
"We meet again, Elkan," kata wanita berwajah oriental yang sekarang berdiri di hadapan Elkan dan Mira.
Jika Elkan sudah menggandeng tangan Mira dengan lebih erat, sementara Mira sendiri seketika teringat dengan rasa sakit yang pernah dia alami beberapa tahun yang lalu. Melihat wanita itu kembali di depan mata membuat Mira merasa bahwa badai mungkin akan menyapa bahtera rumah tangganya lagi.
Seolah rasanya baru kemarin Mira berdoa kepada Allah ingin menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi di dalam rumah tangganya, tapi sekarang nyatanya yang datang adalah badai. Rasa panik pun seakan melingkupi hati dan membuat Mira takut.
"Sebaiknya kita pergi, Honey," ajak Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya. Tentu dia akan pergi dengan suaminya. Seketika ada rasa tidak aman yang Mira rasakan sekarang.
"Elkan, kita baru saja bertemu. Apa ini balasanmu untuk semua yang pernah kuterima dan ku alami di masa lalu karena kamu?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Sudah lupakan masa lalu," balas Elkan.
Wanita itu tersenyum. Bagaimana masa lalu yang terjadi itu amat pahit membuat dia dikeluarkan dari kampus, kehilangan kesempatan berharga, dan juga dideportasi dari Negeri Kangguru. Ya, wanita ini adalah Rosaline. Wanita yang terobsesi dengan Elkan, bahkan pernah menusuk Mira beberapa tahun yang lalu ketika mereka sama-sama kuliah di Australia.
Bertemu dengan Rosaline membuat Mira kembali merasa sakit. Bukan hanya hati yang sakit karena mendengar dan melihat sendiri bagaimana wanita itu terobsesi dan tergila-gila dengan Elkan. Namun, ada rasa sakit lainnya yang muncul yaitu teringat sakitnya menerima tusukan di perutnya beberapa tahun yang lain.
Bahkan refleks Mira memegangi perutnya sendiri. Bayang masa lalu kalau sebuah pisau lipat menusuk perutnya saat itu masih berasa. Elkan tahu mungkin saja ada trauma yang berkaitan dengan masa lalu kembali muncul. Oleh karena itu, Elkan segera mengeratkan gandengan tangannya.
Sementara Rosaline justru tersenyum. Agaknya dia berhasil menebar intimidasi walau sejujurnya belum melakukan apa pun. Hingga akhirnya, Rosaline beralih, dia mengambil beberapa langkah dan mulai berhadapan dengan Elkan dan Mira.
"Garis takdir mempertemukan kita lagi, Ra. Dulu kita bertemu di Australia, sekarang kita bertemu di Jakarta. Kapan kira-kira kita akan bertemu di mimpi manis?" tanya Rosaline kepada Elkan dengan menunjuk senyuman culas.
__ADS_1
"Hentikan omong kosongmu itu, Line!"
Elkan menjawab demikian dengan kesal. Baginya, Rosaline tidak hanya dulu, tapi sekarang pun rasanya begitu juga menyebalkan. Hal itu membuat Mira sangat kesal karenanya.
"Jangan lekas jumawa, Ros. Aku tidak terpengaruh dengan apa yang kamu katakan."
Bertemu Rosaline tentu bukan hal yang Elkan harapkan. Sebab, Elkan benar-benar telah meninggalkan apa yang terjadi di belakangnya.
"Sebaiknya kamu pergi, Rosaline. Anggap saja tidak akan pernah bertemu kami di kota ini," kata Elkan.
"Tidak bisa, Elkan. Aku datang dari Singapura sebenarnya tak mengharapkan apa pun setelah tahun-tahun berlalu. Akan tetapi, setelah bertemu kamu seolah memantik kembali api dalam hatiku. Jadi, aku tak bisa melupakan apa pun," balas Rosaline.
__ADS_1
Mira menghela napas panjang. Apa yang dimaui Rosaline? Mira memiliki firasat kali ini benar-benar tidak baik. Terlebih kiprah Rosaline yang dulu adalah sosok ambisius dan penuh obsesi terhadap suaminya. Itu benar-benar membuat Mira menjadi was-was.