
Setelah selesai dengan pembukaan gerbang pertama, Chen Yi akhirnya bisa merasakan sesuatu yang berbeda dengan tubuh dan kekuatanya, kini dia bisa merasakan adanya sebuah perasaan dan kekuatan yang saling berkaitan.
Saat dia mencoba serangan dan Dhuarrr...! sebuah ledakan yang cukup hebat, untung ruangan pelatihan tersebut didesain khusus dengan perlindungan dengan kekuatan yang sangat kuat.
Tiba tiba Chang Mao pun keluar dari tubuhnya, “Kamu telah berhasil membuka gerbang pertama, sekarang alirkan kekuatan gerbang pertama tersebut dan gunakan jurus tarian phoenix biru dengan menggunakan pedang awan.” Ujar Chang Mao pada Chen Yi
Kemudian Chang Mao menyuruh menyerangnghnya dengan kekuatan penuh, dan pertarungan itu berlangsung sangat dahsyat, walaupun pembentukan jiwanya belum stabil akan tetapi kekuatannya sudah sangat cukup kuat.
Cukup Chen Yi, aku harap kau akan menyimpan ini, jika tidak dalam hal terdesak jangan keluarkan, karena kekuatanya akan bisa meluluhlantakan gunung sekalipun.” Ujar Chang Mao
“Tapi untuk sampai kesana, kau harus sampai dengan membuka ketujuh gerbang dan itu sangat susah sekali, sedangkan kitab dewa dan iblis, hanya berisi tentang bagaimana menjadi praktisi kekuatan dewa, kitab itu sangat bagus, jika kamu sudah menguasai kitab jiwa langit.” Ujar Chang Mao.
Chen Yi mengerti dan mengangguk, dia meminta kepada Chang Mao untuk membantunya berlatih pedang dengan kekuatan jiwa langitnya.
Dengan beberapa jurus yang dia lancarkan, gerakan Chen Yi sekarang lebih bertenaga dan juga, tapi seteleh beberapa saat, tiba tiba Chen Yi memuntahkan darah segar.
“Cukup Chen Yi, jangan kau paksakan lagi, sepertinya jiwa murnimu terluka, kau harus mengobati lukamu terlebih dahulu.” Ujar Chang Mao
Chen Yi kemudian ambruk, tubuhnya dan pergelanganya tangan dan kakinya bergetar, Chang Mao kemudian mengalirkan tenaga dalamnya untuk mengalirkan energi agar tubuh Chen Yi bisa pulih kembali.
“Chang Mao, apa yang harus aku lakukan untuk menyebuhkan luka ini?” Ujar Chen Yi, kemudian Chang Mao meminta Chen Yi untuk mengeluarkan semua sumber daya yang dia miliki.
Chen Yi segera mengeluarkan semua miliknya, akan tetapi setelah beberapa bahan diambil oleh Chang Mao, ada beberapa bahan obat obatan yang masih kurang dan tidak ada di tempat yang dibawah oleh Chen Yi.
“Rupanya ada 2 bahan bahan yang harus kamu cari, dan yang aku ketahui disini barternya bukan menggunakan uang jika untuk sumber daya, akan tetapi menggunakan pil, dengan bahan yang ada, kau membuat obat Pembersih Yin tingkat 5, obat ini berfungsi untuk membersihkan energi Yin yang berlebihan ditubuh kita sehingga mengganggu dalam berkosentrsi dan juga membuat aliran Qi juga banyak tersumbat.”
“Iya benar, aku juga sudah membaca apa itu pembersih Yin, dan memang bahan bahanya sudah ada, akan tetapi tungku, aku butuh tunggku.” Ujar Chen Yi.
“Bukanya di paviliun Roh Bintang ada sebuah tungku yang sangat bagus, tungku yang tidak pernah digunakan, kau bisa menggunakankanya.” Ujar Chang Mao.
Tanpa menunda nunda lagi, Chen Yi langsung pulang menuju paviliun Roh Bintang dan mencari tungku, sebuah tunggu empat kepala naga menyangganya.
