
Setelah beberapa saat sesuai dengan wakgtu yang telah ditentukan, ternyata banyak yang bisa melampaui apa yang telah ditentukan, untuk mencapai puncak gunung tersebut dibutuhkan kekuatan mental yang kuat.
Ternyata ada beberapa formasi Yuan yang telah ditanam dalam gunung tersebut, Jika menaiki gunung tersbeut dengan mengandalkan kekuatan maka semakin dia mengandalkan kekuatanya maka semakin berat saat mereka akan mendaki gunung tersebut.
Gunung tersebut memiliki gaya tarik gravitasi yang unik, sehingga seseorang yang ingin mendaki jangan mempunyai keingingan untuk menaklukan gunung sampai dengan puncak, karena hal itu akan mengaktifkan formasi Yuan yang berupa gaya gravitasi yang kuat dalam gunung tersebut.
Setelah beberapa saat ternyata yang berhasil mendaki gunung tersebut ada sekitar 1200 orang, dan sekitar 800 orang entah dimana keberadaanya, bisa mereka kembali keasal tempat awal seleksi atau terjebak dalam hutan berdarah selamanya.
Kemudian tiba tiba ada beberapa orang yang tiba tib tubuhnya terangkat dan terlempar dari puncak gunung tersebut, tubuh mereka terangkat dan langsung terpelanting turun dengan keras.
Setelah kejadian tersebut ditengah tengah saat semuanya lagi kebingungan, sosok lelaki paruh baya yang memimpin jalanya seleksi muncul.
“Itulah balasan bagi para peserta yang tidak mengindahkan peringatanku untuk berbuat curang, saat mereka berbuat curang, maka gunung ini akan mendeteksinya dan akan langsung membuangnya, karena sekte pertapa tidak akan mau mempunyai murid dengan mental seperti itu.”Ujar lelaki paruh baya tersebut.
Kemudian dari telapak tangannya mengeluarkan seperti sebuah sinar yang membentuk sebuah formasi bintang dan diarahkan kesebuah tebing disebelah kiri para peserta yang berkumpul.
Setelah sinar tersebut mengenai dinding tebing tersebut, dinding tersebut bergetar dan ada sebuah pintu didinding tersebut, dan setelah dinding tersebut terbuka, didalamnya banyak sekali sebuah senjata yang berjejer ada Pedang, Tombak, Kapak, Pisau Tebang, Gada, Busur dan panah dll, semua senjata tersebut adalah dari bahan bahan kualitas yang sangat bagus, akan tetapi masih berupa senjata biasa karena senjata tersebut tidak ada aliran kekuatan spirit sama sekali.
“Kalian semuanya lihat disamping kiri kalian, itu adalah senjata untuk kalian, kalian bisa memilih senjata yang cocok dengan kalian, dan satu hal jika kalian sudah mempunyai senjata yang kalian punya, silahkan gunakan senjata kalian, namun jika kalian tidak punya atau ingin berganti senjata, kalian bisa memakai senjata yang ada disana.” Ujar lelaki paruh baya.
Semua bergerak cepat dan mengambil senjata yang mereka inginkan, hanya saja Chen Yi masih bingung dengan diriinya, karena dia sudah mempunyai empat senjata yang yang sekarang berada dalam tubuhnya.
“Chen Yi, kau lihat disana sebuah pedang hitam yang karatan, itu adalah salah satu senjata pusaka bumi, senjata itu selevel dengan pedang matahari atau pedang petir, namanya pedang awan, pedang itu mempunyai unik, dia adalah pedang dengan kekuatan peniru yang sangat kuat, jadi kau harus menggunakanya, dengan satu pedang itu, seperti memiliki pedang pedang yang lainya.” Ujar Chang Mao.
Chen Yi yang datang paling akhir hanya memperhatikan pedang awan yang disisi pojok, pedang dengan gagang yang lapuk dan juga karatan, jadi pedang tersebut tidak ada satupun yang mengambilnya.
Dengan tenang, Chen Yi melangkah saat semua murid sudah mendapatkan senjata yang mereka sukai dan inginkan, langkahnya tenang sambil terus memperhatikan pedang awan yang tergelatak begitu saja.
Saat semuanya sudah kembali ketempat saat mereka berkumpul, Chen Yi pun mengambil pedang dengan gagang lapuk dan juga karatan, saat Chen Yi kembali semua memandang Chen Yi dan mengecek Chen Yi yang mengambil pedang yang sangat jelek.
Sedangkan yang lainya sibuk untuk menyalurkan energi kedalam spirit senjata yang mereka ambil, sedangkan Chen Yi hanya terdiam mengamati pedang yang sekarang dalam genggamanya.
