
Chen Yi terkejut, lambat laun tapi pasti dia mendengar suara seseorang yang memanggilnya, untuk memastikan kembali bahwa dia tidak berhalusinasi, Chen Yi keluar dari paviliun yang ditempatinya.
"Tidak mungkin aku berhusinasi, itu jelas jelas adalah suara ibu, tapi dimana ibu, kenapa hanya suaranya yang samar samar terdengar." Ujar Chen Yi dalam hatinya.
Chen Yi terus mengikuti samar suara tapi pasti, dia terus berjalan sampailah dia dibelakang sebuah bangunan yang terletak tidak jauh dari perpustakaa Elemen.
Tidak jauh dari tempat Chen Yi. berdiri tiba tiba cahata biru melesat turun dari langit dan jatuh di dekat pohon yanh dahan dan rantingnya sudah kering.
Chen Yi berlari kecil mendekati cahaya yang jatuh ke dekat pohon tersebut, sambil memeriksa keadaan yang ada, takutnya tidak hanya dia yang mengetahui tentang cahaya biru tersebut.
Chen Yi semakin dekat, akan tetapi dia tidak melihat seorangpun, hanya sebuah benda dengan pendaran cahaya biru, "Apa ini? botol apa ini?" Chen Yi bergegas mengambil botol tersebut.
Saat botol tersebut dibuka oleh Chen Yi, dan yang mengejutkan adalah sebuah pesan suaran keluar dari botol saat tutup botol tersebut dibuka olehnya.
"Yi Er, ini ibumu, maafkan ibu sampai saat belum bisa menemuimu, Yi Er jaga dirimu mulai saat ini, kau harus segera memperkuat dirimu karena para iblis sedang mencari untuk membunuhmu, ibu tidak bisa berbuat apa apa selain memperingatkanmu untuk segera melatih kitab jiwa hitam dan jiwa putih yang kau kenal dengan kitab Dewa dan Iblis, kita tersebut saling melengkapi, sehingga saat kau bisa menguasainya kamu akan bisa masuk ke dunia dewa maupun iblis."
"Dan kau akan menjadi ancaman bagi kaum iblis terutama raja iblis satunya maka kau akan makhluk paling diburu. Dan pastinya siapa raja iblis tersebut?"
"Ibu hanya bisa memberikan air mata burung Hong Biru, air mata ini akan membantumu untuk menyamarkan dirimu dari para iblis, dengan kau meminum air mata burung Hong, iblis tidak akan bisa mengenal baumu."
Seiring dengan hilangnya suara dari ibunya, sinar biru itupun menghilang, dan dengan cepat dia langsung meminum air mata burung Hong pemberian sang ibu, dia merasakan tidak ada perubahan sedikitpun setelah dia meminumnya, hampir 30 menitan dia menunggu akan tetapi perubahan tersebut tidak kunjung ada.
Akhirnya dia memutuskan untuk segera kembali ke paviliun, karena besok dia harus bertemu dengan kakek Sion, segea dengan bergegas dia kembali dan tidur.
Keesokan harinya saat dia hendak menemui kakek Sion, terdengar sebuan keributan, kedua kakaknya menjadi bulan bulanan para murid dari spirit dan juga elemen, mereka menertawakan kedua kakak seperguruan dari Roh Bintang.
Chen Yi pun segera bergegas dan melihat keduanya menghadapi seorang murid senior dari tubuh mereka telah banyak luka lebam dan luka yang gesit.
"Kalian murid sampah seharusnya perguruan pertapa sakti tidak usah menerima para pecundang seperti kalian." Ujar murid senior dari elemen yang bernama Yao Min.
Disisi lain terlihat Minh juga menertawakan kedua kakak tingkat dan Chen Yi tersebut dan berani membentak kedua kakak tingkat Chen Yi.
Chen Yi melompat dan melewati kepala murid Elemen ataupun Spirit dan menangkis sebuah pukulan yang diarahkan oleh Yao Min kepada kedua kakak tingkatnya tersebut.
Hal tersebut membuat tubuh Yao Min terpental dan mendarat di tanah dengan luka di bibirnya. Semua terdiam saat melihat seorang anak kecil menolong dua orang dari pelatihan Roh Bintang.
Minh yang menyadari kehadiran Chen Yi langsung menyerang dengan elemen api yang dia miliki, Chen yang sadar dengan serangan darI Minh segera menangkisnya dengan elemen angin, dia membuat kobaran api yang dikeluarkan oleh Minh menjadi tidak ada artinya tertiup oleh pusaran angin yang dikeluarkan oleh Chen Yi.
