LEGENDA PEDANG LANGIT

LEGENDA PEDANG LANGIT
Kitab Pedang Langit _ Jurus Segel Nirwana


__ADS_3

Yin He menyadari bahwa sosok Jingmi yang sekarang berada di hadapanya, bukanlah sosok sebenarnya, melainkan sosok dari penjaga kitab pusaka pedang langit. Yin He langsung mengepalkan kedua tanganya, dia fokuskan kedua tanganya menjadi sebuah pedang, dengan meloncat ke arah sosok Jingmi, Yin He menyerang dengan kecepatan penuh, dengan sigap sosok Yingmi juga mengelak serangan Yin He, dan mengeluarkan seluruh cakram yang dipunyai, ribuan cakram tersebut menyerang Yin He dengan kecepatan cahaya. Yin He terus menghindar dan menyabetkan tanganya, kekuatan sabetan tanganya langsung membuat semua cakram milik sosok menyerupai Jingmi langsung menjadi abu.


“Kuncinya aku tidak boleh meragukan apapun, hatiku harus teguh.” Gumam Yin He dalam hati kecilnya. Dengan cekatan Yin He menebaskan tanganya kesegala arah, termasuk ke arah tubuh sesosok Jingmi, sosok tubuh Jingmi pun terpotong dan membuat semuanya kembali normal seperti semula.


Setelah semuanya berakhir Yin He hanya tertunduk dan menyadari satu hal, “Aku tidak boleh jatuh cinta sebelum aku bisa melindungunya.” Ujar Yin He.


Tubuh Yin He sekarang diselubungi oleh aura emas yang pekat, aura ini bersatu dengan aura naga yang Yin He miliki, sekarang Yin He merasakan aura naga tidak hanya untuk menekan seseorang, akan tetapi bisa membunuh dalam jarak jauh dengan jangkauan yang terlihat oleh mata.


Yin He tersenyum, dia sekarang menyadari apa itu arti sebuah keteguhan dan kepercayaan pada dirinya sendiri, sekarang jurus ketiga dari kitab pedang langit pun melintas dalam fikiranya, akan tetapi Yin He sangat terkejut, karena pada jurus ketiga tidak ada contoh gerakan apapun hanya kosong tidak seperti Jurus Segel Kematian dan Jurus Segel Langit, sedangkan untuk Jurus yang ketiga hanyalah berisih sebuah syair yang terkadang mengalir dalam fikiranya, “Apakah aku harus mengartikan syair - syair ini dulu, baru aku bisa mengerti jurus pedang Segel Nirwana?" Bathin Yin He bergejolak dan gelisah, karena jurus ketiga ini benar benar kosong, tidak ada gerakan apapun, Yin He terus termenung dan diam, mencerna setiap bait yang berada dalam jurus ketiga tersebut.


Mereguk malam untuk membiaskan sebuah luka


Luka dan dari rangkaian sebuah kata


Hanya sebuah kata tapi membuat lara


Lara , sakit dan membunuh rasa


Wahai jiwa kelam yang berkelana


Sibaklah tirai dalam kelam malam sang dara


Yang membara menanggung segala asa dan rasa


Hanya sebuah kata, tapi membunuh jiwa


Beberapa kali Yin He mencoba mengartikan makna perbait atas syair yang terus terulang ulang dalam fikiranya,  semakin ia mencoba ingin mengerti maka semakin pula dia tidak mengerti.


Hal ini membuat Yin He gelisah, dalam kegelisahanya dia mencoba mencari dengan berjalan masuk kedalam hutan Kaldera Mong, hutan yang sangat gelap akan tetapi merupakan syurga bagi para alkemis, karena di hutan kaldera mong ini, sumber daya yang sangat melimpah, dari mustika, tanaman bahkan dari hewan di kaldera mong mengandung bahan yang bagus kesehatan atau peningkatan kultivasi pendekar.


“Sebenarnya apa makna yang terkandung dalam syair tersebut? Hanya sebuah kata tapi membuat lara, Hanya sebuah kata tapi membunuh jiwa, aku yakin dua kata itu adalah sebuah petunjuk dan juga sebuah kata inti yang harus aku jelaskan maknanya sendiri.” Yin He terus berjalan, dan menyusuri hutan yang lebat nan gelap.

__ADS_1


"Mereguk malam untuk membiaskan sebuah luka"


“Malam bisa menjadi sebuah kiasan dari sebuah masalah ataupun sebuah hati yang kelam, mereguk berarti bisa memiliki, meminum atau memeluk, untuk membiaskan luka, berarti aku harus mengetahui akar permasalahan dan juga mengerti tentang hatinya agar aku bisa mengerti mengapa “dia” menjadi seperti itu.”