Chen Yi terus memandangi dan mencoba mengecek semua bagian dari pedang, “Pedang ini sesungguhnya pedang yang bagus, secara bilah dan juga gagangnya bagus, akan tetapi karat yang teramat parah dan juga gagangnya juga keropos, membuat tampilan pedang ini sangat jelek dan terkesan usang.”
Kemudian Chen Yi mencoba untuk mengalirinya dengan spiritnya akan tetapi belum sempat untuk mengalirkan spirit kedalam pedang tersebut, lelaki paruh baya yang memimpin jalanya seleksi untuk menjadi murid perguruan pertapa sakti tiba tiba muncul dihadapan Chen Yi.
“Anak muda, kau masih punya waktu jika ingin menukarkan pedang tersebut, carilah senjata yang sangat pantas buatmu.” Ujar lelaki paruh baya tersebut, akan tetapi Chen Yi pun menggelengkan kepalanya.
“Maaf Kakek, kakek bilang carilah senjata yang cocok dengan kalian, dan aku cocok dengan senjata ini, aku yakin aku bisa membuatnya bersinar.” Ujar Chen Yi dengan mantap, akan tetapi jawaban tersebut membuat yang lainya menertawakan keputusan dari Chen Yi, semuanya bilang kalau Chen Yi masih kecil seharunya dia masih dirumah.
“Anak ini bukan anak yang biasa, karena dia berjodoh dengan pedang awan, hampir 500 tahun pedang ini tidak ada yang mau mengambilnya, hanya anak ini yang berjodoh dengan anak ini.” Batin orang tua paruh baya tersebut.
“Dengarkan aku, sekarang adalah waktunya untuk ujian yang kedua, sekarang kalian sudah mempunyai senjata kalian masing – masing, untuk bisa lolos dari ujian kedua ini adalah, kalian harus bisa mengalahkan 10 orang dari kalian masing masing, dan tidak ada aturan sama sekali disini.” Ujar orang tua paruh baya tersebut.
Tiba tiba sebuah sinar memancar kesemua peserta yang lolos, dan tiba tiba di masing masing ditangan mereka sudah ada sebuah semacam plakat berwarna kebiruan, mereka saling pandang dan memandangi plakat tersebut.
“siapapun yang bisa mengumpulkan 10 dari plakat tersebut, maka kalian akan dianggap lolos.” Ujar lelaki separuh baya tersebut dan menjelaskan bahwa mereka akan berada di hutan jiwa, yaitu kawasan hutan sebelum masuk kedalam perguruan pertapa sakti.
Setelah semuanya sudah bersiap siap, maka mereka langsung terjun kehutan Jiwa, dimana hutan yang sangat lebat dan dipenuhi oleh jebakan serta monster monster yang sangat ganas, Cheng Mao meminta untuk Chen Yi segera menyalurkan kekuatan spirit pada pedang awan tersebut, “Kau harus segera berlari secepat mungkin dan bersembunyilah terlebih dahulu, karena aku yakin mereka akan mengincarmu.” Ujar Chang Mao.
Dan benar saja tidak sampai beberapa saat, sebuah serangan langsung dilayangkan oleh seseorang yang kemungkinan dari tadi mengincarnya, “Sudah kalau begini jangan ditahan lagi, karena saat ini hidup dan matimu tergantung keberuntunganmu.” Ujar Chang Mao.
Chen Yi kemudian menangkis dengan pedang yang karatan tersebut, terdengar dentingan saat antar pedang tersebut bertemu, tapi yang anehnya adalah walau Chen Yi belum menyalurkan spiritnya ,akan tetapi pedang awan mempunya kekuatan untuk melindungi dirinya, sehingga lawan dari Chen Yi pun terpelanting kebelakang. Lelaki tersebut tersungkur , akan tetapi dengan cepat dia langsung mengayun kan senjatanya kearahh Chen Yi, sebuah golok yang amat besar tersebut masih bisa dilawan dengan mudah oleh pedang karatan, sampai sampai lelaki tersebut mundur dan mengucek matanya, memastikan yang dilawanya adalah pedang karatan yang diambil oleh Chen Yi.
“Kurang ajar, tenaga dalam anak ini sangatlah besar sehingga dia bisa menghalangi senjataku.” Ujar bathin lelaki tersebut
Chen Yi pun segera mengalirkan spiritnya akan tetapi sepertinya pedang jiwa spiritnya menolak, pedang karatan tersbeut seolah olah mempunyai nyawa sendiri yang bisa bergerak sesuka hatinya, sementara itu seranngan dari lelaki yang menyerang Chen Yi dapat dipatahkan, malah sekarang dia yang menjadi bulan bulanan dari Chen Yi, semua memandang tercengang dengan kehebatan dari Chen Yi, setelah beberapa saat menjadi bulan bulanan Chen Yi, sekelebat bayangan menyambar sesuatu yang menyambar sesuatu yang seharusnya diambil oleh chen Yi, akan tetapi Chen Yi diam dia tidak bergeming sedikitpun walau melihat orang tersebut mengambil plakat yang ada di lelaki yang barusaja dikalahkanya.
