Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Sepulang Sekolah


__ADS_3

Dengan berat hati Elkan harus berangkat ke sekolah sendirian. Padahal sebenarnya, dia ingin menemani Mira, merawat Mira yang sekarang sedang sakit. Akan tetapi, Mama Marsha juga sudah menitipkan surat izin untuk Wali Kelas Mira. Oleh karena itulah, Elkan pun kini berpamitan dengan Mama Marsha dan Papa Abraham.


"Mama, mana surat izinnya Mira?" tanya Elkan kemudian kepada Mama Marsha.


Mama Marsha pun memberikan surat izin yang dibuatkan langsung olehnya dan meminta Elkan untuk memberikannya kepada Bu Rahayu, Wali Kelas Mira. "Tolong diberikan ya, El. Maaf yah, Mira gak bisa masuk. Nanti mau kami bawa ke Dokter dulu," ucap Mama Marsha.


"Iya, Ma ... tidak apa-apa. Ma, Pa, nanti sepulang sekolah bolehkah Elkan ke mari untuk merawat Mira?" tanyanya.


Papa Abraham tersenyum. Rupanya Elkan termasuk pemuda bernyali yang berani menyampaikan apa yang dia mau. Namun, Papa Abraham justru mengapresiasi itu. Daripada melakukan secara sembunyi-sembunyi. Lebih baik, jika meminta izin terlebih dahulu seperti Elkan sekarang ini.


"Papa, boleh tidak, Pa?" tanya Mama Marsha.


"Boleh, El. Bagaimana pun, kamu adalah suaminya Mira. Tidak apa-apa," balas Papa Abraham.


"Tuh, Papa udah ngizinin, El," balas Mama Marsha dengan melirik suaminya dan Elkan bergantian.


Biasanya seorang Papa akan begitu protektif terhadap anak gadisnya. Oleh karena itulah, Mama Marsha bertanya langsung kepada Papa Abraham. Rupanya Papa Abraham pun menyadari hubungan yang terjalin antara Mira dan Elkan.


"Yang penting sekolah dulu yah ... walau Mira sedang izin sekarang. Akan tetapi, kamu harus masuk sekolah. Nanti Mama dan Papa akan mengabari kalau Mira usai periksa ke Dokter. Kamu pasti khawatir kan?" tanya Papa Abraham.


Dengan cepat Elkan pun menganggukkan kepala. "Iya, Pa. Elkan sangat khawatir dengan Mira. Kalau begitu, Elkan pamit ya Mama dan Papa. Nanti sepulang sekolah, Elkan akan kemari."


Begitu sudah sampai di sekolah, yang pertama kali Elkan cari adalah Bu Rahayu. Sebab, dia akan memberikan surat izin dari Mira itu. Sebelum nanti terlupakan, jadi begitu tiba di sekolah. Elkan segera menuju ke ruang guru.


"Pagi Bu," sapa Elkan kepada Bu Rahayu, wali kelasnya.


"Ya, ada apa Elkan?" tanya Bu Rahayu.


"Saya dititipin orang tuanya Mira surat izin ini, Bu. Mira sakit, jadi tidak bisa masuk sekolah," ucapnya.


"Kalian itu tetanggaan ya, Elkan? Dekat banget yah," tanya Bu Rahayu.


"Dekat, Bu. Rumah kami hanya berbeda cluster saja," balas Elkan.


Bu Rahayu pun menganggukkan kepala. "Baiklah, terima kasih. Kamu bisa ke kelas," balas Bu Rahayu.

__ADS_1


Elkan pun kemudian menuju ke kelas. Hari pertama di mana dia sekolah dan tidak ada Mira yang duduk di sampingnya. Sontak saja, begitu menjelang waktu istirahat, ada Sonya yang tampak mencibir Elkan.


"Wah, teman satu bangku gak masuk, jadi resah dong. Secara gak punya temen," sindir Sonya.


Bukannya mau ribut. Hanya saja menurut Elkan, tidak pantas seorang pria itu meladeni wanita bermulut nyinyir seperti Sonya. Sehingga, Elkan memilih diam dan tidak menghiraukan Sonya. Sementara Sonya yang melihat Elkan hanya diam, dia perlahan berdiri di depan meja Elkan.


"Bingung kan kalau teman satu bangkunya gak masuk sekolah? Emangnya enak," ucap Sonya lagi.


Kali ini, Elkan masih memilih diam. Memang lebih baik baginya untuk membiarkan Sonya saja. Daripada meladeni mulut nyinyir Sonya.