“Karena malam dan hati, maka dalam gerakan  pedang ini adalah yang dituju adalah sasaranya mengacaukan fikiran dan juga menggetarkan atau melehmahkan hati lawan.” Yin He kemudia mencoba mengerakan tangan dan kakinya seranganya difokuskan untuk mengecoh lawan dengan membuat kacau perhatianya dan juga menyerang secara mentalnya.


"Luka dan dari rangkaian sebuah kata


Hanya sebuah kata tapi membuat lara


Lara , sakit dan membunuh rasa"


Yin He tersenyum, karena hanya sebuah kata yang bisa membuat luka, yaitu sebuah Mantra, atau juga sebuah intimidasi , tekanan/ancaman lewat kata, tapi kalau di aplikasikan pada sebuah jurus bukan itu, akan tetapi lebih sebuah segel mantra, Yin He pun tersenyum kemudian fokus dan membaca lanjutan syair dari jurus segel nirwana yang sudah diruba formasinya.


Jiwa kelam yang berkelana


Dalam kelam malam sang dara


Sebuah kata tapi membunuh jiwa


Tiba tiba tubuh Yin He melayang keudara, tubuhnya bergetar, membuat resonasi pada alam disekitarnya , membuat pohon pohon dan juga seluruh hewan yang ada di kaldera mong ikut bergetar saking dahsyatnya resonasi yang dihasilkan oleh tubuh Yin He.


Yin He bergerak,sangat cepat, seperti mengendalikan waktu, dia bisa berada disi pohon yang satu dan lainya dalam kecepatan hanya sepersekian detik.


“Ini benar benar ajaib, aku sudah menguasainya di tahab pemula, aku harus naik level ke sesudahnya dan juga secepatnya mendapatkan pedang langit tersebut.


Sementara itu dipondok kakek Huang, Jingmi telah mecapai tahab akhir pembentukan tulang, sesuai dengan janji kakek Huang, bahwa dia kan menurunkan ilmunya Ilmu Pedang Phoeninx biru. Kakek Huang memberikan sebuah kitab dan juga sebuah pedang dengan gagang sebuah kepala burung Phoenix.


“Pedang ini adalah Pedang Phoenix Biru miliku, pedang ini juga telah menemaniku selama puluhan tahun,  tenang saja walaupun pedang ini adalah pedang  pusakan bumi, akan ettapi energi dan ketajaman dari pednag ini jangan kau khawatirkan. Spirit atas pedang iini adalah seekor phoenix usia 500 tahun,  “Pertama tama kau harus menundukan pedang ini, tunjukan bahwa kamu mmang pantas untuk menggunakanya, dan ini adalah kitab phoenix biru.” Jingmi menerima pedang  dan kitab dari jurus pedang phoenix biru tersebut.


Jingmi langsung berlatih jurus pedang phoenix biru dibawah bimbingan langsung kakek Huang, sebelumnya  Jingmi telah menundukan pedang phoenix biru, dan juga telah bersatu dengan spirit pedang tersebut.

__ADS_1


Jurus jurus dari phoenix biru sangat mengagumkan, Jingmi melakukanya dengan sangat sempurna, gerakan dan kecepatanya  sangat berirama, sehingga seolah oleh Jingmi seperti burung phoenix yang sedang mnari.


Sedangkan Xiao Zhao telah bisa menguasai jurus dari kitab yang diberikan oleh Yin He, dengan mengalirkan energi jurus tersebut pada pedang darah membuat efek yang ditimbulkan sangat dahsyat, setelah beberapa kali mencoba kini ini benar benar telah berhasil menguasainya, beberapa singa hutan menjadi object untuk latihanya. Jurus syair perebut jiwa telah menyatu dalam diri Xiao Zhao.


Sedangkan Xiao Zhuang telah mengusai salah satu formasi spiritual yaitu formasi pedang ilusi, dengan formasi ini, Xiao Zhuang dapat menbuat sebuah ilusi tentang pedang yang diharapan, dengan kekuatan  yang sama dengan pedang yang asli, beberapa kali Xiao Zhuang merubah pedang singa emas menjadi pedang darah, pedang matahari maupun pedang rembulan.