“Aku tidak akan membuang waktu yang percuma dengan bertarung dan menghabiskan tenaga.” Gumam bathin Chen Yi.
Sedangkan yang lain disisi sebelah kanan, pangeran dari keluar Xia, dengan kelebatan pedangnya dapat membabat dua orang sekaligus dan mengambil plakat mereka, sekarang ditanganya ada 6 plakat, 1 miliknya sendiri dan 5 yang lainya adalah milik musuh musuh dikalahkan.
Mata Chen Yi melotot saat melihat seoarang gadis kecil yang ia kenal terdesak oleh seseorang dengan menggunakan pedang pribadinya, pedang tersebut mempunyai aura hitam yang sangat besar, keinginan dari aura pedang tersebut sangat besar, dari bilahnya masih terlihat darah segar yang mengalir di bilah pedangnya.
Chen Yi langsung melesat kearah Xiahua yang terdesak oleh lelaki tersebut, dengan cepat dia menangkis pedang dengan aura hitam pekat dengan pedang karatan miliknya, dan setelah itu terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat, lelaki dan Chen Yi tersebut langsung terpental satu sama lain.
“Kau ! bocah sialan, mau cari mati kau?” Ujar lelaki tersebut langsung meloncat dan mengayunkan pedangnya dengan aura hitam tersebut, tubuh Chen Yi yang terbentur pohon masih terlalu lemah untuk bisa mengangkat pedangnya, akan tetapi tanganya tiba tiba seperti dipengaruhi oleh pedang karatan tersebut, tanganya langsung mencengkeram erat gagang pedang erat, dan langsung menangkis pedang dari lelaki tersebut dan mengeluarkan aura yang dapat menekan pedang lelaki tersebut, kini Chen Yi seperti merasakan sebuah aura spirit aneh yang merasuki tubuhnya dan kini dia langsung berkosentarsi dengan menggunakan jurus pedang tarian phoenix biru, dengan jurus tersebut dia mambabat lekaki yang ada di depanya, lelaki tersebut langsung terkejut karena gerakan pedang dari Chen Yi.
__ADS_1
Chen Yi menggabungkan antara jurus tarian phoenix dengan tinju ombak, gerakan dari kedua jurus tersebut sanggup untuk menyerang lelaki tersebut. lelaki tersebut berteriak untuk menahan jurus dari Chen Yi, tiba tiba tubuh tersebut berselimut asap tebal dan langsung melakukan penyerangan kepada Chen Yi, kini gantian Chen Yi tidak bisa menyerang, dia hanya bisa menangkis dan bertahan.
“Jurus apa ini kenapa setiap aku hendak menyarang sepertinya ada sesuatu yang bisa menangkisnya dan membelokkan keinginanku.” Gumam Chen Yi, walau Chen Yi tidak terdesak akan tetapi dia tidak bisa bertahan dengan hanya seperti igtu, karena hal ini akan membuatnya kehabisan tenaga.
“ Chen Yi, berhenti dan fokus, pedang yang dibawah oleh lelaki tersebut adalah pedang yang dapat mengendalikan fikiran.” Ujar Chang Mao berbisik dalam fikiran Chen Yi.
********
Reader yang budiman, mohon mampir juga di Novel Baruku “Titisan Dewi Rengganis”
Wahyu dan Kartika adalah pasangan mudah yang telah menikah selama empat tahun, akan tetapi belum juga dikarunia seorang momongan, berbagai cara telah ditempu dari cara secara medis dan non medis telah dilakukan seperti minum obat herbal, sampai pada titik nadir dimana kedua pasangan muda tersebut pasrah dengan keadaan
"Kenapa kau termenung sayang? ada yang menjadi ganjalankah dihatimu? Tanya Wahyu kepada istrinya, dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium rambut istrinya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahukan kepadamu mas, tapi aku takut, Pasti kau hanya akan tersenyum dan tidak percaya hal yang akan aku katakan kepadamu." Ujar Kartika sambil memegang lengan kekar suaminya.
"Aku akan mendengarkanya, coba kau katakan dulu, apa yang membuatmu risau istriku, oh ya, tapi nanti jadi kita kerumah bapak? Jawab Wahyu dengan mengusap rambut istrinya.