Tidak hanya disitu Minh juga dikagetkan dengan serangan balasan dimana kobaran api dikeluarkan oleh Chen Yi dengan kapasitan yang jauh lebih besar dan membakar sebagian pakaian dari Minh.
Jika Minh tidak segera menghindar kemungkinan dia akan telanjang karena pakaianya terbakar.
Hal ini membuat Yao Min semuanya terkejut, bagaimana mungkin seorang murid dari Roh Bintang bisa mengendalikan elemen, apalagi pengendalian lebih dari elemen.
Kemudian Chen Yi mendekati kakak perguruanya yaitu Kha Chung dan Beng Ong, "Kakak, kenapa kalain tidak membalas mereka, kalian bisa Yuan kan? dan kalian juga sebenarnya jago dalam bela diri."
" Yi Er buat apa kau meladeni mereka, yang ada mereka akan tambah ganas dan juga kita cuma bertiga jadi sangat percuma melawan mereka."
Chen Yi tetep kekeh untuk meyakinkan Kha Chung dan juga Beng Ong. setelah itu CHen Yi bertaruh dengan kedua kakaknya,
"Aku akan bantu kalian kali ini, jika aku bisa membuat kalian menang melawan mereka, kaliam harus janji kepadaku, kalian tidak boleh meremehkan Roh Bintang sebagai kemampuam sampah, malah kemampuan Foh bintang bisa mengalahkan spirit maupun elemen."Ujar Chen Yi dan diikuti anggukan kedua kakak tingkatnya yaitu Kha Cung dan Beng Ong.
Setelah itu Chen Yi menuliskan simbol Yuan Di punggung dan kedua telapak tangan kakak seperguruanya, yaitu simbol Yuan mengumpulkan spirit dan juga Banteng Api dan juga Naga Air dimasing masing tubuh kakaknya.
"Yi Er bagaimana kau secepat ini menguasai Simbol Yuan dan hasil dari Simbol yang kau lukis itu bukan formasi sembarangan, akan simbol tersebut setara denganYuan simbol dewa.
"Kedua kakak belum tahu aku menggambar Yuan ini dari buka dewa dan iblis, kali ini aku akan buktikan pada semuanya bahwa murid dari Roh Bintang bukanlah sampah." Ujar Chen Yi dalam hatinya.
Setelah keduanya telah dilukis oleh Chen Yi dengan simbol Yuan, tiba tiba Kha Chung dab Beng Ong merasakan aliran tenaga yang sangat kuat mengalir ketubuh mereka.
"Hei kau, kali ini kedua kakakku aka. menghadapimu, dan jangan sampai kau malu, atau sekarang kau boleh minta maaf dan bersujud dihadapan mereka." Ujar Chen Yi sambil berkacak pinggang dan menunjuk Yao Min.
Yao Min hanya tersenyum sinis dan membalas perkataan dari Chen Yi, "Hahahaha, apakah kau sedang bermimpi anak kecil, sampah seperti kalian mau mengalahkan ku? Mati saja kalian." Yao Min langsung menyerang ketiga nya dengan ratusan pisau api yang langsung menyerang ketiganya, Chen Yi hanya diam dibelakang kedua kakak tingkatnya.
Kha Cung memberi isyarat kepada Beng Ong keduanya dengan cepat menangkisnya dengan dua serangan yang berututan, Beng Ong yang dilukis Yuan Formasi Badak Api langsung membalas dengan langsung menerjang pisau pisau api tersebut, kekuatan binatang Yuan tidak kalah dengan kekuatan binatang spirit sehingga saat tubuh Beng ong beradu dengan pisau api tersebut dan pisau api tersebut tidak mampu menembus kulit dari Beng Ong.
Sedangkan Kha Chung langsung meloncat tinggi dan langsung membuat serangan pisau es ,.mendapat serangan dari Kha Chung membua Yao Min tidak menghiraukan keberadaan Beng Ong, tapi hal fatal inilah yang membuatnya terluka.
Mendapat kesempatan disaat Yao Min lengah membuat Beng Ong langsung mendaratkat pukulan Cula Badak Api mendarat mulus di dada Yao Min.
