
Dua bulan berlalu ....
Tidak terasa bahwa masa SMA akan benar-benar berakhir. Dimulai dari Ujian Praktik, Ujian Sekolah, hingga Ujian Nasional semuanya sudah dilangsungkan. Hari ini adalah pengumuman kelulusan dan sekaligus perpisahan para siswa. Khusus untuk hari ini, seluruh siswi diminta tampil dengan mengenakan kebaya, sementara seluruh siswa mengenakan Black Suit atau jas.
Untuk itu, Mira bersiap di rumah. Kebaya yang dia kenakan hari ini berwarna merah muda pastel yang lembut. Untuk make up dan hair do, tidak perlu bingung karena Mama Marsha yang dulunya adalah seorang model tentu menguasai make up & hair do.
Ketika dirias oleh Mamanya sendiri, Mira tersenyum. "Teringat saat dulu menikah dengan Kak Elkan, Mama juga yang rias wajahku," ucap Mira.
"Kalau hanya make up sederhana, Mama bisa Sayang ... mau disanggul atau bagaimana?" tanya Mama Marsha lagi.
"Biar diurai dan sedikit ditata ke samping aja, Ma. Kesannya biar lebih muda dan kekinian," balas Mira.
Mama Marsha tersenyum. Paling tidak, Mira juga tahu trend make up dan juga bagaimana berpenampilan. Ada sedikit yang mirip dengan karakter Mama Marsha, walau sebenarnya Mira justru dominan seperti Papa Abraham.
Baru selesai Mira berias, sudah ada ketukan pintu dari luar. Sudah pasti yang datang adalah Elkan dan orang tuanya.
"Assalamu'alaikum Besan," sapa Papa Belva yang tersenyum ketika ada Papa Abraham yang membukakan pintu.
"Waalaikumsalam, mari masuk dulu."
Elkan dan keluarganya pun masuk dan sekarang duduk di ruang tamu. Sementara, Mira dan Mama Marsha baru saja menuruni anak tangga. Pandangan Elkan sepenuhnya tertuju kepada Mira. Gadis itu selalu cantik, apalagi mengenakan kebaya seperti ini Elkan sampai meneguk salivanya sendiri karena di hadapannya Mira begitu cantik dengan kebaya berwarna pink pastel yang sangat lembut.
"Yuk, kita berangkat bersama," ajak Mama Sara.
Rupanya kedatangan keluarga Agastya adalah untuk mengajak keluarga Narawangsa bersama-sama menghadiri perpisahan dan kelulusan Elkan dan Mira. Akhirnya mereka berangkat bersama.
Mobil Alphard keluarga Agastya siap membawa mereka menuju ke salah satu auditorium di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Para siswa diminta duduk berdasarkan kelasnya, sementara orang tua murid di barisan orang tua.
__ADS_1
Layaknya acara perpisahan, ada sambutan dari Kepala Sekolah, ada sambutan dari Ketua Panitia, sambutan ketua OSIS, hiburan berupa lagu, dance, dan sebagainya. Hingga pembacaan siswa berprestasi tahun ajaran itu.
"Masuk ke acara selanjutnya. Kali ini, sekolah akan mengumumkan siswa dan siswi berprestasi penerima nilai kelulusan tertinggi. Terbaik ketiga adalah Elkan Agastya."
Wah, ini adalah pencapaian yang baik. Tidak menyangka bahwa Elkan mendapatkan lulusan terbaik ketiga. Mira yang duduk di samping Elkan pun memberikan tepuk tangan dan bersalaman dengan Elkan.
"Selamat Kak," ucapnya.
"Thanks, Ra," balas Elkan.
Mama Marsha dan Papa Abraham memberikan selamat untuk Mama Sara dan Papa Belva. Untuk Elkan yang hanya satu tahun menempuh pendidikan SMA tentu ini adalah pencapaian yang sangat bagus.
"Selamat Besan," ucapan selamat dari Papa Abraham kepada Papa Belva.
Elkan pun disuruh maju ke depan. Pemuda tampan itu begitu memukau dengan mengenakan Black Suit. Wajahnya tampan dan bibirnya yang merah. Siapa pun yang melihat Elkan sekarang pasti terpukau dengan ketampanan pemuda itu.
Setelah Elkan maju ke depan, mulai dibaca juara dua terbaik. Hingga akhirnya berlanjut dengan dibacakannya juara terbaik pertama.
