Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Sekadar Appetizer


__ADS_3

Dengan jujur Elkan mengakui bahwa dia tidak terburu-buru. Sebatas menunggu kurang lebih satu minggu lagi tidak menjadi masalah untuk Elkan. Sebab, Elkan sudah membayangkan bagaimana merengkuh malam pertama dengan Mira di Sydney nanti.


"Gimana perasaanmu, Kak?" Kali ini Mira menyempatkan untuk bertanya bagaimana perasaannya usai Intimate Wedding Ceremony yang baru saja digelar.


"Seneng banget. Dulu, usai akad kita gak bisa sekamar seperti ini. Sekarang, agaknya Mama dan Papa sudah memberi kesempatan," balas Elkan.


Gadis itu tersenyum. Setelahnya Mira mengambil handphonenya dan melihat foto-foto pernikahannya dengan Elkan. Tidak lupa Mira menunjukkan foto itu kepada Elkan.


"Aku boleh enggak, memakai salah satu foto untuk profil Whatsapp?" tanya Mira.


"Boleh saja. Kamu ingin go publik dengan hubungan kita?" tanya Elkan.


Dengan cepat Mira tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Enggak, cuma pengen aja, Kak. Yang pake seragam SMA, waktu kita foto di studio Papa ini bagus Kak. Boleh enggak, aku make yang ini?"


"Boleh saja. Aku memakai yang resepsi tadi ya? Lucu, kita nikah malahan memakai sneakers," balas Elkan.


Semua itu memang mereka memilih tampil beda. Memakai sneakers yang rupanya matching juga dikenakan dengan wedding gown dan Jas putih milik Elkan. Tetap memiliki kesan sebagai anak muda.


"Bagus enggak Kak?"


Mira menunjukkan wallpaper handphonenya. Rasanya bahagia dan ada rasa gemas saja melihat melihat wallpaper handphonenya yang sekarang berganti. Sementara Elkan hanya tersenyum tipis. Jika, hanya berdua kayak gini, Elkan seolah jadi irit berbicara.


"Wallpaper kamu apa Kak?"


Jika Mira biasanya irit berbicara, justru sekarang Mira menjadi banyak bertanya dengan Elkan. Itu juga sebenarnya Mira merasa canggung. Oleh karena itu, dia merasa perlu banyak mengobrol.

__ADS_1


"Ini," jawab Elkan dengan irit.


Rupanya Elkan menunjukkan handphonenya. Bukan foto post wedding di Studio, bukan juga foto resepsi pernikahan yang baru saja digelar. Namun, justru masa kecilnya dan Mira ketika dia mengunjungi Dufan. Kala itu, kira-kira Elkan sudah berusia 6 tahun, sementara Mira baru berusia 4 tahun.


"Foto kita berdua?"


Mira sungguh tak percaya, karena wallpaper di handphone milik Elkan adalah foto mereka waktu sama-sama masih kecil. Wajah mereka pun masih imut-imut kala itu.


Elkan tersenyum, sekilas dia melirik Mira yang duduk di sampingnya. Hingga, pemuda itu kemudian berdehem.


"Ehem."


"Kenapa Kak, mau minum? Aku ambilkan yah?" Mira kembali bertanya dan juga menawarkan air minum untuk Elkan.


Elkan menggelengkan kepalanya. Hingga akhirnya, pria itu perlahan-lahan membawa tangannya menggenggam tangan Mira. Bukan sekadar menggenggam, tapi ibu jarinya memberikan elusan lembut di punggung tangan Mira. Seketika, Mira menjadi bingung. Sekadar menerka, sebenarnya apa yang hendak dilakukan oleh Elkan. Hanya saja, sekarang dirinya tengah masa haid. Tidak mungkin juga kan akan menuntaskan misi utama ketika Mira sedang berhalangan.


"Kamu ngantuk?" tanya Elkan.


"Lumayan," balas Mira.


Elkan kembali tersenyum. "Mau tidur?"


Sebenarnya juga bingung. Tidur dan satu ranjang. Sebab, sebelumnya, mereka belum pernah tidur dalam satu ranjang. Hanya satu kamar, dan berbeda ranjang. Sekarang, ketika di hadapan mereka hanya ada satu ranjang, rasanya Mira juga tampak bingung dan malu.


"Mira, aku tahu ... saat ini kamu tidak bisa disentuh. Jadi, untuk malam pertama kita, nanti saja di Australia yah? Kamu tidak keburu-buru kan?"

__ADS_1


Dengan cepat Mira menggelengkan kepalanya. Tentu saja, dia tidak terburu-buru. Mungkin itu, hanya sekadar alibi seorang Elkan saja.


"Seminggu lagi yah, sudah bersih kan?"


Mira hanya memberikan anggukan kecil saja. Hingga akhirnya, Elkan kian mendekat. Genggaman tangannya di tangan Mira semakin erat. Hingga akhirnya, Elkan memangkas jarak wajahnya. Sementara Mira merasa was-was. Menerka lagi apa yang hendak Elkan lakukan.


Bergerak lebih cepat, kemudian pemuda itu mendaratkan bibirnya tepat di tengah-tengah bibir Mira.


Mata Mira membelalak, sekadar inign bernafas saja rasanya sulit. Hingga perlahan-lahan pandangan matanya meredup, dan kelopak matanya menutup. Pun Elkan yang memberikan dorongan samar dan menekankan bibirnya di atas bibir Mira. Benar-benar lembut dan hangat. Sangat hangat, hingga ketika Elkan menekankan bibirnya, punggung Mira sampai mundur dan kini bersandar di punggung sofa.


Bibir yang saling menempel, mata yang saling terpejam, hingga Elkan berinisiatif membuka bibirnya perlahan, pemuda itu sedikit menjulurkan lidahnya dan memberikan usapan di bibir Mira.


Manis.


Elkan tidak mengira bahwa bibir Mira akan semanis ini. Sangat manis malahan. Nafas Elkan pun terasa memberat. Degupan di jantungnya kian menjadi-jadi. Hingga, Elkan memberanikan dirinya untuk memagut bibir Mira, melu-mat bibir itu, menciumnya perlahan. Baru kali ini, Elkan melakukan ciuman seperti ini.


Sementara Mira tidak menyangka, adegan mendebarkan yang biasa dia lihat di drama korea, sekarang dia merasakannya sendiri. Menjadi pemeran utama yang menerima ciuman dari cowok tampan seperti Elkan hatinya berdesir, jantungnya berdebar, bahkan mungkin sekarang aliran darahnya dari nadi ke arteri kian cepat alirannya.


Hanya sesaat, Elkan kemudian menarik bibir dan wajahnya, sebelum meninggalkan kecupan di bibir Mira. Hingga pelan-pelan Mira juga membuka matanya.


"Manis," ucap Elkan dengan kembali mendekat dan mengecup bibir Mira.


Gadis itu tertunduk malu. Tidak berani untuk bersitatap dengan mata milik Elkan. Di satu sisi Elkan berusaha mati-matian sebenarnya menahan hasratnya.


"Appetizer saja ... bersiaplah di Sydney nanti, karena aku tidak akan segan-segan."

__ADS_1


Mendengar apa yang Elkan katakan, Mira terdiam, tidak berani memberikan jawaban. Namun, seketika Mira bergidik ngeri, apa maksud dari tidak segan-segan yang diucapkan Elkan itu.


__ADS_2