Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Senin Penuh Drama


__ADS_3

Dengan menaiki sepeda motor besar, nyatanya Elkan dengan begitu percaya diri memasuki gerbang sekolah. Pemuda tampan itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara, Mira memilih untuk tidak berpegangan di pinggang Elkan. Kendati demikian, Mira merasa sangat deg-degan jika sampai menimbulkan kasak-kusuk di sekolah.


Begitu sepeda motor sudah terhenti. Elkan berbicara kepada Mira. “Bisa turunnya?” tanyanya.


“Aku berusaha dulu, Kak … semoga saja bisa,” balas Mira.


Elkan pun menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menginstruksikan kepada Mira bagaimana caranya untuk turun. Kemudian, sekarang Mira sudah berdiri, dan tangannya sedikit mencengkeram bahu Elkan, dia menurunkan satu kakinya terlebih dahulu. Kemudian, barulah sekarang bisa turun dengan sempurna.


“Akhirnya,” ucap Mira dengan melepas helm di kepalanya dan juga merapikan rambutnya yang menjadi berantakan karena mengenakan helm dan terkena angin.


“Seru kan?” tanya Elkan dengan sedikit tersenyum di sana.


“Takut sih sebenarnya,” balas Mira yang juga sedikit tersenyum.


Rupanya kedekatan Mira dan Elkan terlihat juga oleh Sonya dan Bagas yang baru saja datang. Mereka pun menghampiri Mira dan Elkan. “Kalian barengan lagi? Ra, loe seharusnya tahu diri dong, kan loe itu ceweknya Bagas,” ucap Sonya dengan melirik tajam kepada Mira.

__ADS_1


“Gue bukan pacarnya,” balas Mira kemudian.


“Itu semua karena loe selingkuh sama Elkan. Bilang aja yang jujur, Ra … loe selingkuhin Bagas karena Elkan kan?” tuding Sonya sekarang.


Elkan yang sudah merasa jengah dengan semua tudingan Sonya kepada Mira, akhirnya pemuda itu mengambil satu langkah dan berdiri di depan Mira, hingga Mira berada tepat di balik punggung Elkan. “Bukan Mira yang salah, tapi sebenarnya gue suka sama Mira,” balas Elkan di sana.


Mira yang mendengarkan Elkan pun merasa tercekat. Benarkah pengakuan Elkan itu? Atau sebatas cara Elkan untuk melindunginya. Jujur saja, Mira sedetik memejamkan matanya ketika Elkan mengatakan demikian.


“Gue yang suka sama Mira, dan apa pun yang terjadi gue bakalan misahin Mira dari Bagas. Sebab, Mira sama sekali gak suka sama Bagas. Dia hanya mengaku-aku sebagai pacar Mira,” balas Elkan.


Elkan kemudian menoleh ke belakang. Satu tangannya yang sendirinya meraih tangan Mira. “Ayo, Ra … kita masuk ke kelas,” ajaknya.


“Semuanya mungkin, Son … dan loe, gak usah melihat orang penampilannya. Aspek kecantikan wanita itu gak hanya wajahnya,” balas Elkan.


Elkan kembali menoleh ke belakang, “Yuk, Ra … biarkan saja,” ucapnya kepada Mira dan menggandeng tangan gadis itu untuk masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


Beberapa meter mereka berjalan dan Elkan masih menggandeng tangan Mira. Hingga Mira berbicara lirih kepada Elkan. “Sudah aja, Kak … gak perlu gandengan tangan,” ucapnya.


Mengikuti apa yang Mira minta, sekarang Elkan pun perlahan melepaskan genggamannya. “Baiklah, tapi jangan jauh-jauh dariku, Ra,” balasnya.


Pemuda yang mengenakan seragam putih abu-abu dengan jaket denim yang masih dia kenakan, berjalan di depannya dengan memanggul tas di satu bahunya. Sementara, Mira mengikuti Elkan hingga masuk ke dalam kelas. Seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi Sonya masih menyorot tajam kepada mereka berdua.


Jam mata pelajaran pertama hingga ketiga usai, sekarang waktunya istirahat, ketika Elkan keluar, rupanya Sonya datang dan menggebrak meja Mira. Hingga membuat Mira terkaget di sana.


“Eh, loe … jangan sok kecantikan karena Elkan ngakuin suka sama loe. Harusnya loe sadar diri, Ra. Apalagi dengan penampilan loe yang gak banget kayak gini. Udah, jangan berharap terlalu tinggi. Elkan gak pantes buat loe,” ucap Sonya di sana.


Mira merotasi bola matanya dengan malas. Rasanya masih ada saja hal yang harus Sonya ributkan karena Elkan. Padahal Mira pun juga bersikap biasa saja. Rasanya hari ini benar-benar menjadi hari Senin yang penuh dengan drama. Begitu banyak hal yang harus diributkan.


“Udah bagus ada Bagas yang suka sama loe,” ucap Sonya dengan menunjuk-nunjuk Mira.


Mira pun tersenyum perlahan. “Gak usah menghasut, Sonya. Gue gak pernah sama sekali tuh untuk suka sama Bagas. Dulu, kami berteman, setelah sikapnya berubah, rasanya gue gak bisa temenan lagi sama Bagas. Jangan merasa diri loe cantik dan hanya loe yang cocok untuk Elkan. Harusnya loe sadar diri, Son … aspek kecantikan gak hanya wajah. Brain, Beauty, and Behavior. Terlalu sempit pengetahuan loe kalau hanya mementingkan wajah,” balas Mira.

__ADS_1


Akhirnya Mira memilih berdiri dan meninggalkan Sonya di depan mejanya. Gadis itu memilih keluar daripada harus menghadapi banyak drama. Tidak seterusnya siswa yang dibully dan direndahkan itu diam, tetapi Mira berani untuk menghadapi.


Hingga akhirnya satu hari sekolah pun terlewati. Rasanya Mira ingin bisa cepat-cepat pulang dan membaringkan dirinya. Hari Senin ini rasanya berat, dan juga ada sedikit tekanan yang dia rasakan. Kembali ke rumah, mendapat sapa hangat dari Mama dan Papanya, sembari rebahan di kamar menjadi hal yang menyenangkan.


__ADS_2