
Pisau itu mengenai perut dan ada darah yang merembes keluar terlihat dari kaos berwarna merah muda itu. Elkan berteriak. Pun dengan tawa Rosaline yang menggema. Gadis itu tidak menunjukkan penyesalan, justru tertawa bisa melukai orang lain di sana. Sementara pemuda berambut pirang itu dengan sigap menangkap Rosaline dan meminta pertolongan.
Hamburan beberapa mahasiswa mendekat, dan mengamankan Rosaline. Disertai dengan pisau yang masih penuh darah di tangannya. Tidak lama berselang juga ada security dari universitas yang datang dan menangkap Rosaline.
Di satu sisi, Elkan dengan panik. Dia sangat bingung ketika pisau itu juga melukai Mira. Ya, bukan Elkan, tapi pisau itu justru mengenai Mira.
"Kakak," suara Mira yang lirih sembari menahan rasa sakit di perutnya.
"Honey ... sabar Honey," balas Elkan.
Hingga kemudian datanglah ambulance, kemudian Mira dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Di dalam ambulance, petugas medis sudah memasang infus dulu dan antibiotik disuntikkan. Hanya beberapa belas menit, kemudian mereka tiba di Rumah Sakit. Mira kemudian dibawa ke ruang tindakan. Luka di perutnya diperiksa, untung saja tidak terlalu dalam. Namun, Dokter sekarang melakukan bius dan mulai menjahit luka di perut Mira. Letaknya sedikit miring, hampir ke pinggang.
Sementara Elkan menunggu di luar kamar tindakan itu. Dia menunggu dengan cemas. Elkan marah sekarang, rasanya dia ingin membalas Rosaline sekarang. Namun, dia harus fokus kepada Mira terlebih dahulu.
Hingga, ada petugas dari police yang datang dan menanyai Elkan. Menanyakan bagaimana kejadiannya terjadi. Akan dipakai untuk berita acara dan juga memberikan hukuman kepada Rosaline.
"Bagaimana kejadiannya bisa terjadi?" tanya Polisi itu.
"Awalnya di kampus, dia mengejar saya dan menangis-nangis. Lalu, dia mengeluarkan pisau dari tasnya. Berlari dan menghunuskannya kepada istri saya," balas Elkan.
"Adakah orang lain di sana?" tanya Polisi itu.
"Ya, selain kami bertiga ada pemuda dengan rambut pirang," jawab Elkan.
"Siapakah namanya dari Fakultas apa?"
Sayangnya, Elkan tidak sempat menanyakan pemuda itu tadi. Siapa namanya, apa fakultasnya, Elkan sampai melupakan untuk bertanya. Hingga akhirnya, Elkan menggelengkan kepalanya.
"I am so sorry, sayangnya aku tidak mengenalnya," balas Elkan.
Akhirnya polisi itu mengatakan sesuatu kepada Elkan. "Dia adalah Marc Cahill, dia ada di kantor kepolisian sekarang dan memberikan kesaksiannya. Kami sudah mencatat kesaksiannya. Baiklah, kami akan lanjutkan proses penyidikan dan mohon kerja samanya."
__ADS_1
Ketika Elkan diberi tahu bahwa pemuda berambut pirang itu ada di kantor kepolisian dan memberikan kesaksiannya. Semoga saja pemuda bernama Marc Cahill itu bisa memberikan kesaksian yang objektif. Sehingga, Rosaline akan mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang dia lakukan.
Usai pihak polisi pergi, Elkan kembali menunggu. Masih harap-harap cemas dengan kondisi Mira. Selain itu, Elkan juga takut kalau luka tusuk itu akan begitu dalam.
"Maafkan aku, Honey. Aku harusnya yang terkena tusukan itu. Aku harusnya bisa melindungi kamu. Sayangnya, justru kamu yang merasakan semua sakit ini. Aku sungguh menyesal, Honey."
Elkan sangat menyesal. Dia merasa tidak bisa menyelamatkan Mira. Tidak bisa melindungi wanita yang sangat dia cintai itu. Sungguh, hatinya pedih dan menyesal karena tidak mengetahui bahwa hunusan pisau itu harus mengenai Mira.
Detik berganti detik, menit berganti dengan menit. Sementara Elkan masih cemas menunggu Mira. Sampai pada akhirnya, hampir satu jam berlalu barulah Dokter keluar.
Elkan pun segera berdiri. Menanyakan kondisi Mira kepada Dokter itu.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?"
"Untung saja, lukanya tidak begitu dalam. Kami cukup memberikan beberapa jahitan saja. Namun, pasien masih belum sadar akibat obat bius. Mungkin satu atau dua jam lagi baru akan sadar," jelas Dokter itu.
Dari ruang tindakan kemudian Mira dipindahkan ke ruang perawatan. Kata Dokter, besok juga Mira sudah berperbolehkan untuk pulang. Hanya saja, semalaman ini harus istirahat di Rumah Sakit. Oleh karena itu, Elkan turut mendorong brankar itu dan menuju ke klamar perawatan.