Hasilnya sangat dahsyat, kekuatan dari  pedang tersebut sama seperti kekuaatan aslinya, akan tetapi juga dipengaruhi oleh kekuatan pedang asal dari pedang yang dipakai sebagai pedang ilusi dan juga hawa murni dari pengguna pedang ilusi itu sendiri.


Begitupun juga Xiao Yan, juga telah mencapai tingkat akhir dari jurus Amukan Badai, jurus inilah, walau hanya di tinggat master saat itu, Xiao Yan dapat membunuh orang – orang dari Kaldean.


*** ***  ***


Han Bing , dan ketiga Wei bersaudara mengawal rombongan putri bangsawan Mu Fang yang bernama Mu Liao Yi, Seorang pengawal  Mu Liao Yi mendekati Han Bing “Tuan,  Tuan  putri mengajak kita cari tempat beristirahat terlebih ddahulu, hampir seharian kita berjalan hanya beristirahat hanya sekali.” Ujar pengawal tersebut, Han Bing yang mengawal rombongan pun mengangguk, dengan mengangkat tanganya, seluruh rombongan yang ada dibelakangnya langsung berhenti,  Han Bing berbalik kearah rombongan dan berkata. “Kita beristirahat dulu, tetap jaga kewaspadaan terhadap bahaya sekecil apapun.”


Putri Mu Liao Yi  menghampiri Han Bing dan ketiga Wei bersaudara. “Paman kira kira kita akan sampai disana berapa lama?”


“kalau tidak ada halangan apapun, kita kesana akan tiba pada minggu keempat tuan putri, saya harap tuan putri bersabar, perjalanan kita masih panjang.” Ujar Han Bing.


Hanzu yang dari awal merasakamn ada seseuatu yang tidak beres, saat melihat sebuah  pisau terbang akan menyerang Mu Liao Yi, dengan cepat menangkisnya dengan  sebuah gelang pemberian Yin He.


Ryuza dengan cepat melemparkan jarum beracun ditanganya dan tanpa menunggu lama,  tujuh orang berjatuhan tepat di samping meraka.  Seluruh rombongan oleh Han  Bing disuruh  merapat karena  firasatnya mengatakan tidak lama lagi mereka akan dikepung, Han Bing  menyuruh ketiga Wei berjaga di tiga mata angin yang berbeda bersama beberapa pengawal, Han Bing akan tetap berjaga jaga didepan.


Dan benar saja, puluhan orang berkain hitam  mengepung mereka, tanpa sebuah perundingan mereka langsung menyerang rombongan Han Bing, dengan cekatan pedang kembar milik Han  Bing langsung beraksi, dengan kecepatan yang luar biasa Han Bing dengan cepat mengalahkan para perampok yang berada di depannya. Sedangkan di sisi mata angin yang lain juga, ketiga Wei juga tidak kalah cepatnya membereskan para perampok tersebut.


Baru berhenti beberapa saat, tiba tiba tiga lelaki dengan tubuh yang gempal hadir dihadapan Han Bing, dengan cepat ketig Wei langsung ambil bagian menyerang ketiga lelaki tersebut. Mu Liao Yi mendekati Han Bing. “Paman kenapa kau membiarkan mereka menghadapinya? Sepertinya ketiga lelaki itu sudah mencapai level jendral petarung emas.”


“Tenang tuan putri, nanti juga tuan putri akan tahu kemampuan ketiganya, atau jangan jangan tuan putri telah jatuh hati kepada salah satu diantara mereka.” Han Bing menggoda Mu Liao Yi yang menghawatirkan ketiga Wei bersaudara, nampak pipi Mu Liao Yi bersemu merah, dia hanya tersenyum membalas candaan dari Han Bing.


Tak selang beberapa lama, Hanzu dengan gelang gelang apinya telah membakar musuhnya menjadi abu tak bersisa. Sedangkan Yanzu juga sudah menghacurkan musuhnya dengan esnya dan tubuh perampok itupun pecah berkeping keping.


Sedangkan Ryuza lebih cepat dari kedua kakaknya, musuhnya sudah meleleh tubuhnya terkena racun dari jarumnya, Mu Lioa Yi tidak tahan dengan apa yang terjadi dengan perampok yang tubuhnya meleleh tersebut.

__ADS_1


“Jadi tuan putri memilih yang mana?” Mu Liao Yi yang mendengar pertanyaan Han Bing langsung menuju kereta kudanya, sedangkan ketiga Wei hanya bengong melihat tingkah Mu Liao Yi yang bersemu merah saat ditanya hal tersebut oleh Han Bing


__ADS_2