
Sepulang dari kampus, Elkan kembali pulang ke unit dengan membawa makan siang berupa bento yang dia beli dari kantin kampusnya. Selain itu, Elkan juga membelikan Jus Stroberi kesukaan Mira. Tidak berpikir lama, Elkan pun memilih untuk segera pulang. Dia tahu bahwa istrinya sudah menunggunya di rumah.
"Aku pulang, Honey," sapa Elkan dengan mengetuk pintu unitnya.
Tidak menunggu lama, Mira sudah berdiri dan membukakan pintu untuk suaminya itu. Rupanya benar hanya satu jam lebih saja Elkan berada di luar. Sekarang, suaminya itu juga sudah pulang. Tentu Mira sangat senang. Dia senang tidak kesepian di dalam unit.
"Aku tungguin," balas Mira.
Elkan tersenyum. Dia senang mendengarkan Mira yang menunggunya. Mungkin itu juga yang membuat Elkan rasanya ingin segera buru-buru pulang. Sebab, Elkan sendiri juga sudah rindu dengan Mira. Terlebih dengan kondisi Mira yang menurut Elkan masih sakit membuat Elkan tidak tenang jika meninggalkan Mira terlalu lama di rumah.
"Aku sekalian beli makan siang untuk kita berdua, Honey. Aku ganti pakaian dulu yah," balas Elkan.
Pria itu melepaskan jaket tebal miliknya, sekarang di dalam unit apartemen yang menggunakan room heater sehingga tidak terlalu dingin membuat Elkan cukup mengenakan kaos dan celana pendek saja. Andalannya ketika berada di rumah. Pakaian ternyaman untuknya.
Sementara Mira menyiapkan makanan di meja makan. Tangan dan kakinya bisa bergerak bebas. Hanya di perut ke arah pinggang saja yang terasa ngilu.
Begitu Elkan sudah selesai, sekarang keduanya duduk berhadap-hadapan di meja makan. Menikmati Nasi Bento yang Elkan belikan. Setidaknya ada makanan Asia yang bisa dibeli, sehingga tidak melulu dengan western food. Walau pun Indonesian food itu terbatas. Namun, kalau Mira tidak sakit juga dia sering memasak untuk mereka berdua.
"Maaf yah, aku cuma beliin Bento yang ada di kantin kampus. Supaya bisa cepet pulang," ucap Elkan.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku justru udah bersyukur kamu beliin aku makan. Nanti kalau sudah sehat dan ada banyak bahan makanan, aku masakkan," ucap Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. "Boleh, masakin ikan asam manis ya, Honey. Kangen masakan Mama," balas Ikan.
Rupanya Elkan sendiri juga kadang mengalami fase kangen dengan masakan Mamanya. Seperti sekarang ini, Elkan yang kangen dengan ikan asam manis yang biasa dimasak Mama Sara di rumah. Nanti kalau Mira sudah sehat, tidak ada rasa ngilu di perutnya, Elkan akan mengajak Mira berbelanja dan memasak ikan asam manis.
"Boleh, Kak. Anterin ke supermarket yah nanti," balas Mira sembari mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Pasti, Sayang. Nanti pasti aku anterin. Kita belanja bahan makanan bareng. Kadang kalau jauh dari rumah seperti ini, kangen juga dengan masakan rumahan. Masakan khas Indonesia," balas Elkan.
"Sama, Kak. Aku pengen Nasi Padang yang enak gitu. Mungkin sesekali mau coba bikin Rendang sedikit gitu sama Sambal Ijo. Makannya pake tangan, pasti enak banget," balas Mira.
Hampir dua puluh menit mereka makan siang bersama sembari menceritakan masakan di rumah yang sekarang dia rindukan. Mulai dari ikan asam manis sampai Nasi Padang. Ketika jauh dari Indonesia, benar-benar terasa rasa rindu dengan masakan Nusantara yang kaya akan rempah dan benar-benar menggugah selera.
Selesai makan, Elkan memberikan sebuah surat dari kampusnya. Menunjukkannya kepada Mira. Sebab, Mira juga harus tahu apa isi dari surat itu.
