Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Rumah Tangga Memang Banyak Bumbunya


__ADS_3

Evan tersadar dengan apa yang diucapkan Elkan barusan. Bahkan Evan juga sangat setuju bahwa rumah tangga memang memiliki bumbu. Tak jarang, pasangan rumah tangga bisa salah memasukkan bumbu ke dalam masakan. Namun, bukan berarti masakan itu gagal. Masakan yang salah bumbu masih bisa diperbaiki lagi. Masih bisa dimakan.


Masih menggenggam tangan Andin, Evan menatap Elkan dan Mira yang saling bergandengan tangan. Usai itu, barulah Evan berbicara kepada istrinya.


"Sudah puas memecah belah keluarga kami? Ku mohon, Sayang. Jangan menyamakan keluarga Agastya dan Sukmajaya. Kenali lebih dekat keluarga Agastya, rasakan kekeluargaan yang manis dari keluarga kami. Ku mohon, introspeksilah."


Usai mengatakan itu semua, Evan melepaskan tangan istrinya. Sepenuhnya, Evan hanya meminta istrinya itu untuk melakukan introspeksi. Jangan menyamakan keluarga Agastya dengan keluarga Sukmajaya. Jika keluarga Sukmajaya saling sikut, tidak begitu dengan keluarga Agastya. Kasih sayang lebih diutamakan.


Andin terisak-isak dalam tangisannya. Cemburunya terlalu berlebihan. Dia merasa bersalah jadinya. Lebih-lebih ketika semua orang sudah mengonfirmasi bahwa yang dirasakan Evan dan Mira hanya perasaan sayang antara kakak dan adik. Tidak lebih daripada itu.


"Maafkan aku, Mas," kata Andin sekarang.


Evan berbalik dan melihat Andin yang menangis. Kalau memaafkan tentu saja Evan akan memaafkan, tapi rasanya masih begitu sebal. Jujur saja, Evan merasa jika seperti ini Andin seperti anak kecil. Memang usianya dengan Andin selisih beberapa tahun. Evan sudah 28 tahun sekarang, sementara Andin baru 22 tahun. Selisih usia juga memengaruhi pola pikir.


"Aku kerja dulu dan tolong kamj introspeksi dulu. Pikirkan semua baik-baik. Sampai kapan pun, aku tetap sayang kepada Mira. Apa yang kuberikan untuk Eiffel, itu juga kuberikan untuk Mira. Dulu, kala aku membelikan Cappuccino untuk Eiffel, aku juga membelikan Cappuccino untuk Mira. Semua karena aku sayang mereka berdua sebagai adik. Tidak membeda-bedakan. Selain itu, Marvel, adiknya Mira juga sudah seperti adikku sendiri. Keluarga Narawangsa sudah seperti keluarga bagiku."


Panjang lebar Evan menjelaskan semuanya. Dalam pernikahannya, dia selalu menghormati keluarga Sukmajaya. Tingkah menyebalkan Papa mertuanya saja yang pernah mengatakan bahwa Evan hanya anak rahim sewaan, Evan tidak tersulut emosi berlebihan. Justru Evan mengakui bahwa dia memiliki dua orang Mama yang baik.


Mama Sara yang melahirkannya dan Mama Anin yang pernah merawatnya walau hanya sampai usia dua tahun saja. Sekarang, giliran Evan yang meminta pengertian Andin. Tidak ingin terpecah belah karena praduga yang sebenarnya tidak berdasar.

__ADS_1


"Maaf, Mas ... Mas, janji gak akan terpikat sama adik iparnya sendiri kan?" tanya Andin.


"Tidak akan. Kalau mau terpikat, aku sudah terpikat sejak Mira masih kecil," balas Evan.


Jawaban yang memang logis. Mira dari kecil dan bertumbuh menjadi remaja cantik, Evan melihat semua itu. Sehingga, memang jika Evan mau terpikat dengan Mira pastilah sudah sejak dulu.


"Jangan berpikir aneh-aneh seperti itu. Mira hanya adik untukku. Tidak ada istilah terpikat adik ipar. Hanya orang tidak waras yang melakukan hal seperti itu," balas Evan.