Hingga akhirnya Sonya menjadi geram sendiri dan keluar dari kelas. Sebab, dia sudah menyinyiri Elkan, dan hasilnya Elkan tampak tidak terpengaruh sama sekali. Oleh karena itu, Elkan justru tersenyum ketika Sonya yang menjadi tak tahan dan keluar kelas.


"Rasain loe, emang enak dicuekin," balas Elkan dengan mengulum senyuman di sudut bibirnya.


Sungguh, Elkan hanya tidak ingin berdebat unfaedah dengan Sonya. Sehingga, dia membiarkan Sonya begitu saja. Sebab, jika Sonya merasa kalah pastilah dia akan pergi dengan sendirinya.


Elkan kemudian mengecek handphonenya, dan ada pesan dari Mama Marsha untuknya.


[Dari: Mama Marsha]


[Mira hanya kecapekan dan kurang istirahat akhir-akhir ini. Sudah disuntik tadi, dan ada obat serta vitamin.]


[Jadi kamu tidak perlu khawatir.]


Membaca deretan pesan dari Mama Marsha, Elkan merasa lega. Syukurlah, jika memang Mira hanya kecapekan. Jika Mira kurang istirahat, apakah itu karena ujian dan kemudian mereka bergegas ke Semarang. Hanya dua hari, dan kemudian kembali ke Jakarta.


Begitu jam sekolah usai, Elkan segera bergegas ke rumah dan sekarang dia memilih untuk mandi dulu sepulang sekolah. Setelahnya, Elkan berpamitan ke rumah Mira kepada Mamanya. Tentu saja, Elkan datang tidak dengan tangan kosong. Melainkan dia membawakan buah, kue, dan susu sterilisasi dalam kemasan kaleng untuk Mira.


"Assalamu'alaikum, Mama," sapa Elkan dengan mengetuk pintu kediaman Mira.


"Waalaikumsalam, Elkan," balas Mama Marsha sembari membukakan pintu.


"Mama, Elkan mau jenguk dan menjaga Mira lagi," ucapnya.


Mama Marsha menganggukkan kepalanya dan mengantarkan Elkan ke kamar Mira. Rupanya di sana Mira tengah bersandar di head board ranjangnya, dan kemudian membaca sebuah novel terjemahan dari Bahasa Korea.

__ADS_1


"Mira," sapa Elkan memasuki kamar Mira.


"Kak," sahutnya.


"Sepulang sekolah, aku langsung ke sini, Ra," kata Elkan.


"El, kamu temenin Mira yah. Ditemenin aja yah. Inget pesannya Mama dan Papa kan?" tanya Mama Marsha.


"Pasti ingat, Ma. Tiga bulan lagi," jawab Elkan dengan tersenyum.


Mama Marsha memberi kepercayaan kepada Elkan. Sebab, sejauh ini memang Elkan terlihat bisa dipercaya dan juga begitu perhatian kepada Mira. Sehingga Mama Marsha pun percaya kepada Elkan.


"Aku bawakan buah dan susu, Ra. Mau makan, aku bisa bantuin," tawar Elkan kepada Mira.


"Nanti aja, Kak. Aku habis makan obat tadi," balasnya.


Elkan menganggukkan kepalanya. Kini pemuda itu membawa tangannya dan tiba-tiba menyentuh kening Mira di sana. Ya Tuhan, kenapa tindakan Elkan begitu impulsif. Mira sampai menghela nafas sepenuh dada dan terkesiap dengan tindakan tiba-tiba Elkan.


"Kak," ucap Mira dengan lirih.


"Hmm, kamu sudah tidak demam, Ra," balas Elkan.


"Aku akan segera sembuh kok, Kak. Ada PR enggak Kak?" tanyanya.


"Enggak ada PR. Memangnya, sakit begini kamu akan ngerjain PR, Ra?" tanya Elkan.


"Iya, tetap harus dikerjakan dong."


Elkan menatap wajah Mira. "Kalau pun ada PR, biar aku yang kerjakan untuk kamu. Utamakan sehat, Ra. Bangku di sisiku kosong dan itu sama sekali tidak menyenangkan," ucap Elkan.


"Besok kalau sudah sehat, aku akan masuk," balas Mira.


"Tidak usah terburu-buru. Yang penting kamu sehat dulu. Nanti setiap sepulang sekolah, aku akan ke sini," balas Elkan.


Ya, bagi Elkan tidak masalah, jika dia mengunjungi kediaman Mira setiap sepulang sekolah. Yang paling penting sekarang, Mira bisa sembuh dan pulih terlebih dahulu. Menemani Mira setiap sepulang sekolah akan dilakukan Elkan dengan senang hati.

__ADS_1


__ADS_2