
Beberapa hari setelah pertarungan banyak pendekar yang setelah sembuh lukanya melanjutkan kembali pulang ke masing masing sektenya, Fei Fei dan Fang Ang pun sehari yang lalu sudah beranjak meninggalkan Lembah Kesunyian.
"Paman, sebaiknya paman dan tiga Wei bersudara pulang terlebih dahulu ke Wisma Giok, sampaikan salamku kepada kakek dan para tetua yang lain." Ujar Yin He.
"Kenapa kita tidak pulang bersama sama saja He'er? apakah kau masih ada urusan? Tanya Han Bing.
Yin He menghela nafas panjang, "Paman masih ingat dengan pendekar pengelana tersebut? dia masih menunggu sampai dengan besok agar aku menemui dan bertarung denganya. Jika sampai dengan besok aku tidak datang, maka dia akan menyerang dan menghancurkan Sekte Mutiara Hitam di Lembah Kesunyian."
"Apa kau akan bertarung denganya He'er, kalau begitu kami akan menunggu dan melihat pertandinganmu, nanti jika ada apa apa kami bisa menolongmu." Ujar Han Bing.
"Tidak Paman, prinsip pendekar pengelana adalah, siapa yang menang maka dia yang akan hidup, aku tidak mau meninggalkan pertarungan ini, atau orang orang dilembah kesunyian akan menjadi korbanya." Yin He menunduk, bukan masalah pertarungan atau siapa yang akan mati, tapi hasil sebuah pertarungan seharusnya bukan untuk itu.
Han Bing menepuk pundah Yin He, dia tahu Yin He adalah pendekar muda penuh bakat dengan kemampuan jauh diatas pendekar lainya. "Baiklah He'er esok pagi kami akan kembali ke Wisma Giok, dan setelah pertarunganmu ku harap kau kembali."
"Setelah pertarungan aku tidak akan kembali ke Wisma Giok paman, dan aku sudah bicarakan hal tersebut dengan Tetua Tuoli, aku akan mencari gerbang langit, agar segera dapat membawa pedang langit."
"Aku tidak mau semua akan menjadi terlambat paman, karena golok neraka sudah ada ditangan sekte iblis, mereka tinggal menunggu waktu untuk membangkitkan golok neraka tersebut."
Han Bing terkejut, raut mukanya mendadak pucat "Go..Golok neraka, atau disebut golok mencabut nyawa, benarkah sudah ditangan para anggota sekte iblis." Han Bing tidak bisa menyembunyikan kecemasanya.
Malam saat purnama penuh menyinari lembah kesunyian, Xia Yuan memberitahukan kepada Yin He, jika pada bulan purnama adalah saat terbaik untuk melatih jurus air tanpa elemen, yaitu jurus yang melatih kita bisa mengendalikan air dari alam, seperti saat dia mengendalikan petir alam.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berlatih, aku akan menunggu yang lainya tidur terlebih dahulu." Yin He segera menunggu beberapa saat yaitu Han Bing dan Tiga Wei bersaudara tertidur.
__ADS_1
Saat tengah malam dan yang lainya sudah terlelap, Yin He keluar penginapan, suasana dilembah kesunyian benar benar sunyi, hanya suara burung malam dan lolongan anjing menambah kesunyianya.
Yin He segera melesat kearah air terjun lembah kesunyian, sesampainya disana dia melihat sosok lelaki yang berdiri tepat ditengah jalan, sosok tersebut adalah Yan Hou.
"Selamat malam paman, bukanya pertandinganya baru siang besok, kenapa paman ada sini." Tanya Yin He
Yan Hou hanya tersenyum, dia juga kesini untuk meditasi dan juga latian agat bisa memberikan pertarungan yang dahsyat. Yin He hanya tersebum, dia tidak menyangkah bahwa ada seorang dengan kemampuan yang sangat tinggi.
Yin He segera berdiri disalah satu besar, kakinya dinaikan ke atas dan kedua tanganya direnggangkan ke arah belaja, tiba tiba asap dari tubuh Yin He menyelimuti seluruh area kolam di air terjun.