Benar-benar tidak menyangka bahwa Mira kembali menjadi yang terbaik kali ini. Tepukan tangan meriah dia dapatkan hingga acungan jempol dari Papa dan Mama yang bisa dia lihat ketika menoleh ke belakang. Sangat terharu. Sama seperti yang Elkan sampaikan dulu, bahwa nilai UAN tidak mempengaruhi masa depan mereka, karena Mira sudah diterima di University of Sydney. Namun, pencapaian ini tentu membuat Mira puas. Walau terkadang menikmati masa menikah rasa pacaran, mereka bisa membuktikan bisa meraih nilai terbaik.
"Kamu selalu menjadi yang terbaik, Ra," ucap Elkan lirih begitu Mira sudah berdiri di depan.
"Thanks," balas Mira.
Hampir seluruh teman seangkatan mereka memberikan tepukan tangan meraih. Jika ada yang tampak sinis dan menunjukkan ketidaksenangannya adalah Sonya dan Bagas yang terlihat tidak bertepuk tangan sama sekali. Justru dia menjadi tidak senang karena memang merasa selalu saja Mira menjadi yang terbaik. Bahkan nilai UAN yang didapatkan Mira ditampilkan di layar LCD, dengan nilai Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, dan Fisika mendapatkan nilai 100. Sementara Kimia hanya mendapatkan 89. Tetap saja, mendapatkan nilai sempurna untuk lima mata pelajaran itu begitu luar biasa.
"Wow, nilainya Mira tinggi banget," ucap Papa Belva.
__ADS_1
"Selalu pinter ya Mira. Sejak SD selalu juara kelas," ucap Mama Sara menambahkan.
Papa Abraham dan Mama Marsha sangat bangga. Putrinya itu tidak pernah mengecewakan. Selalu menjadi yang terbaik sejak di sekolah.
"Walau keduanya terlihat seperti pacaran, tapi kedua anak kita tetap berprestasi," ucap Papa Abraham.
"Benar, ada sisi positifnya juga. Bahkan Mira tetap bisa menjadi yang terbaik," balas Mama Sara.
Hingga akhirnya kepala sekolah memberikan Sertifikat dan Medali untuk tiga siswa berprestasi. Diharapkan capaian Mira yang berhasil menjadi lulusan dengan nilai tertinggi di Jakarta bahkan Indonesia itu bisa memacu adik kelas untuk bisa belajar giat dan berpretasi seperti Mira.
Usai acara kelulusan, para siswa terlebih dahulu berfoto dengan teman-teman satu angkatan. Setelah itu, ada booth yang disiapkan untuk berfoto baik itu sendiri, dengan teman-teman, atau dengan orang tua.
Keluar dari auditorium, Mira dan Elkan berjalan bersisian. Gadis itu melihat ke belakang dengan background yang ditampilkan dari layar LCD berupa foto-foto candid para siswa kelas 12 selama di sekolah.
"Selamat tinggal masa putih abu-abuku ... terima kasih sudah menghadirkan kisah yang indah," ucap Mira.
Elkan melirik sekilas kepada Mira. "Selamat datang di masa yang lebih dewasa ... menyambut cita dan cinta. Happy Graduations, My First Love!"
Begitu manisnya Elkan yang kala itu mengatakan bahwa Mira adalah cinta pertamanya. Cinta yang dia kenal sejak dirinya masih kecil, bahkan ketika dia tidak tahu apa itu cinta. Elkan menautkan tangannya ke dalam tangan Mira, menggenggamnya.
"Kita mulai kisah kita selanjutnya?" tanya Elkan.
"Yah, i will go to next chapter with you," balas Mira.
"Bukan lagi sebagai pengantin SMA, tapi pengantin sungguhan. Sebelumnya, kita harus ke Studio Papa Bram deh, Yang ... aku ingin kita berfoto bersama dengan seragam Putih Abu-Abu kita," ucap Elkan.
"Boleh," jawab Mira.
__ADS_1
Ya, masa putih abu-abu bukan berwarna kelabu. Namun, di sana Elkan dan Mira menjadi tokoh utama Romansa Pengantin SMA yang memberikan kisah indah. Keduanya akan semakin mengisi hari bukan sebagai pengantin SMA, tapi pengantin muda yang menyelaraskan hidup berumahtangga dan asa untuk menggapai cita-cita.
See you in Next Chapter! :D