Usai berpesan banyak hal, kini hanya ada Elkan dan Mira di dalam kamar perawatan itu. Elkan duduk di kursi yang ada di depan brankar dan kemudian mulai menatap wajah Mira yang masih tak sadarkan diri.
"Honey, sekali lagi maafkan aku. Aku gagal untuk melindungimu. Seharusnya aku ada di sini untuk melindungi dan menjaga kamu. Namun, sekarang justru kamu yang terluka karena aku."
Elkan benar-benar menyesal. Dia dipercaya oleh Papa Abraham, tapi sekarang Elkan merasa gagal untuk melindungi Mira. Seharusnya, dia lebih jeli dan melihat kondisi di sekelilingnya. Namun, sekarang yang terjadi justru Mira yang harus menerima luka jahitan. Ada penyesalan di dalam hati yang tidak bisa Elkan deskripsikan sekarang.
"Segeralah sadar, Honey. Aku sangat panik. Aku tidak bisa tenang jika kamu belum sadar," kata Elkan dengan lirih.
Bahkan sekarang Elkan merasa kalut, haruskah memberitahukan kondisi Mira kepada orang tua mereka berdua. Ada ketakutan karena dia tidak bisa melindungi Mira. Namun, ada rasa bersalah juga pada diri sendiri. Elkan akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai Mira sadar. Nanti jika Mira sudah sadar, dia akan meminta pertimbangan Mira untuk memberitahu kedua orang tuanya apa tidak.
***
Beberapa saat berlalu ... dan Elkan masih terjaga. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menunggu sampai Mira tersadar. Satu atau dua jam tidak ada artinya untuk Elkan. Yang pasti, dia akan memastikan bahwa Mira akan segera sadar. Tanpa Mira yang sadar, Elkan akan selalu panik.
__ADS_1
Hingga hampir dua jam, dia melihat dan merasakan jari Mira yang sekarang dia genggam bergerak. Begitu juga dengan kelopak mata Mira yang juga bergerak. Hingga akhirnya, pelan-pelan kelopak mata itu terbuka. Pandangan Mira yang semula kabur, juga mulai fokus. Objek pertama yang dia lihat adalah langit-langit di rumah sakit itu yang berwarna putih dan juga seolah bau alkohol dan obat menyapa indera penciumannya. Seketika, Mira mendesis, memori di otaknya mengingatkan dia pada rasa sakit yang tiba-tiba datang kala itu, dihunus dengan pisau yang tajam itu.
"Ssshhhs," desisnya dengan wajah yang memerah dan mata yang berkaca-kaca.
Elkan tahu reaksi Mira itu pastilah teringat dengan rasa sakit kala dirinya mendapatkan serangan dari Rosaline beberapa jam yang lalu. Kemudian Elkan mendekat, dia mengusap puncak kepala hingga kening istrinya itu.
"Honey, aku ada di sini," ucap Elkan.
"Kakak," suara lirih Mira menyahut. Dia sangat takut. Seolah rasa sakit itu masih bisa dia rasakan sampai saat ini.
"Aku di sini, Honey," jawab Elkan lagi.
"Sakit," keluh Mira sekarang.
Elkan tahu, bagaimana terkena benda tajam pastilah sakit. Namun, sekarang dia akan menenangkan Mira dan berharap Mira bisa segera sembuh.
"Tahan yah. Sudah diberi obat oleh Dokter. Akan segera sembuh," balas Elkan.
Mira akhirnya menganggukkan kepalanya samar. Wanita itu memejamkan matanya sesaat. Mencoba untuk mengingat semua yang telah terjadi beberapa jam lalu. Namun, Mira bisa merasakan ujung pisau yang tajam itu mengenai dirinya.
"Maafkan aku ya, Honey. Harusnya aku bisa melindungi kamu. Namun, justru kamu yang terkena pisau itu. Maaf, Honey."
Elkan meminta maaf kepada Mira. Dia benar-benar menyesal karena tidak bisa melindungi istrinya itu. Dia merasa kecewa, justru membuat Mira sekarang berbaring di Rumah Sakit.
Akan tetapi, Mira justru menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Bukan kamu yang salah kok, Kak. Aku sudah buktikan kepadamu, aku tidak akan pergi dari kamu. Aku akan berdiri di samping kamu. Aku tidak pergi lagi, saat dia datang," balas Mira dengan lirih.
Elkan tahu sekarang kenapa Mira masih berada di sana. Sekalipun Rosaline sudah membawa pisau tajam. Rupanya, Mira sedang memenuhi janjinya kepada Elkan. Janji untuk berdiri di sampingnya dan tidak lari begitu saja.
"Thank you so much, Honey. Harusnya aku yang terluka, bukan kamu," balas Elkan.
Titik kepanikan itu sudah sirna. Kini, Elkan akan fokus merawat Mira yang sudah sadar. Selain itu, Elkan tidak akan memberikan maaf kepada Rosaline. Elkan akan melaporkan kejadian itu kepada pihak kampus juga. Menurutnya, apa yang Rosaline lakukan adalah sebuah tindakan kriminal dan harus dihukum.
__ADS_1