Yao Min yang tidak menyadari bahwa serangaj pisau es hanyalah untuk.mengecohkan perhatianya saja, hal ini membuat Yao Min terluka parah dengan dada gosong dan memuntahkan darah kental dari mulutnya.
Melihat seniornya terluka karena serangan dari kedua kakak tingkat Chen Yi, membuat anggora Minh dan Yao Min bergegas mengepung Beng Ong dan juga Kha Chung.
Namun dengan cepat Kha Chung dan Beng Ong langsung bisa mengendalikam situas, mereka langsung membuat serangan berantai yang membuat semua murid elemen yang menyerang mereka langsung terluka dan jatuh ketanah.
Melihat hal ini, para murid dari pengguna spirit langsung menyerang keduanya, Beng Ong dan Kha Chung terlihat senang dan menikmati pertempuran ini.
Serangan demi serangan keduanya tangkis dan lawan dari murid elemen dan spirit mulai berjatuhan akan tetapi Beng Ong dan Kha Chung masih tetapi kuat malah bertambah kuat.
Hal ini menarik perhatian dari pada guru besar dan juga Tetua Xiao yang memperhatikan dari kejauhan.
"Sepertinya kejayaan Roh Bintang akan bangkit, anak itu benar benar memainkan peranya, lihat bagaimana dia bisa membuat kakak tingkatnya yang dahulu hanya seorang sampah, kini bisa mengalahkan murid elemen dan spirit yang sudah berada di tingkat level raja petarung sekalipun." Ujar salah satu guru besar tersebut.
Sekarang hampir seluruh yang menyerang Beng Ong dan Kha Chung tergeletak dan hampir semuanya mengalami luka dari yang ringan atau berat, para guru besar segera datang dan para murid yang tidak ikut bertarung disuruh untuk mengangkat para korban yang terluka.
__ADS_1
Tidak lama kakek Sion pun datang dan langsung memukul kepala Chen Yi "Dasar bocah nakal buat keonaran, kalian juga Beng Ong dan Kha Chung, kalian harus dihukum atas perbuatan kalian." Ujar Kakek Sion.
"Tapi Kek, mereka yang dahulu menganggu kita, mereka yang selalu memperlakukan kita dnegan tidak adil kek."
"Tidak ada tapi tapian yang sekarang harus kalian lakukan adalah mendapatkan bunga tujuh bintang, bunga itu ada di tengah tengah hutan darah, jika kalian belum mendapatkan bunga tersebut kalian jangan harap bisa balik ke tempat kalian lagi, lima hari dari sekarang kalian boleh berangkat, ada waktu buat kalian untuk bersiap siap." Tatapan mata Kakek Sion menyala nyala sepertinya dia tidak main main dengan perkataanya.
"Tapi Maha Guru, bukannya itu sangat berbahaya." Chen Yi dan para murid yang lainya terkejut, manakala salah satu guru besar memanggil kakek Sion dengan panggilan Maha Guru, yang berarti dia adalah gurunya para guru besar.
Kakek yang selama ini bertingkah aneh, pekerjaanya adalah penyapu halaman paviliun dan juga penjaga perpustakaan Roh Bintang ternyata adalah seorang maha guru.
Chen Yi dan kedua kakaknya hanya mengangguk dan segera meninggalkan para guru besar dan kakek Sion.
Dalam hati mereka hanya bisa menggerutu, terutama kedua kakaknya, mereka sepertinya menyesal mengapa dia menuruti kemauan dari Chen Yi, sekarang bahkan bahaya lebih besar telah menunggu didepan mata.
"Kakak, kalian janganlah berkecil hati, dengan kemampuan kalian seperti tadi seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan lagi" Ujar Chen Yi kepada kedua kakaknya.
"Adik ketiga, kau belum pernah dengar para monster yang ada di hutan darah? level paling rendah mereka kaisar petarung banyak sekarang para monster yang sudah berada di level pertapa, kita tidak akan ada yang mampu menandingya." Ujar Beng Ong kepada kakak dan adik seperguruanya.
"Kakak,.kita masih ada waktu 5 hari dari sekarang untuk belajar, kalau ilmu beladiri kakak berdua sudah jagoan, akan tetapi ada beberapa bakat yang harus kita latih, yaitu Formasi Yuan, dengan bakat ini kita bisa membuat beberapa kekuatan yanh kita butuhkan nantinya saat mencari bunga tujuh bintang tersebut." Ujar Chen Yi
"Waktu lima hari apakah itu cukup?" Tanya Kha Cung
"Kalian sudah mengetahui dan belajar dasar Yuan walau sendiri, jadi tidak perlu waktu lama untuk mengajari kalian membuat formasi Yuan."
