
Melahirkan bayi kembar memang berisiko tinggi mengalami pendarahan. Hal ini disebabkan karena luasnya area plasenta dan menyebabkan rahim membesar terlalu banyak. Selain itu, ada bagian plasenta yang menempel di dinding rahim Mira, sehingga usai bayinya dikeluarkan, Dokter menginstruksikan untuk melakukan transfusi darah. Kantong darah pun mulai dipasang dan darah merah itu mulai masuk ke dalam tubuh Mira melalui selang infus.
Elkan yang semula bahagia melihat bayinya yang sehat, kini harus mengalami kesedihan dengan melihat kondisi Mira. Terlebih bisa Elkan rasakan tangan Mira terasa lemah dalam genggamannya.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanya Elkan dengan sangat panik.
"Terjadi pendarahan karena ada plasenta yang menempel di dinding rahim," kata Dokter Indri.
Seketika Elkan menjadi cemas, kedua kakinya juga lemas. Mira pun terlahan hendak menutup matanya, tapi Elkan terus berdoa dalam hati dan membisikkan kata-kata kepada istrinya itu.
"Kuat, Honey. Kamu harus berjuang. Tadi kamu sudah melahirkan twins dengan selamat. Sekarang, aku minta kamu yang kuat. Kamu berjuang, dan aku akan selalu menyertai perjuanganmu," kata Elkan.
"Sakit, Mas. Gelap," kata Mira.
Seketika jantung Elkan seperti berhenti berdetak rasanya. Dia tak tega melihat Mira seperti ini. Sementara Dokter dan Tim Medis pasti melakukan yang terbaik, Elkan memiliki tugas untuk memastikan istrinya itu baik-baik saja.
"Jangan berbicara seperti itu. Itu si Twins mau main sama Mommynya, mau minum ASI dari Mommynya."
Sebisa mungkin, Elkan terus menguatkan Mira. Berharap istrinya tidak akan menyerah begitu saja. Apa pun akan Elkan lakukan untuk istrinya itu.
Kondisi Mira yang drop dan bisa terbilang kritis, maka Inisiasi Menyusui Dini terpaksa harus ditunda terlebih dahulu. Maka, Twins segera dibersihkan dan diberikan suntikan vitamin K. Vitamin K yang membantu proses pembekuan darah dan mencegah pendarahan yang bisa terjadi pada bayi. Bayi yang baru lahir memiliki jumlah vitamin K yang sedikit dalam tubuh mereka, karena itulah perlu diberikan suntikan vitamin K.
Elkan terus menggenggam tangan Mira. Air mata pun terus membasahi wajah Elkan. Sangat tidak tega melihat istrinya seperti ini. Sekaligus Elkan baru tahu bahwa persalinan memiliki risiko yang begitu besar.
Akhirnya tim medis memutuskan Twins dipindahkan ke ruang inkubator terlebih dahulu. Sementara Tim Medis bisa fokus dengan Mira. Ketika, Twins dibawa keluar perawat, ada Mama Sara, Papa Belva, Mama Marsha, dan Papa Abraham yang menyambutnya. Semuanya menitikkan air matanya melihat kembar fraternal yang tidak identik itu.
"Babynya Mira dan Elkan?" tanya Mama Marsha.
__ADS_1
"Ya, benar sekali. Akan kamu bawa ke ruang inkubator. Semestara Dokter masih menolong ibunya," kata perawat.
Senang melihat cucu mereka sudah lahir. Namun, ada kecemasan sendiri ketika Mira masih harus ditangani.
"Kenapa dengan Mira yah, Pa?" tanya Mama Marsha kepada suaminya.
"Kita tunggu dulu saja, Ma," kata Papa Abraham.
"Mama takut, Pa," balas Mama Marsha.
Sementara perasaan Papa Belva terasa tidak enak. Kemudian Papa Belva menatap besannya. "Kita ke Mushola yuk. Bersujud kepada Allah. Semoga Allah SWT lancarkan semua," kata Papa Belva.
Hati mereka tentu sangat cemas. Sudah bahagia melihat cucu-cucu mereka yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, dengan gelang tangan warna biru untuk baby boy dan gelang tangan warna pink untuk baby pink. Namun, mereka masih sangat cemas karena Mira masih kritis.
