level harimau emas." Ujar Chang Mao.
"Pantas monyet api begitu menjaga kawasan ini, akarena ada harta karun yang begitu hebat."
"Sekarang cepat kau ambil buah buahan tersebut, karena waktunya terbatas." Chang Mao langsung memperingatkan Chen Yi segera mengambilnya.
Chen Yi dengan cepat mengambilnya, akan tetapi saat akan mendekat dengan pohon tersebut, pohon tersebut langsung mengeluarkan sinar merah dan membuat Chen Yi terpelanting.
Beng Ong dan Kha Chung segera melesat dan menolong Chen Yi, "Sebenarnya pohon apa itu Yi er? mengapa kau sampai bisa terpental seperyi ini?" Tanya Beng Ong.
Chen Yi menceritakan tentang pohon jiwa dan maksud dan tujuannya segera mengambilnya.
"Kak Ong, bisa kau bertanya kepada raja monyet api, bagaimana cara kita memetiknya? karena kekuatan yang melindunginya sangat besar, aku tidak bisa mencapainya." Ujar Chen Yi, dan Beng Ong langsung bertanya kepada raja monyet api bagaimana caranya, raja monyet tersebut mengatakan, "pohon jiwa adalah salah satu pohon yang bisa berfikir dan mempunyai jiwa dan perasaan, kau harus memintanya dengan baik, dan biarkan dia meraba hati dan jiwamu, apakah pantas mendapatkan buah jiwa tersebut." Ujar raja monyet tersebut.
Chen Yi meminta pada Beng Ong atau kakak pertamanya, tapi ketika Beng Ong atau Kha Chung mendekat dan mencoba untuk berkomunikasi dengan pohon jiwa, akan tetapi setelah pohon jiwa merapa hati dari Beng Ong atau Kha Chung, keduanya langsung terpental.
"Sepertinya kami memang tidak cocok untuk mengambilnya, Yi Er coba kamu coba kembali dengan cara yang baru, mungkin hatimu lebih bersih daripada kami." Ujar Kha Chung.
Chen Yi segera berjalan mendekati pohon Jiwa walau tubunnya masih terasa sangat sakit, dia berdiri dan memusatkan kosentrasi, aura tubuhnya memancar dan membuat pohon tersebut bergetar, dan tiba tiba pohon tersebut bergoyang dan buahnya berjatuhan.
Chen Yi tidak langsung mengambil buah yanh jatuh, akan tetapi dia langsung berterima kasih kepada pohon jiwa, dan tiba tiba pohon tersebut terbelah dan didalam pohon yang terbelah muncul sebuah benih yang kemudian melesat entah kemana.
Chen Yi pun mengambil tujuh buah yang jatuh dan diberikan kepada kedua kakaknya dan dimanakan sendiri oleh Chen Yi satu.
sisa dari buah tersebut disimpan oleh Chen Yi.
Setelah ketiganya makan buah tersebut, kemudian mereka bermeditasi atas kekuatan buah jiwa tersebut, asap putih tipis keluar dari ketiganya, mereka membutuhkan hampir semalam untuk menyerap kekuatan dari buah jiwa yang dimakan.
Setelah pagi hari mereka membuka mata dari semedinya, ada bunyi yang khas dari kedua kakaknya, "Krak" tulang mereka telah naik satu tingkat ke tulang serigala emas, keduanya sangat gembira saat mengetahui bahwa mereka telah berada di tingkat tulang serigala emas.
Mereka segera mendekati Chen Yi, akan tetapi mereka merasa ada yang berubah dengan badan bocah dihadapanya.
__ADS_1
Tubuh Chen Yi lebih tinggi tegab dan berisi, " Hai bocah, kau sekarang sangat tampan, apa mataku rada rabun yak?" Ujar Beng Ong sambil mengusap usap kedua matanya.
"Mengapa kau jadi bodoh, kita kan habis makan buah Jiwa, wajar ada yang berubah ditubuhnya, mungkin tulangnya sudah mencapai tulang naga emas, hehehehehe." Kha Chung kemudian memegang pundak dan menepuk nepuk dada dan punggung Chen Yi.
"Tidak Mungkin, apakah ini sebuah ilusi, bagaimana bisa?" Ujar Kha Chung yang menggerutu sendiri seperti orang pusing
"Kalian jangan pusing dengan perubahan fisikku, yang kakak pertama bilang memang benar, aku sudah mencapau tulang naga, tapi masih naga perak, naik satu tingkat dari naga perunggu." Kedua mata kakaknya terbelalak, tapi hal itu tidak berlangsung lama, keduanya tersenyum bahagia dan memberikan pelukan kepada Chen Yi.
Ketiga merasakan hal yang sangat berbeda dengan sebelumnya, sekarang yang kita rasakan adalah lautan spiritnya sudah meluap luap.
Energi yang dihasilkan juga sangat besar, sehingga saat ketiganya berlatih, mereka sangat merasakan aliran kekuatan mereka yang berlipat lipat.
Setelah beberapa hari mereka beristirat dan berlatih seraya memulihkan energi dan tubuh mereka, pagi itu mereka segera melanjutkan perjalanan mencari bunga tujuh bintang.