"Honey, aku tadi pergi ke kampus untuk ini," kata Elkan.
Mira membaca pelan-pelan selembar surat itu. Mencermati poin utama yang disampaikan kepada Mira. Kemudian Mira yang semula fokus membaca surat itu, perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Elkan.
"Rosaline dikeluarkan?"
Elkan pun segera menganggukkan kepalanya. "Benar, karena terkait gangguan mental yang dia derita, Honey. Selain itu, tindakan yang dilakukan kepadamu juga tindakan melanggar hukum. Lebih dari itu, di Point ini dijelaskan bahwa dia tidak akan diterima di seluruh universitas yang ada di Australia."
"Setidaknya ini adalah hukuman yang sesuai. Aku juga menerimanya. Dengan begini, kamu bisa fokus menyelesaikan kuliah dulu. Tidak perlu memikirkan dia," balas Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya juga. "Iya, aku juga menerimanya. Jadi, dia akan dikeluarkan dari tahanan?"
"Benar, kemudian dikeluarkan dari kampus. Mungkin istilah kasarnya seperti dideportasi gitu, Honey."
"Berat juga hukumannya yah?" tanya Mira.
"Iya, berat. Tindakan yang dilakukan ke kamu juga berat. Itu hanya sanksi akademik saja, Sayang. Belum sanksi hukum. Tidak bisa diberikan sanksi hukum karena dia mengalami gangguan kesehatan mental," balas Elkan.
Mira paham dengan situasi Rosaline. Dari cerita Elkan sebelumnya, Mira juga tahu bagaimana kegilaan Rosaline kala menyerangnya dulu. Memang sanksi yang diberikan pihak kampus hanya sekadar sanksi akademik saja.
__ADS_1
"Baiklah, Kak. Aku terima juga. Tidak apa-apa. Setidaknya Rosaline tidak mengganggu suami orang. Aku heran, hidupku di kelilingi pelakor. Dari SMA ada Sonya, di kampus ada Rosaline. Jangan sampai nanti lulus kuliah ada lagi. Aku takut, kamu akan tergoda," balas Mira dengan jujur.
Mendengar apa yang Mira sampaikan Elkan justru tertawa."Aku tidak akan tergoda, Honey. Aku hanya milik kamu. Elkan hanya cinta Mira. Tidak akan pernah berpaling dari kamu," balas Elkan dengan sungguh-sungguh.
Setelahnya, Mira mengangkat jari kelingkinnya, meminta Elkan untuk berjanji dengannya.
"Janji?"
Tanpa berpikir panjang, Elkan menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Mira dan berjanji kepada istrinya itu. "I am promise," balasnya.
Tidak hanya itu, Elkan sedikit beringsut. Pria itu mengangkat bagian badannya dengan jari yang manis bertaut di jari kelingking Mira, kemudian dia mengecup bibir Mira dengan tiba-tiba.
Cup!
"Aku berjanji. Aku tidak hanya menautkan jari kelingking ini, tapi aku menautkan hatiku kepadamu. Terima aku dan dampingi aku seumur hidupmu. Aku tidak akan pernah berpaling kepada siapa pun," balas Elkan.
Setelah itu Mira bertanya kepada suaminya. "Kakak El serius?" tanyanya.
"Aku sangat serius. Aku cinta sama kamu selamanya, Honey!"
Kini Mira tersenyum dia menerima janji dari suaminya itu. Berharap janji itu selalu terikat satu sama lain. Janji yang membuat keduanya saling menautkan hati.
"Sekarang fokus untuk Sembuh. Besok kita ke rumah sakit yah? Kontrol jahitan kamu," ucap Elkan.
"Iya, besok akan cek jahitan dan mengganti perban ini, Kak. Mungkin sih akan minum obat lagi," balas Mira.
"Tidak apa-apa. Penting kamu sembuh dulu. Gak usah mikirin Rosaline lagi. Suamimu ini pastinya hanya untuk kamu."
__ADS_1
Ya, sekarang mungkin keduanya bisa fokus untuk Sembuh. Tidak ada godaan dari orang ketiga. Lebih dari itu, Mira berharap tidak ada orang lain yang mencoba merebut suaminya dari sisinya.