Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Jatuh Cinta Berjuta Rasanya


__ADS_3

Turun dari mobil Elkan, ketika sudah memasuki pintu gerbang, Mira memegangi dadanya. Bisa Mira pastikan sendiri bahwa sekarang dadanya berdebar-debar. Bahkan pipinya terasa panas. Entah itu efek grogi atau memang karena usai mendapatkan ciuman dari Elkan di pipinya. Selain itu, Mira juga memegangi sejenak pita yang ada di puncak kepalanya sekarang.


"Ya Tuhan, kenapa rasanya seperti ini? Debaran apa yang tak terkira ini. Uh, rasanya perasaan ini aneh. Membuatku bahagia dan sekaligus malu."


Sembari melangkahkan kakinya, gadis itu bermonolog seorang diri. Hingga akhirnya, dia terkejut ketika Mamanya membukakan pintu untuknya.


"Eh, Mama ... ngagetin sih, Ma. Kok tiba-tiba buka pintu," kata Mira.


Akan tetapi, Mama Marsha justru tersenyum di sana. "Kenapa, Ra? Kamu kayak linglung gitu. Ganti baju dulu, nanti ngobrol sama Mama."


Mira hanya merespons dengan menganggukkan kepalanya. Sekarang Mira sudah berada di kamarnya. Dia segera mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumahan hanya kaos oblong dan celana pendek di bawah lutut. Selain itu, Mira juga menguncir rambutnya, tapi membiarkan pita dari Elkan masih berada di puncak kepalanya.


Ketika Mira ke kamar mandi untuk mencuci muka. Gadis itu seakan blank, pikirannya terbang dan melayang. Tangannya hanya mengusapi pipinya dengan facial foam dan tiba-tiba teringat kala Elkan mencium pipinya. Sekadar mengingat saja, Mira menjadi malu sendiri. Gadis itu tersipu-sipu dengan segera membilas busa di wajahnya dengan air hangat. Setelahnya Mira turun ke bawah untuk menemui Mamanya.


"Mama," panggilnya sembari mengambil tempat duduk di sisi Mamanya.


"Ya, sudah ganti baju kan? Mau makan sekarang atau nanti?" tanya Mama Marsha.


"Sudah ganti baju kok, Ma. Ada apa, Ma?" tanya Mira sekarang.


"Begini, sejak Mama dan Papa pulang ke Semarang. Banyak yang belum kita bicarakan Mira. Juga, tadi waktu Mama bersih-bersih kamar dan meja belajar kamu, Mama menemukan ini," ucap Mama Marsha.


Kemudian Mama Marsha menunjukkan Debet Card dari salah satu Bank Swasta terkenal itu. Mira pun memang belum sempat bercerita kepada Mamanya. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk bercerita.


"Oh, itu dari Kak Elkan, Ma. Waktu itu Kak Elkan bilang bahwa dia memberikan nafkah untukku. Walau dia masih SMA, tetapi Kak Elkan sudah menghasilkan uang dari sistem yang dia buat di Coffee Bay. Sebenarnya Mira menolaknya, tapi Kak Elkan memberikannya. Katanya, setelah menikah, seorang suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya."

__ADS_1


Kali ini Mira pun berbicara dengan jujur. Tidak menyembunyikan apa pun dari Mamanya. Sebab, sedari dulu Mira termasuk anak yang dekat dengan Mamanya. Bahkan bersahabat dengan Mamanya. Sehingga apa pun bisa Mira sharingkan dengan Mamanya.


"Oh, begitu. Sebenarnya juga tidak usah, Ra. Kan kalian belum menjalani peran sebagai suami dan istri. Kamu juga belum melayani suami kamu kan?" tanya Mama Marsha.


"Melayani seperti apa, Ma?"


Mama Marsha tersenyum, anaknya itu memang polos. Otaknya memang pandai untuk pelajaran di sekolah, tapi untuk urusan rumah tangga karena belum berpengalaman, jadi juga belum banyak tahu. Seorang ibu lah yang harus membimbing anak-anaknya untuk siap memasuki dunia rumah.


"Melayani suami itu berbagai aspek, Mira. Bukan sekadar mengambilkan makanan saja. Namun, juga kebutuhan yang lain, bahkan biologisnya," ucap Mama Marsha.


Berbicara menyangkut hubungan biologis, agaknya sekarang Mira tahu apa yang dimaksudkan oleh Mamanya. Sekadar menerka bahwa itu berkaitan dengan pemenuhan ladang batin suaminya. Di sini, Mira juga sekaligus belajar langsung dari Mamanya.


"Jadi, nanti kalau kamu sudah lulus SMA boleh. Jangan menolak suami kamu," ucap Mama Marsha.


"Setahu Mama, kamu tidak pernah punya pita itu, Ra?" tanya Mama Marsha.


"Oh, ini tadi dikasih Kak Elkan, Ma. Baru saja dikasih, Ma," ucapnya dengan jujur.


"Cantik pitanya, cocok sekali waktu kamu pakai," balas Mama Marsha.


"Kak Elkan juga bilang begitu, Ma," balas Mira.


Sekarang Mama Mira bisa melihat rona di wajah Mira, senyuman yang tersipu malu. Sebagai seorang yang dulu pernah muda, agaknya Mama Marsha bisa menebak apa yang terjadi pada Mira sekarang.


"Kamu jatuh cinta ya Sayang?" tanya Mama Marsha.

__ADS_1


"Hmm, jatuh cinta bagaimana, Ma?"


"Ya, kayak kamu ini. Membahas Elkan saja jadi senyum sendiri. Pasti kalau gak ketemu kangen, kalau ketemu grogi," balas Mama Marsha.


"Mama dulu sama Papa juga begitu?" tanya Mira.


Mama Marsha pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Ya, begitu. Apalagi Papa kamu itu cinta pertamanya Mama. Ya, seperti yang kamu tahu, Ra. Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Manis, asem, asin, pahit jadi satu. Kalau ketemu kadang salah tingkah. Tepat seperti lagu legendaris zaman dulu."


Mira kemudian tersenyum. Mungkin perasannya itu adalah jatuh cinta. Sebab, terkadang Mira juga merasa salah tingkah kala ditatap oleh Elkan.


"Kalau memang jatuh cinta gak apa-apa. Kisah kasih di SMA itu sangat menyenangkan. Yang penting tahu batasan saja. Kalian memang sudah sah menjadi suami dan istri, tapi tidak ada salahnya menjaga diri untuk kebaikan bersama," balas Mama Marsha.


"Iya, Ma ... pasti," balas Mira.


"Jadi, sayang sama Elkan?" tanya Mama Marsha.


Mira menundukkan wajahnya, dengan tersenyum. Bahkan saking bingungnya, Mira sampai menutupi wajahnya dengan telapak tangannya sendiri. Merasa malu.


Jatuh cinta berjuta rasanya


Biar siang, biar malam, terbayang wajahnya


Jatuh cinta berjuta indahnya


Biar hitam, biar putih, manislah nampaknya

__ADS_1


__ADS_2