
Usai orientasi untuk mahasiswa baru, sekarang para mahasiswa pun mulai mengikuti perkuliahan. Lantaran kuliah di luar negeri, sehingga bahasa pengantar untuk setiap mata kuliah adalah dengan menggunakan Bahasa Inggris. Ini pun menjadi kesempatan pertama untuk Mira mengikuti pembelajaran dengan Bahasa Inggris penuh.
Untung saja, Mira juga paham dengan Bahasa Inggris sehingga penjelasan dari dosen bisa dia dengarkan baik-baik. Selain itu, dia mempelajari terlebih dahulu slide presentasi yang sudah dibagi sejak beberapa jam sebelum kelas dimulai. Walau masih terhitung baru, tapi kuliah berjalan normal dan padat. Baru pertemuan pertama saja Dosen sudah memberikan Quiz yang harus dikerjakan semua masalah.
"Quiz ini hanya sebatas untuk mengetahui pemahaman kalian tentang bisnis," ucap sang Dosen.
"Yes, Mister," balas seluruh mahasiswa dan mahasiswi dengan serempak.
Tampak Elkan bertanya kepada Mira perlahan. "Bisa?" tanyanya.
Mira pun menganggukkan kepala secara samar. "Bisa," balas Mira dengan sangat yakin.
Walau orang tuanya bukan pebisnis kelas kakap seperti mertuanya. Akan tetapi, Mira cukup paham dengan dunia bisnis. Mira hanya cukup untuk menuliskan pandangannya saja. Lagipula, pandangan itu bersifat relatif, yang penting berusaha mengerjakannya sendiri, bagi Mira itu adalah hal yang baik.
Mendengarkan bahwa Mira bisa menjawab, Elkan merasa lega. Mungkin memang Mira sudah pintar, jadi bisa menjawab. Untuk kemampuan berbahasa Inggris, Elkan juga tidak ragu semua itu terbukti dengan skors TOEFL dan TOEIC yang dikuasai oleh Mira.
Akhirnya kuliah selama 120 menit berlalu. Mira merasa lega sekarang, berarti dia bisa pulang dulu. Sebab, hari ini hanya ada satu mata kuliah. Selain itu, Mira merasa lega karena dia satu kelas dengan Rosaline. Memang semalam, dalam hatinya Mira berharap jikalau bisa memang tidak usah satu kelas dengan Rosaline.
"Pulang ke unit, Kak," ajak Mira kepada Elkan.
"Tidak ingin makan dulu? Kemarin kita hanya makan mie instan. Cobain ke kafetaria di kampus yuk?" ajak Elkan.
Ya, kemarin keduanya hanya memakan mie instan goreng saja. Malam, usai bercinta dengan atmosfer yang sangat dahsyat, keduanya memilih mandi bersama dan setelahnya tidur. Tidak sempat untuk makan malam lagi.
"Ya, sudah yuk ... lihat juga makanan di kafetaria. Kalau lebih murah dan harganya murah, lebih worth it," balas Mira.
Akhirnya keduanya keluar dari ruangan kelas dan menuju ke kafetaria. Kadang beberapa mahasiswa di sana menatap keduanya. Namun, Elkan dan Mira memilih bersikap biasa aja. Tidak akan terlalu mencolok, menjaga juga. Walau memang diperbolehkan menikah ketika sudah menjadi mahasiswa. Lebih-lebih, di sana tidak memperhatikan status pernikahan. Sebab, banyak juga yang hanya sekadar pacaran, tapi tinggal bersama. Atau yang Friends with benefits. Bahkan kaum pelangi juga diterima di Australia. Sehingga, Mira dan Elkan lebih bersikap santai saja.
Begitu sudah di kafetaria, Elkan dan Mira memilih memesan Bento dengan Salmon yang sudah di torch. Selain itu, Mira memesan Lemon tea untuk mereka berdua. Ketika Mira hendak mengeluarkan uangnya, Elkan sudah mengeluarkan uangnya terlebih dahulu dan membayar semuanya.
"Sudah, ayo makan," ucap Elkan.
"Yah, padahal ... aku mau bayarin," balas Mira.
__ADS_1
Pria itu hanya tersenyum. Sekarang keduanya duduk berhadap-hadapan dan menikmati makanan yang mereka pesan. Terlihat Elkan begitu lahap memakan makanannya. Begitu lapar karena semalam tidak makan. Hanya makan Ind*mie saja sore harinya.
"Laper banget, Kak?" tanya Mira kepada Elkan.
"Iya, laper banget. Mana semalam habis olahraga. Sekarang, laper banget deh," balas Elkan.
"Mau nambah? Aku beliin," tawar Mira kepada suaminya itu.
