
Para tetua Wisma Giok semuanya terkejut melihat batu giok hijau itu berputar, Legenda itu benar nyata adanya.
Batu giok terus berputar dan mengeluarkan cahaya yang berkilau, cahaya terus berpendar semakin terang dan muncul beberapa bayangan dengan gerakan gerakan ilmu dari keempat elemen.
Semua tetua terkejut, dengan cepat tuoli memerintahkan masing masing tetua untuk menghafal dan mengikuti jurus jurus tersebut sesuai dengan elemen yang dimiliki.
Yin He sendiri tetap tak bergeming dari tempat duduknya, hampir 5 jam sudah batu tersebut ymengeluarkan cahaya dan terus mengulang ngulang gerakan teknik empat elemen.
Yin He yang tak bergeming, di ditarik masuk oleh ruh penjaga empat elemen kedalam dimensi lain, dimana dia berlatih dengan ruh penjaga 4 elemen.
"Yin He waktunya kamu mengusai pengendali fikiran dan pengendali jiwa, teknik 2 tertinggi dalam Elemen Angin, hanya orang dengan tinggat dewa pendekar yang bisa mempelajarinya."
"Dengan bantuan batu giok kekuatanmu akan mencapai Dewa Petarung."
"Tapi sebelumnya akan aku buka terlebih dahulu 7 gerbang cakramu, untuk gerbang ketujuh kamu harus membukanya sendiri, aku hanya bisa membuka gerbang sampai dengan tingkat 6." Ujar Ruh Empat Elemen.
Yin He mengangguk, setelah beberapa saat belajar untuk memperdalam semua teknik elemenya, Yin He beristirahat beberape menit untuk kosentrasi sebelum 6 gerbang cakranya dibuka oleh Ruh Penjaga Elemen.
"Duduklah Yin He,"
Yin He segera duduk tepat dihadapan ruh penjaga empat elemen, ruh penjaga segera melakukan penotokan beberapa titik gerbang cakra Yin He, Yin He yang sedang duduk merasakan sensasi yang aneh didalam tubuhnya, dia merasakan aliran darahnya mengalir deras keseluruh tubuhnya, kekuatan dari energi alam pun bertambah seiring dengan aliran cakra yang semakin baik.
"Yin He sekarang kau harus berfokus pada dirimu sendiri, aku akan membuka gerbang ketujuh, dan kau harus masuk dan menghadapinya sendiri."
__ADS_1
Yin He mengangguk pelan, ketika keningnya di sentuh oleh ruh penjaga 4 elemen, jiwanya seperti melesat terpental masuk ke dimensi lain.
"Dimana ini, kenapa ini sangat sunyi." Yin He berjalan menyusuri ruang yang teramat sunyi , disudut ruangan dia menemukan dirinya yang sedang menangis, Yah sosok tersebut adalah dirinya, akan tetapi dengan postur tubuh anak anak normal."
Yin He berjalan mendekat, "Siapa kau?"
Anak kecil tersebut menoleh kearah Yin He dengan tatapan yang kosong,
tatapan dengan sinar kebencian dan kesepian. Yin He sendiri bisa merasakan aura kesepian yang dipancarkanya.
"Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku, kenapa kau menatapku seolah jijik dan tidak suka?"
Yin He diam, dia mengatur nafasnya agar nantinya dia tidak tersulut amaranya. "Aku tidak jijik ataupun tidak suka, aku hanya kasihan pada jiwaku, kenapa masih menyalakan dirinya sendiri, ini adalah takdir. perbaikilah keadaan yang membuatmu begini, Sebagai penebus dendam ayah, kakek dan ibu.
"Aku tidak melukapan, tapi aku membuat dirimu kuat agar tidak terlalu memikirkanya, dengan begitu aku bisa fokus berlatih menempah diriku."
"Seperti yang kau tau, aku telah membunuh Tetua Tio Sam Long dari kelompok harimau hitam."
Yin He terus bercerita, tanpa disadarinya dia telah masuk kedalam perangkang sisi jiwa gelapnya, ceritanya membuat dia berapi api, dendamnya bangkit, membuat jiwa hitamnya menekan begitu kuat.
"Ada apa ini, kenapa tekananya begitu kuat?" Yin He terlambat untuk menyadarinya, jiwa gelapnya mulai membesar bukan menjadi anal kecil lagi, akan tetapi sosok raksasa yang menyeramkan.
"Karena kau masih ada dendam yang membara, bergabunglah denganku, mari kita kuasai semuanya yang ada didunia ini, kita tidak akan pernah kesepian lagi."
__ADS_1
"Tidak, aku sudah merasa tenang dengan apa yang kudapatkan hari ini."
Sesaat kemudian jiwa gelap Yin He menyeringai, dan bayangan kenangan saat kakek, ibu serta ayahnya terbunuh, membuat dendam Yin He bergejolak.
"Tidak...! Hentikan semua itu, percuma kalo kita terus mencari pembalasan, maka kitabjuga akan dibalas,karma itu ada."
Yin He terduduk, saat dia menyadari bahwa balas dendam bukan menjadi tujuan utamanya, akan tetapi menjadi orang yang bisa menolong orang lain yang menjadi prioritasnya.
Yin He mulai melupakan dendam yang ada, sisi jiwa gelapnya pun, sekarang sudah berubah menjadi anak kecil dengan aura yang begitu tampan, tidak ada kesedihan ataupun kesepian lagi.
Mata Yin He terbuka, dia melihat seluruh tetua menatapnya dengan heran.
"He'er, kau sudah sadar, syukurlah." Tuoli memeluk tubuh Yin He.
"Kek, sebenarnya apa yang terjadi, aku baik baik saja." Ujar Yin He yang masih keherenan dengan sikap para tetua.
"Tadi tubuhmu mengeluarkan asap hitam pekat, dan tubuhnya berubah menjadi berkulit merah dan wajahmu berubah sangat mengerikan."
Yin He teringat dengan sosok di gerbang cakra ketujuh, seandainya dia kalah maka bukan hanya jiwanya yang berubah akan tetapi fisik juga akan berubah.
Biar tidak semakin penasaran, akhrnya Yin He menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada para tetua apa yang terjadi dengan dia beraada diruang jiwa
Dan semua terkejut mendengarnya
__ADS_1