Yin He membuka matanya, disebelah timur langit telah merona merah menandakan bahwa yang mentari akan segera turun dari peraduanya. Yin He merasakan tubuh yang sangat segar, dan hawa dingin ditubuhnya dirasakan semakin kuat, dan manakala Yin He melompat tubuhnya 10x lipat lebih ringan dan cepat. Yin He mencari keberadaan Yan Hou yang semalam bermeditasi bersama di air terjun kesunyian. Sosok.Yan Hou pun sudah tidak terlihat ditempat meditasinya semalam.
Yin He segera berjalan menuju penginapan, biasanya beberapa hari sebelumnya jalanan ini sangat ramai oleh para peserta turnamen atau lalu lalang penjagaan dari sekte mutiara hitam itu sendiri.
Yin He segera bergegas masuk kekamarnya dan mandi, setelah berganti pakaian, Yin He segera turun untuk sarapan pagi, disana sudah duduk Han Bing dan tiga Wei bersaudara, mereka duduk makan setelah itu mereka membahas perjalanan pulang, Yin He menyampaikan penundaan kepulanganya kepada tiga Wei bersaudara, Yin He berharap saat kepulanganya ke lembah wisma giok, Yin He bisa melihat kemajuan pengendalian elemen meraka.
Setelah makan, dan berbenah, Han Bingn dan tiga Wei bersaudara segera naik naga Han Bing dan terbang melesat dengan kecepatan sedang meninggalkan Yin He sendiri dilembah kesunyian.
Matahari sudah mulai meninggi sehingga bayanganya sudah mencapai 10 tombak, waktunya Yin He untuk menemui pendekar pengelana tersebut.
Sesuai dengan kesepakatan, mereka bertemu di sebelah timur pintu masuk ke arah lembah kesunyian, disebuah hutan bambu yang tumbuh dengan lebatnya. Disana Yan Hao sudah menunggu sambil duduk diatas pohon bambu yang melengkung manahan bebanya.
"Apakah aku terlambat paman? Maaf jika membuat paman menunggu." Yin He menyampaikan salam kepada Yan Hao.
__ADS_1
"Tidak anak muda, kau datang pada waktu yang tepat." Ujar Yan Hao sambil melompat dan menyerang Yin He.
Yin He mundur melayang menhindarai serangan Yan Hou, Yin He segera menyibakan tanganya dan segera tekanan udara disekitarnya menguat dan menggugurkan dedaunan bambu tersebut, Yin He menggunakan daun daunan bambu sebagai pisaundaun untuk menyerang Yan Hao.
Yan Hao dengan sigap membelah dan mematahkan pohon bambu, dan belahan bambu diputarnya seperti baling baling, membuat semua pisau daun dari Yin He tidak berhasil melukai Yan Hao.
Sekarang giliran Yan Hou, dengan teknik yang dia gunakan, dia menjadikan pohon pohin bambu sangat lentur dan bisa menyerangn Yin He dengan formasi serangan yang tak terduga.
Hal ini membuat Yin He sangat kualahan, karena bambu yang sangat lentur seperti karet, maka setiap pukulan Yin He tidak satupun mengenai dan menghancurkan bambu bambu tersebut.
"Sial, kalau begini tenaga akan cepat habis, Elemen Magma." Segera Yin He menggunakan elemen Magma sekali sentuh bambu bambu tersebut hangus dan menjadi abu, hingga dalam radius 50 meter bambu bambu disekeliling Yin He telah hangus menjadi abu.
Yan Hou pun menyerang dengan menggunakan elemen tanah, membuat tanah disekitar Yin He bergetar dan terangkat membentuk kubus yang tebal dan menghimpit tubuh Yin He. "Penghancur gunung" Kubus kubus tersebut hancur tak tersisa, dengan kecepatan yang tak terduga, Yin He menghantam tubuh Yan Hau dengan sekuat tenaga.
Bhuk Bhuk..Dhuar..
"Tidak mungki." Yin He terkejut dengan apa yang dilihatnya. matanya seakan tidak mempercayai dengan apa yang terjadi.
**Jangan lupa vote, like koment dan saranya, agar author lebih semangat nulisnya.
Salam
ZiEl**
__ADS_1