"Boleh deh, Bento lagi aja, Honey. I am so hungry," ucapnya.
Mira tersenyum. Dia berdiri dan membeli Bento lagi sesuai yang diinginkan Elkan. Setelahnya, dia memberikannya kepada Elkan, dengan membuka kemasannya.
"Makan pelan-pelan, Kak ... kalau masih lapar, aku beliin lagi," balas Mira.
"Duh, harusnya aku yang nafkahin kamu loh. Malahan kamu yang beliin aku makan," balas Elkan.
"Sudah tidak apa-apa. Kita bisa take and give kan Kak? Memberi dan menerima. Jadi, gantian saja tidak apa-apa," balas Mira.
Keduanya menikmati makanan mereka berdua hingga Elkan sudah menghabiskan Bento yang pertama dan kemudian memakan Bento kedua yang tadi dibelikan Mira. Terlihat sangat lahap ketika memakannya.
"Kayak makan Bento di Indonesia, Honey. Kangen," ucap Elkan.
"Beda, di nasinya ya Kak ... kalau di Indonesia nasinya lebih pulen dan harum," balas Mira.
"Benar banget. Hanya saja, untuk ukuran Bento di Sydney dan di kantin kuliah yah ini enak," balas Elkan.
Mira kemudian terkekeh perlahan. "Di sini ada Mie Ayam dan Bakso enggak ya Kak?" tanya Mira kemudian.
"Kenapa kamu pengen? Bikin berdua aja kalau libur nanti," balasnya.
"Oke deh, bikin berdua aja nanti," balas Mira.
Baru saja makanan mereka hampir habis, tiba-tiba ada yang duduk di samping Elkan dan memberikan senyuman kepada Elkan.
__ADS_1
"Hei, El ... kita bertemu lagi," sapa gadis cantik yang tak lain adalah Rosaline.
Seketika Mira menjadi badmood. Namun, sekarang dia tidak mau pergi. Sebab, dia yang lebih berhak atas Elkan. Dia istrinya.
"Aku melihatmu dari jauh, jadi aku ke sini. Ingin makan bersamamu," ucap Rosaline.
Sementara Elkan diam saja. Namun, Elkan mengamati Mira yang duduk di hadapannya. Elkan sudah mengantisipasi jika nanti Mira marah dan pergi. Bagaimana pun, dia akan belajar dari peristiwa kemarin.
"Sorry, Rosa ... aku sudah selesai makan dan usai ini, aku akan pulang," balas Elkan.
"Please, temenin aku makan, El. Kamu tahu kan, aku belum punya teman di sini. Makan sendiri terlihat menyedihkan bukan?" tanya Rosaline. Gadis itu sudah menunjukkan wajah mengiba sekarang.
"Kamu pulang duluan saja, Kak ... biar aku yang temenin dia," sahut Mira.
Menurut Mira, lebih baik Elkan pergi dan Rosaline tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Elkan. Lebih baik, dia yang menemani Rosaline saja. Elkan menganggukkan kepala. Lebih baik menuruti perkataan istri, daripada jatah batin bisa berhenti berminggu-minggu nanti.
"No, aku gak mau sama kamu. Kamu bukan temanku. Temanku adalah Elkan," balas Rosaline dengan menatap tajam kepada Mira.
"Duduk dan makan, atau aku juga pernah," balas Mira yang sekarang terlihat galak.
"Pergi saja, aku tidak butuh kamu," balas Rosaline.
Merasa itikadnya tidak diterima baik dan sekarang disuruh pergi, Mira berdiri. Dia menatap suaminya dan berkata, "Ayo, Kak ... cabut aja sekarang."
Elkan pun berdiri. Ketika Elkan hendak pergi, tangan Rosaline menghentikan Elkan dengan memegang tangan pria itu. "Please, El ... temani aku," pintanya dan sekarang kembali mengiba.
"I am sorry, Line. Aku tidak bisa." Elkan melepaskan tangan Rosaline di pergelangan tangannya, kemudian Elkan memilih untuk pergi.
Sebab, jika ada yang harus dia pilih dan prioritaskan tentu adalah Mira, istrinya. Tidak akan memberi celah untuk juga Rosaline atau siapa pun. Elkan menatap punggung Mira yang berjalan di depannya, dan tersenyum perlahan.
"Kamu cemburu, tapi bagiku ini lebih baik daripada kamu pergi begitu saja dan diem seperti kemarin."
Elkan sedikit mempercepat langkah kakinya dan mensejajarkan dengan Mira. Berjalan di sisi Mira. Di sepanjang jalan kehidupannya yang dia tempuh, dia ingin selalu ada Mira yang akan menjadi teman hidupnya untuk melintasi sepanjang jalan bersama.
__ADS_1