Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Kejutan Dadakan


__ADS_3

Mulai liburan semester ini, Elkan dan Mira menyelesaikan untuk tugas Paper yang masih harus dikumpulkan dalam waktu satu minggu. Sehingga memang, sekarang keduanya lebih baik menyelesaikan papernya terlebih dahulu.


"Ada kendala enggak, Honey?" tanya Elkan kepada Mira.


"Aman, Kak. Kakak gimana, ada kendala enggak?" tanyanya.


Sekarang, Elkan menganggukkan kepalanya. "Sama. Aman juga dong. Baru menyusun bagian referensi aja," balas Elkan.


Mira pun tersenyum. "Semangat Kakak. Aku sudah ngirim baru aja," balasnya.


Elkan lantas melirik istrinya itu. "Tuh, kamu malahan udah ngirim duluan. Seru yah, masih jadi anak kuliahan, tapi udah nikah," balas Elkan.


"Kan kita jadi pengantin sejak SMA," balas Mira.


"Ah, iya ... kan kecil-kecil jadi manten. Masih unyu-unyu," balas Elkan.


Pasangan muda itu kemudian tertawa bersama. Terkadang juga candaan seperti ini yang membuat Mira terhapus sedihnya. Di mata Mira, sisi humoris Elkan ini justru mirip Papanya. Papa Abraham adalah pria yang sering membuat Mama Marsha tertawa.


Sosok pria yang begitu pandai untuk menghibur Mama Marsha. Bersama Papa Abraham, tangisan Mamanya pun bisa berubah menjadi tawa.


"Kalau kamu kocak gini, aku jadi kangen sama Papa deh," balas Mira.


"Aku mirip Papa Bram ya, Honey? Enggak mirip Papa Belva yah?" tanya Elkan kepada istrinya.


Dengan cepat Mira menggelengkan kepalanya. "Enggak, yang sangat mirip Papa Belva itu Kak Evan deh, Kak. Kalau Kakak enggak mirip. Kenapa malahan mirip Papaku yah?"


"Jangan-jangan kita anak yang tertukar, Honey," balas Elkan dengan tertawa terbahak-bahak.


Selalu ada saja, bahan candaan Elkan. Namun, itu juga yang membuat Mira sampai terkekeh geli. Setelahnya, Elkan kembali diam dan melanjutkan untuk menyelesaikan papernya. Kadang ada beban moral saja, istrinya sudah mengumpulkan terlebih dahulu, sementara dia masih mengerjakan.


Padahal memulai mengerjakan paper bersama-sama. Namun, yang selesai lebih dulu dan lebih cepat adalah Mira. Oleh karena itu, Elkan harus benar-benar menyelesaikannya supaya bisa liburan musim dingin dengan Mira.

__ADS_1


Namun, jeda beberapa menit, ada suara ketukan di unit apartemen mereka berdua. Mira pun bertanya kepada suaminya. Selama enam bulan di Australia, tidak pernah ada orang lain atau tamu yang datang ke tempat mereka.


"Siapa ya Kak?" tanya Mira kepada Elkan.


"Entahlah, Honey. Ya sudah, ayo kita buka bersama-sama," balas Elkan.


Pria itu menegakkan punggungnya terlebih dahulu dan mulai menemani Mira untuk membukakan pintu unitnya. Melihat siapa yang datang.


"Kejutan!"


Benar-benar tidak menyangka karena yang datang sekarang adalah Mama Marsha dan Papa Abraham, Mama Sara dan Papa Belva. Orang tua dan mertua yang tiba-tiba datang ke Sydney. Tentu saja melihat orang tua yang datang membuat Mira menangis seketika.


Ketika Mira menangis, para orang tua justru tertawa. Lucu melihat Mira yang menangis seperti anak kecil. Hingga akhirnya, Mama Marsha segera memeluk putrinya itu. Sangat rindu karena satu semester tidak bertemu.


"Sudah jangan menangis," ucap Mama Marsha.


Elkan juga memberi salam dan memeluk Mama Sara, Papa Belva, Papa Abraham, dan yang terakhir adalah Mama Marsha. Sementara sekarang, Mira masih menangis dipeluk Mama Sara. Elkan juga menaruh kursi dari meja makan yang ada empat dan dibawa di depat sofa. Unit mereka sangat kecil, sehingga kedatangan orang tua membuat unit itu serasa penuh.


"Paket apa, Ma?" tanya Mira dengan berusaha menghela napas dan terisak dalam tangis.


"Paket mie instan cita rasa Indonesia," balas Mama Marsha dengan tertawa.


