Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Candaan Absurd


__ADS_3

Menikmati sore yang benar-benar menggelora, Elkan benar-benar meledak dan pecah. Jika dia adalah balon udara, sudah pasti balon itu meledak, gasnya sudah tidak lagi tampak, hanya serpihan dari balon saja yang terlihat. Begitu juga dengan Mira yang merasakan gelombang besar membenamkannya sampai ke lautan. Sungguh luar biasa.


Elkan masih menindih tubuh Mira, pria itu perlahan-lahan merapikan rambut Mira, terkhusus beberapa anak rambut di keningnya. Lantas, Elkan menunduk dan melabuhkan sebuah kecupan di kening istrinya.


"I love u always, Honey," kata Elkan dengan suara yang serak.


"I love u too, Hubby," balas Mira.


Elkan akhirnya beringsut dari atas tubuh istrinya, mengambil tissue untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Setelahnya, Elkan merebahkan dirinya di sisi Mira, dengan menarik selimut dan mengcover tubuh polos mereka.


"Luar biasa. Makasih, Honey. Yang aku inginkan sejak SMA dulu sudah terwujud sekarang. Setelah tiga tahun menikah denganmu," kata Elkan.


Mendengar apa yang baru saja Elkan katakan, Mira tersenyum dan menjewer telinga suaminya itu. "Ish, masak dulu masih SMA kepikirannya kayak gitu sih? Dosa loh," balas Mira.


"Dosa apa coba? Kan aku sudah menikah sama kamu. Gak dosa lah. Kan aku pemuda normal juga," balas Elkan.


"Ya kan harusnya jangan berpikir yang aneh-aneh. Dosa, Kak," balas Mira.


"Enggak, cuma pengen ciuman sama kamu aja di mobil. Eh, malahan ketahuan Papa Abraham."


Lucu memang. Jarak wajah yang dipangkas sekian inci, tinggal bibir saja yang memberikan kecupan harus gagal karena ketukan di kaca jendela mobilnya karena Papa Abraham.


"Aku pernah bilang kan, Honey. Aku kayak terciduk loh waktu itu. Ya ampun, menikahi anaknya Papa Abraham, sebegitunya."


Elkan sekarang mengaku jujur. Namun, dia juga mengatakan bahwa dia adalah pria normal. Melihat Mira, apalagi sudah menjadi istrinya pantas saja Elkan ingin mencium, first kiss dengan istrinya. Namun, itu urung terlaksana.


"Kasihan deh, Kak," balas Mira yang tertawa.

__ADS_1


Hahahaha.


"Kak, aku haus banget, deh. Tenggorokanku kering," kata Mira sekarang.


"Aku ambilin minum dulu," balas Elkan.


Seperti biasa, Elkan berjalan santai tanpa mengenakan apa pun. Sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu dengan Mira. Berbeda dengan Mira yang lebih malu-malu sejak dulu.


"Nih, minum dulu," kata Elkan.


Sedikit beringsut untuk duduk dan tetap mempertahankan cover di dadanya, Mira pun meminum air putih itu. Sangat lega ketika air putih itu membasahi lehernya. Usai Mira minum, sisa air minum itu justru diminum oleh Elkan.


"Mandi nanti aja, Honey. Bentar masih mau cuddling time sama kamu," kata Elkan.


Menganggukkan kepala, Mira pun kembali masuk ke dalam pelukan Elkan. Bukan sekadar cuddling, tapi supaya lebih harmonis. Sebab, tidak ingin melewatkan masa-masa berlalu begitu saja. Namun, masih ada kehangatan yang dibagikan usai bercinta.


"Hahahah, bener, Honey. Pacaran macam-macam, yang main ke kost atau rumah waktu kosong yah. Ngeri pacaran anak zaman sekarang. Untung aku pacaran usai nikah," balas Elkan.


"Iya, Kak. Ngeri sih. Misal pas pacaran udah gitu-gitu, terus nikahnya sama orang lain gimana?"


"Sekarang, semua serba relatif, Honey. Ada yang mempermasalahkan, ada yang enggak mempermasalahkan. Cuma, aku sih bersyukur, kita tidak aneh-aneh dulu. Menikah dulu baru pacaran, lebih mantap, gak dosa."


Dengan jujur Elkan mengakui itu. Dia merasa senang ketika dulu masih SMA bisa saling menjaga. Bisa menjaga diri. Jika dulu, adalah dosa, ketika dalam koridor pernikahan yang justru adalah ibadah.


"Semua keinginan udah terpenuhi kan?" tanya Mira.


"Udah, Honey. Makasih banyak. Ah, kamu ini memang seleraku," balas Elkan yang lagi-lagi absurd.

__ADS_1


"Emangnya aku mie instan, Kak?" balasnya.


"Kamu kan Indo ... Mira."


Hahahah.


Astaga, aneh-anehnya Elkan Agastya. Keduanya sampai tertawa dengan perut yang terguncang. Pria itu makin jago membuat candaan plesetan.


"Ih, nyebelin. Kakak emang yah," sahut Mira.


"Emang cakep ya, Honey? Makasih." Elkan menjawab dengan penuh percaya diri.


Kesal dengan suaminya yang kian absurd, Mita mencubit pinggang suaminya. Rasanya ingin menggelitik suaminya yang absurd itu. Gemes rasanya.


"Eh, eh, sudah Honey. Sakit, duh."


"Biarin gak mau berhenti," jawab Mira.


Lantas Elkan menangkap kedua tangan Mira yang semula mencubiti pinggangnya dan menatap istrinya.


"Bukannya gak mau, kalau kamu cubit, ada yang berdiri. Ada yang bangun lagi. Tanggung jawab loh yah," kata Elkan.


"Ah, enggak ... gak mau, Kak. Belum ada setengah jam," balas Mira dengan merengek seperti anak kecil.


"Nanti aku pijitin."


Elkan dari bercanda absurd menjadi sungguh-sungguh. Bahkan dia sangat gercep sekarang. Tidak akan menunggu-nunggu lagi. Asalkan misi tuntas dan terlaksana, sekadar memijat Mira bukan hal yang susah. Apa pun juga akan dia berikan untuk Mira.

__ADS_1


__ADS_2