Ini adalah perkataan si Mbok, istri dari kakekku, saat berpesan ini, waktu aku berumur 14 tahun, saat aku mendapatkan menstruasi pertama, "Tika, nduk..ingat kata kata si Mbok ya, kalau nanti kamu menikah dan diatas 4 tahun kamu belum mempunyai anak, awakmu (kamu) jangan sedih ya nduk, si mbok kasih tahu kamu, kamu akan mempunyai seorang anak perempuan, tepat di usia perkawinanmu yang ke - 5, si Mbok bener bener berpesan, berilah dia nama Dewi Rengganis." Ujar nenek Kartika.
" Aku yang masih remaja hanya tertawa, sebagai remaja masa kini aku tidak menggubris perkataan si Mbok, akan tetapi sehari sebelum pernikahan si Mbok datang lagi bersama seorang wanita yang sangat cantik, dia hanya tersenyum sambil berkata, Nduk ikiloh Dewi Rengganis anakmu sesok (Cucuku, inilah Dewi Rengganis anakmu besok). Dan kemarin setelah kita bercinta kemarin malam, si Mbok juga datang bersama wanita cantik tersebut, wanita tersebut diantar kesampingku, dia bersalaman mencium kedua tanganku ini, setelah itu si Mbok pergi dan aku pun terbangun." Ujar Kartika menceritakan kepada sang suami. Suaminya pun tersenyum dan melangkah ke hadapan istrinya.
"Sayang, kalau yang dikatakan si Mbok dalam mimpimu benar berarti berkah buat kita dong, berarti kita akan segera mempunyai seorang putri yang cantik, dan juga nama Dewi Rengganis bukanlah nama yang jelas, itu terlihat keren loh sayang."Ujar Wahyu sambil mengecup istrinya. Tatapan Kartikan menerawang jauh, entah mengapa didalam lubuk hatinya masih ingin mengetahui alasanya kenapa, oleh sebab itu dia akan berlibur ke Jember tempat kedua orang tuanya, Hampir 3 tahun ini dia belum pulang ke Jember karena harus mengikuti Wahyu yang ditugaskan di Amerika, dan sudah enam bulan ini dia sudah dijakarta, sehingga dia merengek kepada sang suami untuk mengambil cuti agar bisa pulang ke Jember tanah kelahiran kartika.
"Sayang apa kau sudah siap?" Wahyu berteriak memanggil istrinya yang sedari tadi ditunggunya belum juga turun. "Ah wanita kalau dandan apakah pasti selama ini, ini hampir 30 menit, kenapa dia belum juga turun." Gumam Wahyu yang sudah mulai bosan menunggu sang istri.
Wahyu tertegus saat melihat kartika berjalan kearahnya, dia seperti melihat seorang dewi yang sangat lah cantik, "Apa aku baru sadar kalau selama ini istriku secantik ini?" Gumam Wahyu yang tersenyum sendiri melihat Kartika.
"Kamu kenapa sih mas kok senyum senyum sendiri? "Ujar kartika yanh mulai risih atas pandangan suaminya sendiri, Wahyu melihat kartika bagai makanan yang sangat lezat.
Bhuukkk!!
Kartika menepuk paha suaminya sampai Wahyu pun terjingkat dari lamunannya. "Sayang hari ini kau sangat cantik, sueerrr aku ga bohong deh." Rayu Wahyu kepada istrinya.
"Oh..jadi baru kali ini cantik! kemarin kemarin gak cantik gitu,!" Kartika yang gemas langsung mencubit lengan Wahyu, dan Wahyu membiarkan lenganya jadi sasaran dari Kartika istrinya. "Sayang jangan tinggalin aku ya, aku tak bisa jika hidup tanpamu." Wahyu tidak berbicara dia hanya tersenyum dan mengecup kening dan bibir istrinya.
Wahyu segera memasukan mobilnya kedalam sebuah pelataran rumah yang luas tanpa pagar, begitu kartika keluar dia langsung menjatuhkan diri ke pelukan sang ibu, pertemuan ibu dan anak yang hampir 3 tahun lebih tidak berjumpa membuat haru hati Wahyu dan ayah kartika, Herman.
Herman dan sang istri sangat senang melihat kedatangan anak dan menantunya, hidangan kesukaan sang anak pun tidak lupa disiapkan oleh istrinya.
"Kalian mandi dan setelah itu makanlah, dan kamu Nak Wahyu ibu udah siapkan kopi jember yang paling enak." Wahyu langsung kegirangan dia sudah kangen dengan kopi buatan ibu mertuanya tersebut, setelah meraka mandi dan makan malam, Herman pun mengajak ngobrol anak mennantunya diteras depan, dan wedang uwu buatan ibu kartika menemani obrolan mereka tidak ada ujungnya hingga sampai dengan larut malam.