Andin akhirnya berdiri, dia benar-benar akan meminta maaf kepada suaminya. "Maafkan aku, Mas. Aku yang salah. Aku terlalu kekanak-kanakan," aku Andin.


Namun, Evan tidak marah. Ketika istrinya menyadari kesalahannya itu sudah cukup. Yah, mungkin kali ini bumbu dalam rumah tangganya sedang memiliki cita rasa pedas. Tidak masalah. Yang penting adalah bisa menikmati semuanya.


"Aku maafkan. Lain kali jangan cemburu buta seperti itu. Toh, perasaanku juga sudah jelas semuanya, yang aku cintai itu kamu. Sebagai pria yang tak pernah mengenal wanita, denganmu aku memutuskan untuk serius dan menikah. Apakah itu tidak cukup bukti kalau aku sangat mencintai kamu?"


"Yang dikatakan Elkan barusan benar. Banyak bumbu dalam rumah tangga. Seperti sebuah masakan, ada manis, asam, gurih, pedas, bahkan pahit. Namun, kita berdualah Koki Utamanya. Jangan menghancurkan masakan, tapi andai salah bumbu pun bisa diperbaiki lagi," kata Evan.


"Iya, Mas. Maaf," balas Andin. "Aku juga akan minta maaf kepada Mira," kata Andin kemudian.


Evan mengangguk. Dia setuju dan senang ketika istrinya juga mau meminta maaf kepada Mira. Salah sangka dalam keluarga, ipar dengan ipar memang sering terjadi. Akan tetapi, ketika berselisih bagaimana cara menyelesaikannya dengan cepat. Tidak memicu konflik yang berlebihan.

__ADS_1


"Mira sukanya apa?" tanya Andin kemudian.


"Dia itu seperti Eiffel. Suka Cappuccino, boneka Minnie, dan Drama Korea," balas Evan.


Evan tahu apa yang Mira suka karena kebetulan adiknya juga suka apa yang Mira suka. Bahkan dulu kala masih di Jakarta, Eiffel dan Mira sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk nonton Drakor. Tentu kala liburan, dan bisa nonton Drakor dengan puasa. Evan menjadi geli pernah melihat keduanya tertawa bersama dan usia itu menangis bersama. Ya, Eiffel sebelum sekolah ke Singapura memang banyak menghabiskan waktu dengan Mira. Sekarang, ketika Eiffel berada di Paris, pasti keduanya masih saling berhubungan dengan baik.


"Benar kenal Mira sejak lahir?" tanya Andin lagi.


"Iya, aku mengunjunginya dengan Mama dan Papa, kala Tante Marsha usai melahirkan Mira. Namun, yang sayang kepada Mira itu Elkan. Sejak kecil Elkan selalu sayang dan menjaga Mira dengan caranya sendiri. Elkan pernah salah paham dan mengira Mira jadian dengan Jerome, sepupu kami. Padahal itu tidak terjadi apa-apa. Alhasil, Elkan sampai sekolah di Singapura sampai lima tahun. Ketika Mira lolos mendapatkan beasiswa ke Sydney dan Papa Abraham khawatir dengan Mira, akhirnya mereka menikah kala masih SMA."


Andin mengernyitkan keningnya."Menikah di SMA?" tanya Andin.


"Iya, menikah di SMA. Lihatlah, keduanya yang sudah menikah dari SMA bisa kompak dan lebih dewasa. Kadang pernikahan dini memang mendewasakan pasangan."


Andin menganggukkan kepalanya. Dia tahu sekarang semua ceritanya. Selain itu, dia akan berusaha memahami keluarga suaminya. Mengakrabkan diri dengan Mira.


"Temenin aku minta maaf ke Mira dan Elkan ya Mas? Kira-kira apa mereka mau memaafkan aku?"


"Pasti dimaafkan. Elkan dan Mira walau masih muda, tapi mereka sangat dewasa. Tenang saja. Mau kapan?" tanya Evan.

__ADS_1


"Besok, besok kan akhir pekan. Temani ke rumah mereka yahhh," pinta Andin.


Evan pasti akan menemani istrinya itu datang ke rumah adiknya. Semoga memang ke depannya hubungan sesama ipar itu bisa berjalan dengan lebih baik. Tidak ada kesalahpahaman lagi.


__ADS_2