
Usai barbeque party bersama keluarga. Elkan dan Mira memasuki kamarnya. Dinginnya malam di Australia membuat dua sejoli tidur bersama bergelung selimut yang hangat. Saling memeluk satu sama lain.
"Tidur, Honey," ucap Elkan kepada istrinya itu.
"Hmm, iya, Kak. Sudah kenyang juga. Waktunya tidur," balasnya.
Akhirnya keduanya benar-benar terlelap karena usai mengunjungi desa maritim dan juga mengobrol bersama dengan keluarga. Sekarang saja sudah hampir tengah malam. Mira mendekat ke Elkan, dengan satu tangan yang melingkari pinggang suaminya. Tidur dengan memeluk suaminya.
Membiarkan malam membuai mereka dalam mimpi dan juga esok pagi mereka akan bangun untuk beraktivitas lagi. Menikmati sisa liburan bersama keluarga di Warrnamboll, Australia.
***
Keesokan harinya ...
Siang ini, seluruh orang memilih untuk makan siang bersama di halaman. Memang di halaman rumah yang mereka tempati penuh dengan tanaman hijau, sembari menikmati angin musim dingin. Suasana yang tentunya jarang mereka dapatkan di Jakarta.
"Makan yang banyak, Ra. Dihabiskan," ucap Mama Sara.
"Makannya Mira sudah banyak, Ma. Dari kemarin makan daging banyak banget. Untung sekarang menunya ikan," balasnya.
"Biar lebih sehat," balas Mama Sara.
Ketika sedang menikmati makan siang rupanya ada mobil yang tiba-tiba berhenti di depan rumah. Diikuti dengan derap langkah kaki dan juga suara koper yang didorong.
"Kelihatannya ada yang datang, Ma," kata Mira kepada Mamanya.
"Siapa yah yang datang? Kalau tamu juga pastinya akan masuk," balas Mama Sara.
__ADS_1
Hanya berselang beberapa detik sudah terdengar suara pemuda yang begitu familiar. "Kalian menikmati liburan tanpa aku?"
Seluruh atensi keluarga pun teralihkan kepada pemilik suara itu. Tentu saja, Mama Sara langsung berdiri dan menyambut sosok yang baru saja datang.
"Evan ... kamu datang ke sini?" tanya Mama Sara.
Begitu kaget melihat putra sulungnya datang dari London menuju ke Warrnamboll, Australia. Semula, Mama Sara dan Papa Belva mengira bahwa Evan akan menikmati liburan di London. Bagaimana pun, Evan juga menikmati liburan musim dingin. Mereka benar-benar tidak mengira jika Evan datang menyusul mereka ke Australia.
"Evan rindu Mama dan Papa," balasnya.
Sambutan berupa pelukan hangat dari Mama Sara dan Papa Belva. Begitu juga Mama Marsha dan Papa Abraham yang menyambut Evan.
"Sehat, Van?" tanya Papa Abraham sekarang.
"Sehat, Om. Cuma dingin saja. London justru sudah turun salju," balasnya.
"Di Australia belum, tapi sekarang saja sudah begitu dingin," balas Papa Abraham.
"Tentu, sangat bahagia, Kak," balas Elkan.
"Van, kalau sudah ada jodoh, bawa ke Mama dan Papa. Lihatlah adik kamu sudah bahagia hidup bersama istrinya. Kamu juga boleh kuliah sambil menikah," balas Mama Sara.
Akan tetapi, Evan menggelengkan kepalanya. "Belum sekarang, Ma. Kalau ketemu cewek yang seperti Mama, barulah Evan mau," balasnya.
Rupanya Evan memiliki kriteria tersendiri untuk calon pengantinnya nanti. Dia menginginkan sosok yang seperti Mamanya. Bagi Evan, sosok Mamanya adalah wanita yang baik, hangat, ramah, dan juga cantik tentunya. Oleh karena itu, Evan menginginkan sosok seperti Mamanya.
"Kamu setipe sama Papa, Kak," balas Elkan dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Evan tersenyum tipis. "Di hidup Evan, sosok wanita yang the best cuma Mama. Jadi, tidak ada salahnya anak laki-laki menginginkan pendamping yang seperti Mamanya sendiri," balas Evan.
Rupanya Evan memiliki pemikiran dan pandangan tersendiri. Memang tak salah, karena anak laki-laki mengenal sosok wanita yang hebat, penuh kasih, peduli, dan sosok pendamping untuk Papanya ada di dalam diri Mamanya. Untuk itu, Evan memang sejak dulu menginginkan sosok wanita yang seperti Mamanya sendiri.
"Jangan-jangan nanti Marvel kayak gitu, Ma. Seperti Evan, yang maunya seperti Mamanya," sahut Papa Abraham.
Mama Marsha tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala. "Bisa saja, Pa. Berarti Mira itu melihat sosok Papa dong di dalam diri Elkan?" tanya Mama Marsha kemudian.
"Katanya Kak El, justru dia mengakui anaknya Papa kok, Ma. Soalnya mirip ke Papa. Beda banget sama Papa Belva," balas Mira dengan tertawa.
Semua yang berada di sana pun juga tertawa mendengarkan ucapan Mira. "Kan, kalau udah menikah Elkan jadi anaknya Mama Marsha dan Papa Bram. Mira jadi anaknya Mama Sara dan Papa Belva. Bertukar dong. Jadi, menantu rasa anak. Diterima sebagai anak," balas Elkan.
"Bener, El. Dulu Mama juga begitu. Dengan Eyang Hesti dulu, Mama dianggap anak sendiri. Papa Abraham yang justru anak pungut," balas Mama Marsha dengan mengenang almarhumah ibu mertuanya.
"Elkan kayaknya juga udah jadi anak pungut deh, Ma. Yang disayang Mama sekarang Mira," balasnya.
Giliran Mama Sara dan Papa Belva yang tertawa. "Kamu tetap anak kami, El. Ya, untuk sementara jadi anak pungut gak apa-apa," balasnya.
Evan yang ada di sana juga tersenyum. Mungkin kalau sudah menemukan jodohnya, dia juga menginginkan kebersamaan keluarga seperti ini. Besan dengan besan memiliki hubungan akrab dan erat. Kemudian pasangan suami istri yang juga harmonis. Ya, walau turut mendengarkan, Evan salut dengan adiknya yang selisih empat tahun darinya, tapi sudah berani berkomitmen dalam kehidupan pernikahan. Bagi Evan itu adalah hal luar biasa dan tidak mudah dilakukan untuk laki-laki yang baru berusia 20an tahun.
***
Dear All,
Genre novel ini memang romansa yah, konfliknya juga disesuaikan dengan tokoh utama yang masih kuliah sekarang. Jika teman-teman menginginkan karya dengan konflik lebih banyak. Dukung yuk, karyanya Author yang berjudul Pondok Mertua Tak Indah. Mengisahkan konflik mertua dan menantu yang dibumbui dengan berbagai konflik lainnya. Terbit setiap hari juga di Noveltoon.
__ADS_1
Yuk, dukung yuk ...
Jika membacanya emosi, disarankan membaca usai berbuka puasa. Happy Reading. 😘