Chen Yi langung memasukan beberapa bahan obat untuk percobaan pembuatan pil pembersihan Yin, seteklah semuanya dimasukan, dan dia menggunakan elemen api dan elemen kayu untuk mengendalikan apinya.
Setelah beberapa saat dengan mempertahankan panas dari api yang dikendalikanya, dan obat pembersih Yin tingkat 5 pun berhasil dibuat.
“Bagus sekali Chen Yi, kau berhasil dan ini sangat bagus, kau memang berbakat dibidang Alkhemist, sekarang kau buatlah langsung Pil Pembersih Yin yang banyak. “ Chen Yi menggunakan bahan bahan yang diperoleh dari keluarha Chen dan juga ketua serigala biru, dia segera membuat pil pembersih yin sebanyak mungkin, setelah beberapa saat dia sudah mendapatkan ratusan Pil Pembersih Yin.
Keesokan harinya Chen Yi dan kedua kakaknya izin untuk pergi ke kota Liangzi yang bertempat dibelakang perguruan pertapa sakti.
Chen Yi dan kedua kakaknya berjalan dikerumanan orang orang yang menjual bahan makanan, pakaian dan juga makan makanan yang lezat, Beng Ong dan Kha Chung segera mecari tempat makan yang mahal dan enak, serta mereka mencari batu berharga untuk diserap kekuatannya.
Sedangkan Chen Yi menyusuri kota tersebut, sampailah dia disebuah toko obat obatan yang sangat ramai.
“Tuan muda, apa yang tuan cari, kami mempunyai sumber daya yang sangat bagus yang bisa menunjang pelatihan tuan muda.” Ujar Pelayan tersebut.
“Aku mencari empedu naga dan taring harimau es, apakah tuan mempunyai kedua bahan tersebut.” Ujar Chen Yi.
Raut muka pelayan tersebut terkejut sekali, dia melihat dari atas sampai bawah, “Kami punya kedua bahan yang tuan muda butuhkan, tapi kami tidak menerima uang tunai, kami barter dengan bahan yang mungkin sesuai dengan harga yang sama.
“Aku punya ini, dan aku maish punya banyak sekali, apakah ini cukup untuk dibarter dengan kedua bahan tersebut,” Ujar Chen Yi.
Pelayan tersebut terkejut dan dengan segara dia membawa kedalam ruangan yang sangat besar dan bagus sekali, pelayan tersebut meminta Chen Yi untuk menunggunya.
Tidak lama kemudian pelayan tersebut datang dengan seorang lelaki tua dengan janggut putih yang sangat panjang.
Aura tatapan lelaki tua tersebut sangat teduh membuat kekaguman dari Chen Yi, tanpa harus mengeluarkan aura yang menekan akan tetapi bisa membuat orang lain hormat padanya.
“Apa benar kau bocah yang membawa Pil Pembersih Yin, boleh aku lihat?” Ujar lelaki tersebut. kemudian Chen Yi mengeluarkan sebutir pil dan diberikan kepada lelaki tersebut.
Lelaki tua itu pun menerima pil tersebut, dia sangat terkejut, aroma dan warna dari pil yang dibawah oleh Chen Yi adalah sempurna, “Tidak mungkin, ini adalah Pil Pembersi Yin level, level tertinggi yang pernah aku lihat, dengan kondisi yang sangat luar biasa.” Ujar lelaki tersebut.
“Dari mana kau Pil ini anak muda?”
“Aku yang membuatnya, Namaku adalah Chen Yi, pengguna Roh Bintang dari perguruan Pertapa Sakti.” Ujar Chen Yi mantap.
“Apa ! pengguna Roh Bintang dari Perguruan Pertapa Sakti?” Lelaki Tua terkejut dan sekali lagi memandang Chen Yi.
“Apakah kau bisa menunjukanku bagaimana caranya meracik obat tersebut, tenang, aku mempunya bahanya, tunjukan padaku agar aku percaya kau pengguna Roh Bintang dari perguruan Pertapa sakti.”