"Pak..sebenarnya ada yang Kartika tanyakan pada bapak dan ibu, soal pesan nenek kakek dulu yang masalah dan kemarin nenek juga kembali menemui Kartika Pak." Herman dan Sang Istri pun saling memandang, dan kembali menatap Kartika.
"Apakah suami sudah kau beritahukan soal ini nak?" Tanya ibunya Kartika kepada anaknya yang sedsnh duduk dihadapanya dengan perasaan tak tenang.
Herman akhirnya berbicara, "Kartika dan Wahyu, kalian sudah waktunya tahu, Bapak tidak tahu asal muasalnya, yang pasti kita adalah keturunan dari Dewi Rengganis, dan setiap keturunan ketujuh dari keturunanan lelaki akan melahirkan titisan dari Dewi Rengganis, titisan dewi rengganis akan membawa kekusaan dan kejayaan yang sangat besar, akan tetapi jangan sampai kau membuat marah titisan dewi rengganis, tau kau akan mendapatkan amarahnya, Rawatlah Dewi Rengganis kelak seperti anak sendiri. dan juga ada satu hal, jika nanti lahiran jangan dirumah sakit, karena pisau bedah tidak akan mampu membelah perut kartika, cukup kau basuhi air kembang dan bilang ,"Dewi ibu kamu sangat kesakitan, keluarlah dengan cepat dan berikan air dan usapkan di perut istrimu." Ujar pak merjs Wahyu hanya menganguk walapun dia masih meraba raba apa yang dikatakan olleh mertua lelakinya.
Hampir seminggu Kartika dan Wahyu menikmati keindahan dan juga kelezatan kuliner Jember. Pagi itu kepala Kartika rasanya pening sekali, saat dia ditengah makan pagi kartika mual dan muntah, oleh kedua orang tuanya kaget tertegun, "kali ini kau bantu kartika untun test kehamilanya ya Bune." Baik Pak Ujar ibu Kartika. Kartika di tuntun oleh ibunya, dan ibunya pun memberikan semua alat yang paling di benci oleh Kartika yaitu Test Pack, karena dulu hampir setiap bulan dia memakai test pack dan selalu negatif, dan untuk hari ini, ada rasa yang aneh menyimuti dirinya dan setelah beberapa saat menunggu, sebuah kejutan yang membuat dada kartika seakan berhenti berdetak, kartika setengah berlari dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang aku hamil." Ujar Kartika kepada suaminya.
Perasaan bahagia yang meluap dari hati kartika, tidak sebanding dengan perasaan seorang dukun disalah satu desa dekat Alas Purwo, saat sebuah sinar kemerahan masuk kedalam bejana tanah liat yang ada di samping tempat ritualnya bergejolak, tiba tiba air bejana tersebut berubah merah darah dan bau anyir amis darah, saat dukun tersebut membaca mantra dan terlihatlah wajah cantik kartika di becana tanah tersebut, entah sengaja atau bagaimana, terlihat seolah kartika sedang tersenyum kearah dukun tersebut dan makin bergejolak lah air di dalam bejana tersebut.
"Kurang ajar, aku harus membunuh bayi tersebut agar tidak sampai lahir kedunia ini. bayi sial, akan ku buat hidupmu sangat menderita selamanya." Ujar dukun tersebut dan dia mencabut sebuah keris luk 5 yang berbentuk tubuh ular dan menusuk nusukanya di bejana tanah tersebut.
Kartika yang sedang bergelayut di pundak suaminya sambil duduk di panggkuan Wahyu, tiba tiba meronta, Kartika merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, dia langsung mencengkram leher suaminya karena menahan sakit, Wahyu dan bapaknya Kartika sekita itu panik karena tiba tiba perut Kartika mengembang seperti orang mengandung 7 bulan, akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sebuah sinar keemasan keluar dan memancar dari perut Kartika dan seketika itu dia langsung pingsan.
Sang dukun yang mencoba membunuh calon bayi titisan Dewi Rengganis itu terpental, bejana tanah miliknya langsung hancur, Sesosok wanita cantik muncul dihadapanya dengan kebaya merahnya, kecantikanya perpancar membuat dang dukun tidak bisa bergerak lagi.
"Suropati aku tidak pernah mengganggumu, akan tetapi jika kau menggangguku maka tidak akan segan menghukumu, aku tidak takut walau kau adalah murid dari Nyai Sabrang Ireng, Aku Rengganis akan membuat perhitungan denganmu." Ujar sosok perempuan cantik berkebaya merah tersebut.
Tapi tiba tiba Dewi Rengganis saat akan mengerahkan tenaganya untuk menghukum dukun Suropati, akan tetapi semua diurungkanya, "Saat ini aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa, aku ampuni kau, dan jangan kau ganggu aku dan keturunanku." Sosok Dewi Rengganis pun menghilang dan hanya meninggalkan bau harum yang khas.
