
Ketika Mira dengan inisiatifnya sendiri menautkan tangannya ke tangan Elkan, sebenarnya Elkan merasakan jantungnya berdebar-debar. Walau memang teman dari kecil, dan sudah ada ikatan yang kuat di antara mereka, tapi rasanya Elkan memang jarang untuk melakukan kontak fisik dengan Mira. Sekarang, ketika Mira menautkan tangannya, pemuda itu tersenyum miring di sana. Dia kira, Mira akan keberatan ketika dia mengakui bahwa keduanya tengah berpacaran. Tak ayal, keduanya yang bergandengan tangan hingga hampir di depan kelas itu pun dilihat oleh beberapa siswa.
Begitu sudah berada di dalam kelas, Sonya giliran yang melihat keduanya. Kali ini, Sonya yang giliran berdiri dan berdiri di hadapan Mira dan Elkan.
"Kalian bergandengan tangan? Apa-apaan ini?" tanyanya.
"Apa-apaan apa, maksud loe?" balas Elkan.
"Gak mungkin kan? Kalau kalian?" tanya Sonya.
Akan tetapi, Mira dengan cepat memberikan jawaban kepada Sonya. "Kenapa, Sonya? Kamu keberatan, kalau aku sudah jadian sama Elkan?" tanya Mira.
"Kecantikan banget sih, loe. Gadis culun aja bermimpi dapat pangeran. Itu loh udah ada Bagas," balasnya.
Mira tersenyum di sana. Dia sama sekali tidak takut. "Hmm, dengan segala kekurangan dan kelebihan gue, pastinya Elkan mau terima gue apa adanya kok," balas Mira.
Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Ra ... aku suka kamu apa adanya," balas Elkan.
Kini, Sonya seakan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Terlebih ketika Elkan dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Mira. Sehingga, Sonya benar-benar sekarang. Sonya pun menggebrak meja milik Mira dan pergi begitu saja. Niatannya untuk mendapatkan Elkan gagal sudah, karena sekarang Elkan sudah memproklamirkan bahwa dia suka pada Mira.
Setelahnya, Mira dan Elkan memilih duduk di sana. Kemudian Elkan menulis sesuatu di buku tulis miliknya, dan menyodorkannya kepada Mira.
__ADS_1
"Kita beneran jadian?" tanya Elkan.
"Menurut Kak El?" balas Mira dengan menulis di buku itu.
"Kita jadian yah?" balas Elkan.
Mira kemudian tidak memberikan jawaban. Gadis itu hanya tertunduk malu. Tidak bisa memberikan balasan lagi untuk Elkan melalui buku tulis itu. Hingga akhirnya Elkan kembali menuliskan satu pesan di buku tulisnya.
"Aku Sayang kamu. Elkan Sayang Mira."
Mira tersipu malu. Wajahnya bahkan merona-rona sekarang. Benarkah Elkan mengatakan sayang kepadanya. Setelah semalam, Elkan mengatakan secara langsung. Sekarang, Elkan juga menuliskannya. Dengan tulisan tangannya sendiri. Gadis mana yang tidak bahagia dengan ungkapan seperti itu. Sekadar tulisan tangan saja, bisa membuat hati Mira berdebar-debar.
"Dijawab dong," pinta Elkan kemudian.
"Iya apa?" balas Elkan.
Akhirnya, Mira menuliskan pesan di buku tulis itu lagi. "Aku juga sayang Kak El," tulisnya.
Di sana Elkan tersenyum, bahkan pemuda itu dengan begitu absurdnya mengetuk-etukkan bolpointnya sendiri ke mejanya. Senang karena Mira pun mengakui perasaannya. Cinta masa kecil yang akhirnya kini bisa dinyatakan kepada pribadinya secara langsung.
Hingga mulai jam pelajaran, keduanya memilih santai dan bersikap normal. Walau memang sebenarnya, beberapa kali mereka tersenyum tipis diam-diam. Lantaran hati bahagia, semua mata pelajaran pun terasa singkat.
__ADS_1
"Sudah waktunya pulang yah?" tanya Mira perlahan.
"Iya, mau mampir ke suatu tempat?" balas Elkan.
Dengan cepat Mira menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Kak ... langsung pulang yah," balasnya.
Akhirnya, Mira dan Elkan pun keluar dari ruang kelas, keduanya berjalan bersama, bersisian. Sampai Sonya dan Bagas pun sengaja menubruk keduanya, hingga membuat jarak di antara Mira dan Elkan.
"Jalan pelan banget kayak siput," ucap Sonya dengan nada yang tidak suka.
"Sewot banget sih," balas Mira.
"Pacaran jangan di sekolah," balas Bagas dengan menatap tajam pada Elkan.
"Iya, tapi kekerasan di sekolah boleh yah?" balas Elkan.
Seketika Sonya dan Bagas tidak berani menjawab lagi. Keduanya berlalu pergi dari hadapan Mira dan Elkan. Sementara, Elkan kemudian menautkan tangannya di tangan Mira, dan menggandengnya.
"Kita pulang," ajaknya.
"Hmm, iya," balas Mira.
__ADS_1
Nuansa hari pertama jadian yang membuat hatinya berbunga-bunga. Sekolah pun semakin semangat. Mira dan Elkan agaknya sekarang sangat yakin bahwa bunga-bunga bermekaran di dalam hatinya. Mawar dan melati semuanya mekar dan tumbuh indah di dalam hatinya.