
Usai kedatangan Tante Lista, Mira menjadi bertanya-tanya sebenarnya seperti apa masa lalu keluarganya? Walau begitu, Mira berusaha diam. Dia memilih menunggu saat yang tepat ketika orang tuanya akan memberitahukan semua kepadanya.
Hingga selang beberapa hari kemudian, Mama Marsha dan Papa Abraham kembali mengunjungi kediaman Mira. Tujuannya kali ini tentu untuk menjelaskan bagaimana kondisi yang sebenarnya.
"Mira, bisakah Mama dan Papa berbicara sebentar?" tanya Mama Marsha.
"Ya, bisa, Ma."
Sekarang di ruang tamu ada Mama Marsha, Papa Abraham, Mira, Elkan, dan Marvel. Menurut Mama Marsha dan Papa Abraham lebik baik kedua anaknya turut mengetahui bagaimana masa lalu orang tuanya dulu. Bukan bermaksud menyembunyikan masa lalu, hanya saja Mama Marsha dan Papa Abraham menunggu ketika anak-anak sudah bisa dan bisa menarik garis kesimpulan sebagai orang dewasa, bukan sebagai anak-anak lagi.
"Dengarkan Mama, Mira dan Marvel, anak-anaknya Mama dan Papa," kata Mama Marsha hendak memulai kisahnya.
Sekarang Mira dan Marvel sama-sama menaruh perhatian penuh kepada Mama dan Papanya. Tidak akan menyela. Sebagai anak keduanya memilih duduk diam dan mendengarkan terlebih dahulu.
"Dulu, Mama pernah menikah dengan seorang pria yang berprofesi sebagai seorang aktor, bisa dikatakan sebagai raja stripping di zamannya. Pernikahan Mama dan pria yang bernama Melvin Andrian itu tidak berlangsung lama. Kehidupan rumah tangga kami penuh air mata dan perselingkuhan. Hingga Mama menjadi korban KDRT waktu itu, lalu Mama memutuskan untuk menggugat cerai. Dalam proses cerai itulah, Mama bertemu dengan sosok cinta pertama Mama dulu. Kekasih pertama ketika Mama belum ke Ibukota, dia adalah Papa kamu. Mama juga bukan orang suci, Mama juga menjalin hubungan terlarang dengan Papamu. Hingga akhirnya, Mama bercerai, usai masa iddah, Papamu menikahi Mama. Sementara dengan mantan suami Mama itu menjalin hubungan dengan Tante Lista yang tak lain adalah Mamanya Bagas."
Sampai di sini Mama Marsha menjeda ceritanya. Sementara Mira dan Marvel memulai pemikiran bahwa hubungan masa lalu itu sangat pelik. Mendengar kisah rumah tangga yang penuh intrik.
"Singkat cerita, Mama yang sudah menikah dengan Papa hidup bahagia dan dikarunia putri kecil yang kami namai Miranda. Lalu, masalah kembali datang dan rupanya mantan suami Mama itu adalah adik kandung Papamu, Papamu dan Om Melvin adalah kakak adik yang berbeda Ibu. Kalian tentu masih ingat bukan, Papa Abraham adalah putra Almarhumah Nenek Diah, sementara Om Melvin adalah putra Almarhumah Nenek Saras. Keduanya lahir dari satu ayah. Hingga akhirnya Om Melvin berhubungan dengan kasus hukum yang membuatnya menghuni jeruji besi hingga akhir hayatnya. Om Melvin menjalin hubungan dengan Tante Lista, jadi jika benar Bagas adalah putra kandung mendiang Om Melvin, jadi kalian bersepupu dengan Bagas. Maafkan Mama yang baru mengungkapkannya sekarang. Maafkan untuk masa lalu Mama yang penuh dosa. Namun, kalian harus tahu bahwa Mama tidak ingin membela diri Mama. Inilah Mama kalian apa adanya," jelas Mama Marsha.
"Hubungan terlarang dengan Papa yang seperti apa, Ma?" tanya Mira sekarang.
__ADS_1
"Mama merasakan cinta di dalam hati Mama untuk Papamu kembali bersemi ketika Mama belum resmi bercerai. Bukankah itu terlarang?" tanya Mama Marsha.
Mira dan Marvel saling pandang sekarang. Sebenarnya keduanya diajari makna kejujuran orang tua yang tidak menyembunyikan apa pun. Walau demikian Mira dan Marvel tetap saja terkejut.
"Apakah Tante Lista menikah dengan almarhum Om Melvin?" tanya Marvel sekarang.
Sekarang giliran Papa Abraham yang memberikan jawabannya. "Setahu kami berdua dan almarhumah Nenek Saras, tidak pernah pernikahan antara Almarhum dan Tante Lista. Jadi, kalian sudah tahu sekarang."