Kedua pasangan itu memilih mengambil wudhu dan bersujud di hadapan Allah. Sekiranya Allah mendengar isi hati dan kecemasan mereka. Tentu, mereka mendoakan Mira semoga baik-baik saja.
Papa Abraham terlihat memiliki hati yang hancur sekarang. "Ya Allah, hamba memohon kepada-Mu. Tolong putri hamba, Mira yang sekarang masih berada di dalam ruang operasi. Sekiranya Allah berkenan untuk menyembuhkan, memberikan kelancaran dalam operasinya, dan mempertemukan kami lagi. Mohon, dengar doa seorang Papa ini ya Allah."
Hingga akhirnya, para orang tua kembali ke ruang operasi dan menunggu di luar. Mereka sudah menyerahkan semua kepada Allah, memohon belas kasihan Allah. Kiranya Allah akan menjawab doa mereka. Sementara di dalam ruang operasi Elkan terus menyemangati istrinya. Kondisi Mira memang turun, terjadi pendarahan, dan reaksi obat bius membuat mata Mira terasa berat. Akan tetapi, Elkan berusaha supaya istrinya bisa terjaga. Bahkan Elkan tak segan menceritakan kenangan mereka.
"Kita masih memiliki harapan untuk kembali ke Sydney dengan bayi kita. Jadi, kamu harus sehat, harus kuat. Kita nanti ke Sydney lagi ke apartemen kita. Kita bawa Twins jalan-jalan ke Darling Harbour," kata Elkan.
Mira membuka matanya perlahan dan tersenyum. Memang itu adalah harapan dan keinginan mereka berdua. Linangan air matanya akhirnya berganti dengan isakan. Ada senyuman tipis Mira berbalut dengan buliran bening yang terus mengalir.
"Maafkan aku, Kak," kata Mira.
"Gak perlu minta maaf. Please, stand by me, My Honey. Ingat janjimu," kata Elkan.
__ADS_1
Beberapa saat pun berlalu. Sampai akhirnya Dokter pun berbicara. "Masa kritis sudah berakhir."
Elkan sangat lega rasanya. Dua jam berada di ruang operasi. Setiap menitnya terasa begitu lama. Akhirnya, masa kritis istrinya sudah terlewati. Sebab, semua kemungkinan bisa terjadi di ruang operasi entah itu baik atau buruk. Alhamdulillah, semuanya berlalu dan bisa dilewati dengan baik.
"Pendarahan berhasil dihentikan, plasenta yang menempel di dinding rahim sudah dibersihkan," kata Dokter.
"Alhamdulillah, Ya Allah ... Alhamdulillah."
Hanya puji syukur ke hadirat Allah yang bisa Elkan ucapkan. Memang pasien akan tertidur lantaran efek obat saja. Namun, diminta untuk tidak khawatir.
"Terus pantau kondisi pasien enam jam ke depan yah," kata Dokter Indri.
"Baik, Dokter," jawab Elkan.
Tentu Elkan akan memantau dan memastikan tidak akan ada hal yang buruk terjadi kepada Mira. Walau begitu Elkan masih bertanya.
"Berapa lama Mira tertidur, Dokter?" tanya Elkan.
"Hanya satu atau dua jam. Jangan khawatir, itu hanya reaksi obat bius dan obat yang diberikan saja. Tolong terus pantau pasien."
"Baik."
Elkan merasa ini adalah moment dramatis dalam hidupnya. Dia menjadi saksi bagaimana perjuangan Mira melahirkan Twins dalam perjuangan berat antara hidup dan mati. Inilah bukti kasih ibu sepanjang masa untuk anaknya. Kasih yang mau menyerahkan nyawanya untuk keselamatan anak-anaknya.
Elkan bersujud syukur kala itu. Hatinya memuji kebesaran Allah dan berharap bahwa Mira akan segera sadar, sehingga sirna sudah rasa paniknya. Sebelum meninggalkan ruangan operasi, Dokter Indri melepas sarung tangan medis dan menjabat tangan Elkan.
"Terima kasih, sudah berjuang bersama Mira dan kami," kata Dokter Indri.
__ADS_1
"Sama-sama Dokter. Terima kasih untuk bantuannya," balas Elkan.
Tanpa Dokter Indri dan tim medis yang bekerja dengan sangat baik, rasanya tak mungkin semua ini berjalan. Semoga Mira akan segera membaik dan Twins bisa mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini usai ini.