"Jadi apa yang harus kita pelajari, asal bisa menjaga diri kita sendiri dan lainya, jadi yang paling penting saja."
"Kemungkinan yan harus kita latih adalah Formasi Yuan pengumpul energi kita bisa langsung kita tanam, dan juga untuk penggunaan elemen serta pemanggilan hewan spirit, ketiga hal tersebut yang harus diperhatikan." Ujar Chen Yi.
"Tunggu, aku menguasai sedikit alchemist dan Beng Ong menguasai perbintangan dan ramalan, itu harus dilatih juga karena keduanya pun akan sama sama berguna." Ujar Kha Chung.
Ketiganya pun berlatih beberapa formasi Yuan yang diperlukan dan mereka juga melatih insting bertarung mereka, karena bisa saja yang mereka hadapu adalah serangan dari luar sekolah.
Setelah tiga hari berlatih ketiganya pun berhasil dengan sempurna melatih formasi Yuan yang akan mereka butuhkan. Beng Ong dan juga Kha Chung sangat terbantu dengan pemahaman yang diberikan oleh Chen Yi kepada mereka.
Chen Yi sangat beruntung mempunyai ingatan kedua orang tuanya, yang membuatnya tidak perlu lama lama dalam mengartikan beberapa hal yang di maksud dalam kitab yang mereka pelajari.
Beng Ong dan Kha Chung sebenarnya mempunyai beberapa kitab yang mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, akan tetapi mereka sangat kerepotan dalam menafsirkan beberapa langkah dan pemahamannya, sehingga sampai saat ini mereka belum mengusai jurusnya.
mereka berdua langsung menunjukan kedua kitab milik mereka, Beng Ong mempunyai kitab Tinju Bintang, sebuah jurus jarak dekat yang sangat dahsyat, karena kekuatanya adalah gabungan dari gerakan, kekuatan spirit dan hawa murni dan elemen api dan angin.
Chen Yi memimjam buku Jurus Tinju Bintang dan membacanya berulang kali, beberapa kali Chen Yi berfikir untuk memcahkan beberapa kalimat yang mungkin agak ambigu dan harus benar untuk mengartikanya.
Awalnya Chen Yi mengira jurus tinju bintang akan sama scara gerakan jurus tinju ombak dan akan tetapi secara pemahaman langkah dan kekuatan sangat berbeda, Chen Yi jadi banyak menemukan celah jurus Tinju Ombak mikiknya.
"Kakak pertama untuk pemahaman dari Tinju Bintang adalah pusatkan pada titik, karena yang lain hanya sebuah bayangan, dari kecepatan bayang akan menimbulkan sebuah ilusi dari ilusi akan menimbulkan sebuah objek, jika saat kakak sudah bisa mencapai pemahaman objek maka tinju bintang bisa langsung mencapai puncaknya.
Sedangkan Kha Cung juga akhirnya dapat memecahkan pemahaman yang selama ini membuat banyak sekali meridianya tertutup karena salah aliran ditenaga dalamnya.
Melalui pemahaman dari Chen Yi kini dia juga bisa mengusai pengendalian Bintang, yaitu pengendalian fikiran dan elemen langit lainya.
Sehari sebelum keberangkatan ke hutan darah, Sosok wanita cantik muncul dihadapan Chen Yi yang sedang bermeditasi, lama dia menunggu Chen Yi, akan tetapi sepertinya Chen Yi masih hanyut dalam meditasinya.
Akhirnya wanita tersebut tak lain adalah Xiahua meletakan sesuatu dihadapan Chen Yi.
"Aku harap kita bertemu lagi, enam bulan lagi ada pertandingan resmi, aku ingin bisa melihatmu bertanding."
Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”
Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan
"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.
"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.
Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.
" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.
"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.
"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.
Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.
"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.
Bhuukkk!!
Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.
"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.
Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.
__ADS_1
Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.
Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.
"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.
"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.
"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.
Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.
Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.
Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.
"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.
Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.
Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.
"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.
Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.
"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.
Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.
Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.
"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.
Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.
Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.
Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.
"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.
Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.
Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.
****
Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.
Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.
"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.
Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.
Babak kehidupan Dewi Reng
Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.
"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.
"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.
3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.
Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.
Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.
Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.
"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.
"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.
Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.
Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.
Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yang saat itu sedang menyamar.