"Sial kau Rengganis, kau tidak membunuhku tapi kau mencabut seluruh kesaktianku, aku harus segera menemui guru agar semua kesaktianku kembali." Gumam Suropati sambil memegang dadanya yang terasa sangat panas.
Sedangkan Wahyu segera saja membawa Kartika ke dokter sekalian mengecek kandunganya, Wahyu dna Kartika sangat bahagia, karena kandunganya tidak apa apa.
__ADS_1
Ayah dan Ibu kartika mendudukab Herman dan Kartika yang baru saja pulang dari dokter kandungan, "Nduk bawa suamimu ke pemandian Patemon sana, kamu juga harus mandi berendam disana, karena katanya airnya sangat jernih dan bagus buat kesehatan." Ujar Ayah Kartika.
"Emm.. bukanya Kartika tidak mau kesana pak, tapi bapak tahu sendiri tempatnya serem gitu." Bapak dan Ibu Kartika hanya tersenyum, "Itu kan dulu Nduk, sekarang udah jadi pemandian yang sangat bagus, cobalah datang kesana agar badanmu juga lebih segar." Ujar Ibu Kartika dengan lembut.
Kartika melirik suaminya dan tersenyum, suaminya hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. "Nduk..ini baju ganti sudah Bune siapkan." Kartika menerima baju ganti dari ibunya dan langsung meluncur kepemandian Patemon.
Pemandian Patemon sungguh sudah berubah, dahulu masih pemandian dengan fasilitas ala kadarnya sekarang disulap seperti Waterboom yang sangat bagus, Kartika langsung berenang bersama Wahyu suaminya, kedua pasangan ini menarik semua pengunjung, pasangan yang serasi cantik dan gagah, semua lelaki terpesona menatap Kartika, saat dia keluar dari pemandian lekuk tubuhnya menjadi santapan para lelaki yang merupakan pengunjung pemandian tersebut, Hal tersebut membuat gerah para pasangan perempuanya, karena para suami atau pacar mereka melongok kearah Kartika.
Melihat Istrinya menjadi objek mata para lelaki do pemandian tersebut, Wahyu segera menutupi tubuh Kartika dengan handuk, mereka segera mandi bilas dan segera meninggalkan pemandian tersebut, akan tetapi kartika ngambek karena dia sepertinya kangen banget dengan mandi dipatemon tersebut.
"Mas aku kan belum mau pulang, aku masih mau berenang disana mas!" Rajuk Kartika kepada suaminya, akan tetapi dengan alasan hamil muda dan saran dokter agar tidak terlalu capek, membuat Kartika luluh juga untuk pulang bersama Wahyu.
Keesokan harinya Wahyu pamitan sama ayah dan ibu mertuanya, masih tergiang jelas petuah yang diberikan oleh ayah mertuanya terkait dengan kehamilan istrinya, dan juga menjawab kerisauhan dari Wahyu, mengapa aura yang dikeluarkan Kartika seperti penggoda, banyak laki laki yang tiba tiba datang Kartika dan mengatakan suka didepan anak istrinya, ini tidak satu pria akan tetapi banyak pria, saat itu setelah berenang di pemandian Patemon mereka mampir dulu disebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka.
"Wahyu, didalam perut istrimu adalah titisan Dewi Rengganis yang mempunyai kecantikan dan daya pikat yang sangat tinggi, jadi saat ini aura tersebut akan memamcar keistrimu, jadi jangan heran akan hal tersebut, lebih baik istrimu minta jangan keluar rumah terlebih dahulu, untuk.menghindari sesuatu yang tidak diinginkan." Pesan dari bapak mertuanya terngiang dikepala Wahyu, Istrinya yang hanya kena pancaran kecantikan saja seperti ini, bagaimana nanti kecantikan anaknya kelak.
Wahyu memandangi wanita cantik yang terlelap disampingnya, memandanginya dan tersenyum sendiri, wanita cantik, energik dan pintar, paket komplit yang dimiliki oleh Kartika, dan seorang anak yang akan lahir menambah kebahagian dalam keluarga kecilnya.
****
Kandungan Kartika sudah mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang telah ditentukan, hari tersebut merupakan hari yang cerah dan tidak ada keanehan apapun dalam proses kelahiran Dewi Rengganis, semua berjalan normal dan lancar, akan tetapi yang tidak diketahui oleh Wahyu, Gunung merapi bergejolak, ombak pantai selatan membesar, akan tetapi semua itu bukan menjadi soal bagi Wahyu, yang terpenting adalah kelahiran sang putri yang diberi nama Dewi Rengganis berjalan lancar dan sempurna.