"Yi er, biasanya kau punya cara untuk mengetahui sesuatu lebih cepat dari kami, apakah kamu punya cara untuk bisa cepat menemukan lokasi bunga tujuh bintang tersebut?" Tanya Kha Chung yang terlihat sudah sangat letih, hampir seharian dalam beberapa hari mereka belum bisa menemukan lokasi bunga tersebut.
Tiba tiba hawa dingin menyelimuti mereka "Siapa kalian?" Beng Ong mendadak pucat, tubuhnya lemas, 2 orang datang dengan membawa dua kepala orang terdekatnya yaitu Chen Yi dan Kha Chung, mereka melempar dua kepala tersebut kearah Beng Ong, dengan wajah pucat dan tubuh bergetar dia mengankat kepala tersebut, dan apa yang tidak dia harapkan terjadi, kepala tersebut adalah Chen Yi dan juga Kha Chung.
Setelah beberapa saat terdiam, Mata Beng Ong menatap tajam kearah dua orang dihadapanya, tanganya terkepal dan,
Blasssstttt.! sebuah pukulan yang sangat cepat menghajar salah satu orang didepanya, walau tidak mengenai langsung, akan tetapi tinjunya berhasip menggores pelipis salah satu dari pembunuh Che Yi dan Kha Chung.
Lelaki yang pelipisnya tergores hanya tersenyum sinis, kini dia menatap Beng Ong dengan tatapan yang dingin dia langsung bergegas membalas semua serang dari Beng Ong.
Dengan serangan api dan petir dikedua tanganya, dia menghajar Beng Ong hingga terjengkal beberapa kali kebelakang, amarah Beng Ong semakin memuncak, dia mengunakan tinju langit dan kekuatan Yuan penghancur.
Daya pukulan Beng Ong meningkat drastis, keduanya sepertinya mewalahan, akan tetapi mereka tetap dapat mengelak dan menahan tiap pukulan dari Beng Ong, sampai pada disuatu titik, dimana leher bagian belakangnya seperti tersengat sesuatu yang sangat panas, hingga Beng Ong merasakan tubuhnya melayang dan jatuh ditanah.
Setelah beberapa saat Beng Ong terbangun, dia melihat sekelilingnya, kedua orang pembunuh Chen Yi dan Kha Chung pun tidak ada. Beng Ong merasa sangat terpukul atas kematian keduaya yang telah dianggap sebagai saudara sendiri.
Pada saat hendak akan bangkit, tubuh Beng Ong sepertinya tidak bisa banyak bergerak, tiba tiba dari belakang ada sesosok laki menolongnya bangkit, saat dia melihat sosok yang menolongnya adalah Kha Chung, sontak Beng Ong langsung memeluk sahabatnya tersebut, "Kalian masih hidup? atau aku udah di akhirat?" Ujar Beng Ong pada Kha Chung, saat dia melihat Chen Yi air matanya makin deras mengalir.
"Kami tidak mati, itu hanya ilusi yang ada di fikiranmu? atau kau memang ingin kami mati ya?" Ujar Kha Chung pada Beng Ong.
Beng Ong masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kha Cung, "Kau Pingsan selama dua hari, kau terkena bisa makhluk ini." Chen Yi mengangkat sebuah makhluk lucu seperti panda tapi ukurannya sangat kecil dan tubuhnya dikelilingi bulu berwarnah keemasan membuat hewan ini nampak lucu, akan tetapi dia adalah hewan yang ganas dengan racun ilusinya.
"Dan kau tiba tiba menyerang kami seperti orang gila, saat kami mau menenangkanmu. malah kau menyerang dengan jurus tinju bintangmu, tapi kamu mengagumkan, kemampuanmu meningkat pesat, sampai sampai kau bisa membuat pilipisku luka." Kha Chung memperlihatkan pelipisnya yang terluka pada Beng ong.
Beng Ong pun menceritakan apa yang ada dalam ilusinya, dia melihat Kha Chung dan Chen Yi kepala terputus dan digelindingkan dihadapanya, itulah yang membuat amarahnya tersulut dan menyerang pembunuh tersebut habis habisan, "Maafkan aku yang kurang hati hati, tapi makhluk apa itu, mengapa dia mempunya kekuatan yang sangat menakutkan?" Tanya Beng Ong sambil melihat makhluk yang sekarang tak berdaya di tangan Chen Yi.
"Namanya Pelahap Mimpi, kau baru terkena asap bisanya, belum tergigit, kalau kau tergigit belum ada yang bisa sembuh dari pengaruhnya." Ujar Kha Chung.
"Lebih baik kau jadikan dia hewan spiritmu Chen Yi, dia akan sangat membantu nantinya." Ujar Beng Ong pada Chen Yi.
"Chen Yi Awas..!"
****×******
Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”
Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan
"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.
"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.
Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.
" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.
"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.
"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.
Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.
"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.
Bhuukkk!!
Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.
"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.
Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.
Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.
Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.
"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.
"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.
Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.
Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.
Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.
"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.
Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.
Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.
"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.
Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.
"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.
Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.
Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.
"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.
Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.
Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.
Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.
"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.
Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.
Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.
****
Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.
Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.
"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.
Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.
Babak kehidupan Dewi Reng
Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.
"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.
"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.
3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.
Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.
Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.
Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.
"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.
"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.
Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.
Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.
Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yang saat itu sedang menyamar.