"Jika tak ada pernikahan, bisakah keabsahan Bagas sebagai putra kandung Almarhum Om Melvin bisa dibuktikan?" tanya Mira.
"Mama mungkin percaya, Mira. Sebab, Mama melihat sendiri dan memergoki keduanya berhubungan bersama di apartemen. Jadi, benar saja kalau Bagas putra dari almarhum."
Mama Marsha memang dulu pernah melihat sendiri apa yang terjadi di apartemen antara almarhum Melvin Andrian dan Tante Lista. Oleh karena itu, Mama Marsha percaya bahwa mungkin saja Bagas benar putra seorang Melvin Andrian.
Elkan yang sejak tadi diam sekarang menganggukkan kepalanya. "Ya, aku sudah tahu, Mira. Bagas mengatakan sendiri kepadaku bahwa dia adalah putranya almarhum Om Melvin. Aku bertanya langsung kepada Mama dan Papa. Kala itu, aku tidak memberitahu karena mempertimbangkan kamu usai melahirkan dan memberikan ASI untuk Twins A. Aku memikirkan kestabilan emosimu dan kondisimu."
Bukan sekadar alibi. Akan tetapi, Elkan sungguh-sungguh bahwa dia mempertimbangkan dua hal itu. Sekarang, Elkan juga baru bisa jujur dengan Mira.
"Seharusnya jangan menyembunyikan apa pun dariku, Kak," kata Mira.
Jika orang tuanya mengubur rapat masa lalu bisa Mira maklumi. Namun, sebagai istri tentu Mira ingin tahu apa yang dihadapi suaminya. Bisa menjadi teman dalam suka dan duka. Walau Mira juga tahu semua ini pastilah untuk dirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Honey. Aku hanya berusaha memprioritaskan kamu. Aku berusaha membuatmu fokus dengan Twins A," balas Elkan.
"Aku fokus dengan Aryan dan Aaliya, tapi aku tidak tahu dengan apa yang dialami suamiku. Masalah di Coffee Bay dan sikapnya Bagas aku tidak tahu-menahu. Padahal aku cukup diberitahu saja, Kak," balas Mira.
"Mira, menurut Papa semua pria akan berpikir dan memiliki pertimbangan seperti Elkan. Kamu usai melahirkan dan memberikan ASI. Masa nifas kamu belum selesai. Kalau kamu stress dan berpikiran berat masa nifas itu bisa semakin panjang. Coba memahami kondisi suamimu," kata Papa Abraham.
"Bukan begitu, Pa. Ketika suami Mira sendiri memiliki masalah dan Mira tidak tahu apa-apa membuat Mira sedih. Bukankah suami istri seharusnya saling terbuka satu dengan lain? Saling menguatkan ketika salah satunya lemah? Sementara Mira menganggap semua baik-baik saja," balas Mira.
"Maafkan aku, Honey."
"Maafkan Mama dan Papa juga Mira dan Marvel," kata Mama Marsha.
Marvel akhirnya menganggukkan kepalanya. "Marvel bisa memahami dan memaafkan, Ma. Semua orang memiliki masa lalu, semua orang bahkan memiliki lubang hitam di hidupnya. Marvel berterima kasih karena Mama dan Papa sudah jujur."
Usai itu, Marvel melirik kakaknya yang masih menangis. Kemudian Marvel menepuk bahu Kakaknya yaitu Mira.
"Kita belajar dari orang tua kita, Kak. Masa lalu mungkin suatu saat akan tergali lagi. Jangan marah dengan Mama dan Papa, dan jangan marah dengan Kak El. Mungkin kalau Marvel di posisi Kak El, Marvel akan melakukan yang sama."
Terlihat sosok Marvel yang dewasa dan bijak menyingkapi sebuah peristiwa yang terjadi. Mira akhirnya menganggukkan kepalanya juga.
"Terima kasih untuk ceritanya, Ma," katanya. Kemudian Mira melirik suaminya. "Lain kali, jangan menyembunyikan apa pun, Kak. Kita bisa berbagi apa pun bukan?"
__ADS_1
Elkan kemudian menganggukkan. Dia genggam tangan istrinya dengan erat. " Iya, Honey. Sekarang tidak ada yang tersembunyi. Aku akan jujur dan terbuka denganmu. Maaf," balas Elkan.
Mama Marsha justru menitikkan air mata. Butuh hati yang besar untuk membuka tabir masa lalu yang tidak baik. Butuh hati yang besar dari kedua anak-anaknya untuk mendengarkan cerita orang tuanya. Sekarang semuanya sudah terbuka, lebih dari itu sikap pengertian kedua anak-anaknya membuat Mama Marsha merasa tersentuh.