Wahyu terpukau melihat wajah mungil anaknya yang benar benar cantik, dan tidak akan tega bahkan untuk mencubir gemas pipinya, Dewi Rengganis memang anak yang sangat menggemaskan sehingga para suster dan dokter tak henti hentinya memandangi bayi cantik tersebut.
"Menamaimu DewI Rengganis." Bayi Dewi Rengganis pun tersenyum seakan akan mengerti apa yang diucapkan oleh sang ayah.
Sementara di dalam Alas Purwa, Suropati juga telah mengakhiri masa tapa bratanya. "Xixixizixi..Suropati tapa bratamu sudah selesai, dan ingat untuk membunuh Dewi Rengganis usahakan dia kamu bunuh sebelum berumur 15 tahun, karena saat usianya belum mencapai 15 tahun kekuatanya belum sempurna, dan ingat.aku butuh darahnya untuk mrnyempurnakan kecantikanku hahahahahaha." Suara Nyai Sabrang Ireng sudah berlalu, dan Suropatipun berdiri dari tapa bratanya.
Babak kehidupan Dewi Reng
Dewi Rengganis tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik nan rupawan kecantikanya sudah terpancar walau umurnya masih lima tahun, gadis kecil dengan rambut hitam agak kecoklatan, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan pada umur 5 tahun Dewi Rengganis juga di karuniai mempunyai adik lelaki yang juga sangat tampan yang di beri nama Arya Prambudi, kehidupan Wahyu dan Kartika pun berubah drastis setelah kelahiran Dewi Rengganis, Wahyu awalnya dipercaya hanya sebagai General Manager dan tepat pada tahun kelima umur Dewi Rengganis, Wahyu di angkat sebagai Direktur operasional, sehingga secara keuangan mereka sudah sangat tercukupi.
"Tuan, apakah tuan yang mempunyai mempunyai rumah itu?" Tanya seorang perempuan tua bertanya kepada Wahyu yang barusan selesai jogging mengitari kompleks perumahan elit tersebut dan akan memasuki rumahnya, "Ohh..iya bu benar..ada apa ya bu?" Tanya Wahyu keheranan karena seorang ibu yang sedari tadi memandangi rumahmu.
"Tuan, memiliki seorang anak perempuan yang cantik kan? tapi saya hanya ingatkan, bahwa anak tersebutlah pembawa petaka (sengkolo) kematian (pati), saya berharap tuan berhati hati kepada anak tersebut, karena dia yang akan menjadi penyebab kematian atas istrimu." Ujar wanita tua tersebut dan langsung berlalu. Wahyu yang masih tertegun dengan perkataan wanita tua tersebut tidak menyadari bahwa wanita tua tersebut telah berlalu, Wahyu mencoba mencari keberadaan dari wanita tua tersebut tidak mendapatkan apapun, Wahyu pun langsung menutup pintu gerbang dan masuk kedalam rumah, perkataan dari wanita tua tersebut masih saja terngiang ngiang ditelinganya.
3 hari kemudian dimalam jumat legi persis jam 10.00 WIB semua sudah tertidur, saat malam merayap dan tepat di jam.01.30 WIB tiba tiba sebuah sinar merah masuk menerobos kedalam wahyu dan masuk kedalam tubuh kartika, tubuh kartika sudah dimasuki oleh teluh yang di kirimkan oleh suropati, bahkan suropati dengan ilmu mencolo putro dan mencolo putri telah mendatangi wahyu dan memberikan fitnah bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa malapetaka, dan permainan suropati telah dimulai, yang diinginkan suropati adalah kematian dari Dewi Rengganis yang diakibatkan oleh keluarganya sendiri, dan akan dimulai dengan membunuh kartika dan membuat wahyu akan percaya bahwa Dewi Rengganis adalah anak pembawa sial yang seharusnya di habisi dari dulu.
Suropati pun nampat tersenyum, teluh yang dikirmkan ketubuh kartika telah berhasil, karena saat ini kekuatan Dewi Rengganis hanya bisa melindungi dirinya sendiri, dan baru nanti di berumur 7 tahun barulah kekuatanya akan muncul dan bisa digunakan, dan saat dia umur 15 tahun sepenuhnya kekuatan dari Dewi Rengganis.