"Kenapa datang dan tidak memberitahu terlebih dahulu?" tanya Mira sekarang.


Bagaimana pun di unitnya tidak ada camilan. Hanya ada minuman saja yang bisa Mira buat. Sehingga, memang sekarang hanya bisa membuatkan minuman saja.


"Kan memang rencananya mau buat surprise untuk kamu dan Elkan. Mumpung sudah musim liburan semester," ucap Mama Marsha.


"Benar, Ra ... mau liburan di Sydney. Melihat salju. Nanti kamu dan Elkan ikut kami yah, Papa menempati rumah milik rekan bisnisnya di Warrnambool, Victoria," ucap Mama Sara sekarang.


"Sampai menempati rumah, Mama dan Papa berapa lama di Australia?" tanya Mira.

__ADS_1


"Tiga pekan. Cukup untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak. Tahun ini, kami ke Sydney, tapi tahun depan Mama dan Papa akan ke Paris. Adikmu, Eiffel ingin kuliah di Paris. Jadi, ganti-gantian," balas Mama Sara lagi.


Rupanya memang sudah diatur. Itu semua karena adiknya Elkan, yaitu Eiffel akan mendaftar untuk kuliah di Paris, Perancis. Oleh karena itu, waktunya memang harus dibagi-bagi.


"Kalau kami ke Paris nanti, kan bisa ke London, nengokin Kakakmu. Sekalian kan. Cita-cita Mama dan Papa kan ingin keliling dunia. Nanti kalau anak-anak sudah bisa memegang bisnis, Papa dan Mama ingin mengasuh cucu dan keliling dunia. Menikmati masa tua," ucap Mama Sara.


"Pengen ke Paris juga, Ma," aku Mira.


Lagi, Mama Sara dan Papa Belva tertawa. "Kamu mau ikut boleh. Honeymoon sama Elkan sekalian," balas Papa Belva.


Setelahnya, Mira ke dapur dulu dan membuatkan minum untuk Mama dan Papanya semua. Kemudian, Mira dan Elkan duduk di lantai. Biarkan di sofa dan kursi untuk Mama dan Papa mereka.


"Betah tinggal di sini, Nak?" tanya Papa Abraham.


"Betah, Pa ... kan ada Kak Elkan. Rumahnya seorang istri kan di mana suaminya berada, di situ rumahnya," balas Mira.


Mendengar jawaban dari Mira, Papa Abraham sangat senang. Itu berarti anaknya sekarang sudah dewasa. Sudah tahu dan mengerti hakikat berumahtangga, bahwa istri akan ikut dengan suaminya. Mengabdi dan tunduk kepada suaminya.


"Anaknya Papa semakin dewasa," balas Papa Abraham.


"Walau Mira juga begitu kangen juga sih kepada Mama dan Papa. Bagaimana pun, jauh dari rumah itu membuat homesick. Untung Kak Elkan sabar dan suka bercandain," balas Mira.


"Itulah pasangan suami dan istri, Sayang. Saling mengisi satu sama lain. Pasangan suami dan istri itu seperti satu gelas kosong yang perlahan diisi air. Siapa yang mengisi gelas tersebut? Ya, hanya kalian berdua. Jadi, kalau mau rumah tangga berjalan langgeng dan harmonis, saling mengisi satu sama lain," nasihat dari Papa Abraham.


"Baik Papa, kami akan berusaha untuk mengisi satu sama lain," balas Mira.


Papa Belva juga tersenyum perlahan. Nasihat dari Papa Abraham memang baik. Sepenuhnya Papa Belva juga setuju bahwa kehidupan berumahtangga adalah tentang mengisi satu sama lain. Tanpa itu, mustahil rumah tangga bisa berjalan begitu langgeng.


"Kalau ketemu langsung dan memberikan nasihat untuk anak-anak lebih puas ya, Besan," ucap Papa Belva.


"Iya, tapi aku bangga walau masih muda anak-anak tahu hakikat berumahtangga. Benar, Mira. Di mana suamimu berada, di situlah rumahmu. Begitu juga dengan Elkan, jadikan istri sebagai satu-satunya tempatmu untuk pulang," ucap Papa Abraham.

__ADS_1


Jauh dari rumah dan sekarang dikunjungi orang tua dan mertua di saat yang bersamaan rasanya sangat menyenangkan. Selain itu, nasihat yang baik sangat berharga bagi Elkan dan Mira yang kurang asam garam kehidupan berumahtangga. Semoga anak-anak yang masih muda belia, bisa sama-sama menurunkan ego dan juga bisa memiliki kehidupan rumah tangga yang langgeng.


__ADS_2