
Jingmi yang berhasil menembus periai dari gunung lima elemen, terkejut karena dari 5 simbol elemen, hanya 1 elemen yang masih bersinar sedangkan mepat lainya hanya berupa simbol elemen saja, tubuh Jingmi seakan tidak bisa dikendalikan, dengan sendirinya tangan ya menyentuh mustika elemen logam tersebut, sejenak dia saat dia menyentuh mustika tersebut ada sensasi tubuhnya seperti tersedot kealam atau dimensi lain, dimana dia melihay sosok dirinya sendiri dengan sayap dari logam dan dan kuku serta sisik sisik yang menghiasi kulitnya semua terdiri dari logam yang kuat.
Setelah tersadar kembali Jingmi maish tidak merasakan keanehan yang terjadi kepada dirinya, akan tetapi bayangan dari tubuhnya berkata lain. “Mengapa bayanganku bersayap? Dan kenapa apa ini?” Jingmi melihat perubahan dalam dirinya, sekarang dia telah berubah menjadi sosok penjaga elemen logam, seluruh tubuhnya dipenuhi sisik sisik kecil yang berkilat warna emas kebiruan yang indah sekali, sayap logamnya juga berwarna biru keemasan mirip dengan bulu seekor merak, kuku kukunya pun berubah runcing dan tajam, namun ada yang maish belum disadari oleh Jingmi, yaitu kecantikanya yang teramat luar biasa dapat membius siapapun yang melihatnya.
Jingmi pun ingin segera meninggalkan gunung lima elemen tersebut, akan tetapi seperti ada bisikan yang terdengar olehnya, sebuah bisikan yang menganytarkanya pada sebuah dinding yang seperti tebing dibagian tepi puncak gunung lima elemen, saat Jingmi menyentuhnya, muncul relief gambar dan kalimat kalimat sebuah kalimat dan juga jurus silat, dari bisikan yang didengar oleh Jingmi, dia harus mempelajari jurus elemen logam tersebut baru dia bisa meninggalkan gunung lima elemen tersebut.
Jingmi mencoba membaca kalimat dan juga mengartikan esensi yang terkandung dari kalimat tersebut, serta beberapa gerakan gerakan gerakan dari jurus tersebut, sampai dengan yang terkhir dia baru melihat bahwa jurus yang dipelajari adalah jurus teratai budha. Kalimat yang dibaca oleh Jingmi adalah sebuah puisi yang berisi :
Seperti halnya bunga teratai,
Tumbuh di air dan mekar,
Harum baunya dan menenangkan batin,
Tapi tidak ternodai lumpur,
Seperti halnya Sang Buddha,
__ADS_1
Lahir di dunia, hidup di dunia;
Dan seperti bunga teratai,
Beliau tidak ternodai oleh hal duniawi.
Jingmi mendapat pencerahan yang sangat mendalam, bunga teratai merupakan simbol sebuah kesucian dan pencerahan, akarnya tumbuh dalam air yang berlumpur , tetapi bunganya mekar diatas lumpur sangatlah indah dan bersih. Terkadang bunga yang setengah mekar menandakan bahwa sedikit lagi pencerahan akan dicapai.
Lumput yang memberikan nutrisi pada akar mewakili sebuah kehidupan, Karena hidup kita yang menderita lah, kita ingin bebas dan mekar. Akan tetapi, meskipun bunganya berada di atas lumpur, akar dan batangnya tetap berlumpur, di mana kita menjalani hidup kita. Seperto sebuah pepatah mengatakan, “Semoga kita tetap suci di antara air berlumpur, seperti layaknya bunga teratai.”
Energi yang dikeluarkan membuat perubahan pada iklim alam di gunung lima elemen, langit tiba tiba mendung, petir berkilatan, angin bertiup seekan akan akan tercipta sebuah badai, akan tetapi semua berhenti manakala Jingmi membuka kedua matanya, hanya sebuah bisikan yang mengatakan, “jagalah hati dan perasaan,jangan mengikuti kebencian atau kau akan tersesat dalam sebuah kegelapan.” Sebuah bisikan tersebut sangat mempunyai arti yang mendalam, karena ingatan dari Jingmi sudah bersatu dengan ingatan dari Kakek Huang, menjadikan sosok Jingmi dapat dengan cepat untuk mencerna dan memaknai sebuah kalimat dengan cepat dan benar.
Jingmi merentangkan kedua sayap indahnya, walau dari logam yang kuat, akan tetapi sayap , sisik, kuku dan semua yang melekat pada tubuhnya mempunyai elastisitas yang baik dan ringan, membuat tubuh Jingmi semakin kuat. Jingmi pun melompat dan melesat dengan kedua sayapnya, Jingmi merasakan perubahan yang sangat kuat dalam dirinya, sebuah kekuatan yang mengalir dengan deras dan semua titik meridiannya menjadi sangat kuat.