Suropati kembali membaca mantra untuk memanggil Dewi Sabrang Ireng, dan setelah dia selesai membaca semua mantra tiba tiba angin berhembus sangat kencang dan membuka pintu pesanggrahan dari Ki Suropati, munculah sosok wanita cantik yang mendekati Suropati sosok tersebut lama kelamaan semakin jelas wujudnya, seorang wanita cantik dengan tubub bagian atas seperti manusia biasa dan bagian bawah adalah tubuh seekor ular, tubuh ularnya merayap dengan cepat dan mengarah ke arah Suropati, suropatipun langsung naik kearah tempat tidur yang telah disiapkan, ada yng aneh dengan tubuhnya, yang awalnya keriput karena sosok suropati sudah kepala lima, tiba tiba tubuhnya berubah menjadi tubuh lelaki yang berumur 25 tahunan, wajah Ki Suropati pun nampak muda, pintu.pesanggrahan pun otimatis tertutup manakala ekor dari dewi Sabrang Ireng telah masuk.
Sosok ular terseebut merayap kearah tempat tidur Ki Suropati dan terjadilah ritual persekutuan tesebut, tubuh Ki Suropati bergumul dengan seokor ular sanca kembang yang sangat besar sekali, pergumulan terjadi sampai dengan menjelang subuh, tubuh Dewi Sabrang Ireng pun hilang seketika ketika pergumulan selesai. Tubuh Ki Suropati pun berubah kembali menjadi tubuh lelaki kurus dan kumal, nafasnya tersengal sengal seperti seoramg yang habis lari jarak jauh. tapi dia mendapatkan apa yang di inginkan. yaitu keris Nogo Sengolo, keris yang paling diinginkan oleh para dukun, karena keris ini mempunyai kemampuan dalam santet yang amat sakti.
"Dewi.... Bangun kamu, sudah siang begini masih saja tidur, ayo bangun." Teriak kartika yang penuh emosi membangunkan Dewi yang masih berselimut dan memeluk guling. melihat anaknya yang masih tiduran amarah kartika tidak terbendung, dia memukul pantat dewi dengan gagang sapu sehingga Dewi bangun dan langsung menangis,.dewi lari dan menangis mencari Wahyu yang kebingungan karena pagi pagi sudah mendengarkan keributan antara anak dan istrinya.
"Sayang kamu kenapa kok marah marah, ini juga masih jam 04.30, sudah sewajarnya Dewi tertidur biasanya kau bangunkan pas setelah kau sholat shubuh, dan menyuru Dewi Sholat Shubuh, tapi sekarang kamu sendiri belum sholat tapi kenapa kau sudah marah marah." Ujar Wahyu yang habis mengambil. wudhu dan tanpa sengaja menyipratkan air wudhu kemuka Kartika istrinya.
Kartika yang wajahnya terciprati air wudhu tersentak kaget dan mendapati dirinya sedang memegang gagang sapu, dan juga melihat anakanya Dewi Rengganis duduk di pojok dengan ekspresi ketakutan, Kartika langsung membuang sapu yanh dipegangnya dan langsung lari mendekap Dewi yang menangis sesenggukan, Dewi yang melihat mamanya lari kearahnya membuat dirinya tanpa sengaja menolaknya dan membuat mamanya terjatuh dan membentur meja yang ada didekatnya.
Melihat mamanya terjatuh dan berdarah membuat Dewi menjerit dan mendekati mamanya yang tergeletak pingsan, mendengar jeritan Dewi Rengganis, Wahyu yang baru selesai sholatpun langsung terperanjat dan lari menuju istrinya, melihat istrinya bersimbah darah, Wahyu tanpa sadar langsung menyingkirkan tangan Dewi dari tubuh mamanya, "Menyingkirlah anak pembawa sial, jangan kau sentuh mamamu, atau aku akan membuat menyesal." Dalam keadaan panik seperti ity Wahyu tidak lagi dapat mengontrol emosinya, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. "Dewi, kau tetap dirumah dan jaga adikmu, kalau samapi ada sesuaty dengan mamamu, papa tidak akan pernah mau memaafkanmu!" Ujar Wahyu sambil membanting pintu dan segera memasukan istriya kedalam mobil.
Dalam perjalanan, kartika pun siuaman tapi kondisinya sangat lemah, sehingga suara lirihnya tidak dapat bisa didengarkan oleh suaminya, Wahyu yang panik pun terus mengebut kearah rumah sakit terdekat, dan setelah sampai keadaan Kartika telah kritis, sebenarnya luka dikepala Kartika seharusnya tidak menimbulkan kematian akan tetapi ada kekuatan lain yang memang mengingingkan kemaatianya. Dan setelah beberapa saat para dokter mencoba akan tetapi nyawa dari Kartika tidak dapat diselamatkan membuat Wahyu duduk terkulai dan hanya menangis, dia mengabarkan kematian istrinya yang sangat mendadak kedua mertua dan orang tuanya, semua terkejut mendengar kabar tersebut.
"Anak pembawa sial, kau akan menerima semua pembalasanku, kau.." Pikiran Wahyu telah diracuni oleh perkataan dari Ki Suropati yanng saat itu menyamar.
__ADS_1