“Karena yang aku tahu, pengguna Roh Bintang dari Pertapa Sakti hanya tinggal kakek Sion, selebihnya tidak ada lagi.” Ujar lelaki tuan tersebut.
Pelayan tersebut segera menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, dan mereka membiarkan Chen Yi untuk memilih bahan bahan sendiri, “Maaf, boleh minta satu bahan yang mungkin sepeleh, akan tetapi inilah yang kadang terlupakan, aku minta beberapa rumput api dan juga beberapa helai daun kumis kucing.” Pelayan tersebut terkejut akan tetapi tetap membawakan kedua bahanya.
Setelah semua siap, Chen Yi segera memasukan semua bahanya ketungku dan segera dia mengeluarkan elemen api dan elemen kayunya untuk menstabilkan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, akhirya pil pembersih Yin pun jadi, dan lagi lagi pelayan dan lelaki tersebut terkejut, bahwa pil tersebut benar benar adalah pembersih Yin level 5.
“Anak muda siapa namamu, apakah kau murid dari kakek Sion?” tanya lelaki tersebut kepada Chen Yi.
“Namaku Zhao Chen Yi, dan aku adalah murik kakek Sion.” Jawab Chen Yi tegas, lelaki tua didepanya hanya tersenyum dan menepuk pundah Chen Yi.
“Gurumu pasti akan bangga, dan aku akan memberikan dua bahan yang kau butuhkan dengan sebotol pil pembersih Yin, oh ya bagaimana caranya kami bisa menghubungi kamu? Karena pastinya kamu bisa membuatkan obat obat yang bagus buat toko kami.”
“Kamu tenang saja, kami akan memberikan kompensasi yang sesuai dengan yang kamu berikan kepada kami.” Ujar kakek tua tersebut.
“Setiap akhir bulan aku akan berkunjung ke toko ini, dan akan memberikan pil ini kepada kalian, akan tetapi jika kalian ingin menemuiku, tidak papa, kalian bisa mencariku di paliviliun Roh Bintang.” Ujar Chen Yi.
Setelah mendapatkan semuanya, dia langsung mencari kedua kakaknya yang masih bersenang senang dengan membeli beberapa kenbutuhan mereka berdua.
Kedua bahan telah didapatkanya, sekarang dia bersiap untuk membuat pil penyatu jiwa, kini badan Chen Yi sudah mulai bergetar hebat, dan lagi lagi Chang Mao langsung mengalirkan hawa murninya kedalam tubuh Chen Yi.
Setelah beberapa saat setelah Chang Mao mengalirkan energi ketubuhnya Chen Yi, dan Chen Yi sudah bisa bergerak, dia langsung membuat Pil Penyatu Jiwa, karena tubuhnya semakin lama semakin lemah.
Setelah beberapa lama, akhirnya pil penyatu jiwa selesai, dan segera pil tersebut langsung diminum oleh Chen Yi, akan tetapi tidak lama kemudian, tubuh Chen Yi bergetar dan berkelojotan seperti terbakar.
“Tidak..kenapa denngan tubuhku.? Ujar Chen Yi.
****
Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”
Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan
"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.
"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.
Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.
" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.
"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.
Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.
"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.
Bhuukkk!!
Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.
"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.
Mereka segera meninggalkan jakarta menuju kota yang ada ditimur pulau jawa, tepatnya di Kota Jember, Hampir 12 Jam Wahyu menyetir dari Jember dan hanya beristirahat selama 1 jam tiap 3 jam sekali. dan pada sore hari mereka sampai disebuah desa di kabupaten Jember yang bernama Tanggul.
Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.
Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.
"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.
"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.
"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.
Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.
Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.
Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.
"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.
Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.
Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.
__ADS_1
"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.
Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.
"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.
Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.
Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.
"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.
Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.
Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.
Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.
"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.
Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.
Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.
****
Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.
Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.
"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.
Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.
Babak kehidupan Dewi Reng
Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.
"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.
"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.
3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.
Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.
Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.
Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.
"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.
"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.
Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.
Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.
Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.
"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yanng saat itu menyamar.
__ADS_1