
Hingga petang, Mira dipersilakan untuk istirahat. Namun, sesekali Mama Sara menilik ke dalam kamar tamu yang ditempati Mira. Dia memperhatikan luka lain yang mungkin saja timbul di bagian tubuh Mira. Rasanya sebagai seorang ibu, sangat kasihan melihat Mira yang kesakitan seperti ini.
"Demam enggak, Ra?" tanya Mama Sara.
"Tidak kok, Ma," jawabnya perlahan.
"Syukurlah, kamu istirahat dulu saja. Makan malamnya mau Mama bawain di sini?"
Menyadari kondisi Mira yang mungkin juga masih shock, Mama Sara pun menawarkan kepada Mira untuk makan di dalam kamar saja. Namun, dengan cepat Mira menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma ... Mira keluar saja dan ikut makan," balasnya.
Berada di rumah mertua, Mira merasa tidak seharusnya menjadi manja, dan justru merepotkan keluarga Agastya. Untuk sekadar makan malam bersama saja, Mira masih bisa melakukannya. Untuk itu, Mira memilih beranjak dari tempat tidur dan mengikuti Mama Sara menuju ke tempat makan.
Di sana sudah ada Papa Belva dan Elkan yang duduk bersama.
Melihat kedatangan Mira dan Mama Sara, Papa Belva pun bertanya kepada Mira.
"Masih sakit, Mira?" tanyanya.
"Sudah baikan kok, Pa," balasnya.
"Jadi, besok harus ke sekolah yah?" tanya Papa Belva lagi.
Mira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Pa, maaf Mira merepotkan Mama dan Papa," jawabnya.
"Tidak apa-apa. Jangan merasa merepotkan. Mau ke Dokter enggak?" tanya Papa Belva.
"Tidak usah, Pa ... tadi sudah dikasih salep sama Mama kok," balas Mira.
__ADS_1
Setelahnya Papa Belva menatap ke Elkan yang duduk di sampingnya. "Jangan jengah, El ... sekarang kamu tahu kan siapa yang akan menyakiti Mira. Setidaknya kamu harus melindungi Mira dari dua orang itu," ucap Papa Belva.
"Iya, Pa ... Elkan akan lebih waspada dan tidak akan membiarkan Mira disakiti lagi," balasnya.
"Nanti istirahat dulu saja, Ra ... minta Mama untuk berikan salep lagi yah," ucap Papa Belva yang juga tampak perhatian dengan Mira.
"Sudah Pa, sudah Mama berikan salep kok. Aman," balas Mama Sara.
Akhirnya mereka menikmati makan malam bersama. Sama seperti biasa, Mira masih mengambilkan makan untuk suaminya itu. Sejauh ini, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Mira. Namun, Elkan juga tidak keberatan. Makan dengan nasi dan sayur serta lauk yang diambilkan oleh Mira, justru membuat dirinya semakin berselera makan.
Usai makan, Mira membantu Bibi Tini untuk membersihkan peralatan makan yang kotor. Setelahnya, dia masuk ke dalam kamar. Beristirahat terlebih dahulu sebelum besok akan masuk ke sekolah lagi.
***
Keesokan harinya ....
"Semoga kabar kemarin gak menyebar ke mana-mana ya Kak," balas Mira.
"Iya, semoga saja," balas Elkan.
Hingga akhirnya, mereka sudah sampai di sekolah. Memulai hari dengan biasa saja. Walau memang, ada wajah Sonya yang tidak menyolot biasanya.
Barulah kurang lebih jam 10.00, ada pertemuan dengan wali murid yang dipanggil ke sekolah terkait dengan tindak kekerasan kemarin. Bu Rahayu pun bingung karena yang datang bukan orang tua Mira, melainkan orang tua Elkan.
"Orang tuanya Mira?" tanya Bu Rahayu.
"Sedang ke Semarang, jadi kami walikan. Kebetulan saya dan keluarganya Mira kenal akrab," jawab Mama Sara.
__ADS_1
"Baiklah, terkait tindak kekerasan sekolah kemarin, Mira hanya korban," ucap Mama Sara yang juga mendapatkan rekaman suara di handphone.
Apa yang diucapkaan Mama Sara membungkam kesaksian dari keluarga Sonya dan Bagas sebelumnya yang masih mengelak. Namun, setelah mendapatkan bukti nyata, mereka tidak bisa mengelak lagi.
"Tindak kekerasan di sekolah tidak boleh dibiarkan begitu saja," ucap Mama Sara dengan tegas.
Akhirnya, hukuman yang diberikan untuk ada permintaan secara langsung dan berjanji tidak mengulangi sekali lagi. Jika Sonya dan Bagas kembali berulah, maka keduanya akan dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, keduanya juga diskros selama satu minggu.
Usai itu, Mama Sara menemui Mira sejenak di depan kelas. Kebetulan waktu itu juga istirahat. Mama Sara bahkan membawakan satu kotak bekal untuk Mira.
"Mira," panggil Mama Sara dari depan pintu kelasnya.
Beberapa teman kelasnya pun bingung dengan wanita menjelang paruh baya yang masih begitu cantik itu, dan tampak memanggil Mira. Mira pun berdiri dan keluar dari kelasnya.
"Ya, Ma," balasnya.
Kian terbelalaklah teman-temannya. Apakah itu benar Mamanya Mira? Kenapa begitu cantik dan terlihat dari kalangan berada.
"Tadi habis begitu wali kelas, Mama mampir untuk memberikan ini buat kamu," ucap Mama Sara.
"Makasih banyak, Ma," balasnya.
"Sama-sama Sayang ... Mama lanjut yah, mau ke kantornya Papa."
Mira pun mengantarkan Mama Sara sampai ke depan sekolah. Sekembalinya ada Sonya yang menatap tajam kepada Mira. "Belagu banget. Dia bukan nyokap loe, dia itu nyokapnya Elkan," ucap Sonya.
Tidak menanggapi, Mira lebih memilih mengedikkan bahunya dan kembali masuk ke kelas. Toh, sebenarnya Mama Sara adalah Mamanya juga. Bahkan sejak kecil Mira sudah memanggil Mama Sara dengan panggilan Mama.
__ADS_1