
Tidak terasa ini sudah menjadi hari ketiga sejak usai peristiwa Elkan mengalami kecelkaan di depan store Coffee Bay. Itu artinya sudah tiga hari juga Bagas menjadi buronan. Namun, karena Bagas pergi dengan mobil dan menempuh jalan darat, Bagas merasa bahwa dirinya masih aman. Terlebih dengan adanya akses tol dari Lampung menuju seluruh provinsi di Pulau Sumatera sehingga Bagas bisa pergi ke mana pun.
"Pergi melalui darat ternyata menguntungkan walau sangat melelahkan," gumam Bagas seorang diri.
Sekarang, Bagas sudah tiba di Palembang. Namun, yang Bagas tuju bukan Ibu Kota provinsi. Pikirnya jika mengunjungi Ibu Kota provinsi akan memudahkan pencariannya. Oleh karena itu, Bagas mengunjungi kota-kota kecil yang sekiranya pihak kepolisian tidak bisa menemukan jejaknya. Bahkan, sekarang Bagas berada di kota Prabumulih. Jarak Palembang ke Prabumulih sendiri sekitaran 97KM. Tentu itu adalah jarak yang jauh.
Bagas juga memilih menyewa motel yang letaknya tidak jauh dari keramaian. Semua itu Bagas pikirkan dengan matang-matang. Untuk melarikan dirinya dari pihak berwajib, Bagas harus memperhitungkan langkahnya dengan lebih hati-hati.
"Elkan sialan ... dia berada di Rumah Sakit saja masih merepotkanku," balas Bagas.
Di dalam sebuah motel yang hanya ada satu single bed, kamar mandi dalam, dan tidak ada fasilitas lainnya itu sekarang Bagas men-charge handphonenya terlebih dahulu. Setelah itu, Bagas merebahkan dirinya di tempat tidur. Yang Bagas pikirkan adalah segera mengganti nomornya, supaya tidak mudah untuk diketahui keberadaannya.
Pikir Bagas jika berhasil melarikan diri berlama-lama, nanti pihak kepolisian bisa lupa dengan kasusnya sekarang. Sehingga, Bagas juga memilih untuk menempuh jalan itu. Asalkan tidak sampai mendekam di jeruji besi, Bagas akan melakukan apa pun.
Akhirnya, Bagas bisa tidur sebentar. Dia juga kecapekan berpindah kota demi kota, menempuh jarak ratusan kilometer sejak dari Lampung dan sekarang di Prabumulih. Sehingga, Bagas memilih mengistirahatkan dirinya sebentar. Akan tetapi, baru satu jam tidur, terdengar ketukan di motel yang sekarang dia sewa.
"Buka pintunya!"
Terdengar gedoran yang keras dari luar. Sontak saja Bagas pun terbangun. Tidak langsung membuka pintu, tapi Bagas melihat dulu siapa yang datang dan mengetuk pintunya.
__ADS_1
"Sdr. Bagas, buka pintunya!"
Mendengar namanya turut disebut, Bagas curiga bahwa itu adalah pihak kepolisian yang mungkin saja sudah berhasil menemukan jejaknya. Oleh karena itu, Bagas pun mengusap wajahnya beberapa kali. Belum berhadap muka demi muka, keringat dingin sudah membasahi tubuh Bagas. Dia merasa khawatir sekarang. Bagas merasa tidak memiliki pilihan lain, dengan berat hati Bagas pun membukakan pintunya.
"Sdr. Bagas, Anda kami tangkap dengan dakwaan dalang dari kecelakaan karyawan Coffee Bay, dan Anda yang melarikan diri dari pihak berwajib."
Bagas mengangkat tangannya, dia sudah mengira bahwa itu adalah pihak berwajib. Namun, Bagas mencoba berkilah.
"Bukan saya, Pak," kilah Bagas.
"Sudah jelas, Anda adalah Sdr. Bagas."
Polisi pun tidak kurang cerdik dengan menunjukkan foto Bagas. Itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa dia memang Bagas adanya. Mau berkilah pun sudah ada fotonya Bagas.
Lantaran Bagas tidak bersikap kooperatif, maka pihak berwajib pun menembakkan timah panas.
Dorr ....
Sebuah peluru bersarang di lutut Bagas. Praktis, Bagas tidak bisa lagi lari. Pria itu tampak kesakitan dan jatuh ke tanah dengan memegangi kakinya. Usai itu, Bagas pun diringkus. Untuk mempermudah penyidikan dan sebagainya, Bagas akan dibawa ke Rumah Sakit terlebih dahulu untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang di kakinya. Setelahnya, Bagas akan dibawa sebagai tahanan menuju kota Jakarta.
__ADS_1
***
Di saat bersamaan ....
Di Jakarta, Papa Belva sudah menerima kabar bahwa Bagas akhirnya sudah ditangkap di daerah Prabumulih, Sumatera Selatan. Selain itu, orang kepercayaan Papa Belva juga mengatakan sengaja melesatkan timah panas karena Bagas berusaha melawan dan juga berniat untuk lari.
"Kenapa Pa?" tanya Mama Sara sekarang.
"Bagas akhirnya sudah ditangkap. Sayangnya, pihak yang berwajib harus melukainya. Dia bersikap tidak kooperatif dan berusaha untuk kabur. Oleh karena itu, sebuah peluru ditembakkan di kakinya," cerita Papa Belva.
"Sebenarnya, jangan melukainya, Pa ... kasihan," balas Mama Sara.
Papa Belva menghela napas panjang. Dia tahu apa yang dipikirkan istrinya sekarang. Pikirnya memang walau Bagas sudah jahat kepada Elkan, tapi jangan sampai melukai Bagas. Itu sama saja membalas kejahatan dengan kejahatan.
"Dia yang mencoba tidak kooperatif, Ma. Itu memang sudah menjadi konsekuensinya. Kalau Bagas bersikap kooperatif pastilah tidak akan ditembak, Ma."
Mama Sara terdiam. Dia hanya merasa tidak enak hati. Selain itu, Mama Sara tentunya kasihan dengan Bagas. Andai saja Bagas bisa bersikap lebih kooperatif pastilah lututnya tidak kesakitan karena sebuah peluru yang bersarang di sana.
"Mama merasa kasihan," balas Mama Sara.
__ADS_1
"Bukan maunya Papa juga, Ma. Bagaimana pun Papa tetap bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Mama juga mengenal Papa, tidak mungkin Papa main hakim sendiri," balas Papa Belva.
Sampai akhirnya Mama Sara pun menganggukkan kepalanya. Dia tahu dan mengenal sosok suaminya. Ketika berhadapan dengan lawan-lawannya, Papa Belva tidak pernah main hakim sendiri. Alih-alih main hakim sendiri, Papa Belva lebih mempercayaikan kepada pihak yang berwajib. Oleh karena itu, dengan kasus Bagas sekarang pun, Papa Belva juga mempercayakan semuanya kepada pihak yang berwajib.