
Selang sepekan berlalu, Elkan ternyata kembali dipertemukan dengan Bagas. Bukan lagi di pinggir jalan kala membeli bubur. Akan tetapi, sekarang bertemu di depan salah satu gerai Coffee Bay.
"Ketemu lagi sama loe, El," sapa Bagas ketika Elkan baru saja turun dari mobilnya.
Bukannya mendendam, tapi Elkan merasa kurang senang setiap kali bertemu dengan Bagas. Teringat bagaimana dulu, teman SMAnya itu berusaha melecehkan Mira. Kejadian di belakang sekolah masih Elkan ingat. Bagaimana Mira menangis, dan untunglah Elkan berhasil menyelamatkan Mira sehingga Bagas tidak berhasil untuk mencium Mira.
Sekarang ketika kembali diperhadapkan rasanya Elkan teringat dengan kenangan sewaktu SMA dulu. Ada rasa kesal begitu saja. Akan tetapi, Elkan berusaha untuk mengesampingkan masa lalu.
"Ngapain, Gas?" tanya Elkan kepada teman SMA nya itu.
"Oh, gue mau buka gerai kopi di sini. Di depan Coffee Bay milik loe banget yah," kata Bagas dengan tersenyum culas.
Tidak menyangka rupanya Bagas membuka gerai kopi juga. Yang membuat menjengkelkan adalah gerai kopi itu didirikan di depan Coffee Bay. Hanya berbeda ruko saja. Seakan terjadi persaingan bisnis apple to apple antara Coffee Bay dengan gerai kopi baru milik Bagas nanti.
__ADS_1
"Sudah lama gurita bisnis kopi ini menjalar dan tentunya omset kalian sudah Milyaran Rupiah setiap bulannya. Kalau ada satu pesaing tidak masalah kan?"
Bagas berbicara seperti itu seakan-akan, siap menjadi rival bagi Coffee Bay. Siap mematahkan dominasi Coffee Bay di bisnis kopi selama bertahun-tahun. Toh, satu pesaing itu rasanya tak sebanding dengan Coffee Bay yang sudah mendominasi seakan lama.
"Oh, jadi ingin apple to apple. Jangan bilang, loe sebenarnya masih punya dendam dengan gue dan Mira yah, Gas?" tanya Elkan.
"Dendam? Hahahah, sudah lebih dari empat tahun, El. Sekarang yang gue mau bukan lagi menginginkan Mira, tapi menghancurkan keluarga kalian berdua," balas Bagas.
Telinga Elkan menjadi merah, emosinya naik. Kenapa Bagas kini mengincar untuk menghancurkan keluarganya? Setahu Elkan, Bagas tidak ada kaitannya sama sekali dengan keluarga Agastya atau Narawangsa. Bagaimana bisa orang yang tidak terkait, tapi bisa memiliki dendam kepada keluarganya?
Bagas tertawa dengan menggelengkan kepalanya. "Sejak awal, gue gak salah pilih lawan kok. Kalau dulu bisa mendekati Mira, yang pasti akan merusak citra si bintang sekolah itu. Sayangnya, loe datang dan merusak semua rencana gue. So, setelah empat tahun, sekarang giliran gue dong," balas Bagas.
Sekarang, barulah Elkan tahu niat busuk seorang Bagas. Bukan hanya dulu saja teman SMA nya itu busuk, setelah empat tahun berlalu, rupanya masih sama busuknya. Elkan sampai tidak habis pikir.
__ADS_1
"Coba hancurkan saja kalau loe bisa," balas Elkan.
"Wah, loe berani juga yah. Putra CEO kaya raya ini ternyata bernyali juga yah. Kayaknya sekarang persaingan kita terbuka, El," balas Bagas.
"Gak ada alasan untuk gak berani. Asalkan jujur, semua akan mengikuti, Gas. Loe jangan lupa, kalau loe berlaku curang. Walau awalnya loe serasa menang, padahal itu sebenarnya adalah awal dari kekalahan loe," kata Elkan.
Elkan sama sekali tidak gentar. Dia berkaca dari Mama dan Papanya yang benar-benar merintis karir di atas dasar kejujuran. Tidak takut dengan orang-orang yang berusaha culas dan menghancurkan mereka. Apa yang dibangun di atas dasar kejujuran pastilah menang, walau awalnya memang terseok-seok.
"Gak usah sepanik itu," kata Bagas.
"Gak sama sekali," balas Elkan.
Usai itu Bagas kemudian mengambil beberapa langkah di hadapan Elkan dan berkata. "Coba, loe bertanya kepada mertua loe, siapa Lista itu? Kenal enggak mereka dengan yang namanya Lista? Harusnya mertua loe kenal dengan yang namanya Lista, Nyokap gue."
__ADS_1
Elkan bertanya-tanya, siapa sebenarnya Lista itu? Apa hubungannya Lista dengan mertuanya? Setelah mencari tahu, pastilah Elkan akan mengerti apa keterkaitan semuanya dan kenapa Bagas bisa memiliki dendam terhadapnya. Pasti akan ada jawaban untuk semuanya ini.