Jingmi memejamkan matanya dan merasakan energi dari hawa murni dari tubuh Yin He, setelah mendapatkan arah yang dituju, Jingmi melesat dengan kecepatan seperti kilat, setiap tempat yang dilewati oleh Jingmi pasti bergetar karena terkena pancaran energi dari Jingmi, hal ini membuat banyak siluman atau para pendekar yang terusik akan tetapi mereka tidak dapat mengejar untuk mengetahui siapa pemilik energi tersebut.
Sedangkan ditempat Yin He berada, Tuan Liu yang memuntahkan darah segar karena serangan dari Yin He segera memerintahkan semuanya mundur, karena tetua Liu tau kalau Yin He bukanlah seorang pemuda biasa. “Mundurlah semua, kita tidak bisa gegabah menghadapi bocah bocah ini, walaupun usia mereka masih belasan tahun akan tetapi kekuatan dan pengalaman meraka bertarung sangat mengerikan, kita tidak hanya butuh kekuatan akan tetapi juga sebuah taktik untuk mengalahkan mereka.” Para tetua pagoda iblis langit yang lain pun mengangguk dan segera melesat saat Yin He dan kedua Xiao yag lain berusaha menolong Xiao Yan.
__ADS_1
Yin He pun terkejut saat melihat para tetua pagoda iblis langit telah meninggal pertarungan meraka,”Sepertinya yang mengincar pedang langit semuanya berkumpul disini, oleh sebab itu gerbang langit snaat susah untuk ditemukan.” Ujar Yin He
“Tunggu kakak Yin, bukanya kakak punya dua mustika yaitu mustika bulan dan mustika matahari, kedua mustika ini kan yang nantinya akan menunjukan dimana gerbang pertama yaitu gerbang kehidupan berada?” Ujar Xiao Zhuang,
Yin He pun tersenyum, yang dikatakan oleh Xiao Zhuang semuanya adalah benar, gerbang pertama adalah gerbang kehidupan bukan gerbang langit, oleh sebab itu kenapa gerbang langit tidak bisa ditemukan, karena gerbamg langit berada pada tahab terakhir, kalau kita berhasil menemukan gerbang kehidupan dan bisa menyelesaikan semua ujianya sampai dnegan tahab akhir maka akan sampai dengan gerbang langit, dimana pedang langit itu tertancap.
“Banyak yang tidak mengerti hal ini, sehingga mereka langsung mencari gerbang langit tanpa melalui tahapanya, sepertinya gerbang langit adalah formasi yang dipasang agar tidak sembaran orang bisa memasukinya.” Yin He tersenyum sendiri dengan asumsi yang melintas dalam fikiranya.
Semetara itu para tetua pagoda iblis langit telah kembali kemarkas mereka yang berada diatas sebuah puncak gunung yang tinggi, Liu Yaoshan, Chanhai, Xingshen dan Liu Chen, mereka berkumpul disebuah aula markas pagoda iblis langit, mereka membahas tentang kekuatan dari masing-masing pemuda tersebut. “Secara kekuatan pemuda yang aku hadapi tidak mempunyai kemampuan diatasku, akan tetapi ada kekuatan lain yang membuat kekuatan tenaga dalam murni menjadi lebih kuat dari pada spiritnya, dan satu hal, mereka benar benar ahli dalam analisa pertarungan, mereka benar2 berfikit tepat dan cepat, hal tersebutlah yang membuatku terkalahkan, disaat aku sedang berfikir menggunakan apa dan serangan yang bagaimana, akan tetapi bocah tadi seranganya sangat terstruktur dan tangkisan jurusnya pun sesuai denngan yang seharusnya, sehingga aku tidak menemukan celah dalam dirinya.” Tetua Liu Chen menghela nafasnya, para tetua yang lainya pun mengangguk mengerti alasan dibalik kalahnya tetua chen, karena alasan yang dikemukakanya sangat objectif dan mereka melihat sendiri bagaimana kemampuan dan cara analisa mereka.
“Sepertinya mereka terlatih seperti pasukan khusus, mereka sangat jeli melihat situasi dalam sebuah pertempuran, sebaiknya kita ikuti mereka saja, siapa tahu mereka dapat menemukan gerbang langit.” Ujar Liu Yaoshan sambil tertawa terbahak bahak.
“Tapi kita jangan lengah, masih ada para klan dari iblis kuno yang juga menginginkan pedang langit tersebut dan juga masih bada beberapa dari Sekte yang paling menakutkan juga aku dengar telah bangkit, tetua dari sekte Iblis Nirwana juga telah bangkit.”
__ADS_1